
Setelah Farrel selesai melihat-lihat hasil foto di kamera pocketnya itu, Farrel langsung segera mengcopy seluruh foto-foto tersebut kedalam laptopnya untuk berjaga-jaga.
Selesai mengcopy, Farrel kemudian pergi berbaring di tempat tidurnya sambil mengenakan headset untuk mendengarkan musik.
Farrel tidak langsung begitu saja memejamkan matanya. Entah kenapa malam ini, matanya sulit untuk dipejamkan. Oleh karena itu, untuk mengakalinya, ia tidur sambil mendengarkan musik agar lebih cepat untuk dia bisa tidur. Lama kelamaan akhirnya Farrel pun tertidur dengan pulasnya.
Pagi hari pun tiba. Namun Nadia sudah disibukkan dengan berbagai aktifitasnya mulai sejak subuh tadi. Setelah selesai membereskan semua tugas-tugas rumahnya, Nadia segera masuk ke kamar untuk bersiap diri berangkat ke sekolah.
Setelah selesai bersiap diri, Nadia pun terus pergi sarapan bersama kedua adiknya. Sedangkan sang ayah sudah pergi mengantarkan ibu kepasar dan ke warung makan sekaligus nanti beliau akan langsung berangkat kerja dari warung makan.
"Kak, nanti siang kakak mau pergi lagi ya, sama kak Farrel?" tanya Rafi.
"Eh iya, nanti sehabis pulang sekolah, kakak langsung pergi cari buku lagi sama Farrel. Aku udah bilang kok sama ayah dan ibu. Emang kenapa kok kamu tanya-tanya segala? Gak seperti biasanya," jawab Nadia.
"Hehehe, syukurlah kalau begitu, pasti nanti kalau pulang kakak akan dianterin lagi kan sama kak Farrel? Asyik pasti nanti kak Farrel beliin makanan lagi untuk kita nih, horeee ..." kata Rafi bahagia.
"Eh siapa bilang kalau Farrel bakal beliin makanan lagi. Jangan ngarep yang nggak-nggak deh, kebiasaan jelek, gak boleh tahu," kata Nadia sambil menjewer telinga adik bungsunya itu.
"Aduh, duh, duh, saaakit kak!" teriak Rafi.
"Salah kamu sendiri. Siapa suruh berpikiran kayak gitu. Jangan suka minta-minta atau mengharapkan sesuatu dari orang lain, harus punya harga diri tau! Seharusnya kamu punya prinsip lebih baik memberi daripada menerima, kalau memang tidak punya, lebih baik diam daripada minta-minta, Mengerti!" Kata Nadia.
"Ih, siapa yang minta-minta sih kak? Itu kan memang kak Farrel sendiri yang ngasih? Tapi menurut firasatku kak Farrel pasti akan membelikan lagi sesuatu untuk kita nanti. Kak Farrel kan orangnya baik, ganteng lagi?" Kata Rafi penuh kekaguman.
"Wah, kamu ngefans ya sama Farrel sampai segitunya, ganteng juga pacar kakak," jawab Nadia.
"Ya, kak Ricky memang ganteng sih, tapi kenapa akhir-akhir ini dia gak pernah datang kerumah? Rasanya tidak perhatian banget sama kakak. Beda kalau sama kak Farrel, dia sangat perhatian orangnya, dan sangat menyenangkan sekali kalau ngobrol sama kak Farrel," kata Tio tiba-tiba menyerobot pembicaraan antara Nadia dan Rafi.
"Hmmmm, adik-adik kakak pagi tadi habis kesambet apa sih, kok semuanya pada ngomong ngelantur, pada muji-muji Farrel juga! Heran bener kakak-"
"Hmmmm, kak Ricky gak pernah datang kesini ... karena dia sibuk dengan latihan basket nya, karena timnya mau ikut pertandingan. Lagipula, dia juga kan sibuk ngerjain tugas kelompoknya sama kayak kakak juga. Jadi gak usah berpikir yang aneh-aneh deh," kata Nadia.
