
Petang itu setelah rampung dengan agenda wajib mingguannya, membersihkan seluruh sudut ruangan mulai kamar, dapur hingga kamar mandi Dira segera melenggang menuju dapur. Ia membuka kulkas lalu mengambil satu buah piring berisi kue dari dalam sana.
*Sebelum ia mulai agenda mingguannya Dira lebih dahulu sudah berkutat didapur saat ia baru saja membuka matanya pagi tadi untuk membuat crepes cake. *Kue bertekstur halus dan lembut dengan cream yang mengisi setiap layernya, serta taburan cokelat bubuk dan gula halus menghias lapisan paling atas kue.
Ia sengaja membuat hidangan menggoda ala cafe itu untuk diberikan kepada Sandro sebagai ungkapan rasa terima kasihnya karena beberapa kali pria itu memberinya hadiah. Seperti saat pertama kalia ia menemani Sandro berbelanja, saat Sandro baru saja kembali dari Singapura maupun pemberian buku yang ia terima beberapa waktu lalu.
Sambil membawa beberapa potong kue diatas piring keramik, Dira berjalan menuruni tangga menuju flat milik Sandro. Segera ia mengetuk pintu dengan pelan, hingga beberapa saat ia menunggu didepan pintu namun tidak ada jawaban.
“ Apa Pak Sandro sedang pergi ya? Tapi aku lihat mobilnya ada didepan tadi? “ Dira bergumam pada dirinya sendiri.
Tok.. tok.. tok..
Ia kembali mengetuk daun pintu itu lagi dan masih berdiri mematung disana menunggu jawaban dari yang empunya kamar. Sesaat kemudian terdengar seseorang dari dalam membuka pintu dan otomatis pintu yang memiliki fitur kunci digital itu terbuka.
Dira kemudian menarik dengan pelan pegangan pintu, karena beberapa saat ia menunggu Sandro tidak menampakkan wajahnya. Sedikit berhati – hati Dira mendorong daun pintu dan menyelinap masuk kedalam ruangan ekslusif itu.
Saat masuk kedalam ruangan Sandro, ia tidak mendapati sosok laki – laki yang sedang ia kunjungi. Dira mengedarkan pandangannya melihat kesekeliling ruangan, dan ia dibuat terkejut pada saat dirinya melihat tubuh Sandro yang tergolek diatas lantai, badan Sandro yang tergeletak itu terhalang oleh sofa sehingga Dira tidak dapat langsung melihat pria itu saat masuk kedalam flat.
Dira bergegas meletakkan piring kue nya diatas meja makan dengan kasar, dengan sangat panik Dira mendekati Sandro yang sudah tergeletak dilantai. Sesaat Dira menyentuh badan Sandro dan berusaha membangunkannya tetapi mata pria itu tetap terpejam, sekujur tubuhnya juga terasa sangat panas karena demam, Sandro pingsan.
Wanita itu tentu saja tidak mampu mengangkat tubuh Sandro yang lemas tak berdaya tergeletak diatas lantai. Lalu dengan panik Dira segera membuka pintu flat Sandro dan berteriak dengan keras memanggil karyawan yang bertugas hari itu.
“ Bu Lisa? Tolong bantu aku, cepat “ Teriak Dira sambil menyembulkan kepalanya pada sela – sela daun pintu.
Tergopoh – gopoh dari bawah Bu Lisa bersama Pak Allan juga Pak Eko yang bertugas jaga hari itu naik menuju lantai dua dan mendapati wajah Dira yang terlihat begitu cemas. Mereka bertiga langsung masuk kedalam flat milik Sandro dan berusaha membantu Dira untuk mengangkat tubuh Sandro yang berada diatas lantai menuju kamarnya.
“ Apa kita bawa saja kerumah sakit Pak? “ Dira langsung melemparkan pertanyaan pada Pak Allan.
“ Iya kita bawa saja Bapak Ersandro ke rumah sakit mbak. “ Pak Allan tampak begitu terkejut melihat Sandro yang sangat tidak berdaya kali ini.
Dira masih saja berusaha menyadarkan Sandro yang masih tergeletak diatas ranjang dengan mata terpejam. Beberapa kali Dira menyodorkan minyak angin yang diberikan oleh Ibu Lisa tepat didepan hidung Sandro.
“ Dira? “ Tiba – tiba terdengar suara Sandro yang sudah sadar memanggil Dira dengan lemah.
“ Syukurlah Bapak sadar, badan Bapak panas sekali kami antar ke rumah sakit ya Pak? “ Ucap Dira dengan panik, lelaki itu mengangguk lemah dengan sedikit membuka matanya.
“ Kalau begitu ayo Pak, segera ke rumah sakit “ Dira menyentuh lengan Sandro dengan pelan, Pak Allan dan Pak Eko membantu Sandro agar segera bangun.
“ Sebentar, aku minta air “ Pinta Sandro dengan suara parau saat ia sudah duduk dibibir ranjang.
Bu Lisa langsung menghambur menuju dapur dan kembali dengan segelas air putih hangat kemudian menyodorkan pada pria itu. Dibantu oleh Dira, lelaki itu meneguk dengan perlahan air dari dalam gelas kaca hingga habis.
