Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 24 Katakan Cinta



Setelah jam istirahat pertama tadi, hati Nadia berasa damai dan tentram. Karena tidak ada yang mengganggunya.


Mungkin karena ketidakhadiran Rani yang tidak masuk hari ini, jadi segala aktivitas pembullyan terhadap Nadia juga ikut berhenti.


Fokus belajar Nadia pun sudah mulai membaik, tidak seperti kondisinya tadi pagi.


Jam istirahat kedua pun tiba. Istirahat kali ini Nadia akan pergi ke kantin sendiri, tanpa ditemani oleh Mirna.


Semenjak Rani mulai membenci Nadia, dan mulai menghasuti teman sekelas dan seluruh siswa disekolah, mereka semua pun enggan pergi atau sekedar mendekati Nadia.


Betapa malang nasibnya. Saat ini Nadia merasa kesepian, karena semua orang menjauhi dirinya, bahkan sepertinya Mirna, saat ini juga begitu.


Seandainya nanti yang ingin dijelaskan Ricky adalah tentang masalah ini juga. Berarti Ricky pasti akan menjauhinya. Padahal selama ini Ricky selalu membela, menolong dan memberikan perhatian kepadanya.


Sesampainya di kantin Nadia hanya memesan segelas minuman dingin, ia tidak memesan menu makanan lainnya, karena ia sedang tidak nafsu makan. Ia duduk sendirian dikursi, tanpa ada yang menemani.


Beberapa pasang mata yang ada dikantin itu, selalu menatap Nadia, tanpa mencoba untuk mendekatinya.


Nadia tidak ambil pusing dengan tatapan-tatapan itu. Saat ini, ia hanya ingin beristirahat dengan tenang.


Saat Nadia tengah menikmati masa-masa ketenangannya, tiba-tiba semua orang yang yang ada dikantin itu pergi meninggalkan kantin. Hanya tertinggal sang penjaga kantin.


Entah sedang ada kejadian apa, sehingga mereka semua pergi. Padahal sepertinya tadi tidak ada kejadian apa-apa, setelah ia melihat arloji di tangannya, menunjukkan kalau jam istirahat masih banyak, jadi tidak mungkin ini waktunya pembelajaran lagi.


"Atau mereka semua ingin mengerjaiku lagi?" gumam Nadia lirih, sambil melihat ke sekeliling area kantin, namun sepertinya tidak ada hal yang mencurigakan.


Akhirnya Nadia memutuskan untuk tetap berada di kantin. Selagi tidak ada hal yang mencurigakan dan tidak mengganggu dirinya, ia tidak peduli.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang datang mendekatinya. Kemudian orang itu berhenti tepat didepan meja tempat duduk Nadia.


Setelah Nadia melihat ke arah wajah orang tersebut, ternyata orang yang dilihat Nadia adalah Ricky.


"Ricky? kamu sendirian?" tanya Nadia.


"Iya, aku sendirian Nad. Aku mau ngomong sesuatu Nad," kata Ricky.


"Ngomong sesuatu apa? apakah mengenai hal yang ingin kau jelaskan tadi pagi?" tanya Nadia yang mulai khawatir.


"Iya Nad, mungkin ini saatnya yang tepat untuk aku menjelaskan semuanya kepadamu, biar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kita berdua," ucap Ricky tegas.


Mendengar ucapan Ricky itu, wajah Nadia mulai menampakkan kegusarannya. Ia benar-benar merasa yakin, bahwa yang ingin dijelaskan oleh Ricky adalah hal yang ia pikirkan selama ini.


Ricky pasti ingin memperjelas tentang hubungannya dengan Rani. Dan Ricky pasti berharap agar ia tidak salah paham pada sikap nya selama ini.


"Ya Allah, setelah aku mendengar penjelasannya nanti lantas aku harus bagaimana? sikapku kepada nya harus seperti apa? kenapa semua masalah selalu datang silih berganti?" ucap Nadia dalam hati.


[18/4 12.14] Nova (DiraDivaSalo): Ricky kemudian segera duduk berhadapan dengan Nadia. Seperti nya Ricky ingin segera memulai pembicaraannya.


Namun sebelum Ricky berkata, Nadia langsung berbicara, "ehmmm, sepertinya aku sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini," jawab Nadia ketus.


"Kamu sudah tahu, apa yang akan aku bicarakan?" Tanya Ricky penasaran.


"Iya, aku sudah tahu Rick. Aku mengerti Rick, kamu pasti merasa tidak enak kepada ku kan tadi pagi? Sehingga kamu tidak mau menjelaskan lebih lanjut kepada semua teman-teman kita," jawab Nadia.


"Iya, tadi pagi aku masih ragu untuk menjelaskan semuanya dengan lengkap dihadapan semua orang. Aku juga khawatir tentang bagaimana tanggapan perasaanmu terhadap ku nantinya," kata Ricky.


"Tidak usah khawatir Rick, aku tidak apa-apa. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Jadi kau bisa berhak menentukan apa yang kau sukai dan yang terbaik untukmu."


