CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MAKAN SIANG



Pukul dua belas siang lebih lima menit Dira sudah terlihat keluar dari dalam ruang kerja nya dan langsung menuju lantai satu untuk bertemu dengan Axel dan Edgar. Mereka bertiga memiliki agenda mingguan yang secara rutin dilakukan, yaitu makan siang bersama.


Ketiga muda mudi itu berjalan menuju sebuah kedai langganan mereka yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor sehingga dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain  menjual aneka menu nasi lengkap beserta lauk pauknya, mereka juga menyediakan ice cream  yang akan tetap nikmat disantap dalam cuaca apapun.


“ Kamu makan apa Dir? “ Tanya Edgar pada Dira yang sudah terlebih dahulu duduk dikursi dekat jendela kaca.


“ Nasi tim ayam jamur ya Mas, sama juice strawberry “ Pinta Dira kemudian sembari meletakkan ponselnya keatas meja.


“ Mau ice cream nggak? “ Tanya Edgar kemudian.


“ Nggak usah Gar, nanti Dira jadi gendut “ Axel yang baru saja kembali dari toilet tampak menimpali pertanyaan Edgar yang ditujukan pada Dira.


“ Ih apasih! Menyebalkan! “ Dira memukul dengan pelan pundak Axel yang kini terlihat menarik kursi tepat diantara Dira dan Edgar.


Sesudah mencatat pesanan mereka bertiga, Edgar tampak memanggil pelayan kemudian mengulurkan catatan pesanan tersebut pada  seorang pelayan yang menghampiri meja mereka. Sementara Axel kini terlihat sibuk membalas pesan dari dalam ponselnya, membuat Edgar sedikit mengintip ke arah benda yang sedang ditangan Axel itu.


“ Cie, Dir dia sayang – sayang an nih “ Ledek Edgar sesaat setelah ia  berhasil mencuri – curi baca isi pesan Axel.


“ Ish, apaan sih Edgar “ Axel tampak menyenggol lengan Edgar menggunakan ujung siku nya.


“ Siapa Xel? Hmm? “ Dira memasang wajah juteknya menelisik seseorang yang sedang berkirim pesan dengan sahabatnya itu.


“ Hmmm, pacarku dong. Memang nya kamu apa, jomblo “  Ledek Axel pada Dira.


“ Mas liat Mas, dia nggak mau cerita sama kita siapa pacarnya Mas “ Ucap Dira sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


“ Biarin Dir, palingan bentar lagi juga putus “ Goda Edgar sambil tersenyum singkat.


“ Kurang asem, nggak lah amit – amit jabang bayi. Doa nya Edgar jelek sekali “  Tukas Axel sembari meletakkan ponselnya ke atas meja.


“ Jadi siapa pacarmu? “ Sergah Dira ingin tahu.


“ Hmm, dia anak buah mu Dir. Tapi please kamu diam ya, pura – pura nggak tahu saja “ Tukas Axel yang pada akhirnya bercerita.


“ Siapa? Awas ya kamu main - main Xel “ Dira membelalakkan matanya karena terkejut mendengar perkataan Axel baru saja.


“ Hmm, Shella Hahaha “ Axel kemudian tertawa renyah setelah ia menyebutkan nama pacarnya.


“ Ckckck, begitu saja mau sembunyi – sembunyi dia Dir “ Edgar terlihat menjitak pelan kepala Axel, sementara Dira tampak mencibikkan bibirnya.


“ Syukurlah jomblo dimuka bumi berkurang satu, tinggal kamu aja nih Dir “ Sambung Edgar lagi, sementara Dira hanya mengangguk – angguk kecil saat mendengar perkataan Edgar baru saja.


Tidak perlu menunggu terlalu lama sajian makan siang yang menggugah selera sudah beres disiapkan keatas meja mereka. Nasi tim ayam jamur untuk Dira, nasi fuyunghai saus asam manis milik Edgar sementara Axel lebih memilih nasi dengan sup tomyam.


“ Mari makan “ Ucap Dira setelah ia beres mengulurkan sendok garpu pada kedua sahabatnya itu.


