CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MENEMANI RADIT



Sore itu Dira sudah siap dengan riasan tipis natural yang membuatnya semakin terlihat cantik dan anggun. Pada kesehariannya Dira tidak pernah memoles wajahnya dengan peralatan make up lengkap seperti saat ini.


Dira menunggu dengan santai kedatangan Radit diruang makan flatnya, dengan midi dress berwarna putih motif bunga – bunga kecil berkerah tinggi Dira terlihat begitu anggun dan cantik. Pasti akan membuat semua pria yang memandangnya terkagum – kagum dengan wajahnya itu.


“ Oke Mas, aku turun. “ Jawab Dira pada Radit melalui sambungan telepon.


Gadis itu segera keluar dari dalam flatnya seraya menenteng clutch bag berwarna senada dengan bajunya sore itu. Sesaat gadis itu menuruni tangga tiba – tiba saja Sandro membuka pintu kamarnya dan membuat Dira kaget setengah mati.


“  Eh Bapak, bikin kaget. “ Ucap Dira pelan sambil mengusap – usap dadanya pelan.


“ Hmm, kamu mau jalan dengan pakaian begitu Dir? “ Wajah Sandro yang tadinya terlihat kusut kini tampak merona melihat penampilan Dira yang benar – benar berbeda dengan hari biasanya.


“ Hehe, soalnya ke acara pernikahan Pak. Saya permisi Pak. “ Pamit Dira kemudian meninggalkan Sandro yang masih berdiri memandangnya dari depan kamar.


“ Ck bagaimana dia tahu kalau aku turun! “ Dira berdecak dengan sebal karena berpapasan dengan Sandro baru saja.


“ Hei Mas Radit, sorry lama ya Mas. “ Sapa Dira pada Radit yang sudah menunggunya didepan rumah tinggal.


“ Nggak papa Dira, kamu cantik sekali. “ Puji Radit dengan mata berbinar – binar seolah - olah memancarkan kekaguman yang mendalam pada Dira.


“ Ah Mas bisa aja, Mas juga keren. Jarang – jarang lihat Mas memakai setelan jas begini. “ Dira bergantian memberikan pujian pada Radit yang hari itu terlihat lebih tampan dengan setelan jasnya.


Sementara disudut yang lain, Sandro lagi – lagi mengawasi dua orang yang masih mengobrol didepan rumah tinggal dari balkon kamarnya. Ia menatap gadis cantik yang sedang masuk kedalam mobil dengan seorang pria yang belum pernah ia temui sebelumnya.


“ Rupanya dia tidak berbohong. “ Gumam Sandro dengan kesal sambil menendang meja yang ada didekatnya.


***


Dira dan Radit tiba di sebuah hall tempat acara pernikahan diselenggarakan, sesaat Radit mengisi buku tamu yang sudah disediakan kemudian diarahkan menuju photoboot untuk pengambilan foto sebagai kenang – kenangan kehadiran mereka di acara pernikahan tersebut.


“ Hai Dit, duh siapa ini? Nggak pernah lihat. “ Sapa seorang pria pada Radit.


“ Haha, hayo siapa? “ Radit terdengar tidak memberikan jawaban gamblang pada rekannya itu.


“ Cantik sekali, kok mau diajak Radit Mbak? “ Sambung pria itu lagi, sementara Dira hanya tersenyum dengan sangat sopan meresponi ucapan pria baru saja.


“ Eh Dit? Kapan kamu pulang kerumah mu? Aku mau nitip barang nih dari kota mu sana. “ Ucap Pria itu kemudian, seperti nya kedua orang ini sama – sama pemilik usaha.


“ Aku sudah hampir satu tahun belakangan jarang pulang bro. Baru mau upgrade kedai jadi mau ditinggal agak susah. “ Kini suara Radit terdengar.


Radit memang tinggal sendirian di kota itu, selepas merampungkan studi pria itu tidak mencari pekerjaan. Justru membuka kedai kopi yang berada tepat disamping rumah tinggal Dira itu, kedua orang tua Radit juga tinggal dikota lain.


“ Kabari ya kalau kamu pulang Dit, nanti kita bahas deh. Cuan gede bro! “ Lanjut Pria itu sambil tersenyum gembira, hingga matanya yang sipit tampak terpejam.


“ Hahaha, oh siap Bro! “ Radit menepuk pundak temannya itu dengan pelan.


