Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 73 Mampir Sebentar



"Nadia bangun, ayo Nad bangun, anak gadis kok banguninnya susah banget sih, apa gak malu kamu sama teman kamu, nak Farrel?" kata ibu Nadia sambil menepuk-nepuk pundak Nadia untuk segera bangun.


Tidak berselang lama, Nadiapun terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek-ucek matanya, berusaha tersadar seutuhnya dari tidurnya, Nadia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ibu Nadia dan Farrel sudah ada didepan pintu mobil menunggunya bangun.


"Ibu, sedang apa ibu disini?" kata Nadia, masih belum 100 persen tersadar dari tidurnya.


"Loh kok malah tanya sedang apa? Ibu kesini kan ya karena bangunin kamu tidur. Dari tadi ibu coba bangunin kamu kok susahnya minta ampun. Tuh lihat teman kamu, apa gak kasihan sama nak Farrel dari tadi nungguin kamu bangun, tapi malah kamunya gak bangun-bangun," jawab ibu Nadia.


Nadia akhirnya menoleh kearah Farrel dan ke sekeliling mobil, ternyata dia tadi ketiduran dimobil. Nadia hanya bisa tersenyum cengengesan dan malu.


"Maaf Bu, aku tadi merasa tidurku nyenyak dan nyaman banget serasa dikasurku, jadi aku kira tadi ya, aku sudah tidur dikamarku Bu, hehehe," kata Nadia.


"Owalah nih anak, seharusnya kamu berterima kasih sama Farrel, karena sudah membuat tidurmu nyaman, walaupun itu sebenarnya ada didalam mobil. Tuh lihat sampai dipakai-in selimut segala. Apalagi selimutnya lembut dan hangat. Jadi kamu semakin merasa betah. Hmmm, Nad ... Nad ..." kata ibu Nadia.


"Hehehe, ma-af ya Rel, dan te-ri-ma-ka-sih untuk selimutnya ini. Maaf udah ngrepotin kamu dan udah buat kamu menunggu lama. Hehe, sorry ..." kata Nadia sambil nyengir.


"Ah, gak apa-apa kok Nad, santai aja. Yang penting tadi kamu bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman, karena sudah sibuk seharian muter-muter cari-cari buku," jawab Farrel.


"Untung nak Farrel orang baik, jadi gak perhitungan sama kamu. Eh, ayo udah keluar, sampai kapan kamu masih duduk di dalam mobil? ayo keluar!" perintah ibu Nadia.


Nadia langsung berdiri keluar dari mobil, sambil merapikan selimut yang berantakan akibat dipakai olehnya.


"Ayo, nak Farrel masuk kedalam dulu, diluar sini udaranya dingin, istirahat sebentar didalam sebelum melanjutkan perjalanan," kata ibu Nadia.


Farrel pun menganggukkan kepalanya, ia sungkan untuk menolak tawaran dari ibu Nadia. Namun sebelum masuk kedalam Farrel minta ijin kepada ibu Nadia untuk mengambil sesuatu barang yang tertinggal didalam mobil.


ibu Nadia mengijinkannya, lalu Nadia dan ibu masuk terlebih dahulu kedalam rumah. Sedangkan Farrel cepat-cepat masuk kedalam mobilnya untuk mengambil bungkusan plastik yang berisi beberapa bungkus bakso yang ia beli tadi.


Setelah berhasil mengambil bungkusan plastik itu, Farrel bergegas menyusul Nadia, masuk kedalam rumahnya.


"Maaf Bu sebelumnya, saya hampir lupa ini tadi saya beli ini sewaktu dijalan tadi, tapi kayaknya sudah tidak hangat lagi, jadi sebelum dimakan bisa dihangatkan terlebih dahulu ya Bu. Mohon maaf sebelumnya," kata Farrel dengan lemah lembut dan sopan.


"Oh apa ini nak Farrel?" sambil membuka bungkusan plastiknya. "Wah ini bakso ya, ya Allah pasti kamu selalu repot-repot bawa bingkisan kalau kesini, tante jadi gak enak. Kemarin sudah dibawain sekarang dibawain lagi," kata ibu Farrel.


"Nggak merepotkan kok Tante, tadi saya dan Nadia kebetulan sehabis dari perpustakaan dan sholat Magrib, terus langsung beli makanan, untuk kita makan malam. Kebetulan ada warung bakso jadi kita mampir, dan sekalian aja beli beberapa bungkus untuk dimakan ibu sekeluarga. Oh ya, untuk Nadia juga. Kayaknya dia pecinta bakso Tante, hehehe," ledek Farrel sambil melirik ke arah Nadia.


Mendengar ledekan dari Farrel, Nadia langsung melengos, dan berkata, "emang kenapa kalau pecinta bakso, memang enak kok baksonya, kamu juga suka juga!"


"Eh Nadia, gak boleh gitu. Ehm, Nadia memang suka sekali dengan bakso. Terimakasih ya nak Farrel sudah membelikannya. Hmmmm kalau begitu ibu hangatkan kuah baksonya dulu ya. Duduk-duduk aja dulu, sambil istirahat sebentar. Ibu tinggal masuk ya," kata Ibu Nadia.