“ Pelan – pelan Dir “ Axel terlihat menyodorkan kotak tisu tepat disamping piring Dira. Wanita cantik itu tersenyum riang seraya menarik selembar tisu kemudian menyeka ujung bibirnya yang terlihat belepotan.


Kring.. kring.. kring..


Ponsel Dira diatas meja terlihat berdering dengan pelan, terlihat seseorang menelpon Dira. Axel yang berada paling dekat dengan Dira terlihat lebih dahulu menatap ponsel yang berkedip – kedip diatas meja itu.


“ Dir Pak Sandro Dir! “ Ucap Axel dengan antusias.


“ Tuh iya Dir, apasih dia. Masih jam istirahat mengganggu saja “ Sambung Edgar setelah beberapa saat ikut mengintip ponsel Dira.


Dira tampak menelan makanannya dengan buru – buru lalu ia menyeruput minuman dinginnya dalam beberapa teguk. Sesudahnya, ia segera menerima panggilan dari atasan sekaligus pacarnyanya itu dengan hati yang sedikit bergetar.


“ Selamat siang Pak “ Sapa Dira dengan lembut pada Sandro.


“ Pak? Kamu dimana sayang, ayo makan siang dengan ku “ Suara Sandro terdengar dari seberang memanggil Dira dengan panggilan sayangnya.


Dira segera bangkit dari kursinya dan berjalan agak menjauhi kedua sahabatnya itu, ia takut jika mereka mendengar percakapannya dengan Sandro sebagai sepasang kekasih. Dira melangkah pelan dan mengambil tempat disudut ruangan yang agak jauh dari Axel dan Edgar. Sementara kedua sahabatnya itu memandang ke arah Dira dengan tatapn curiga.


“ Maaf Kak, aku sudah terlanjur makan siang “ Ucap Dira saat sudah berada ditempat yang agak jauh dari kedua sahabatnya itu.


“ Oh, makan dimana? “ Terdengar nada kecewa dari suara Sandro baru saja.


“ Didekat kantor kok Kak, bersama Axel dan Mas Edgar “ Jawab Dira dengan polosnya, ia tidak sadar mungkin Sandro akan sedih atau cemburu saat dirinya melontarkan perkataan yang demikian.


“ Hmm, beruntung sekali mereka bisa dengan terang – terangan pergi bersamamu walau itu sekedar makan siang. Sungguh membuatku iri “ Kali ini Sandro tampak terang – terang an mengungkapkan rasa cemburunya karena sifat Dira yang tidak begitu peka terhadap perasaannya.


“ Maafkan aku Kak, besok ya kita makan siang bersama? “ Tukas Dira berusaha meredam kekecewaan yang sedang melanda diri kekekasihnya itu.


“ Hmm, kita lihat lah bagaimana besok  ” Kini Sandro terdengar enggan menjawab perkataan Dira.


“ Maaf Kak sudah membuat mu kecewa “ Tukas Dira, ia menyadari kekecewaan Sandro yang teramat mendalam, sesaat rasa bersalah menyeruak kedalam sanubarinya.


“ Lanjutkan dahulu makan siang mu sayang, happy lunch “ Ucap Sandro setelah satu tarikan nafas panjang kemudian ia menutup teleponnya.


“ Iya Kak, Kak Sandro juga ya. Selamat makan siang Kak “ Jawab Dira lalu menutup panggilan teleponnya.


Gadis itu segera kembali menuju meja nya dan menyantap lagi nasi tim ayam jamurnya yang kini sudah tidak sepanas tadi. Edgar dan Axel menatap lekat sahabat perempuannya itu yang tampak agak aneh karena harus menjauhi mereka saat menerima telepon dari orang nomor satu diperusahaan mereka itu.


“ Kenapa? Kok tumben harus jauh – jauh begitu teleponnya? “ Tukas Axel penuh selidik.


“ Oh, Pak Sandro bahas soal jamuan entertain untuk orang – orang dinas Xel “ Jawab Dira dengan berbohong, ia masih belum bisa menceritakan pada kedua sahabatnya itu.


“ Oh, ya sudah buruan habiskan makan siangmu. Jam istriahatnya tinggal sebentar lagi Dir “ Sambung Edgar kemudian.