
Sandro sudah mulai menyalakan mobilnya yang berdiri dengan begitu gagah dipelataran rumah tinggal yang ia tempati bersama dengan Dira. Dengan celana bomber yang tampak menggantung jauh diatas mata kaki dipadu dengan kaos polos berwarna hitam juga baseball cap yang dikenakan secara terbalik Sandro terlihat lebih santai dan kasual.
Sementara Dira sama kasualnya dengan laki – laki itu, ia memakai celana jeans model joger pants sepanjang mata kaki yang ia pasangkan dengan kaos putih polos. Terlihat wanita cantik dengan tubuh mungil itu berjalan menuju mobil kekasihnya.
“ Maaf membuat mu lama menunggu sayang “ Ujar Dira sambil memasang seat belt pada kursi yang ia tumpangi.
“ Tidak juga, kita jalan sekarang ya sayang “ Sambung Sandro kemudian sembari melepaskan rem tangannya perlahan.
“ Oke Bos! “ Jawab Dira seraya menyunggingkan senyum cantiknya.
“ Temani aku potong rambut dahulu ya sayang? “ Pinta Sandro saat kendaraan yang mereka tumpangi sedang berhenti dilampu merah.
“ Iya sayang “ Sambung Dira tanpa memandang ke arah Sandro, ia justru sibuk dengan ponsel yang berada digenggaman tangannya itu.
“ Hmm, kamu sedang chatting dengan siapa? “ Sandro terlihat mencuri – curi pandang pada ponsel kekasihnya itu.
“ Ini Axel, dia tanya aku dimana sayang “ Tukas Dira sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.
“ Hmm, bilang saja sedang berpacaran dengan ku. Awas saja ya kalau ganggu nanti dia ku demosi “ Canda Sandro sambil kembali melajukan kendaraannya.
Dira hanya tersenyum simpul saat melihat gurauan Sandro baru saja, sesaat ia memandangi pria tampan yang sedang mengemudikan kendaraannya itu. Wajah Sandro yang tampan juga kharisma yang begitu luar biasa membuat Dira dengan begitu mudah kini memantapkan hatinya pada lelaki itu. Hubungan yang sebelumnya tidak pernah terbesit dalam pikirannya, nyatanya kini berjalan dengan begitu indah.
Walau jujur saja masih ada ketakutan didalam hati Dira jika tiba – tiba orang – orang disekitarnya mengetahui hubungan spesialnya dengan Sandro. Dirinya yang begitu kecil masih saja merasa belum cukup untuk dapat mendampingi pria sehebat Sandro.
“ Hmm, sayang apakah kamu punya kekasih sebelum bersamaku? “ Tiba – tiba saja Dira membuka suaranya membahas masa lalu.
“ Ck! Kenapa tiba – tiba membicarakan hal yang sudah berlalu “ Terdengar Sandro berdecak dengan kesal sembari melirik wanita yang duduk disampingnya.
“ Aku hanya penasaran, seperti apa wajah kekasihmu dahulu, apakah dia keluarga terpandang sepertimu? “ Dira masih saja penasaran.
“ Memangnya kamu tidak terpandang? Nyatanya hanya kamu yang bisa kupandang sekarang! “ Sandro masih saja tidak mau membahas masa lalunya.
“ Hmmm, aku hanya ingin tahu sayang. Ayolah sedikit ceritakan tentang mantan pacarmu “ Kini Dira memasang wajah menggemaskannya seraya mengedipkan matanya dengan manja.
“ Ck, memangnya apa yang ingin kamu ketahui sayang? “ Lagi – lagi Sandro tidak bisa menolak keinginan Dira yang memasang wajah lucu nya itu.
“ Apa saja yang mau kamu ceritakan pada ku “ Sambung Dira lagi.
Sandro terdiam sejenak dan masih tersenyum mendengar permohonan kekasihnya itu, lelaki itu kemudian melemparkan pandangannya pada Dira lalu tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“ Dahulu sewaktu di Singapura aku memang memiliki pacar, kami teman kuliah saat menempuh studi di Cambridge tapi ya sudah kami pada akhirnya putus dan aku sekarang menjatuhkan hati pada mu “ Jawab Sandro sambil terus memperhatikan jalananan di depannya.