Setelah ibu Nadia meninggalkan mereka berdua diruang tamu, Farrel kemudian duduk disalah satu kursi. Sambil melihat-lihat sekeliling ruangan tamu itu. Seperti kedatangan Ricky dulu, Farrelpun sangat tertarik dengan pajangan foto yang ada di dinding ruang tamu tersebut.


Farrel menatap dengan seksama wajah-wajah didalam foto tersebut. Saat ia melihat foto Nadia, Farrel tersenyum tipis, dan berkata dalam hati, "Nadia, memang gadis yang cantik natural. Melihatnya difoto atau aslinya juga tetap terlihat sama-sama cantik."


"Apa yang kamu lihat?" tanya Nadia.


"Emang kenapa dengan foto itu? mesti mau komentar yang macem-macem nih," tanya Nadia julid.


Sambil bertopang dagu, Farrel mengomentari foto itu kepada Nadia. "Hmmmm, gadis yang difoto itu kamu ya Nad? Kok beda banget sama aslinya ya? Difoto terlihat cantik tapi setelah lihat aslinya- duh gimana ya cara menjelaskannya. Kurang-? seperti kurang cantik, hahaha."


"Tuh kan bener firasatku, pasti kamu mau berkomentar buruk tentang aku. Huh, biarin aku jelek juga gak apa-apa! Puas, puas, puas kamu!" kata Nadia kesal.


"Haha, ada yang tersinggung nih. Syukur deh kalau kamu sadar diri Nad," ejek Farrel.


Tapi didalam hati Farrel berkata bohong seperti itu hanya karena, dia tidak ingin Nadia jadi salah paham kepadanya karena sudah memujinya dengan bilang cantik. Lebih baik ia berkata sebaliknya, khawatir kalau-kalau nanti Nadia malah bersikap canggung dan sungkan terhadap dirinya.


Setelah mengejek foto Nadia yang ada dinding, Farrel melihat lagi kearah sudut ruang tamu, dan disana terdapat rak buku yang tertata rapi.


Tanpa basa-basi minta izin ke Nadia, Farrel langsung mengambil salah satu album foto disana dan langsung membuka album tersebut.


Farrel membuka halaman demi halaman album foto itu, sesekali Farrel memperlihatkan senyuman yang manis saat melihat beberapa foto yang ada didalam nya.


Hal ini membuat Nadia jadi penasaran, "kamu kenapa lagi sih, pake senyum-senyum sendiri, mau berkomentar lagi ya tentang aku?"


"Kamu kok tahu sih kalau aku mau mengomentari fotomu ini? Sungguh Nad, aku sampai senyum-senyum sendiri melihat foto-foto masa kecilmu ini," celoteh Farrel lagi.


"Terutama difoto ini Nad, lihat saja foto sewaktu kamu kecil ini. Pipimu sudah kayak bakpao aja Nad, wkwkwk," ejek Farrel.


Padahal, aslinya didalam hati Farrel sangat memuji foto Nadia itu. Nadia didalam foto itu terlihat cantik, pipinya yang cubby, dengan rambut dikuncir dua, membuat Nadia kecil tampak imut dan menggemaskan.


"Ya ... Ya ... Ya, terserah kamu aja deh mau berkata apa. Pipiku dulu kayak bakpao juga gak apa-apa. Bakpao kan enak kalau dimakan, wekkkkkk," jawab Nadia.


Melihat ekspresi wajah kesal Nadia, membuat Farrel semakin bahagia, bukan karena suka melihat Nadia yang kesal, tapi Farrel bahagia karena melihat wajah Nadia yang terlihat semakin cantik dan imut,


Beberapa saat kemudian, ibu Nadia datang sambil membawa mangkok berisi bakso. Diikuti oleh adik sulung Nadia (Tio)yang membawa nampan berisi teko dan gelas minum. Kemudian diikuti seluruh anggota keluarga lainnya, yang duduk diruang tamu tersebut.


"Ayo nak Farrel kita makan bareng-bareng baksonya ini, mumpung masih hangat," kata ibu Nadia sambil mengambilkan semangkok bakso yang akan diberikan ke Farrel.


"Ah, gak usah Tante, terimakasih. Saya sudah makan tadi, silahkan Tante dan Om sekeluarga yang menikmatinya. Lagipula tadi aku belinya pas untuk lima orang. Kebetulan saya juga udah kenyang kok," tolak Farrel secara halus.


"Eh ini Tante udah nyiapin untuk kamu ayo dimakan bareng-bareng, ini semua keluarga juga ikut makan kan? om sama Tante makan berdua. Jadi biar terasa romantis gitu, hehehe, udah ayo dimakan. Kalau kamu gak mau makan Tante sekeluarga juga gak mau memakannya," jawab Ibu Nadia.


"Iya nak Farrel, jangan sungkan-sungkan. Ayo kita makan bersama-sama, jarang-jarang kan kita bisa makan bareng-bareng kayak gini," kata ayah Nadia.


"Iya, kak Farrel, ayo dimakan baksonya," kata adik-adik Nadia berbarengan.


Akhirnya, Farrelpun bersedia menerima seporsi bakso itu, dan kemudian ia memakan bakso itu dengan lahap dan penuh kebahagiaan.


...----------------...