Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 78 Tidak bilang-bilang



"Nad, sebenarnya Ricky gak berangkat ke sekolah, karena ada urusan apa ya?" tanya Mirna.


"Aku gak tahu Mir, kamu tahu sendiri Ricky gak ngasih kabar apapun ke aku, aku juga gak bisa menduga-duganya. Apa Oma sakitnya kambuh lagi ya? Atau apa aku jadi bingung sendiri," kata Nadia.


Hati Nadia sangat gusar dan gelisah. Namun ia memang tidak bisa berbuat apa-apa. Mau datang kerumah Ricky, itu juga tidak mungkin, karena Nadia tidak tahu dimana rumah Ricky. Dia belum pernah diajak kesana.


Keluarga Ricky yang ia kenal cuma Oma nya saja, mau menelpon beliau, Nadia juga tidak tahu nomornya. Nadia serba salah.


Statusnya dengan Ricky memang sudah menjadi kekasih, tapi dalam dunia nyatanya, ia tidak tahu apapun secara detail mengenai kehidupan Ricky dan keluarganya.


Waktu pun berlalu, pelajaran demi pelajaran telah dilewatinya, sampai tiba waktunya para murid untuk beristirahat. Di jam istirahat pertama ini, Nadia pergi ke kantin dengan Mirna.


Namun sewaktu Nadia hendak berjalan keluar kelas, tiba-tiba langkah kaki Nadia dihentikan oleh panggilan dari Rani.


"Nadia ...!"


"Kamu mau ke kantin ya?" tanya Rani.


"Iya, ada apa ya? Kamu mau bareng atau mau titip?" tanya Nadia.


"Oh, enggak kok, aku cuma mau tanya aja sama kamu. Kamu tahu nggak alesan Ricky gak berangkat ke sekolah hari ini?" tanya balik Rani.


"Emmmm, sebetulnya aku nggak tau, alasan Ricky gak masuk sekolah hari ini. Emangnya kenapa?" jawab Nadia.


"Loh, kamu gak dikasih tahu ya sama Ricky?" kata Rani.


"Enggak, emangnya kamu tahu?!" tanya Nadia yang mulai agak jengkel.


"Oh, gini Nad, kamu kan tahu, semenjak aku dijadikan satu tim dengan Ricky, jadi waktu kita sekarang jadi lebih banyak dihabiskan bersama-sama untuk mengerjakan tugas,"


"So, secara tidak langsung dia pasti selalu bercerita apapun tentang dirinya. Termasuk mengenai alasan, kenapa hari ini, ia tidak masuk sekolah," jawab Rani mulai agak menyombongkan diri.


Hati Nadia sebenarnya saat ini merasa kesal dan geram karena perkataan dari Rani. Seakan-akan Rani lebih dekat dan paham tentang kondisi Ricky.


"Kalau elo benar-benar tahu, kenapa gak langsung to the point aja sih, elo jelasinnya? Ngomong dari tadi kok pake muter-muter segala!" Celetuk Mirna yang ikut mendengarkan percakapan mereka dari tadi.


Mirna tahu, kalau sebenarnya Rani bertele-tele dari tadi itu cuma mau ngompor-ngomporin Nadia aja. Mirna juga merasa kasihan kepada sahabatnya itu.


 "Okey, okey, akan aku kasih tahu sama kalian berdua. Sebenarnya ijin yang dikatakan pak guru tadi itu sudah merupakan alasan yang jelas. Cuma untuk lebih detailnya, yang belum kalian ketahui,"


"Poin pentingnya disini adalah bahwa kepentingan keluarga yang dimaksud itu adalah bahwa Ricky disuruh oleh orang tuanya untuk pergi ke Inggris, untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Dan semalam Ricky sudah berangkat dari bandara Jakarta menuju ke Inggris," kata Rani.


Mendengar penjelasan dari Rani, tangan Nadia bergetar, dan kaki Nadiapun mulai terasa lemas seketika.


Hampir saja tubuh Nadia terjatuh, untung saja dengan sigap Mirna segera merangkul sahabatnya itu. Dan langsung mengalihkan perhatian Rani dengan langsung mengajak Nadia pergi ke kantin.


"O-o-ke, sama-sama," jawab Rani.


