
Hari itu didalam ruang rapat kantor perwakilan Segah Basadewa Group sudah terlihat begitu ramai dipadati oleh para peserta rapat produksi. Axel dari tim procurement sudah siap untuk memberikan segala support nya agar kebutuhan persiapan produksi dapat tercukupi.
Sementara tim marketing sudah siap membagikan kabar baik berkenaan dengan kesepakatan mereka bersama beberapa perusahaan besar yang bersedia menjadi rekanan bisnis perusahan yang dikelola oleh Sandro tersebut.
Lalu dari tim produksi sudah berhasil melakukan negosiasi dengan beberapa kontraktok untuk memulai kegiatan mereka dilapangan. Dari tim Dira sendiri sudah menyiapkan draft surat perjanjian kerjasama dan sudah mengirimkan nya pada calon buyer agar dapat dilakukan review lanjutan.
Tidak lama setelah mereka duduk pada kursi yang disediakan dalam ruangan tersebut, Sandro tampak masuk kedalam ruangan diiringi oleh Alice seperti biasanya. Dengan gaya nya yang khas pria itu menundukkan kepalanya singkat pada peserta rapat kemudian duduk pada kursinya yang berada tidak jauh dari tempat duduk Alice.
Dada Dira tiba – tiba berdegup dengan kencang saat matanya beradu dengan mata Sandro, ingatannya sesaat membawa dirinya kembali pada kejadian semalam saat lelaki itu mencium bibirnya. Dira terlihat mengkerjap – kerjap kan matanya seolah menolak ingatan itu datang, dan berusaha fokus dengan rapatnya hari ini.
Mengetahui Dira yang begitu salah tingkah, Sandro yang sedang menatapnya dari kejauhan tampak tersenyum kecil melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Mata kedua insan itu beradu, membuat Dira semakin tertunduk lesu menahan rasa malu yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
“ Baiklah, selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Mari kita mulai untuk rapat hari ini “ Suara seksi Sandro terdengar menyapa dengan lembut ditelinga Dira.
Sesaat wanita itu kembali memandang wajah lelaki yang kini menjadi miliknya dengan tatapan mata berbinar – binar. Dira benar – benar merasa sangat bangga dan begitu beruntung dapat memiliki hati pria sehebat Sandro.
“ Silahkan dari tim produksi jika ada yang ingin disampaikan “ Sandro kembali membuka suara beratnya itu.
Seorang pria yang menjadi manajer produksi terlihat bangkit dari kursinya, kemudian memberikan pemaparan berkenaan dengan kebutuhan alat kerja dan juga tenaga kerja guna mencapai target produksi yang sudah diberikan oleh Sandro.
Lelaki yang usia nya sekitar empat puluh tahun itu juga menyebutkan nama – nama vendor yang sudah siap melakukan kerjasama dalam rangka pemenuhan tenaga pekerja borongan. Manajer tersebut juga terdengar menyampaikan keluhan dan kendala yang sedang ia hadapi saat ini.
Sesaat Sandro terlihat memicingkan matanya seraya memikirkan sebuah solusi untuk permasalahan dan kendala yang sedang dihadapi oleh anak buah nya itu. Sandro tampak begitu bijak saat menghadapi persoalan – persoalan pekerjaan yang begitu pelik dan rumit.
“ Atau ada solusi lain? “ Terdengar Sandro memberikan kesempatan bagi para karyawannya untuk memberikan opini.
“ Saya rasa jika kita melakukan sesuai dengan apa yang Bapak paparkan sebelumnya tidak akan terlalu sulit bagi kami Pak “ Tukas lelaki itu mengiyakan saran dari Sandro.
“ Oke jika demikian, lalu tim marketing bagaimana? “ Ujar Sandro kemudian.
Kini manajer marketing terlihat mengulurkan beberapa lembar kertas ke arah Sandro, pria itu membaca dengan seksama berkas yang baru saja ia terima. Sesaat ia tampak membisikkan sesuatu pada Alice, dan hal itu membuat Dira sedikit merasa aneh. Seolah ia tidak terima melihat Sandro berdekatan dengan perempuan lain meski ia adalah adik sepupu Sandro sendiri.
“ Jadi Ibu Dira, Tim Accounting sudah mengirimkan draft perjanjian kerja sama serta rincian perhitungan harga pada calon buyer? “ Sandro kini tampak memandang wajah cantik kekasihnya, yang hari itu terlihat lebih ayu dengan membiarkan rambut indahnya tergerai bebas diatas pundaknya.