“ Ayo, jangan lupa tolong bawakan dompet dan ponsel ku Dira, ada diatas meja kerja itu “ Ucap Sandro saat meminta bantuan Pak Allan dan Pak Eko untuk berjalan menuju mobil.
Dira segera menyambar dompet Sandro dan ponsel pria itu dari atas meja kerja, dengan cepat Dira segera menyusul mereka yang sudah lebih dahulu keluar kamar. Sandro kemudian duduk dibangku penumpang bersama dengan Dira disampingnya.
Setibanya dirumah sakit, mobil yang dikemudikan Pak Allan berhenti tepat didepan pintu IGD lalu bersama Dira lelaki itu membantu Sandro turun dari mobilnya. Sandro merangkul pundak Dira dan mencengkeramnya dengan erat, sementara Dira mengalungkan sebelah tangannya menyangga pinggang Sandro.
“ Parkir saja Pak, saya bisa berjalan bersama Dira “ Sandro berucap dengan lemah meminta Pak Allan memarkirkan mobilnya agar tidak menghalangi pintu masuk IGD.
Sedikit terhuyung - huyung Dira merangkul Sandro yang badannya jauh lebih besar darinya masuk kedalam IGD. Dengan berteriak gadis ini meminta pertolongan dari perawat agar membantunya memapah Sandro hingga sampai ke tempat tidur pemeriksaan.
Sesaat tubuh bongsor Sandro sudah tergeletak diatas ranjang, pria itu terlihat sangat lemah, wajahnya yang biasanya merona dan berseri kini tampak begitu pucat. Sambil dokter menangani Sandro, Dira diminta mengisi form pendaftaran pasien dimeja resepsionis, gadis cantik itu segera mengisi lembaran kertas yang baru saja disodorkan padanya.
Tanpa meminta persetujuan Sandro wanita itu langsung membuka dompet Sandro dan mencari identitas diri pria tersebut untuk proses pendaftaran. Gadis itu menuliskan dengan lengkap data diri lelaki yang tengah mendapat pemeriksaan dokter, sesuai dengan data yang ada pada kartu identitasnya.
“ Bagaimana Dokter? “ Tanya Dira sambil mendekati bilik pemeriksaan Sandro setelah ia rampung melengkapi data pendaftaran.
“ Informasi dari Suami Ibu bahwa demam terjadi sejak kemarin siang, sudah meminum obat penurun panas namun belum ada efek jadi seperti nya perlu dilakukan test darah saja Bu. Supaya kita bisa tahu Suami Ibu sakit apa “ Ucap Dokter dengan panjang lebar menjelaskan.
“ Maaf Dok, tapi beliau bukan suami saya “ Dira justru mengkonfirmasi statusnya dengan Sandro, sehingga membuat wajah Dokter tersebut tertunduk malu karena salah paham, merasa tidak enak Dokter pria itu pun mengucapkan permintaan maaf dengan sopan.
“ Pak? Bagaimana apakah Bapak mau test darah saja? “ Dira berbicara tepat disamping tubuh Sandro dan ia mengangguk dengan lemas.
“ Iya Dok, tes darah saja “ Sambung Dira mengiyakan saran dari dokter.
“ Kalau begitu harus pindah ke kamar rawat ya Bu, setelah itu kita lakukn pengambilan sampel darah. Ini Bapak saya infus dahulu, karena seperti nya beliau kehabisan banyak cairan “ Tukas Dokter lagi.
“ Baik Dokter “ Dira menjawab singkat.
“ Silahkan diproses administrasinya dahulu Bu, supaya bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan “ Ucap suster yang baru saja selesai memasang infus ditangan Sandro.
“ Pak saya proseskan di kamar VVIP ya Pak “ Bisik Dira lagi pada pria itu dan Sandro mengangguk mengiyakan perkataan Dira.
Segera Dira menuju konter pelayanan dan meminta di proseskan kamar perawatan Sandro serta mengajukan tes pemeriksaan darah. Wajah Dira sudah tidak sepanik tadi, meski ia masih belum bisa menanggalkan kecemasannya.
*“ *Silahkan dilakukan deposit Ibu, sesuai jumlah yang ada dalam kwitansi pembayaran “ Sambung petugas sesaat setelah mengulurkan kwitansi pembayaran pada Dira.
Lagi Dira membuka dompet Sandro, namun sayang uang cash Sandro tidak cukup untuk membayar deposit. Sementara Dira tidak membawa apapun tadi sejak keluar dari rumah, bahkan ia juga tidak membawa ponselnya sendiri. Hanya ada dompet dan hp milik Sandro ditangannya.
*“ *Pak maaf, uang cash nya tidak cukup “ Lagi – lagi Dira mendekati Sandro yang masih terbaring lemas diranjangnya.
“ Pakai kartu yang hitam itu Dir, 901001 pin nya “ Sambung Sandro sambil menunjuk dompet yang ada ditangan Dira.
“ Pak, kartunya hitam semua “ Dengan nada polosnya Dira menjawab ucapan Sandro.
“ Hehe ambil yang master card Dira “ Meski lemah Sandro menjadi terkekeh mendengar perkataan polos Dira baru saja.