CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
BACKSTREET



Tett.. tett..tett


Alarm dari ponsel Dira yang berada diatas nakas terdengar meraung – raung dengan keras, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Wanita cantik itu segera beranjak dari tempat tidurnya, sesaat ia memanjatkan syukur pada Yang Kuasa kemudian menyusun kembali bed cover dan merapikan ranjangnya.


Setelah beres dengan ranjang, ia mematikan pendingin didalam kamarnya kemudian membuka jendela kaca yang tertutup korden tebal. Sesaat udara pagi yang menyegarkan menyeruak kedalam kamar, Dira menghirup dalam – dalam udara pagi itu.


Dira langsung menuju dapur seperti hari – hari biasanya, ia mencuci beras kemudian memasakknya menggunakan penanak nasi listrik otomatis. Sambil menunggu nasinya matang, ia tampak mencuci satu ikat sawi caisim kemudian memotong – motongnya. Sesudah itu Dira menghaluskan bawang putih bersama garam dan lada, lalu menumis bumbu halus tersebut hingga aroma harum menguar didalam flatnya. Tak lupa ia menambahkan air dan kaldu, sesudahnya ia segera memasukkan potongan sawi kedalam panci dan terakhir ia menaburkan bawang goreng kedalam sayurnya.


Satu mangkuk sayur bening sawi sudah tersaji diatas meja, kini ia tampak membaluri tahu berisi daging cincang dengan kocokan telur lalu menggorengnya. Tidak butuh waktu lama sajian sederhana sudah siap diatas meja, setelah rampung menyiapkan makanan dan sarapan Dira segera berlari menuju kamar mandi dan bersiap untuk ke kantor.


Setelah selesai mandi, Dira kembali menuju kamarnya untuk berganti baju kemudian mengecek ponselnya yang melantunkan bunyi notifikasi pesan masuk. Sesaat Dira tersenyum singkat saat membaca pesan masuk dari pacarnya, betapa manisnya Sandro pagi itu.


______ Original Message______


To            : Dira


Sender    : Pak Sandro


Selamat pagi Dira sayang, bagaimana tidurmu semalam? Aku tunggu dibawah pukul delapan ya? Kita berangkat bersama ke kantor.


Dira terlihat berpikir selama beberapa saat sebelum mengirim pesan balasan pada kekasihnya itu, sebenarnya ia juga ingin berangkat bersama tetapi ia takut orang – orang akan curiga terhadapnya. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke kantor sendiri, seperti biasanya.


______ Original Message______


To            : Pak Sandro


Sender    : Dira


Hari ini aku berangkat seperti biasanya saja Kak, aku takut ada orang yang mencurigai hubungan kita. Sampai jumpa di kantor.


Perempuan itu langsung mengirimkan pesan balasan pada Sandro, agaknya lelaki yang menerima pesan Dira tersebut menjadi cukup kecewa karena Dira menolak ajakannya pergi ke kantor bersama – sama.


***


Pukul delapan lebih sepuluh menit Dira sudah tiba  di kantor, segera ia berlari kecil dan mengatri didepan finger print mesin absensi otomatis bagi karyawan. Edgar dan Axel juga terlihat datang bersamaan tidak lama setelah Dira berdiri pada antrian paling belakang.


“ Good morning Oceana Veddira? Bagaimana kabarmu hari ini bidadari penguasa lautan anugerah dari Tuhan “ Sapa Axel seraya mengenggol bahu Dira dengan lengannya, membuat wanita cantik itu sedikit terpental dari tempat nya berdiri.


“ Ck! Mas Edgar ada apa dengan teman mu ini? Sepertinya dia sedang sakit? “ Tukas Dira dengan kesal karena sapaan Axel yang terkesan meledeknya.


“ Loh kok marah? Kan benar itu arti nama mu Dir “ Axel tampak menempelkan ibu jarinya pada mesin absensi.


“ Bukan marah, tapi sebel! “ Dira dengan pelan menendang ujung sepatu Axel dengan kakinya.


Tiba – tiba ditengah candaan Dira bersama kedua sahabat pria nya itu, Sandro terlihat menampakkan batang hidungnya masuk kedalam lobby kantor bersama dengan Alice. Terlihat orang – orang yang Sandro lewati memberikan salam dan menundukkan kepala pelan sebagai tanda penghormatan.