"Aku sadar diri kok Rick, orang sepertiku ini memang tidak pantas memiliki angan-angan yang terlalu tinggi," kata Nadia.


Mendengar jawaban dari Nadia, Ricky pun menjadi bingung, "Maksud kamu apa Nad?"


"Maksud ku itu, kamu gak perlu mengkhawatirkanku, kamu bebas mau berhubungan dengan siapapun," kata Nadia.


"Lantas apa maksudmu, bahwa kamu tidak pantas memiliki angan-angan tinggi? setiap orang berhak bermimpi Nad. Setinggi apapun itu, orang lain tidak berhak melarangnya," ucap Ricky.


"Aku ... aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki perasaan. Aku juga ingin mencinta dan dicinta. Tapi aku sadar, orang rendahan sepertiku ini pantasnya, hanya mencintai orang yang sederajat denganku, tidak bisa lebih."


"Bukankah kamu ingin bilang, kalau kamu itu memang punya hubungan dengan Rani? tapi karena kamu merasa khawatir, kalau aku akan sakit hati mendengar perkataan ini, jadi kamu tidak bisa berterus terang ke semua orang tadi pagi, betulkan?" jelas Nadia.


Mendengar perkataan dari Nadia itu, membuat Ricky mengerutkan keningnya. Kemudian tersenyum dan berkata, "ooooo ... dari kata-katamu tadi berarti, kamu itu memang suka sama aku ya?"


"emmmm ... i- itu ... ah, sudahlah jangan bahas aku! sungguh aku tidak apa-apa. Jika memang kamu punya hubungan dengan Rani silahkan saja, gak perlu khawatirin aku," ucap Nadia ketus.


"Dasar gadis BODOH," ucap Ricky sambil menjitak pelan dahi Nadia.


"Ah, apaan sih Rick, sakit tau?" kata Nadia sambil memegangi dahinya yang masih sakit terbentur tadi pagi.


"Sorry, sorry Nad," jawab Ricky yang khawatir, sambil mengusap-usap kepala Nadia.


"Udah deh Rick, jangan lakukan ini lagi padaku! perlakuanmu ini kepadaku, bisa membuat aku dan semua orang nanti salah paham lagi," sentak Nadia.


"Kenapa bisa salah paham? semua yang kulakukan ini memang benar adanya, bukan kesalahpahaman."


Ricky beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Nadia.


"Nad ... Nad ... apa kamu gak pernah berpikir, kenapa dari awal aku pindah ke sekolah ini, aku lebih memilih untuk berteman denganmu."


"Apa kamu tidak pernah menyadari, bagaimana aku bisa 2x bertemu denganmu secara kebetulan? dan 2x juga sudah datang ke rumahmu, apa kamu tidak menyadari semua itu?" kata Ricky.


Nadia merasa bingung, ia mulai mengingat-ingat kejadian pertemuan dengan Ricky di toko buku dan di perpustakaan.


"Memangnya ada hal janggal apa dari pertemuan itu? bukankah memang semua itu karena kebetulan dan tidak sengaja kita bisa bertemu," jawab Nadia.


"Ketidaksengajaan itu bisa dibuat-buat, Nad. Asal kamu tahu, kenapa aku bisa pergi ke toko buku dan perpustakaan, padahal jelas-jelas kamu tahu, kalau aku tidak begitu suka membaca."


"Semua itu sudah aku rencanakan Nad, semua kulakukan untuk bisa dekat denganmu. Kamu tahu kenapa? karena sejak pandangan pertama aku sudah jatuh hati padamu," ucap Ricky sambil berlutut dan memegang tangan Nadia.


Nadia tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya seperti terkunci. Jantungnya berdegup kencang, seperti mau lepas. Rasanya seperti mimpi, iya mungkin ini hanyalah mimpi Nadia.


"Aku tadi, sebenarnya ingin menjelaskan mengenai perkataanku tadi pagi, yaitu tentang hubunganku denganmu itu hanyalah sahabat dekat."


"Aku berkata seperti itu, karena aku ragu bagaimana perasaanmu sesungguhnya kepadaku. Aku khawatir kalau aku berterus terang bilang bahwa aku mencintaimu, aku takut kamu tidak terima."


"Memang itu semua karena kebodohanku juga, yang terlalu pengecut, tidak percaya diri. namun setelah aku mendengar perkataanmu tadi, akhirnya aku tahu, kalau kamu juga ternyata menyukaiku. Dan cintaku berarti tidak bertepuk sebelah tangan," ungkap Ricky dengan mata yang berbinar-binar.


"Nadia Hanina Farha, hari ini, di kantin ini, aku ingin menanyakan padamu, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Ricky.


Nadia yang sedari tadi hanya terdiam dan masih tidak percaya akan apa yang tengah terjadi saat ini, mendengar pertanyaan dari Ricky tersebut Nadia hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis dibibirnya itu.


Sungguh benar-benar sebuah Anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ternyata perasaan Nadia selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Oh, begini rasanya seorang yang sedang jatuh cinta.


...----------------...