Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 14 Undangan Ulang Tahun



Karena keinginan balas dendam kepada Nadia. Rani berusaha mencari ide-ide untuk melecehkan Nadia, ia ingin Nadia merasa terhina, dan dicemooh banyak orang.


Setelah lama berpikir, akhirnya Rani menemukan satu ide, untuk menjalankan rencananya itu. Dia optimis rencananya kali ini pasti akan berhasil.


Setelah lama berpikir, akhirnya Rani menemukan satu ide, untuk menjalankan rencananya itu. Ia optimis rencananya kali ini pasti akan berhasil.


Dua hari kemudian, pagi-pagi sekolahan sudah digemparkan oleh adanya informasi mengenai edaran surat undangan.


Yang menjadi penyebab gemparnya, adalah bukan karena surat undangannya itu, melainkan siapa orang yang mengundang pada acara tersebut. Surat undangan itu, adalah surat undangan perayaan ulang tahun.


"Nadia, ini surat undangan untuk kamu. Teman yang lain juga sudah pada dapat kok, datang ya. Jangan sampai enggak lhoo. Pasti acaranya nanti bakalan seru Nad. Kan ini pesta ulang tahun anak orang kaya, pasti pestanya mewah dan meriah," kata salah satu teman sekelas Nadia sambil menyerahkan secarik amplop undangan kecil cantik berwarna pink kepadanya.


"Oke, terimakasih ya, emang ulang tahun siapa sih?" tanya Nadia.


"Disitu ada tulisannya Nad, dibaca aja. Aku mau ngasih undangan ini ke teman yang lain," jawab teman Nadia sambil berlalu meninggalkannya.


"Emang ini surat undangan ulang tahun siapa sih?" gumam Nadia sambil melihat ke arah amplop undangan kecil yang diberikan tadi.


Nadia pun membuka amplop tersebut, kemudian dia mengambil kertas yang ada didalam nya.


Disana ada foto dan tulisan undangan yang menerangkan bahwa pada hari Sabtu, tanggal 2 November, pukul 19.00 wib akan diadakan acara pesta ulang tahun Maharani Stevania Husodo (Rani) di ballroom Hotel XX. Yang merupakan salah satu hotel bintang lima yang terkemuka di Jakarta.


"Ouh surat undangan pesta ulang tahunnya Rani ya, pantes aja pada heboh," gumam Nadia lirih.


"Eh Nad, kamu udah dapat undangan dari Rani Lom?" tanya Mirna tiba-tiba.


"Astaghfirullah, Mir, bikin kaget aja, kalau mau ngomong jangan tiba-tiba gitu dong. Kalau aku jantungan gimana coba? iya nih aku baru aja selesai baca surat undangannya, Kalau kamu Mir?" kata Nadia.


"Gue udah dapet dari tadi Nad, gue kira Lo gak diundang, kan Lo musuh bebuyutannya Rani, hehe," jawab Mirna nyinyir.


"Hush, gak baik ngomong kayak gitu. Kalau dia benci sama aku, sudah pasti dia tidak akan mengundang aku, ke acara pestanya itu dong Mir. sebaiknya kita positif thinking aja lah," sahut Nadia.


"Iya-ya deh, sory ... eh, rencananya elo mau ngasih kado apa Nad? Secara, dia kan anak orang kaya dan elo tau pestanya diadakan di ballroom Hotel bintang lima di Jakarta ini Nad," kata Mirna sambil menghela nafas panjang.


"Pasti itu kan bukan pesta biasa Nad, kemungkinan yang diundang bukan hanya kita-kita aja temen sekolahnya. Sudah tentu mungkin partner-partner mitra bisnis orang tuanya juga pasti diundang Nad. Mereka semua orang-orang terpandang, orang-orang kelas papan atas Nad," sambung Mirna yang agak khawatir.


Padahal Mirna sendiri termasuk bagian dari keluarga orang-orang yang terpandang, tapi masih saja tetap merasa khawatir. Apalagi dengan status Nadia yang hanya anak dari keluarga biasa?


"Kenapa kamu tampak khawatir sih Mir? seharusnya yang khawatir itu kan aku. Karena ini kan pestanya orang kaya, sedangkan akuuuuu? kamu tahu sendirilah," ucap Nadia.


"Iya gak gitu juga Nad, justru karena ini acara ulang tahun nya si Rani itu yang buat gue khawatir kepadamu Nad,"


"Ih sahabat ku yang satu ini ... kamu memang benar-benar sahabat sejati ku Mir," kata Nadia kemudian langsung merangkul Mirna karena terharu.


"Best friend forever!" balas Mirna.


"Eh Nad, gimana kalau nanti sehabis pulang sekolah kita pergi ke mall atau kemana gitu, untuk mencari-cari kado untuk Rani. Mumpung acaranya kan besuk jadi kita masih ada waktu untuk persiapan," ajak Mirna.


