
Sudah seminggu sejak Dira dan Radit berpacaran, gadis cantik itu tidak pernah melihat Sandro, baik pertemuan tidak sengaja di kantor ataupun di rumah tinggal. Sering kali Dira masih melihat mobil Sandro sebelum dia pergi ke kantor dan saat sudah kembali dari bekerja.
Sore itu Dira mengetuk pelan ruangan kaca yang terlihat lengang disana, sambil membawa berkas Dira mendatangi meja kerja Alice. Sejenak perempuan itu menatap Dira kemudian merekahkan senyuman cantik nya menyambut kehadiran manajer akunting yang sedang berdiri didepannya.
“ Selamat Sore Ibu Oceana, ada yang bisa saya bantu? “ Sapa Alice ringan, masih dengan senyuman yang menggantung pada kedua sudut bibirnya.
“ Apa Pak Sandro ada Bu? Saya ingin mendiskusikan nilai kontrak untuk RAB yang kemarin diberikan pada saya Bu. “ Sambung Dira dengan lembut.
“ Pak Sandro sedang berada diluar kota Ibu Oceana, jika memang ada yang urgent bisa tinggalkan berkasnya pada saya untuk nanti dimintakan approval. “ Suara Alice masih terdengar begitu lembut.
“ Oh? Kira – kira kapan Bapak kembali ya Bu? Karena harus ada yang saya diskusikan dengan beliau mengenai proyek ini Bu. “ Sambung Dira sambil tetap memegang dengan erat berkas ditangannya.
“ Kemungkinan besok Ibu sudah bisa berdiskusi dengan Pak Sandro bu. “ Jawab Alice singkat tanpa menanggalkan wajah ramahnya.
“ Apa yang ingin didiskusikan ya? “ Tiba – tiba suara Sandro mengaggetkan mereka berdua yang masih berbincang – bincang didepan meja kerja Alice. Sandro kini terlihat lebih hangat dibanding seminggu yang lalu, yang tampak sangat acuh tak acuh pada Dira.
“ Kenapa langsung ke kantor? “ Terdengar Alice berbicara dengan nada informal pada pria yang baru saja masuk kedalam ruangan kaca.
“ Hahaha harusnya kamu senang dong Lice memiliki atasan rajin seperti aku? “ Sandro tertawa renyah, membuat Dira sedikit kikuk berada diantara mereka berdua yang terlihat sangat dekat.
“ Ayo masuklah Dira. Buat kan aku teh Lice. “ Ujar Sandro lagi sambil mendorong pelan pintu kayu dan segera masuk ke dalam ruangannya.
Dira segera duduk pada sofa yang ada didalam ruang kerja Sandro, lelaki tampan itu terlihat melepaskan jasnya dan menggantungnya pada hanger kayu yang berdiri tidak jauh dari kursi kerjanya. Dengan kemeja biru terang dan vest hitam yang menempel sempurna pada tubuhnya, Sandro terlihat sangat tampan.
“ Ada apa Dira? “ Tanya Pria itu sesaat setelah duduk dihadapan Dira.
“ Ini Pak, hasil analisa dari kami untuk data perbandingan dua vendor yang Bapak berikan tempo lalu. “ Dira kemudian mengulurkan berkasnya pada Sandro, sekilas Pria itu melirik pada gelang batu ruby yang menggantung dengan anggun pada tangan kanan Dira.
Sandro kemudian membaca dengan seksama berkas yang baru saja diulurkan padanya itu, ia tampak membolak – balikkan kertas yang ada ditangannya. Sambil sesekali menghitung angka – angka disana dengan menggerakan – gerakan cepat tangannya di udara.
“ Jadi bagaimana pendapatmu? “ Sandro kini melipat tangannya dan meletakkannya tepat diatas dada bidangnya itu.
“ Kalau dari sisi kami Pak, akan lebih menguntungkan saat kita menggunakan vendor ini. “ Dira mendorong pelan salah satu berkas yang ada diatas meja.
“ Memang untuk selisih harga diantara keduanya tidak begitu signifikan, costnya juga masih termasuk nilai standar. Karena kebanyakan harga bahan baku mereka rata – rata hampir sama, yang membedakan adalah sistem termin pembayaran mereka Pak. “ Dira menjelaskan lagi.
“ Kita bisa sedikit mengulur waktu payment karena tempo nya lebih lama. “ Ujar Dira lagi.