Mirna segera mengajak Nadia pergi meninggalkan Rani. Nadia hanya terdiam membisu, ia tak bisa berkata apa-apa saat ini. Pikirannya kacau balau, dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang tak bisa ia utarakan.


Sesampainya dikantin Mirna mengantar Nadia hingga ke tempat duduk disalah satu kantin untuk Nadia beristirahat, menenangkan pikirannya.


Setelah dirasa Nadia bisa duduk dengan nyaman, Mirna segera pergi untuk membeli beberapa makanan dan minuman.


Tidak lama kemudian Mirna pun kembali dengan membawa beberapa makanan dan minuman yang ia beli.


Udah Nad, gak usah dipikirin Dulu, ini dimakan aja dulu makanannya, ini enak lho, gue tadi beli sostel sama martabak telur mini, dan tak lupa gue juga minta untuk dibanyakin saos dan mayonesnya, hahaha ... ayo Nad diserbu!" kata Mirna.


Mirna langsung mengambilkan 1tusuk sostel dan 1 martabak telur mini, dan langsung meletakkannya ditangan Nadia. Karena sedari tadi hanya terdiam seperti tak berselera untuk mengambilnya.


"Ayo dimakan, masalah kayak gini, gak harus dipikir lama-lama, Nad. Bukankah kamu yang selama ini selalu menasehati gue ketika ada suatu masalah, maka hadapi saja dengan Positif thinking."


"Mungkin karena memang terburu-buru pergi jadi Ricky tidak sempat mengabarimu. Mungkin juga, Ricky tidak mau kamu mengkhawatirkan dirinya, karena sedang berada jauh meninggalkan Indonesia,"


"Udah ayo dimakan, ini masih banyak sostel dan martabak telur mininya. Hmmm, ini enak lho Nad," kata Mirna.


Mendengar perkataan dari sahabatnya itu, Nadia pun menarik nafas dalam-dalam, dan kemudian ia memikirkan betul-betul apa yang sudah dikatakan oleh sahabatnya itu.


Nadia pun mulai memakan makanan yang sudah ada digenggaman tangannya itu.


Mir, menurutmu, apakah tujuan perkataan Rani tadi itu, hanyalah untuk memanas-manasi aku, agar aku terbakar api cemburu?" tanya Nadia.


"Hmmmm, menurut filling gue sih, emang iya. Makanya tadi gue langsung ngajak elo pergi, agar, si Rani itu tahu, bahwa dengan cerita kedekatannya dengan Ricky itu, tidak membuat hati elo itu panas, atau sedih,"


"Gue kira si Rani itu sudah insaf beneran, tapi ternyata semua itu karena pura-pura, agar ia bisa menarik simpati dari Ricky dan semua orang. Dasar cewek culas!" umpat Mirna.


"Hmmmm, ya udah, biarin aja. Mungkin ini memang jalan yang harus aku lalui. Takdir juga mendukung jalan untuk Rani bisa dekat dengan Ricky melalui tugas kelompok itu. Apa mungkin Tuhan telah menyiapkan suatu rencana yang indah dibalik semua kejadian ini," ucap Nadia.


"Mungkin juga Nad, yang terpenting elo semangat aja dan seandainya jika terjadi sesuatu hal yang terburuk-, ini seandainya saja ya Nad, seandainya terjadi hal yang buruk antara hubunganmu dengan Ricky, yaitu putus, maka elo gak perlu bersedih. Karena masih ada optional kedua yang bisa elo dapatkan, yaitu si Farrel. dia tidak kalah ganteng dan kayanya dengan si Ricky, hehehe," kata Mirna.


"Hush, gak boleh ngomong gitu, kalau ada malaikat lewat dan mengamininya gimana? karena ucapan itu adalah doa. Ih amit-amit deh, udah ah, gak usah berandai-andai yang belum pasti, aku juga gak bisa ngebayanginnya, kalau semua itu terjadi," kata Nadia.


Nadia dan Mirna akhirnya menghentikan pembicaraan mengenai Ricky ini, mereka pun kembali melanjutkan menikmati jam istirahat mereka dengan memakan cemilan-cemilan yang masih tersisa dimeja makan kantin.


Beberapa menit kemudian bel sekolah pun berbunyi, tanda jam istirahat telah usai. Nadia dan Mirna pun segera bergegas meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas mereka.


...----------------...