CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
RASA INGIN TAHU



    Sore itu Dira melihat mobil  Sandro  melenggang keluar dari halaman kantor, tidak seperti hari – hari biasanya ia mengendarai mobilnya sendiri dan Alice duduk disampingnya, ia tidak membawa serta Pak Alan. Rasa penasaran dan keingintahuannya akan hubungan Sandro dan Alice kembali menyeruak didalam bilik hatinya.


    “ Ah, apa mereka ke rumah? “ bisik Dira pada dirinya sendiri.


    Perempuan cantik itu kemudian mempercepat langkahnya menyusuri trotoar jalanan, ia berhenti sesaat sebelum ia melintasi zebracross. Dalam hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran mengenai hubungan Sandro dan Alice. Mereka berdua tampak begitu dekat, bahkan tadi didalam lift Sandro berbicara pada wanita itu dengan bahasa yang tidak formal.


    “ Jika mereka tidak memiliki hubungan spesial kenapa Pak Sandro repot – repot mengajaknya masuk ke perusahaan ini? Membawanya dari Singapura ke sini? “ Kembali Dira bermonolog dengan dirinya sendiri.


    Ia melihat mobil hitam dengan nomor polisi  7 EDB itu sudah terparkir dihalaman rumah, benar sesuai dugaannya bahwa mereka kembali ke boardinghouse. Dira masuk kedalam rumah dengan langkah pelan dan sedikit mengendap - endap, ia langsung menuju dapur dan mengambil air minum.


    “ Pak Jaka? “ Setengah suara Dira memanggil office boy yang saat sedang melintas masuk ke dalam dapur.


    “ Iya Mbak Dira? “ Jawab Pak Jaka dengan suara yang agak keras.


    “ Stt, Pak Sandro sudah pulang ya Pak? “ Tanya Dira seraya memberi kode pada Pak Jaka untuk memelankan suaranya.


    “ Sudah Mbak, sama perempuan. Mereka tadi masuk ke flat kamar Bapak. Ada apa Mbak? “ Pak Jaka mengikuti Dira memelankan suaranya.


    “ Oke Pak. Nggak papa tanya saja Pak. “ Dira kemudian melenggang keluar dari dapur menuju kamarnya.


    Dira menapaki tangga kayu yang membawanya ke lantai tiga, masih dengan langkah yang sangat hati – hati dan tanpa suara. Selain takut bertemu dengan Sandro juga karena ia merasa sangat kelelahan, tenaganya terasa habis terkuras karena meeting hari ini. Dira berjalan seraya menundukkan kepalanya dan sesekali bergelayut pada pegangan tangga.


    Klik


    “ Aduh, mereka keluar. “ Dira mati kutu, ia bermaksud menghindari Sandro dan Alice tetapi nyatanya malah mendapati mereka keluar bersamaan dari flat kamar Sandro.


    “ Makanya lain kali tinggalkan saja pakaian disini. “ Terdengar suara Sandro tepat setelah bunyi pintu kamarnya tertutup.


    Laki – laki tampan itu menenteng sebuah papper bag berwarna hitam sementara Alice mengekornya dari belakang menuruni tangga. Terlihat Sandro dengan celana panjang berwarna cokelat dipadukan kaos polos berwarna navy, rambutnya masih basah tampak jelas ia baru saja selesai mandi.


    “ Selamat sore Pak, selamat sore Bu Alice. “ sapa Dira saat berpapasan dengan mereka ditengah – tengah tangga.


    “ Selamat Sore Ibu Oceana. “ Jawab Alice dengan lembut seraya menyunggingkan senyum manisnya pada Dira.


    “ Iya, sore. “ Sementara Sandro menjawabnya dingin.


    Dira kemudian memberikan jalan agar mereka berdua lewat, ia mengintip keduanya yang turun dari tangga melalui sela – sela pegangan tangga.


    “ Mau makan dulu apa langsung pulang? “ kembali terdengar sayup – sayup suara Sandro menggema dari lantai bawah.


    Dari kejauhan terlihat Sandro bahkan menutup pintu mobil untuk Alice, perlakukan Sandro memang terasa sangat spesial untuk sekretarisnya itu.


    “ Tidak mungkin jika hubungan Pak Sandro dan Bu Alice hanya sebatas rekan kerja, lihatlah bagaimana perlakuannya pada Bu Alice. “ Gumam Dira pada dirinya sendiri.