“ Selamat ya bro! Semoga cepat diberi momongan. “ Ucap Radit ringan sambil bersalaman dengan mempelai laki – laki disana.


“ Loh Dit? Kok ganti lagi? “ Canda mempelai laki – laki itu saat melihat Dira berdiri tepat disamping Radit.


“ Hahaha, jangan gitu dong Bro jatuhin pasaran ku saja. Baru PKDT ini. “ Radit kemudian terbahak dengan ucapannya baru saja, membuat Dira tampak tersipu malu.


“ Semoga cepet jadi lah Bro! Thank you ya sudah datang. “ Pengantin pria itu menepuk pelan bahu Radit dan menyalami tangan Dira sambil menyunggingkan senyumannya.


Radit masih menuntun tangan Dira untuk turun dari podium kemudian membimbingnya untuk duduk pada meja dan kursi yang sudah disediakan. Lelaki itu juga dengan manisnya menarik kursi agar Dira dapat segera duduk.


Sesudah mereka duduk tampak beberapa pelayan datang mengantarkan aneka minuman, serta menyajikan makanan – makanan yang lezat dihadapan mereka. Tanpa sungkan Dira segera melahap makanannya, meski ia makan banyak nyatanya Dira tetap terlihat anggun saat menyuapkan sendok yang penuh makanan  kedalam mulut mungilnya itu.


“ Seneng banget lihat kamu makan gini Dir. “ Radit mengelus rambut Dira dengan lembut, membuat hati gadis itu berdesir.


“ Hehe, soalnya menarik banget masakannya mas. “ Dira menimpali sambil tersenyum.


“ Iya, makan yang banyak ya Dira. “ Lagi pria itu menyentuh ujung kepala Dira dan menatap gadis itu dalam. Dira hanya mengangguk pelan, sambil memandang pria didepannya yang cukup tampan itu.


Setelah rampung dengan jamuan makan, Radit segera mengajak pasangannya hari itu beranjak dari tempat duduk supaya dapat bergantian dengan tamu yang lain. Pria itu membimbing lagi tangan lembut Dira untuk keluar dari gedung perhelatan.


Pria itu menghampiri meja penukaran souvenir, diulurkan kepadanya selembar foto bersama Dira, foto yang diambil sesaat sebelum mereka masuk kedalam aula pernikahan. Radit melihat foto yang ada ditangannya itu dengan senyuman yang sangat menawan.



(DIRA dan RADIT)


“ Kamu cantik banget Dir, meski senyumanmu seperti terpaksa begini. “ Goda Radit kemudian sambil terus memandang foto yang ada ditangannya.


“ Haha itu bukan terpaksa Mas. Karena flash nya tadi aku kaget, makanya senyumnya begitu. “ Dira memberikan pembelaan pada perkataan Radit baru saja.


“ Hehe iya iya. Ayo pulang. “ Radit mengusap kepala Dira lagi, membuat gadis itu semakin tersipu malu.


Radit melajukan kendaraannya pelan sambil sedikit berkeliling kota menikmati suasana malam yang begitu mengasyikkan. Lampu temaram yang terpantul dari cahaya gedung – gedung bertingkat juga jalanan menambah asyiknya malam itu.


“ Dir, kamu sudah punya pacar? “ Tanya Radit tiba – tiba memecah keheningan keduanya yang masih disibukkan dengan pikiran mereka masing – masing.


Sesaat Dira hanya terdiam seolah sedang mencari jawaban yang tepat bagi Radit, meski beberapa kali Axel dan Edgar melarangnya dekat dengan Radit namun nyatanya pria itu cukup baik menurut Dira. Gadis itu juga sangat menyukai sikap Radit yang manis juga perilakunya yang tanpa malu – malu mengekspresikan perasaan alias tidak begitu jaga image.


“ Hahaha kenapa memang Mas? “ Dira justru kembali melempar pertanyaan pada lelaki disampingnya itu.


“ Masa tanya nggak boleh? Nanti ternyata kamu punya pacar terus jalan sama aku, eh aku nya dipukuli sama pacarmu bagaimana? “ Canda Radit kemudian.


“ Hahaha, Mas bisa saja. Belum kok Mas tenang saja, nggak akan ada yang pukulin Mas gara – gara ngajak aku jalan. “ Tukas Dira kemudian, sesaat senyum mengembang dibibir Radit setelah mendengar jawaban Dira.