"Tapi, walaupun begitu, kenapa rasanya memang kurang perhatian aja sama kakak. Sesibuk apapun itu, seharusnya kalau sama pacarnya pasti akan sering-sering menghubungi atau gimana lah gitu, kalau memang tidak sempat datang? Sedangkan kak Ricky sepertinya terlalu sibuk sehingga sampai-sampai melupakan pacarnya sendiri," ungkap Tio.
"Eh anak kecil kok tahu bucin segala? belajar dari mana itu? Awas ya, nanti aku bilang ke ibu lho?" ancam Nadia.
"Gak belajar dari siapa-siapa. Setiap hari ibu dan kakak kan selalu nonton sinetron tuh, lah aku tahu nya ya, juga dari cerita di sinetron-sinetron yang kakak tonton itu, wkwkwk ..." jawab Rafi.
Nadia terdiam sesaat, yang dikatakan kedua adiknya itu, memang tidak salah. "Ricky memang sudah tidak memperhatikan dirinya lagi. Bahkan memberi kabar pun juga enggak. Sampai detik ini pun chat dari ku semalam juga tidak dibalas olehnya. Hufh, pantesan aja mereka berpikir kalau aku dan Ricky udah gak pacaran lagi," gumam Nadia dalam hati.
Nadia kembali tersadar dalam lamunannya dan berkata, "ah sudah-sudah cepat sana berangkat sekolah, ini umur aja masih kecil-kecil, malah sudah pada sibuk ngurusin urusan orang dewasa lagi! Sudah berangkat aja sana."
Nadia menyuruh adik-adiknya untuk segera menyelesaikan sarapannya, dan bergegas untuk berangkat ke sekolah.
"iya, iya, kita berangkat, tapi ngomong-ngomong 2 kotak bekal itu untuk siapa ya? untuk kita makan siang kita berdua disekolah ya kak? Oh ternyata kakak baik banget, terimakasih ya kak udah repot-repot bawain kita bekal, asyik ..." tanya Rafi.
"Eh, eh, eh, bekal ini bukan untuk kalian, ini bekal buat makan siang kakak nanti sehabis pulang sekolah biar gak jajan diluar, jadi lebih hemat," jawab Nadia, padahal niatan Nadia membawa bekal, karena Nadia merasa tidak enak, jika setiap pergi ia selalu ditraktir terus sama Farrel.
"Yah, penonton kecewa nih, aku kira bekal itu buat aku, ternyata bukan, lah terus itu kan 2 kotak, masa kakak makan dua-duanya?" tanya Rafi.
"ih kamu itu pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran sih? Kotak yang satu itu kan untuk kak Farrel, masa gitu aja kamu gak tau sih, huh!" jawab Tio sambil menyenggol lengan Rafi.
"Oh iya ya, ada kak Farrel. Hehehe aku kok malah gak inget. Wah ternyata kakak perhatian juga ya sama kak Farrel, aku dukung deh kak kalau gitu, caiyoooo, semangat kakak," goda Rafi ke Nadia.
"Kalian berdua ngomong aja dari tadi, gak sekolah-sekolah. Emmmm, sepertinya ada yang mau aku cubit ya? Ayo kesini kalian jangan pada lari, ayo kesini, awas ya kalau ketemu kakak, kena kalian!" teriak Nadia kesal, karena godaan kedua adiknya itu.
Kedua adiknya langsung berlarian kabur berangkat sekolah meninggalkan Nadia sendiri dirumah. Karena takut dicubit kakaknya.
Setelah ditinggal kedua adiknya, Nadia cepat-cepat mengemas kedua kotak bekal makan dan memasukkannya kedalam tas.
Jam segini dah menunjukkan pukul 06.20 wib, tapi Nadia belum juga berangkat sekolah karena masih menunggu kabar dari Ricky. Nadia berharap siapa tahu nanti, Ricky akan datang untuk menjemputnya.
Namun yang ditunggu-tunggu, ternyata tidak ada kabar. Dan akhirnya, Nadia memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan naik angkot.
...----------------...