CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
BERMALAM DIRUMAH SAKIT



Dira segera memproses pembayaran deposit kamar perawatan Sandro dengan kartu yang tadi sudah diberikan pin nya oleh pria kaya raya itu. Tidak lama kemudian beberapa perawat membantu mendorong ranjang lelaki itu dan memindahkannya ke kamar perawatan VVIP.


Suster kemudian mengambil sampel darah Sandro untuk mendeteksi penyakit yang sedang diderita laki – laki itu. Dira masih setia menemaninya didalam kamar perawatan yang lebih mirip dengan hotel, wanita itu duduk pada kursi disamping tempat tidur Sandro.


“ Pulang lah Dira, minta Pak Allan mengantarmu “ Ucap pria itu pelan sambil memandang wajah Dira yang tetap cantik meski tanpa polesan make up.


“ Saya telponkan Bu Alice ya Pak? “ Jawab Dira kemudian.


“ Jangan, nanti dia lapor pada mama saya. Besok saja jika hasil tes nya sudah keluar Dir, saya takut orang tua saya cemas “ Sambung Sandro menolak dengan halus ucapan Dira.


“ Saya tidak tega kalau Bapak tidak ada yang menunggui “ Jujur Dira sambil bergantian menatap wajah sayu laki – laki yang pada hari – hari biasanya tampak begitu sempurna.


“ Saya tidak apa – apa Dira, saya sudah biasa melakukan apa – apa sendirian “ Tukas Sandro meyakinkan Dira.


“ Itu kan kalau Bapak sedang sehat, ini kan Bapak sedang sakit “ Dia terdengar seperti sedang mengomeli pria yang terbaring lemah diatas ranjang.


“ Tidak apa – apa Dira, sungguh “ Sandro menatap lekat paras ayu Dira, sementara gadis itu tampak berpikir sejenak dan mempertimbangkan banyak hal dalam benaknya.


Dirinya benar – benar tidak tega jika harus meninggalkan seseorang yang sedang sakit sendirian berapa di ruang perawatan. Hingga pada akhirnya Dira memutuskan untuk tetap tinggal disana malam itu menemani Sandro yang sedang lemah.


“ Apa kamu yakin tidak apa – apa Dira? “ Sandro terdengar memastikan keputusan Dira untuk tetap tinggal dirumah sakit.


“ Benar Pak, tidak apa – apa. Bapak sebaiknya lekas tidur supaya bisa segera pulih “ Ucap Dira seraya membetulkan ujung selimut Sandro yang tersingkap, membuat jemari kaki laki – laki tersebut menyembul dibalik selimut.


“ Terima kasih Dira “ Sambung Sandor kemudian tanpa mengalihkan pandangan matanya dari perempuan cantik didekatnya.


“ Sama – sama Pak “ Dira tersenyum simpul kemudian melangkah keatas sofa seraya meraih satu buah air minum dengan kemasan cup plastik diatas meja.


“ Dira, kalau kamu mau makan belilah sesuatu dengan aplikasi pesan antar di HP saya atau minta Pak Allan membelikan makanan. “ Kata Sandro tiba – tiba setelah melihat gadis itu selesai meneguk habis minumannya.


“ Tidak apa – apa kok Pak, kebetulan saya sudah makan tadi “ Dira menolak halus ucapan Sandro baru saja.


“ Saya tidur sebentar ya Dira, kalau kamu memang membutuhkan sesuatu pakailah uang saya didalam dompet “ Pria itu terlihat menarik selimut hingga menutupi dadanya kemudian ia terlelap.


Melihat Sandro yang sudah tertidur, Dira segera keluar dari kamar perawatan turun menuju tempat parkir dan meminta Pak Allan agar pulang karena Sandro harus tinggal dirumah sakit malam itu. Mendengar ucapan Dira, supir pribadi Sandro itu segera berpamitan dan berpesan agar menghubunginya jika memang ada sesuatu yang dibutuhkan.


Sesudahnya Dira kembali masuk kedalam kamar perawatan Sandro, waktu juga kebetulan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dira meraih selimut yang berada diujung sofa besar disana lalu meluruskan tubunya yang sejak petang tadi berlarian dengan panik karena Sandro yang pingsan. Tidak lama berbaring, Dira juga ikut tertidur dengan nyenyak diatas sofa coklat yang berada tepat diseberang ranjang Sandro.


***


Pagi harinya saat waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Dira baru saja membuka matanya. Wanita itu segera masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang tetap saja terlihat ayu meski ia baru bangun tidur.


Sekeluarnya dari dalam kamar mandi, ia kemudian mendekati tubuh Sandro dan sejenak memegang kening Sandro dengan tangannya untuk memeriksa kondisi bos nya itu. Tetapi saat tangan Dira tepat berada pada kening pria itu, Sandro tiba – tiba saja membuka matanya.


“ Maaf Pak “ Ucap Dira dengan kikuk saat Sandro masih memegangi tangannya.


