CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
PENERIMAAN TAK TERDUGA



    Tok.. tok.. tok..


    Sandro mengetuk pintu tempat tinggal Dira dengan pelan, malam itu pria berbadan tinggi tegap yang merupakan kekasih Dira tampak berpakaian dengan cukup rapi. Dira tertegun memandang ketampanan pria yang kini berhasil merebut hatinya tersebut.


    “ Ada apa sayang? Ayo masuk “ Pinta Dira tanpa melepaskan pandangannya pada Sandro.


    “ Ayo ikut aku? “ Ajak Sandro tiba – tiba.


    “ Kemana? “ Wajah Dira terlihat bingung, Sandro tidak mengatakan apapun sebelumnya. Mereka juga tidak memiliki janji kencan sebelumnya.


    “ Ke rumah Alice, sana ganti baju “ Sandro mendorong tubuh kekasihnya dengan pelan agar segera bergegas berganti pakaian, sementara ia langsung duduk diatas kursi yang berada dimeja makan.


    “ Apa ada acara Kak? “ Dira berteriak dari dalam kamarnya.


    “ Aku anak tunggal ya, tidak memiliki adik sepertimu! “ Sandro menjawab dengan kesal teriakan Dira.


    Karena tidak mendapat jawaban yang benar dari Sandro, akhirnya Dira memilih pakaian dengan gaya kasual. Celana berwarna cream yang ia padukan dengan blouse  berlengan sepanjang tiga perempat berwarna hitam, sederhana namun tetap membuat Dira terlihat cantik.


    “  Aku sudah siap sayang “ Ucap Dira saat mendapati Sandro tengah sibuk dengan ponsel ditangannya.


    “ Hmmm, Kamu selalu terlihat cantik “ Sambung Sandro setelah mengalihkan pandangannya kearah Dira kemudian bangkit dari kursi dan mencium bibir kekasihnya itu sekilas.


    “ Ayo “ Sandro kemudian meraih tangan Dira dan membimbingnya untuk keluar dari rumah tersebut.


    Didepan para karyawan rumah tinggal, Sandro sudah tidak begitu menutup – nutupi lagi hubungan dirinya dengan Dira. Ia lebih terbuka, bahkan tidak akan segan merangkul atau menggandeng tangan Dira saat berada didepan para karyawan di rumah tinggal, karena ia yakin mereka dapat dipercaya.


    Kali ini lelaki tampan itu terlihat membuka pintu mobil untuk kekasihnya, dan bahkan membantu wanitanya itu untuk memasang sabuk pengaman. Sesudahnya ia tampak mulai menjalankan kendaraannya dan berjalan menjauhi bangunan rumah tinggal.


    Setibanya didepan rumah mewah bercat putih, Sandro menekan klakson mobilnya beberapa kali dan membuat seorang petugas jaga berlarian membuka pagar. Sandro kemudian turun dari mobil dan kembali meraih tangan Dira mengajaknya masuk kedalam rumah yang sebenarnya adalah milik orang tua Sandro namun sengaja meminta Alice menempatinya.


    Sandro langsung mengajak Dira menuju halaman belakang rumah yang ternyata sudah ada Alice, Pak Hiskia dan Ibu Lydia yang tidak lain adalah orang tua Sandro. Mereka begitu seru menyiapkan makanan, lengkap dengan pemanggang barbeque berwarna hitam berdiri disamping meja kayu ditengah halaman.


    “ Sayang, kenapa ada Pak Hiskia? “ Bisik Dira sembari menarik tangan Sandro dan kedua nya menghentikan langkah mereka.


    “ Kenapa? Kan memang orang tua ku “ Sandro sebenarnya mengerti maksud Dira, namun ia mengacuhkannya. Ia tetap menarik tangan kekasihnya itu dan mengajaknya mendekati orang tuannya.


    “ Halo Pa, halo Ma, maaf aku tidak menjemput ke bandara “ Sapa Sandro ringan seraya menepuk punggung Ibu nya.


    “ Nggak Papa nak “ Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan bugar tersebut tampak memeluk tubuh anak laki – laki nya sembari menghujani kecupan pada kedua pipinya.


    “ Ah? Dira bukan? “ Sambung Ibu Sandro saat melihat Dira berdiri mematung tidak jauh dari mereka.


    “ Oh Dira, sini ayo sini “ Pak Hiskia tampak antusias melihat kehadiran karyawan kesayangan Pak Robert itu.


    “ Selamat malam Pak Hiskia, selamat malam Ibu Lydia “ Dira menjabat tangan kedua orang tua Sandro secara bergantian.