“ Oke, infokan saja pada Pak Albert agar segera di deal kan dengan vendor tersebut. “ Terdengar Sandro menerima masukan hasil analisa dari Dira.
“ Baik Pak, mohon Bapak paraf agar saya bisa langsung serahkan ke Pak Albert. “ Dira mengulurukan sebuah pena bergagang merah ke arah Sandro. Lelaki itu tampak memberikan catatan pada berkas yang diajukan oleh Dira kemudian membubuhkan parafnya disana.
“ Jika demikian saya permisi dahulu Pak. “ Pamit Dira setelah beres dengan berkas yang sudah diteken oleh Sandro baru saja.
“ Oh iya Dir, nanti setelah pulang kerja mampir ke kamar saya ya. “ Ucapan Sandro baru saja membuat Dira menghentikan langkahnya.
“ Flat saya Dira. “ Sandro kembali menegaskan.
“ Baik Pak. “ Dira mengangguk pelan mengiayakan ucapan Sandro, kemudian ia melenggang keluar dari ruang kerja orang nomor satu di kantornya.
***
Pukul enam sore lebih tiga puluh menit Dira baru saja sampai di rumah tinggalnya, ia baru saja menyempatkan diri pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bungkus mi instan karena seharian ini dia tidak henti - hentinya membayangkan menyantap makanan tersebut.
Tok.. tok..tok
Dira mengetuk dengan pelan pintu tempat tinggal Sandro, ia sudah berjanji untuk mampir ke flat atasannya itu sepulang bekerja. Tidak berapa lama si pemilik ruangan tampak membuka pintu dan mempersilahkan Dira masuk kedalam tempat tinggalnya.
“ Kamu baru pulang? “ Ucap Sandro penuh tanya, seolah ia memang benar – benar sudah menunggu kedatangan Dira.
“ Iya Pak, mampir ke supermarket tadi. “ Sambung Dira sambil mengikuti Sandro masuk kedalam flat pria tampan itu.
“ Duduklah Dir. “ Sandro memerintah wanita itu duduk di sofa ruang tamunya, sementara ia melenggang masuk kedalam kamarnya.
Dira kemudian duduk diatas sofa sambil berkali – kali menepuk paha nya dengan pelan menunggu Sandro yang belum keluar dari kamarnya. Perasaan Dira sedikit tidak enak, karena tidak biasanya laki – laki itu menyuruhnya datang kedalam flat nya kecuali waktu itu saat Ibu nya sedang datang.
“ Ini Dir sedikit oleh - oleh, tadi itu saya baru pulang dari Singapore. “ Ucap Sandro ringan sambil mengulurkan paper bag berwarna merah muda ke arah Dira.
“ Aduh terima kasih banyak ya Pak, saya malah dapat oleh – oleh dari Bapak. “ Senyum terkembang disudut bibir tipis Dira, membuat Sandro tertegun memandang paras ayu Dira yang semakin cantik,Sandro sangat merindukan senyuman itu.
“ Sama – sama Dira. “ Sandro terjaga dari tatapan kosongnya pada Dira.
“ Sekali lagi terima kasih ya Pak, kalau begitu saya pamit ke atas dahulu. “ Ucap Diri sambil beranjak dari tempat duduknya.
“ Oke Dira. “ Sandro juga beranjak mengikuti langkah Dira.
Tetapi pada saat Sandro hendak memberikan jalan untuk Dira, laki – laki itu justru tidak sengaja menyenggol tas belanjaan Dira yang ada didekat pintu. Membuat belanjaan Dira tampak berhamburan diatas lantai.
“ Aduh sorry Dir, nggak sengaja. “ Dengan cekatan Sandro membantu memungut seluruh barang yang berserakan. Hingga mata Sandro dibuat tertuju pada bungkusan mi instan berwarna hijau yang sedang ia pegang itu.
“ Sepertinya enak Dir. “ Ucap Sandro lagi sambil memasukkan mi instan tersebut kedalam tas belanjaan Dira.
“ Iya ini enak Pak. Bapak belum pernah coba? “ Tanya Dira pada laki – laki itu dan Sandro menggelengkan kepalanya pelan.
“ Ini kalau Bapak mau coba. “ Dira mengulurkan beberapa bungkus kepada Sandro yang terlihat menginginkan makanan nya itu.
“ Nggak perlu Dira soalnya saya nggak bisa memasak itu Dir. Atau kamu mau bantu buatkan? “ Ucap Sandro tiba – tiba.