"Ehmmm, ya boleh Mir, tapi nanti kamu antar aku pulang dulu ya? biar bisa ganti baju. Kebetulan hari ini aku gak bawa baju ganti,"


"Karena acara ini mendadak, aku juga mau ngambil tabungan ku buat beli kado nya,, oh ya setelah itu aku juga mau minta ijin ibu di warung, nanti kamu pakai baju ku aja deh Mir. supaya cepet! gimana?"


"Okey deh Nad, Santai aja. Nanti kalau tabungan mu kurang bisa aku tambahin deh," sahut Mirna.


"Ayo Pak, segera berangkat, kita nanti pergi kerumah Nadia dulu ya, berhenti disana sebentar, " kata Mirna.


"Baik non Mirna," jawab Pak Joko.


Sesampainya dirumah Nadia, Nadia dan Mirna segera berganti baju dan tak lupa Nadia mengambil kartu ATM untuk persiapan membeli kado nantinya.


Selama ini Nadia rajin menabung. Uang itu ia dapat dari hasil membantu ibunya di warung dan dari hasil menyisihkan uang saku nya.


Setelah itu mereka langsung pergi ke warung makan milik ibu Nadia untuk meminta ijin. Ibu tari pun memberikan ijin. Kemudian mereka segera pergi ke mall untuk mencari-cari kado yang cocok buat Rani.


Mirna ingin membeli sebuah arloji sebagai kado untuk Rani. Mereka pun pergi ke sebuah galery jam tangan ternama di Jakarta.


Mirna memilih-milih arloji itu dengan teliti. akhirnya ia memutuskan untuk membeli sebuah arloji dengan merk Rolex seri Lady Datejust 31 dengan harga yang fantastis.


Di dalam hati Nadia berkata, "bagi Mirna membeli arloji dengan merk ini memang lah sangat mudah, tapi bagiku uang untuk membeli arloji tersebut bisa untuk dibuat makan berbulan-bulan. Lantas kado apa nanti yang bisa aku beli untuk Rani, uang tabungan ku tidak cukup untuk membeli barang-barang branded?" Nadia tampak gusar.


Setelah Mirna selesai melakukan transaksi pembayaran, akhirnya Mirna segera menghampiri Nadia yang tengah melamun duduk di sofa.


"Nad gue udah selesai beli nih, sekarang tinggal elo yang cari kado. Enaknya dibelikan apa ya Nad?" tanya Mirna yang sedang berpikir.


"Aku belum punya ide Mir, gak tau mau beli apa?" jawab Nadia.


"Yuk, kita keliling-keliling aja dulu, siapa tahu nanti bisa dapat yang pas," sahut Mirna.


Mereka berdua pun berkeliling area mall tersebut dengan harapan bisa menemukan barang yang pas buat kado.


Akhirnya langkah kaki Mirna terhenti di sebuah toko parfum ternama. Lalu Mirna segera menarik tangan Nadia untuk masuk kedalamnya.


Mirna kemudian mencari-cari merek parfum ya ia kenali. Tatapannya kini tertuju kepada sebuah botol parfum kaca berwarna pink.


Kemudian dia menghirup testi aroma parfum tersebut. Tercium aroma bunga-bungaan dan tercium juga aroma buah apricot, serta white musk pada bagian akhir.


"Elo beli ini aja ya Nad, untuk dijadikan kado. Ini parfum bagus lho ... harganya juga masih terjangkau lah. Memang nya budget elo berapa Nad?" tanya Mirna.


Nadia segera melihat botol parfum yang dipegang oleh Mirna,, disana tertuliskan merek parfum Miss Dior Blooming Bouquet.


"ehmmm, aku cuma ambil uang Rp 500.000,- Mir, memangnya harga parfum ini berapa?" Nadia berkata lirih.


Mirna berfikir sejenak kemudian dia berkata, "beli ini saja, mana uang elo Nad, biar gue yang pesen. Untuk kekurangannya biar gue aja yang bayarin," sahut Mirna langsung bergegas menuju ke kasir.


"Lho, emang harganya berapa Mir, harus nambah berapa? lebih main gak usah Mir. kita coba cari yang lain aja,"


Nadia berjalan menyusul Mirna. Namun terlambat, Mirna sudah menyelesaikan pembayarannya.


"Udah terlanjur gue bayar Nad,, cuma nambah dikit doang jadi gak usah dipikirin ya," jawab bohong Mirna berusaha menutup-nutupi harga dari parfum tersebut.


"Makasih Mir. Dan aku juga minta maaf karena udah berulang-ulang kali aku selalu ngerepotin kamu. Makasih ya Mirna."


Bola mata Nadia berkaca-kaca. Merasa terharu akan sikap sahabat nya itu.


...----------------...