Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 31 Menenangkan Hati Sahabatnya



Setelah Nadia selesai berganti baju, Nadia langsung sholat Dzuhur dan makan siang sebentar, setelah itu Nadia langsung buru-buru pergi ke warung makan ibunya, untuk ikut membantu berjualan disana.


Pukul Setengah 5 sore Nadia sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. Karena ia akan beres-beres dan membersihkan rumah. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya, ia pun segera mandi, sholat dan istirahat.


Disela-sela waktu istirahat ini, Nadia ingin menghubungi Mirna. Walaupun terbesit sedikit keraguan, namun akhirnya Nadia memberanikan diri menelpon Mirna.


Beberapa detik ia menunggu, akhirnya telepon pun diangkat. Kemudian Nadia berkata lewat telepon, "hallo, assalamu'alaikum Mirna."


"Wa'alaikumsalam, Nad," jawab singkat Mirna. Situasi antara Mirna dan Nadia disini masih sangat canggung. Sebenarnya Mirna ingin berkata lebih tapi masih ada rasa ketakutan.


"Mirna, terimakasih ya, kamu selalu sudah mau mengangkat telepon dariku. Aku mau minta maaf Mir, jika selama ini aku punya kesalahan padamu, baik yang aku sengaja ataupun tidak," kata Nadia.


"Nadia, sebenarnya elo tidak perlu minta maaf, karena elo tidak bersalah Nad. Gue yang telah bersalah padamu Nad. Sebagai sahabat karibmu, gue malah menjauhimu."


Mirna merasa menyesal atas apa yang telah ia perbuat selama ini. Ia merasa telah merugikan dan menyakiti sahabat karibnya itu.


"Mirna, kalau kamu punya masalah, cerita dong ke aku, sebenarnya kamu ada masalah apa? mungkin setidaknya, jika aku tidak bisa membantumu, tapi setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban pikiranmu Mir," kata Nadia.


Mirna berpikir sangat lama, apakah ia harus bercerita kepada Nadia tentang permasalahan keluarganya itu. Setelah ia mempertimbangkan baik dan buruknya, akhirnya Mirna berani untuk bicara.


Mirna menceritakan semuanya, mulai masalah ancaman dari Rani, surat perjanjian dan masalah aib keluarganya.


Nadia akhirnya mengerti, mengapa selama ini Mirna menjauhi dirinya. Nadia bilang ke Mirna, ia akan mencari ide mengenai bagaimana caranya agar ia terbebas dari ancaman Rani.


Mirna yang sebenarnya sudah dapat solusi dari Ricky, hanya mengiyakan perkataan Nadia, ia tidak ingin membahas kesepakatan nya dengan Ricky itu.


Dalam telepon Nadia mencoba bertanya kepada Mirna, mengenai perselingkuhan ayahnya itu. Bukan bermaksud menghina, tapi ia ingin bertanya lebih jelas perasaan Mirna sesungguhnya.


"Mirna, maaf ya sebelumnya, bukan bermaksud untuk menghina/mengungkit-ungkit aib ayahmu, tapi aku ingin tahu sebenarnya bagaimana perasaanmu. Apa yang kamu rasakan dan lakukan setelah mengetahui bahwa ayahmu berselingkuh?"


Mirna terdiam sesaat, kemudian dia pun mulai berjalan berbicara, "pertama kali gue tahu, hati rasanya sangat sedih Nad. Kenapa papa tega berbuat seperti itu kepada mama."


"Setelah beberapa lama gue mencari tahu, gue menemukan papa selingkuh dengan wanita idaman lain. Memang tidak begitu rumit untuk menyusuri alasan mengapa papa selingkuh."


"Dulu zaman awal orangtuaku belum menikah, papa hanyalah seorang karyawan biasa, sedangkan mama adalah anak majikan dari perusahaan tempat bekerja papaku."


"Namun karena ketelatenan dan kecerdasan papa, kakekku sebagai pemilik perusahaan sangat tertarik dengan papa, dan mulai menaikkan jabatannya. Kakek lama kelamaan mempunyai inisiatif untuk menjodohkan putri satu-satunya yaitu mama kepada papaku."


"Mungkin dari awal perjodohan inilah yang membuat masalah perselingkuhan ini muncul dikemudian hari."


"Waktu demi waktu, Hingga sifat mama menjadi lebih superior, sering meremehkan papa, karena kedudukan yang papa miliki ini memang bersumber dari keluarga mama."


"Berbanding terbalik dengan papa yang kalem dan gampang dipengaruhi. Cekcok sering terjadi, uang dan harta selalu diungkit. Papa sering merasa bahwa dia adalah kepala keluarga yang payah. Sedangkan ibu merasa, bahwa dia telah mengorbankan semuanya untuk kami."


"Roda pun berputar. Setelah kakek (ayah dari ibu) meninggal semua usaha dikendalikan oleh papa, dan perusahaan maju pesat. Semua kebutuhan materi Mama dan gue terpenuhi. Tetapi kebutuhan biologis papa tidak terpenuhi."


"Sifat mama yang tidak berubah, membuat papa bosan dirumah. Hingga akhirnya papa bertemu dengan wanita idaman lain. Mereka berselingkuh hampir 1 tahun, Nad. Ketahuan oleh orang yang mengaku melihat mobil papa ada dirumah wanita tersebut."


"Mama langsung memata-matai papa yang ternyata selingkuh. Mama marah bukan kepalang, ngamuk, teriak-teriak, nangis, berkata kasar dan memukul papa."