    “ Saya kira kamu dan Sandro tidak bisa akrab, hahaha “ Tukas Pak  Hiskia setelah selesai berjabat tangan dengan Dira.


    “ Iya Ibu Alice  “ Masih dengan nada sungkannya Dira kemudian mengambil tempat disamping Alice.


    “ Ayo makan sekalian “ Ajak Ibu Lydia seraya mengulurkan piring ke arah Dira.


    “ Terima kasih Bu, setiap kali Ibu datang saya selalu diajak makan, Hehehe “ Dira terkekeh pelan.


    “ Jangan sungkan Nak Dira, oh iya terima kasih ya sudah membawa Sandro ke rumah sakit waktu itu. Dia itu selalu begitu, kalau sedang sakit pasti hanya diam dan baru memberi tahu kalau sudah sembuh “ Ucap Ibu Lydia lagi.


    “ Oh bukan apa – apa Bu “ Dira terlihat menjadi sungkan setelah mendengar ucapan orang tua Sandro baru saja.


    Mereka berlima kemudian tampak menyantap sajian makan malam diruang terbuka dibelakang rumah, suasana hangat malam itu membuat hati Dira merasa nyaman. Namun ia masih saja takut jika kedua orang tua Sandro tidak bisa menerima dirinya sebagai kekasih anak mereka satu – satunya.


    “ Oh iya, mama bilang ingin bertemu dengan pacarku kan? Ini maka nya aku ajak kesini biar mama nggak cerewet bertanya – tanya terus “ Ujar Sandro tiba – tiba, membuat Dira terbatuk – batuk mendengar ucapan kekasihnya itu.


    “ Kalian berpacaran? “ Pak Hiskia terlihat menghentikan aktifitas makannya dan memandang kearah putra semata wayangnya.


    “ Hmm “ Sandro mengiyakan sembari mengangguk pelan.


    “ Jadi benar kalian sudah berpacaran? “ Ibu Lydia mengulangi pertanyaan suaminya, dan Sandro mengangguk lagi.


    Dira hanya menundukkan kepalanya, ia takut dengan reaksi yang akan diberikan oleh orang tua Sandro yang tidak bukan adalah pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja. Sesaat Dira meraih tisu yang berada didepannya menyeka bibirnya yang agak berminyak karena makan malam mereka.


    “ Hahaha, Papa dan Mama akhirnya segera dapat calon menantu kan? “ Tukas Alice menggoda orang tua Sandro yang tidak lain adalah om dan tantenya sendiri.


    “ Syukurlah ternyata kekasihmu adalah orang yang berada sangat dekat dengan kami dan sudah kita kenal baik, lalu Dira sudah siap menikah dengan Sandro? “ Tukas Pak Hiskia tiba – tiba membuat Dira semakin gelapan.


    Respon pemilik perusahaan tersebut sungguh berada diluar perkiraaan Dira, dalam pikirannya mungkin mereka akan menentang hubungannya dengan putra semata wayangnya seperti yang terjadi dalam kebanyakan drama di televisi.


    “ Hmm, Pa kita masih dalam masa penjajakan jadi bersabarlah “ Sandro kini terdengar bersuara. Sebenarnya lelaki itu sudah sangat ingin menikahi Dira, namun ia tahu jika kekasihnya itu masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan dirinya.


    “ Mama sangat senang San! “ Ucap Ibu Lydia dengan mata yang berbinar – binar.


    “ Lalu kalau di kantor kalian bagaimana? “ Sambung Pak Hiskia lagi.


    “ Hehehe, sementara ini kalau dikantor kami masih seperti biasanya Pak. Seperti kami tidak memiliki hubungan spesial hanya sebatas Pak Sandro atasan dan saya karyawan “ Ucap Dira dengan malu – malu sambil menundukkan kepalanya.


    “ Lalu kalau rumah tinggal kalian tetap tinggal pisah flat kan? “ Telisik Ibu Lydia lagi.


    “ Tentu saja Ma!! Mama ini! “ Kesal Sandro pada Ibunya, membuat Alice terkekeh memandang wajah kakak sepupunya yang memerah itu.


    “ Pesan Papa, apapun yang kalian lakukan tetap jaga nama baik keluarga saja dan kalau bisa segera dipikirkan kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ini “ Sambung Pak Hiskia sambil memandang ke arah Dira.


    “ Iya Pak “ Dira menggukkan kepalanya dengan pelan. Hatinya lega karena orang tua Sandro bisa menerima keberadaan dirinya sebagai kekasih dan bahkan mereka membuka peluang bagi Dira untuk dapat segera menjadi bagian dari keluarga Basadewa.