
Dira keluar dari gedung kantornya itu dengan wajah murung dan tidak bersemangat, dihampirinya Edgar dan Axel yang sudah menunggunya dengan sabar di dekat pos security. Axel yang berbadan sedikit kurus itu tampak sedang menghisap sebatang rokok dimulutnya.
“ Polusi. “ dengus Dira dengan sebal sambil menarik rokok yang tersisa setengah batang dari sela – sela jari Axel. Dira mematikan bara api yang masih menyala lalu melemparkannya kedalam tong sampah yang tidak jauh darinya.
“Ya ampun Dir, belum habis sebatang. “ gerutu Axel melihat tingkah Dira.
“ Makan dulu aja yuk? “ sela Edgar kemudian.
“ Ngopi aja gimana sih? Disana tuh, pusing kepala ku. “ sambung Axel sambil menunjuk kedai kopi diseberang jalan. Kedai kopi yang tidak begitu besar namun terlihat ramai pengunjung yang berada tepat disamping rumah tinggal Dira dan Sandro.
“ Yuk, biar nggak jauh – jauh aku pulangnya. “ Dira mengiyakan ajakan Axel lalu ia berjalan ke arah zebracross untuk menyeberang jalan.
Kedai kopi memiliki jendala kaca lebar dengan desain khas anak muda, meja – meja kayu bulat berjajar rapi didalam ruangan dan lampu kuning temaram menyinari tempat itu. Kopi-ku begitu nama kedai yang sedang dikunjungi tiga karyawan itu sepulang kerja.
“ Mas, saya pesan es kopi alpukat dong.” Pesan Dira pada petugas yang berdiri di counter pemesanan.
“ Sudah tinggal saja Dir, aku bayar. Kamu pesan apa Xel? “ sambung Edgar sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
“ Aduh jadi enak, makasih ya Mas Edgar. “ ucap Dira pada Edgar seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Dira memilih bangku yang ada di serambi depan kedai, ia ingin menikmati suasana sore hari diluar ruangan. Matahari masih hangat memeluk tubuhnya yang sudah digelayuti rasa lelah, pikirannya sudah terkuras dihari pertamanya berada di kantor.
“ Jadi bagaiman Dir? Apakah semuanya baik – baik saja? “ tanya Edgar sambil membawa tiga cup minuman dengan nampan cokelat.
“ Aku bingung mau memulai dari mana mas, aku juga tidak tahu caranya menghandle mereka yang notabene nya adalah orang lama tetapi tiba – tiba datang aku orang baru dan menjadi leader mereka. “ Dira memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
“ Kalau kalian bagaimana? “ Dira balik bertanya kepada rekan – rekannya.
“ Ya tidak berbeda jauh lah dari kamu Dir. “ jawab Axel kemudian.
“ Hmm iya, kita seperti dibuang kedalam danau rawa yang kita tidak tahu isi didalamnya. “ Edgar menimpali jawaban kedua rekannya.
Mereka bertiga saling bertatapan lalu terkekeh bersamaan, suara Dira yang paling terdengar nyaring diantara mereka.
“ Hahaha kita seperti dideportasi nggak sih dari Kantor Pusat gitu? “ seloroh Axel.
“ Bener banget Xel, ini yang aku rasakan. Sudah begitu teman – teman seruangan ku itu sepertinya hampir seusia dengan ku semua. Bagaimana kalau aku dikeroyok sama mereka coba? “ Dira membenarkan perkataan Axel.
“ Masih mending Dir, ditempatku ada yang lebih tua dari aku, gimana aku mau marah padanya Dir kalau dia misalnya melakukan kesalahan? Sudah dia lebih senior, dari manajemen lama lagi. “ ucap Edgar sambil memasang wajah bersedih. Axel dan Dira menepuk pundak Edgar pelan sambil terkekeh.
Meski Edgar juga tergolong karyawan baru di Segah Basadewa Group namun nyatanya ia juga mudah beradaptasi dengan rekan – rekan barunya itu. Selain mudah beradaptasi, Edgar juga terlihat lebih dewasa dibanding kan Axel dan Dira sehingga ia lebih sering menjadi penengah saat keduanya sedang berdebat.
“ Malam minggu nonton seru kali ya? “ kata Edgar sambil menikmati kentang goreng yang ada diatas meja.
“ Boleh ih, seru sepertinya. Tapi naik apa kita? “ jawab Dira kemudian.