“ Selamat pagi “ Jawab Sandro singkat, kemudian berlalu menuju lift.


“ Yasudah sana kalian naik, aku ke ruangan dulu ya “ Pamit Axel pada Edgar dan Dira yang kini berjalan menuju lift mengikuti Sandro dari belakang.


Ting!


Pintu besi terbuka lebar Sandro bersama Alice segera masuk kedalam sana, Edgar kemudian ikut masuk setelah beberapa saat Alice mengisyaratkan pria itu untuk ikut naik lift bersama, sementara Dira masih terlihat berdiri mematung di depan pintu yang masih mengaga itu. Tampak nya wanita itu sedang melamun, dengan pikiran yang mengembara entah kemana.


“ Ck Dir, ayo! “ Edgar meraih pergelangan tangan Dira dan menarik perempuan itu agar segera masuk kedalam lift.


“ Ya ampun, kaget aku mas “ Seloroh Dira pada Edgar yang membuyarkan lamunannya.


“ Masih pagi, sudah melamun. Mikir apa sih? “ Tukas Edgar setengah berbisik pada Dira, membuat gadis itu tersenyum malu.


Sementara Sandro dengan gaya coolnya sesekali melirik wajah pacarnya yang berdiri agak jauh darinya, perasaan Sandro sangat tidak karuan pagi itu. Ia ingin sekali meraih tangan Dira seperti yang dilakukan oleh Edgar baru saja, tetapi kemarin Dira mengatakan bahwa ia belum ingin mempublikasikan hubungan mereka dengan terang – terangan sekalipun pada sahabatnya sendiri.


“ Aku turun ya Dir, see you “ Bisik Edgar pada Dira saat lift berhenti di lantai dua.


“ Mari Pak Sandro, Ibu Alice “ Sapa Edgar lalu menghilang dibalik pintu lift yang kemudian otomatis tertutup.


Hanya tersisa Sandro, Dira dan Alice didalam lift, tiba – tiba Sandro memundurkan tubuhnya dan berdiri sejajar dengan Dira. Dengan lembut pria itu meraih jemari Dira dengan sebelah tangannya, membuat Dira tersipu malu.


“ Wao? Kalian sudah jadian? “ Tukas Alice sambil menyunggingkan senyum nakalnya saat mendapati Sandro menggenggam jemari lentik Dira.


“ Jangan lupa traktiran nya buatku ya “ Ledek Alice lagi.


“ Memang nya kamu mau apa Lice? “ Jawab Sandro tanpa memandang wajah Alice, ia justru menatap Dira yang tampak malu – malu itu.


“ Hahaha, tidak tidak aku hanya bercanda “ Sambung Alice tanpa melepaskan senyumannya.


“ Semangat untuk hari ini sayang “ Ucap Sandro sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dira.


“ Iya Kak, Kak Sandro juga ya. Semangat! “ Dira tampak menarik tangannya dari sela – sela jemari Sandro saat lift hampir tiba di lantai tiga.


Pintu lift terbuka, dengan wajahnya yang memerah Dira segera menghambur keluar dari dalam ruangan sempit itu setelah sebelum nya ia berpamitan pada kekasihnya dan juga Alice. Sementara Sandro tampak tersenyum – senyum sendiri melihat tingkah Dira yang sangat lucu dan menggemaskan menurutnya.


“ Lihatlah tingkah kalian ini “ Bisik Alice saat melihat Sandro yang tidak henti – hentinya tersenyum bahagia.


“ Ah, seandainya pergi ke kantor semenyenangkan ini setiap hari “ Ucap Sandro sambil mendorong pintu ruangan kaca didepannya sambil sekilas memandang pintu ruangan depertemen finance & accounting yang tepat berada didepan ruangannya.


Dira segera masuk kedalam ruangannya lalu mengkibas – kibaskan selembar kertas tepat diwajahnya yang terasa panas dan tampak memerah. Jantungnya masih saja berdegup dengan kencang, ia tidak menyangka ternyata menjalin hubungan dengan cara sembunyi – sembunyi rasanya sangat menegangkan. Tetapi tidak dapat ia pungkiri perasaan bahagia menyeruak kedalam hatinya, ia sangat suka dengan sikap Sandro yang nyatanya bisa membuatnya tersipu malu terhadapnya.