"Saya anak satu-satunya (yg memang jarang mengungkapkan pendapat di keluarga) hanya bisa diam dan berkata sabar, lebih sering mendengarkan mereka bertengkar diam-diam. Gue lebih banyak mengungkap kesedihan gue melalui doa, lebih menyukai menuliskan perasaan saya lewat tulisan."


"Sejujurnya hati gue hancur, gue terjebak oleh posisi, dari kecil bukan anak yang suka curhat dengan orang tua dan saudara membuat gue menjadi pribadi yang pendiam dan keras hati."


"Ingin mengutarakan pendapat tapi jatuhnya malah menggurui mereka. Akhirnya yang bisa gue lakukan hanya doa, berdoa, menangis dan berdoa, berharap doa gue menjadi pembuka pintu hati mereka," cerita Mirna panjang lebar ke Nadia.


Nadia pun mencoba sharing pendapat dan memberi saran kepada Mirna mengenai perasaannya itu. Nadia berkata, "jika kamu menegur orang tuamu, bahwa selingkuh itu salah, seringkali mereka tidak akan mengaku salah Mir."


"Mereka malah menjadi semakin marah, karena mengira sedang menghambat sumber kebahagiaan mereka dan membuat mereka semakin takut bahwa kamu nanti akan meninggalkan mereka."


"Semakin muncul rasa takut itu berarti semakin dalamnya rasa distrust terhadap pasangan/keluarga yang sudah terpendam dalam diri mereka. Dan sedalam-dalamnya, orang tua yang berselingkuh akan mempunyai rasa bersalah yang sangat amat besar, terutama kepada anak-anaknya sendiri."


Mirna mendengar perkataan Nadia ditelpon tadi, mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda bahwa ia menyetujui perkataan Nadia barusan.


"Rasa bersalah itu akan menghantui mereka sampai masuk ke dunia berikutnya, bahkan kematian tidak dapat melepaskannya dari kutukan ini (itulah sebabnya orang tua yang pernah melakukan kesalahan seperti selingkuh akan sangat rentan terhadap gejala depresi dan bunuh diri)," sambung Nadia.


"Kedua orang tuamu perlu mengetahui bahwa mereka tetap dicintai dan dapat dimaafkan olehmu. Kalau kamu memaafkan, maka itu akan memudahkan ayahmu untuk melepaskan pihak ketiga karena kamu mencintai apa adanya."


"Saranku mir, untuk menghadapi kedua orangtuamu ini, pertama, beri tahu bahwa kamu masih menyayangi ayahmu (supaya dia tidak takut)."


"Kedua, beri tahu apa saja hal-hal yang sudah kamu tahu atau kamu merasa kesal tentang perselingkuhannya (supaya ayahmu memahami kesalahannya dan tidak membenarkan diri untuk melanjutkan relasi yang salah)."


Ketiga, kasih tahu bahwa kamu sudah memaafkannya dan ingin dia kembali menjadi papa kamu seperti semula. Kasih tahu, bahwa masih ada kesempatan untuk memulihkannya kembali.


"Orang tuamu bukanlah musuh, melainkan orang-orang yang membutuhkan hospitality dari keputusanmu untuk mengampuni mereka."


"Perlu di ingat Mir, bahwa bila orang tuamu masih mempunyai pembenaran diri. Sebetulnya, kamu tidak perlu merasa kesal (walaupun akan muncul rasa kesal) atau berdebat dengan mereka karena kata yang mereka ucapkan."


"Lalu yang perlu kamu lakukan adalah untuk menyembuhkan perasaan orang tuamu yang masih rentan di balik kata-kata mereka yang mencoba untuk ngeles dari masalah sesungguhnya."


"Bahwa mereka merasa bersalah dan butuh pengampunan dari anak. Kamu perlu memberikan afirmasi bahwa orang tuamu tetap disayang dan tidak perlu merasa takut sampai harus mengucapkan kata-kata yang jadi topeng atas luka-luka mereka."


"Kamu sudah mengetahui kesalahan mereka dan tetap memaafkan mereka. Inilah suara yang mereka butuhkan untuk sembuh."


"Dengan begitu, mereka akan semakin percaya dan mengaku kesalahan dan menginginkan rekonsiliasi. Itulah sebabnya kamu harus kuat dulu dengan diri sendiri."


"Kamu bisa mendapatkan dukungan dari saudaramu atau aku sebagai sahabatmu untuk membantu menguatkan emosi dan kejiwaanmu sebelum berhadapan dengan luka-luka orang tuamu yang sudah terinfeksi dengan rasa ketakutan, kebencian, dll."


"Hanya dengan kekuatan kasih sayang, kamu bisa melewati tantangan ini Mir. Emmm ... sebelumnya aku minta maaf ya Mir, Udah berani bicara lancang seperti ini, mungkin seperti orang yang menggurui," kata Nadia.


"Gak kok Nad, gue bersyukur banget, bisa dikasih masukan sama elo. Semua omongan elo tadi bener-bener masuk akal, dan bisa coba gue lakuin, semoga kedua orang tua gue bisa mengerti," jawab Mirna.


"Terimakasih ya Nad, walaupun kita saat ini berbicara hanya lewat telepon, tapi itu sudah membuat hati gue tenang Nad, makasih banyak Nad, elo memang sahabat terbaik gue," sambung Mirna.


...----------------...