
Dibalut dengan long dress berwarna putih Dira terlihat begitu anggun dan kini ia sudah masuk kedalam mobil lelaki pujaan hatinya. Sore itu mereka akan menghadiri sebuah acara konser musik yang Dira sendiri tidak tahu, konser jenis musik apa yang akan ia saksikan bersama kekasihnya itu.
“ Memang nya ini konser apa? Mengapa meminta ku memakai pakaian formal? Apakah konser piano klasik? “ Tanya Dira lagi.
*“ Hmm bukan, justru ini konser musik ballad* “ Jawab Sandro singkat seraya terus memacu kuda besinya menuju sebuah convention centre.
“ Wow? Itu kesukaan ku! “ Tukas Dira dengan kegirangan, sementara Sandro hanya tersenyum simpul melihat tingkah kekasihnya.
Tak butuh waktu lama pasangan kekasih itu sudah tiba di lokasi konser yang nyatanya cukup sepi, tidak seramai acara konser – konser musik pada umumnya. Dira agak sanksi dengan acara musik yang Sandro katakan padanya, karena suasana sore itu benar – benar lengang.
“ Sayang? Kok sepi banget? “ Tanya Dira dengan wajah bingung.
“ Hmm, mungkin karena konser musik lagu – lagu ballad sehingga sepi peminat “ Jawab Sandro santai.
"Apa karena mereka mengira musik ber - gendre ballad adalah musik cengeng? Padahal ini adalah musik yang syarat makna loh! “ Tukas Dira lagi.
“ Ya sudah ayo masuk sayang “ Sandro menggandeng tangan kekasihnya dan mengajaknya masuk kedalam gedung pertunjukkan.
Suasana konser benar – benar sepi, hanya terlihat beberapa puluh orang duduk pada masing – masing kursinya. Bahkan kondisi ruang pertunjukan terlihat begitu gelap, cahaya yang menyinari tempat itu sangat redup sehingga Dira benar – benar kesulitan melangkah jika tangan Sandro tidak membimbingnya.
Dira dan Sandro kemudian duduk pada barisan kursi VIP, tidak ada orang lain lagi disampaing mereka berdua benar – benar hanya diisi oleh pasangan kekasih itu. Meski panggung terlihat megah dengan dekorasi yang begitu cantik namun tetap saja konser tersebut sepi pengunjung.
Hingga pada akhirnya seorang pria yang tidak lebih tinggi dari Sandro naik keatas panggung seraya memegang microphone ditangannya. Dira masih samar – samar melihat wajah pria yang naik ke atas panggung karena silau terkena pantulan cahaya lampu yang tepat jatuh diatas kepala laki – laki itu.
Musik dari sebuah gitar akustik yang berada diatas panggung kini mulai mengalun, melodinya benar – benar sangat familiar bagi Dira. Sekilas perempuan itu menatap kearah kekasihnya dan beralih memandang pria diatas panggung seraya menutup mulut nya yang ternganga karena kehabisan kata – kata.
:: Every day, every moment ::
Will I be able to smile without you?
(Mungkinkah aku bisa tersenyum tanpa mu?)
Just thinking about it makes me cry
(Hanya sekedar memikirkan hal ini saja sudah membuatku menangis)
*The person who protected me throughout my* hard times, now I will protect you
(Seseorang yang selalu melindungi ku saat melewati masa – masa sulit, kini saatnya aku melindungi mu)
Every day, every moment, let’s be together
(Setiap waktu, setiap saat marilah kita selalu bersama)
- Song by Paul Kim –
“ Sayang? Itu penyanyi favoritku! Bagaimana kamu tahu? “ Tukas Dira dengan berkaca – kaca saat mendengar lagu yang begitu romantis dilantunkan.
Sandro hanya tersenyum sekilas seraya menyentuh pipi kekasihnya itu dengan sangat lembut, sementara Dira semakin terhanyut dengan beberapa lagu romantis yang terus mengalun dengan sangat merdu dibawakan oleh penyanyi kenamaan tersebut.
“ Oke, sekarang aku ingin mengundang seorang penonton untuk mendapat sebuah hadiah spesial dari ku, eehhm aku memilih seseorang yang mengenakan baju dengan warna senada denganku! “ Tukas penyanyi tersebut seraya mengedarkan pandangan kearah penonton.
“ Nona yang berada dikursi depan silahkan naik ke panggung, karena sepertinya hanya dirimu yang mengenaikan pakaian berwarna putih “ Ucap penyanyi pria itu seraya menujuk ke arah Dira.
(Source : Internet)
Wajah Dira begitu terkejut, ia kehabisan kata – kata, ia tidak menyangka bisa menatap dengan jarak yang teramat dekat penyanyi yang begitu ia idolakan. Sandro beranjak dari kursinya dan membimbing Dira untuk segera naik ke podium.
Dengan hati yang berdebar – debar Dira naik keatas panggung, ia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dirinya benar – benar bahagia bisa menghadiri konsel Paul Kim, penyanyi yang sangat ia idolakan.
“ Baik Nona, siapa nama mu? “ Tanya penyanyi tersebut pada Dira.
“ Dira! “ Jawab Dira dengan berteriak.