“ Oh, sudah Pak. Tim kami sudah menghubungi calon buyer yang berhasil deal dengan tim marketing, kami tinggal menunggu surat balasan dari mereka “ Jawab Dira dengan sangat percaya diri.
“ Ada Pak “ Dira kemudian bangkit dari kursinya dan mengulurkan map cokelat pada lelaki tampan itu.
Dengan sengaja Sandro meraih map itu dari tangan Dira dan menyentuh dengan lembut punggung tangan dan jemari kekasihnya yang berdiri tidak jauh darinya. Dira tersenyum kecil saat kulit mereka berdua saling bersentuhan, sesudahnya perempuan cantik itu kembali menuju kursinya.
Sandro tampak membuka map yang baru saja diulurkan oleh Dira dan membacanya dengan sangat serius. Ia juga terlihat berdikusi dengan Alice beberapa saat, tidak jarang pria itu membandingkan berkas yang ia terima dari Dira dengan berkas yang ia terima dari manajer marketing.
“ Tunggu, Ibu Dira? Kenapa dikirimkan pada PT Global World? Bukan kah kita menolak kerja sama dengan mereka? Bukan begitu Pak Albert? “ Ucap Sandro seraya memandang wajah Pak Albert dan Dira secara bergantian dari mejanya.
Pak Albert masih belum menjawab, pria itu masih terdiam beberapa saat sembari mengecek kedalam tablet PC ditangannya.
“ Oh iya benar Pak, seharusnya tidak ada kerja sama dengan PT Global World “ Jawab Pak Albert setelah beberapa saat lelaki itu membaca data dalam benda berwarna hitam ditangannya tersebut.
Sesaat wajah Dira begitu pias saat ia tidak menyadari jika dirinya sudah melakukan kesalahan, dengan sedikit kalut Dira meminta list catatan pekerjaan dari Meira. Dira berusaha dengan cepat menemukan daftar calon buyer yang ia terima oleh anggota tim nya itu.
Benar saja dalam list yang diterima seharusnya tidak ada nama PT Global World, dia kecolongan dan tidak mengecek dengan benar pekerjaan anggota timnya. Dirinya langsung saja menerima berkas tersebut dan segera meneruskan draft surat perjanjian kerjasama serta rincian perhitungan harga tanpa mengecek kembali isi beserta nama – nama perusahaan yang sudah bersepakat.
“ Mohon maaf Pak, sepertinya Tim kami melakukan kekeliruan “ Dira menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan karena telah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
“ Bagaimana ini? Apakah kalian tidak melakukan pengecekan lagi sebelum draft dikirimkan? “ Sandro melemparkan dengan kasar map cokelat yang tadi diulurkan oleh kekasihnya itu tepat keatas meja.
“ Akan kami batalkan pengiriman draft yang kami kirim melalui email Pak “ Tukas Dira dengan panik.
“ Batalkan? Apa Ibu bisa menjamin mereka belum menerima pesan dan membacanya? Apa yang akan Ibu Dira lakukan jika mereka sudah terlanjur membaca email yang Ibu kirimkan? “ Ucap Sandro dengan nada suaranya yang begitu kaku dan tampak begitu kesal dengan kesalahan yang sudah terjadi.
“ Apakah kalian tidak bisa bekerja dengan lebih cermat? “ Sambung Sandro lagi dengan menatap tajam kearah Dira.
“ Maafkan kami Pak, akan kami buat surat permohonan maaf secara resmi pada PT Global World mengenai kesalahan pengiriman yang kami lakukan ini “ Jawab Dira dengan nada suaranya yang bergetar.
Dira ingin menangis saat itu juga, dia merasa sangat bodoh dan tidak berguna karena bisa kelolosan untuk hal yang semendasar itu. Bahkan Sandro yang semalam begitu romantis dan sangat lembut padanya kini terlihat begitu menyebalkan dan membuat Dira merasa sangat dipermalukan.
“ Oke, segera kirim surat permohonan maaf! Kedepan mohon agar sangat diperhatikan dan lebih cermat sebelum melakukan hubungan dengan pihak eksternal “ Ucap Sandro seraya meraih botol air minumnya diatas meja.
Hingga rapat berakhir wajah Dira yang semula berseri – seri kini tampak begitu kusut dan tidak bersemangat, bahkan ia menjadi enggan menatap wajah tampan kekasihnya yang terlihat begitu mempesona saat memimpin sebuah rapat. Dira merasa bersalah atas keteledorannya, ia juga merasa sangat kesal dengan sikap Sandro yang sangat berbeda ketika mereka sedang berkencan sehingga membuat dirinya merasa seperti sedang dipermainkan.