Edgar terlihat merogoh saku celananya seperti sedang mengambil sesuatu kemudian meletakkan benda yang ternyata adalah sebuah kunci mobil diatas meja. Dira dan Edgar memandang benda kecil berwarna hitam itu hingga melongo.
“ Kok dapat? “ tanya Axel sambil memandang wajah Edgar dengan bingung.
“ Sayang sekali kita tidak tinggal satu mess. “ Dira memanyunkan bibirnya.
“ Tenang Dira, kalau kamu mau kemana – mana bilang saja nanti aku atau Axel
antar. “sambung Edgar disusul dengan acungan ibu jari oleh Axel.
“ Jadi hari Sabtu malam kita pergi nonton ya? “ ucap Dira kemudian dan kedua pria itu mengiyakan.
Ketiganya terlihat sangat kompak dan saling mendukung satu dengan yang lainnya, mereka juga benar – benar menjaga Dira dengan baik seperti pesan Pak Robert saat makan malam tempo lalu. Meski ada beban baru yang mereka pikul dipundak mereka masing – masing nyatanya tidak membuat mereka mundur. Justru mereka semakin termotivasi oleh karena dukungan yang terus diberikan satu orang dengan yang lainnya.
“ Dir, terus kamu sama Pak Sandro kalau kalian dirumah sering ngobrol nggak? “ tanya Axel ditengah – tengah candaan mereka saat membicarakan upacara peresmian tadi pagi.
“ Jarang sekali kami mengobrol Xel, Pak Sandro sangat pendiam aku takut mengajaknya bicara terlebih dahulu. Tapi tadi pagi beliau menungguku berangkat loh. “ jawab Dira ringan.
“ Iya, Pak Sandro sangat pendiam dan berkharisma ya. Tapi seperti nya dia orang yang baik Dir. “ Puji Edgar pada atasan sekaligus anak pemilik perusahaan tersebut. Dira mengangguk mengiyakan perkataan pria yang ada didepannya itu.
Waktu tidak terasa menunjukkan pukul tujuh malam ketiganya masih hanyut dalam canda tawa dan obrolan – obrolan ringan dibangunan luar kedai kopi. Beberapa orang keluar masuk kedalam kedai dan tidak sedikit Pria memandang kagum pada Dira, satu – satunya wanita yang ada diantara mereka.
“ Ya sudah pulang yuk? “ Ajak Dira pada kedua orang teman lelakinya itu.
“ Yuk, kita antar sampai depan gerbang rumah tinggalmu Dir. “ sambung Edgar sambil membereskan barang – barang yang ia letakkan di atas meja.
“ Ya ampun dekat begini sih, kalian pulang saja aku tidak apa – apa. “ tolak Dira pada tawaran Edgar.
“ Kita antar Dir, kamu dari tadi dilihatin terus sama orang yang lewatin meja kita. Bahaya kayaknya kalau melepasmu sendirian. “ tukas Axel memaksa.
“ Hahaha baiklah kalau kalian memaksa. “ sambil terkekeh Dira mengiyakan ucapan teman – temannya.
Ketiganya meninggalkan kedai kopi itu dan berjalan menuju bangunan rumah tinggal Dira yang jelas tampak mewah. Dira langsung masuk kedalam bangunan rumah berpagar besi dan disambut seorang satpam yang berjaga disana. Sementara kedua rekan Dira langsung beranjak meninggalkan bangunan itu saat Dira menghilang dibalik pagar.
Dira kemudian masuk kedalam bangunan utama rumah dan langsung menapaki tangga menuju ke kamarnya, tiba – tiba saat melewati kamar Sandro terlihat seseorang menarik handle pintu dengan keras. Pria tampan itu kemudian menyembul dari balik pintu.
“ Baru pulang Dir? “ tanya nya dengan nada sedikit ketus.
“ Eh Iya Pak, mari Pak. “ jawab Dira kikuk.
“ Dir, minta nomor HP mu. “ Pria tampan itu kemudian mengulurkan iphone nya pada Dira, dengan hati – hati Dira mengetikkan nomor HP nya disana dan mengulurkan kembali ponsel berwarna silver itu kepada pemiliknya.
“ Oke, trims. “ Sandro kemudian masuk kedalam kamar lagi dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.
Tulis Pria tampan itu melalui pesan yang ia kirikan pada Dira sesaat setelah ia menghilang kedalam kamarnya.