
Malam itu Sandro terlihat mengganti baju santai nya dengan celana jeans hitam yang ia padukan dengan kemeja putih polos model shanghai dan cardigan berbahan knit berwarna terracota yang terlihat sangat cocok untuk dirinya.
Lelaki itu kemudian naik ke lantai tiga menuju flat Dira, yang kini adalah kekasihnya. Sekilas pria itu mengetuk daun pintu didepannya pelan, tidak berapa lama si pemilik flat terdengar membuka kunci dan menarik handle pintu perlahan kemudian menampakkan batang hidungnya.
“ Oh? Mau kemana Kak? “ Tanya Dira dengan bingung saat melihat Sandro sudah berpakaian dengan sangat rapi.
“ Kencan? “ Sandro tanpa malu – malu melontarkan keinginan nya pada Dira.
“ Kencan? “ Dira balik bertanya pada pacarnya itu seraya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Hmm, ayo cari makan karena aku berpesan pada chef untuk tidak masak malam ini “ Sambung Sandro yang masih mematung berdiri didepan pintu.
“ Tapi saya baru saja selesai masak Pak “ Jujur Dira, membuat Sandro memanyunkan bibirnya dan menatap Dira dengan sedikit kecewa.
“ Saya? Pak? Ck! “ Dengus Sandro dengan sebal sambil menendang daun pintu dengan pelan menggunakan ujung kakinya yang saat ini masih mengenakan sendal khusus dalam rumah.
“ Hmm, aku sudah masak Kak, atau Kak Sandro mau mencicipi masakan ku? “ Melihat mimik muka Sandro yang terlihat kecewa akhirnya Dira menawarkan.
“ Hmm, oke aku mau “ Tanpa basa basi lagi Pria itu kemudian menarik gagang pintu flat Dira dan langsung menerobos masuk tanpa permisi.
Sandro langsung duduk pada bangku kayu dimeja makan yang menyatu dengan dapur itu, memang benar diatas meja sudah tersaji ayam goreng bumbu dengan sup kacang merah yang masih mengepul hangat dari dalam mangkok. Berikut juga sambal kecap yang menguarkan aroma bawang merah segar dari mangkok kaca kecil.
“ Apa tidak apa – apa aku ikut makan? “ Sambung Sandro sambil memandang tubuh pacarnya yang berdiri memunggunginya sambil mengambil piring dari rak.
“ Tentu saja Kak, tapi maaf jika masakan ku kurang sesuai dengan selera Kak Sandro “ Dira kini tampak meletakkan piring dan gelas kaca bening tepat didepan Sandro.
“ Ini sangat menggugah selera makanku “ Wajah Sandro tampak begitu gembira.
“ Mau ku ambilkan? “ Dira menawarkan lagi seraya mengulurkan tangannya ke arah Sandro.
Pria berhidung mancung itu mengangguk singkat seraya menyunggingkan senyuman tampannya yang mematikan, segera Dira menarik kembali piring keramik dari hadapan Sandro dan menyendokkan nasi merah dari dalam mangkok. Sesudahnya ia menyiram nasi dengan sayur sup kacang merah dan menyodorkannya pada Sandro, lelaki itu menerima dengan senyuman lebar seraya memamerkan deretan giginya yang rapi.
“ Terima kasih sayang “ Ucap Sandro sambil meraih sendok yang lagi – lagi Dira ulurkan padanya.
“ Mari makan Kak “ Ucap Dira sambil meniup sendok nya yang terisi penuh dengan lauk yang sudah terlebih dahulu ia potong – potong.
Sandro terlihat begitu lahap memasukkan setiap suapan makanan kedalam mulutnya, sesekali ia akan tersenyum seraya memandang wajah ayu Dira sambil mengunyah makanannya. Sementara Dira justru terlihat masih malu – malu dan kadang merasa aneh saat Sandro memanggilnya dengan kata sayang.
***
Setelah selesai dengan makan malam, Sandro tampak membantu Dira membereskan meja makan. Bahkan ia juga membantu Dira mengelap meja dan menyusun piring yang dicuci Dira kedalam mesin pengering, hal sederhana yang justru tidak pernah ia kerjakan sebelumnya.
“ Aku sangat menikmati makan malam buatan mu Dira sayang “ Sandro menyelipkan rambut Dira kebelakang telinga, saat gadis itu sedang mengambil air minum dari dalam dispenser.