“ Oke, aku ingin menyanyikan sebuah lagu khusus untukmu. Nona Dira boleh duduk disana? “ Penyanyi pria itu menunjuk sebuah kursi sofa berwana putih dan mempersilahkan Dira duduk. Masih dengan ketidakpercayaannya, dengan penuh kegugupan Dira mengikuti saja apa yang penyanyi itu perintahkan.
" Sebuah lagu istimewa untuk Nona Dira! " Teriak penyanyi tersebut seraya memberi kode pada tim musiknya.
:: Me After You ::
I love you
(Aku mencintai mu)
Just like now when it's peaceful
(Persis seperti waku yang begitu mendamaikan ini )
I want to be with you forever
(Aku ingin bersamamu selamanya)
I was so happy after meeting you
(Aku sangat bahagia saat dipertemukan denganmu)
Let's walk forward together
(Mari kita jalani ini bersama)
-Song by Paul Kim -
Penyanyi tersebut kembali menyanyikan sebuah lagu romantis seraya terus memandang ke arah Dira, membuat wanita itu semakin bergetar memaknai setiap syair yang dilantunkan. Kebahagiaan terus menyeruak kedalam hati Dira.
Hingga pada akhirnya Dira memandang ke arah Sandro yang kini tengah bangkit dari kursinya dan berjalan menuju panggung mendekati Dira. Sembari Sandro melangkah ke atas panggung, penyanyi itu terus mengalunkan lagu romantisnya.
Lampu – lampu diruangan konser juga mendadak menyala begitu terangnya, hingga Dira dibuat terkejut dengan kehadiran orang tua bersama kakaknya disana duduk bersanding dengan kedua orang tua Sandro. Bahkan Alice bersama pacarnya, Edgar, Axel bersama Shella, juga saudara – saudara Sandro yang lain tengah duduk memenuhi bangku penonton. Sesaat Dira semakin terlihat begitu bingung, perasaan tidak karuan bercampur aduk didalam hatinya.
“ Oceana Veddira yang begitu aku kasihi, terima kasih karena kamu bersedia datang ke tempat ini bersama ku, jika aku boleh jujur sebenarnya aku memang sengaja mempersiapkan acara ini jauh - jauh hari " Sandro dengan wajah gugupnya membuka suara.
(Source : Internet)
" Sejujurnya beberapa waktu yang lalu, aku secara pribadi telah menemui kedua orang tua mu di kediaman beliau berdua. Selain untuk berkenalan, aku juga meminta izin dan juga meminta dukungan dari Ayah Ibumu serta Kakakmu. Sehingga beliau hadir bersama kita hari ini, disini " Sambung Pria itu seraya membetulkan posisi tangannya memegang microphone.
“ Dira terlepas dari segala hal yang pernah kita lewati dan singkatnya waktu perjumpaan kita, didepan Papa Mamaku, saudara - saudara ku dan juga Ayah Ibu mu, kakak serta sahabat - sahabatmu. Bersediakah kamu menerima permintaanku untuk berjalan kedalam jenjang kehidupan yang lebih serius? “ Tanya Sandro pada Dira dengan suara yang begitu tegas, sementara dari atas sofa yang ia duduki Dira tampak berkaca – kaca.
“ Aku mencintaimu Oceana Veddira, maukah kamu menikah denganku? “ Tanya Sandro lagi, seraya mengulurkan sebuah cincin ke arah wanitanya.
Riuh suara tepuk tangan juga kata – kata yang mengelu – elukan nama Sandro dan Dira kini terdengar memenuhi ruangan tersebut. Dira masih tergagap diatas tempat duduknya, ia berusaha keras menahan tangis agar tidak gugur dari kedua matanya. Namun usahanya sia – sia, ia tidak dapat menahan air mata harunya. Ia sangat bahagia.
Sejenak Dira mengusap bulir - bulir air mata sebening telaga yang gagal untuk ia bendung hingga ia terus berurai mengiringi rasa haru dan bahagia. Hal yang terasa begitu indah dan manis yang tidak pernah menyusup kedalam pikirannya, bahkan Sandro sampai memiliki keberanian menemui kedua orang tuanya adalah sesuatu yang tidak terjangkau dalam benaknya.
“ Ya aku mau! “ Ucap Dira pada akhirnya sembari menganggukkan kepalanya berkali - kali
“ Aku sangat mencintai mu Ersandro Damaresh Basadewa “ Ucap Dira kemudian, setelah Sandro menyematkan cincin lamarannya pada jari manis tangan Dira.
“ Terima kasih sayang, aku juga sangat mencintaimu “ Bisik Sandro dengan bahagia seraya mengecup kening wanitanya.
Tepuk tangan meriah serta gelak tawa bahagia terdengar bergemuruh memenuhi ruangan tersebut, lagu – lagu romantis kembali diperdengarkan. Pada akhirnya Sandro mampu meluluhkan hati Dira, dan membawa wanitanya itu untuk membangun kebahagiaan bersama dalam ikatan suci pernikahan.
(Source : Internet)
" Selamat berbahagia anak - anak ku! Segeralah menikah " Teriak Pak Hiskia dari bangku penonton.
END