“ Tidak apa – apa Dira, terima kasih sudah menemani saya semalaman “ Tukas Pria yang kini kondisinya sudah membaik sekarang.


“ Sama – sama Pak, saya sudah sedikit lega karena Bapak sudah tidak demam “  Jawab Dira dengan jujur sambil menyunggingkan senyumannya penuh ketulusan pada lelaki itu.


Sandro menatap lekat wajah cantik Dira, seraya mengusap dengan lembut punggung tangan Dira yang masih ada dalam genggamannya. Wajah Dira tiba – tiba saja terlihat memerah karena mendapat perlakuan tidak biasa dari pria tampan dihadapannya.


“ Dira, boleh saya mengatakan sesuatu? “ Ucap Sandro lagi, masih dengan mengusap – usap punggung tangan Dira.


“ Iya Pak? Ada apa ya? “ Dira dengan sedikit berat menelan salivanya, jujur saja jantungnya berdegup dengan lebih keras saat itu. Sikap Sandro benar – benar tidak seperti biasanya sehingga membuat dirinya menjadi gugup.


“ Sebenarnya saya memiliki perasaan spesial padamu Dira, semenjak kapan saya tidak pernah tahu, yang jelas sejak kita makan tahu tek bersama didepan boardinghouse saya sudah mulai tertarik padamu “ Jujur Sandro sambil terus menatap dalam pada dua bola mata Dira.


“ Apa kamu mau menjadi pacar saya? “ Ucap Sandro tiba – tiba.


Perasaan Dira menjadi tidak karuan pagi itu, hal tersebut sekalipun tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Jelas – jelas dirinya dengan Sandro berada pada level kasta yang berbeda, tentu saja ia tidak berani memimpikan untuk bisa mendapatkan perasaan spesial dari Sandro.


Namun perkataan Sandro pagi itu justru membuat Dira seperti terkena sambaran petir ditengah hari yang terik. Bagaimana pun selama ini ia mengira kebaikan Sandro padanya hanya sebatas hubungan rekan kerja atasan dengan karyawannya. Bukan karena lelaki tersebut memiliki perasaan spesial padanya.


“ Tidak perlu kamu jawab sekarang Dira, bisa kamu pikirkan dahulu mengenai perasaan saya ini. Kalaupun kamu menolak saya, tidak perlu sungkan kita tetap bisa berteman baik dan kita tetap rekan kerja “ Tukas Sandro lagi.


Lelaki itu sepertinya paham betul dengan reaksi Dira yang begitu kaget melihat pengakuannya. Sehingga ia memberikan waktu bagi Dira agar berpikir sejenak untuk mempertibangkan keputusannya pada ungkapan perasaan Sandro yang sangat mendadak dan tidak romantis sama sekali.


“ Hmm, Pak berikan saya waktu “ Dira berdehem dengan pelan kemudian menarik lembut tangannya yang masih digenggam oleh Sandro, wanita cantik itu segera berpindah menuju sofa menunggu kedatangan kunjungan dokter untuk pemeriksaan pasien dan pembacaan hasil tes.


Sekitar pukul enam lebih tiga puluh menit, seorang dokter pria ditemani oleh seorang suster terlihat masuk kedalam kamar Sandro. Perawat tersebut mulai mengecek tekananan darah Sandro dan memberikan suntikan melalui selang infus yang masih menempel di pergelangan tangan lelaki tampan itu.


“ Pak, hasil pemeriksaan sudah keluar Bapak mengalami gejala tipes saran saya supaya tetap bed rest hingga dua hari kedepan. Sepertinya Bapak sering terlambat makan dan tidak cukup beristirahat “ Suara Dokter mulai terdengar menyampaikan informasi hasil pemeriksaan sambil mengulurkan amplop putih berisi data pemeriksaan.


“ Oke Dokter, akan saya ikuti saran dari Dokter untuk tetap bed rest “ Sandro terdengar mengiyakan saran dari Dokter, pria berjas putih itu segera keluar dari dalam kamar setelah rampung mengecek kondisi pasien.


“ Dira, pulanglah. Isitirahatlah dirumah aku akan meminta Alice menyampaikan izin mu hari ini ke bagian personalia “ Tukas Sandro dengan gaya bicara tidak formal seraya berusaha meraih ponselnya diatas nakas.


“ Tidak perlu Pak, saya bisa ke kantor hari ini. Maaf harus meninggalkan Bapak hari ini, apakah Bapak baik – baik saja? “ Tanya Dira kemudian.


“ Aku tidak apa – apa Dira, oke kalau begitu aku telpon Pak Allan supaya menjemputmu “ Sambung Sandro kemudian menekan beberapa tombol dalam layar ponselnya itu kemudian terdengar suaranya meminta Pak Allan datang ke rumah sakit.


“ Kalau begitu saya permisi dahulu Pak, jika ada yang Bapak perlukan kabari saja Pak “ Kali ini Dira tidak menolak saran Sandro. Ia kembali ke rumah tinggalnya bersama dengan Pak Allan.