Lelaki tampan itu kemudian berajak dari kursinya dan berpindah tempat duduk tepat disamping Dira. Sandro kemudian meraih jemari Dira yang saat itu sedang memegangi telinga kelas kaca yang terletak diatas meja. Dengan lembut Sandro menautkan jemarinya pada sela – sela jari tangan Dira yang lentik itu.
Sesaat Sandro menyandarkan kepalanya pada pundak Dira yang waktu itu duduk dengan tegak bersandar pada punggung kursi. Jantung Dira berdegup dengan cepat, hingga ia takut jika Sandro sampai mendengar suara debaran dadanya yang tidak terkendali itu.
“ Dira, apa kamu tahu yang kurasakan saat kamu menyadarkan kepalamu begini ketika kita melakukan perjalanan dinas? “ Ucap Sandro seraya memainkan jemari tangan kekasihnya itu.
“ Apa Kak? “ Dira melirik kearah wajah Sandro.
“ Aku merasa sangat gugup, tapi aku suka. Meski akhirnya pundakku menjadi sangat pegal hehe “ Sandro terkekeh ringan saat mengingat kejadian beberapa waktu silam.
“ Tapi waktu itu Kak Sandro berubah menjadi sangat jutek padaku? “ Tukas Dira kemudian saat ia mengingat sikap Sandro yang terlihat sangat kesal padanya.
Sandro kemudian menarik kepala nya dari bahu Dira, ia kemudian memandang wajah cantik perempuan yang sudah mencuri hatinya itu. Sekilas ia mengusap puncak kepala Dira dengan sangat lembut dan membuat wajah Dira menjadi semakin merona.
“ Apa kamu tidak tahu kenapa aku menjadi jutek? “ Sambung Sandro lagi, Dira menggeleng pelan.
“ Karena kamu tidak peka! Aku sedang cemburu karena kamu sangat akrab dengan Axel! Juga tadi ketika Edgar meraih tanganmu seperti ini, aku cemburu “ Sandro mempraktek kan perlakukan Edgar pada Dira saat mereka didepan lift tadi pagi.
Dira terkekeh dengan sesaat setelah mendengar pengakuan dari Sandro, ia benar – benar tidak menyadari jika sikap Sandro yang jutek itu karena ia sedang cemburu. Dira tidak pernah menyangka sebelumnya jika atasannya yang terkenal perfeksionis itu justru bertingkah begitu menggemaskan saat sedang bersamanya.
“ Bukan karena tidak peka Pak, tapi karena memang tidak pernah terlintas dipikiran saya bahwa Bapak akan menyukai saya begini “ Jawab Dira tersipu.
“ Pak? “ Sandro kembali protes pada Dira yang terlanjur terbiasa memanggil dirinya dengan sebutan ' Pak '.
“ Kak Sandro “ Dira mengkoreksi ucapannya sembari menatap wajah tampan Sandro yang memasang wajah protes terhadap dirinya.
“ Panggil aku sayang, ya? Cepat, coba aku ingin mendengarnya “ Pinta Sandro tiba – tiba.
" Ayolah, panggil aku sayang? " Sandro masih merengek.
“ Hmm, sa.. hmm.. sa, sa.. “ Dira terlihat berusaha dengan sangat keras untuk memanggil pacarnya itu dengan kata sayang.
“ Hmm, Sa.. sa.. Sandro! “ Pekik Dira pada akhirnya, ia belum terbiasa untuk menggunakan panggilan – panggilan menggemaskan itu.
“ Ck! “ Sandro memasang wajah kesalnya sambil melepaskan tangannya dari tautan jemari tangan Dira.
“ Pelan – pelan ya Kak? Suatu saat aku pasti melakukannya “ Pinta Dira sambil memasang senyuman yang setengah memohon sambil memandang wajah tampan kekasihnya itu.
“ Hmm, baiklah. Aku bisa apa jika kamu belum mau memanggilku sayang “ Sandro akhirnya mengalah dan tidak memaksa Dira untuk menggunakan panggilan itu.
Kedua insan itu kemudian tampak berbincang – bincang dengan begitu akrab seraya menikmati udara malam yang cukup hangat menerobos masuk dan datang menyapu wajah mereka melalui jendela kaca ruang makan yang tetap dibiarkan terbuka. Kencan pertama mereka diruang makan ditemani dengan sup kacang merah buatan Dira.