    Sekerjap Dira tersadar akan tingkah bodohnya, ia menyadari betapa kurang kerjaannya dia hingga pulang dengan terburu – buru hanya untuk memastikan keberadaan Sandro dan Alice. Bahkan sekarang ia berdiri dan mengendap – endap mengintip Sandro dari balik jendela kamarnya.


    “ Dira! Apa yang kamu lakukan? “ Teriak Dira pada dirinya sendiri.


    Menyadari sikapnya yang sedikit berlebihan Dira memukul pelan kepalanya, kemudian ia menjauh dari jendela kaca itu. Ia tertawa geli melihat tingkah bodohnya demi mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang menggerogoti seluruh hatinya.


    “ Hahaha, tapi mereka romantis sekali. Jika benar mereka berpacaran juga sekaligus bekerja bersama. “ Dira semakin berimajinasi dengan spekulasinya.


    Sambil tersenyum – senyum kecil membayangkan hal – hal romantis yang mungkin dilakukan pasangan itu Dira meraih handuk mandinya kemudian membasuh sekujur tubuhnya yang terasa sangat lelah. Seusai mandi ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang selalu bersih dan tertata dengan rapi, ia menggolekkan tubuhnya kesisi kanan kiri ranjang.


    “ Ah, mari kita cari media sosial Pak Sandro! “ gumam Dira penuh semangat seraya meraih HP yang ada di atas meja lampu kamarnya.


    Dengan lincah jemari lentik Dira bergerak – gerak pada layar Hpnya mencoba menemukan akun instagram pria itu. Beberapa kali ia menuliskan nama Sandro dan menemukan akun yang salah, hingga pada akhirnya ia menemukan nama Sandro_Damaresh dan beruntungnya Dira, akun itu benar milik laki – laki yang dicarinya. Kebetulan yang sungguh tidak terduga, akun instagram pria  itu tidak di kunci sehingga Dira bisa melihat foto – foto Sandro didalam sana. Hampir semua foto yang dipajang disana adalah foto – foto  landscape dan architectural, Dira berusaha menggali lebih dalam agar rasa penasarannya terjawab.


    Sampai pada bagian akhir galeri online Sandro, perempuan itu menemukan apa yang ia cari. Foto Sandro beberapa waktu lalu bersama seorang perempuan berkulit putih dengan bentuk tubuh tinggi ramping nyaris sempurna. Rambut lurusnya yang panjang tergerai indah, semakin membuat wanita tersebut telihat cantik dan anggun,  ya perempuan itu adalah Alice. Sekretaris pribadi Sandro yang Dira duga adalah kekasih Sandro.


    “ Iya kan benar dugaanku! Mereka pasti memiliki hubungan spesial, lihatlah ini bahkan captionnya saja begini! “ Dira tertawa dengan puas saat ia merasa teka teki hubungan Sandro terjawab.



    “ Ah bagaimana ini aku tidak sengaja menekan tanda suka! “ Dira berteriak sangat panik saat ia tidak sengaja menyentuh tanda hati disana. Buru – buru ia membatalkan ‘like´nya untuk unggahan Sandro bersama Alice saat menghadiri sebuah acara yang terlihat formal itu.


    “ Apakah tidak akan muncul notifikasi? Bagaimana ini jika Pak Sandro menyadari? “ Gumam Dira dengan cemas.


    Dira kemudian melemparkan Hpnya diatas ranjang karena merasa gusar, namun Dira juga  merasa lega karena rasa ingin tahunya akan hubungan pribadi Sandro sudah terjawab. Meski terlihat sangat dingin dan sangat cuek nyatanya Sandro memiliki seorang teman perempuan yang sangat dekat yang bahkan berada disampingnya setiap waktu. Dira semakin yakin dengan hubungan Sandro dan Alice bahwa mereka berpacaran.


    “ Ah akan banyak hati yang patah jika mereka tahu Pak Sandro sudah memiliki pacar. “ gumamnya lagi.


    “ Eh tetapi kenapa aku se – kepo ini ya? “ Dira bermonolog dengan dirinya sendiri saat menyadari sikap ingin tahunya yang berlebihan semenjak tadi siang melihat keakraban atasannya itu dengan sekretarisnya.


    Dira kemudian meraih kembali HP yang ada didekatnya, ia menghapus histori pencariannya agar tidak muncul lagi nama Sandro disana.


    “ Sudah, jangan penasaran lagi. Mau pacarnya mau bukan itu bukan urusanmu Dira. “ Dira mengomeli dirinya sendiri lalu terhanyut dalam waktu senggangnya di sore itu.