“ Hanya begitu? “ Dira seolah tidak puas dengan jawaban kekasihnya.
“ Ya memang hanya begitu, memang mau bagaimana? “ Sandro kembali tersenyum melihat keingintahuan Dira.
“ Ya karena kami tidak memiliki visi dan misi yang sama, ya berpisah “ Sandro menjawab ringan.
“ Apa dia cantik? “ Lagi – lagi Dira masih berceloteh dengan mulut mungilnya itu.
“ Hahahaha kamu adalah perempuan tercantik “ Sandro tertawa dengan renyah menanggapi pertanyaan kekasihnya itu.
“ Bohong! “ Dira menguncupkan bibirnya, dan tampak sangat menggemaskan menurut Sandro.
“ Cobalah bercermin jika tidak percaya, atau sini lihatlah melalui bola mata ku “ Sambung Sandro sambil menoleh kearah kekasihnya itu.
“ Lalu, memangnya sebelum berpacaran dengan ku tidak ada perempuan lain yang sedang dekat dengan mu? “ Ucap Dira lagi, perempuan itu sepertinya tampak begitu sanksi jika Sandro tidak dekat dengan perempuan lain.
“ Tentu saja ada beberapa, hanya mereka tidak semenarik dirimu sayang “ Jawab Sandro dengan jujur.
“ Beberapa? Jadi aku hanya opsi? “ Dira memukul lengan Sandro dengan kesal.
“ Loh? Kenapa aku dipukul? Bukan opsi, aku tidak pernah menjadikanmu sebagai opsi. Aku menyukai mu sejak awal, hanya saja aku sudah sempat didahului oleh mantan kekasihmu itu “ Skak mat!
Jawaban Sandro baru saja membuat Dira terdiam, sejenak ia teringat akan hubungannya dengan Radit yang berakhir kandas. Namun kini ia sangat bersyukur, kehadiran Sandro menyelamatkannya yang hampir saja tidak memiliki semangat untuk membuka hati kembali.
“ Hmm, ya sudah aku tidak ingin membahas lagi “ Dira akhirnya memutuskan untuk berhenti membicarakan masa lalu. Sandro kembali merekah kan senyumnya dan mengusap kepala Dira dengan lembut.
***
Sandro terlihat duduk diatas kursi didepan sebuah kaca berukuran besar menyelesaikan guntingan rambutnya, sementara Dira menunggui kekasihnya itu dengan sabar diatas sofa ruang tunggu disebuah barber shop. Lelaki berhidung mancung itu tampak semakin tampan saja dengan potongan rambut barunya.
“ Gantengnya “ Puji Dira pada Sandro sambil menyentuh puncak kepala Sandro sambil berjinjit.
“ Yang bener aku ganteng? “ Sandro terdengar sanksi dengan pujian Dira baru saja.
“ Iya sangat ganteng “ Ucap Dira lagi.
Sandro kemudian segera menuju meja kasir membayar ongkos gunting rambutnya baru saja, kemudian kembali menghampiri Dira yang masih sabar menungguinya. Dira kemudian mengalungkan tangannya pada lengan Sandro dan bergelayut dengan manjanya pada pria itu.
Pria itu sangat menyukai sikap Dira yang manja padanya, ia lebih suka melihat Dira yang tergantung padanya dibanding jika ia harus menyaksikan kemandirian Dira dalam segala hal. Sandro kini juga melingkarkan tangannya merengkuh bahu Dira kedalam dekapan hangat dada bidangnya itu.
“ Sayang kamu mau nonton nggak? “ Tanya Sandro kemudian sambil melemparkan pandangannya kearah wajah cantik kekasihnya itu.
“ Mau nonton apa memangnya? Memang ada film baru? “ Sambil berjalan dengan menggandeng lengan Sandro, Dira kembali bertanya.
“ Apa saja, asal bersama mu aku mau nonton apa saja “ Sambung Sandro tanpa berhenti memandang paras ayu wanita nya itu.
“ Baiklah ayo kita ke bioskop “ Dira akhirnya mengiyakan ajakan Sandro untuk menonton film pada hari itu.