
Dira memicingkan matanya memandang kedua rekannya yang masih memandangnya penuh telisik. Ia masih mencari – cari jawaban atas tatapan mata Edgar dan Axel yang seolah curiga pada Dira.
“ Kenapa sih kalian? “ Seloroh Dira lagi.
“ Kok bisa makan ada Mama Pak Sandro Dir? “ Ucap Edgar penuh kecurigaan.
“ Mama nya datang, terus aku dipanggil makan. “ Dengan santai Dira menjawab pertanyaan Edgar.
“ Sudah kamu sama Pak Sandro saja Dir, sudah dikenalin juga sama Mama nya kan? “ Celoteh Axel kemudian.
“ Ih, apaan sih, orang paling juga nggak sengaja manggil aku. Lagian ya, tadi malam kalian tahu kita kerumah siapa? “ Dira menampik perkataan Axel.
“ Kan Dira suka banget gosipin Pak Sandro, untung sama kita berdua saja gosipnya. “ Potong Edgar yang terdengar enggan membahas soal atasannya itu. Sementara berbeda dengan Edgar, Axel justru terlihat sangat antusias menunggu berita yang akan disampaikan oleh Dira.
“ Kita kerumah Bu Alice guys! Terus ya, ternyata Bu Alice sakit perut dan Pak Sandro yang membelikan obat. Terus kan tadi, yang jemput Mama Pak Sandro itu Bu Alice juga. Artinya benar kan mereka punya hubungan spesial? “ Dira berapi – api menjelaskan pada kedua temannya itu.
“ Masa sih Dir? “ Axel menimpali.
“ Serius Xel, orang aku dengar sendiri waktu Pak Sandro sama Mamanya baru ngobrol kok. “ Dira berusaha meyakinkan.
“ Hmm, sudah Dir sudah. Jangan gosip terus deh, kamu suka ya sama Pak Sandro kok ngomongin beliau pacaran terus? “ Edgar mencoba menghentikan pergunjingan yang sedang dilakukan oleh Dira dan Axel.
“ Jangan – jangan dia ini orang nya Pak Sandro nih Xel, setiap kita ngomongin Pak Sandro sama Bu Alice dia marah. “ Dira menuding wajah Edgar seraya memasang wajah kesal.
“ Hahaha, bukan begitu. Takut nya ada orang yang dengar Dir, terus ternyata beritanya salah jadi nya kamu nanti yang dituduh menyebarkan informasi palsu. “ Bela Edgar atas tuduhan yang diberikan Dira padanya.
“ Hmmm. “ Dira hanya berdehem mendengar perkataan Edgar yang ada benarnya itu.
“ Tapi kalau Pak Sandro jomblo emang bagusnya sama kamu saja Dir, dari pada sama dia. “ Axel melirik Radit yang sedang meracik kopi pada meja barista.
“ Nggak deh kalau sama Pak Sandro Xel, amit – amit jabang bayi deh. Nggak ingat gimana seramnya dia waktu meeting? “ Tukas Dira menolak perkataan Axel.
“ Yakin nggak mau Dir? Biasanya yang begini nanti lama – lama jatuh cinta beneran loh? “ Potong Edgar kemudian, namun Dira tetap bersikukuh menggeleng – gelengkan kepalanya memberikan penolakan.
“ Awas ya kamu Dir kalau nanti sampai naksir, suka atau sampai pacaran sama Pak Sandro kamu harus traktir aku sama Edgar ya. “ Tantang Axel pada Dira.
“ Siap aja, karena nggak akanvpernah Xel. Dia bukan tipe ku sama sekali, dia dingin, pendiam, pemikir, terus kayaknya susah dipahami. “ Dira menerima tantangan yang Axel berikan.
***
Dari meja barista, Radit tidak melepaskan pandangan matanya dari wajah ayu Dira yang tampak bahagia bercengkerama dengan kedua orang teman prianya. Sesekali Radit ikut tertawa saat melihat Dira menggelakkan canda tawa bersama Edgar dan Axel disudut ruangan kafe miliknya.
Pertemuan kali ketiga dengan Dira sudah membuat hati Radit berdesir cukup kuat ketika melihat wanita cantik itu menyunggingkan senyuman cantiknya yang mematikan. Terlebih karena berhasil mengajak Dira berbicara juga meminta nomor HP nya membuat Radit semakin percaya diri untuk mendekati Dira.
“ Dir, kenapa sih laki – laki yang duduk disana itu lihatin kamu terus. Dia juga tersenyum – senyum sendiri kalau lihat kamu Dir. “ Bisik Edgar setelah menyenggol tangan Dira dengan siku nya.
“ Terus kamu kasih? “ Kejar Edgar pada Dira.
“ Iya tuh Gar, dikasih sama Dira. “ Potong Axel dengan sedikit kesal.
“ Kok kamu kasih sih Dir? “ Edgar dengan kesal berteriak pada Dira sambil bangkit dari tempat duduknya. Tak ayal seluruh pengunjung cafe termasuk Radit memandang kaget sekaligus bingung kearah Edgar dan juga Dira serta Axel.
“ Calm down Mas, duduk please duduk. “ Dira menarik tangan Edgar agar kembali duduk ke bangkunya lagi.
“ Aku itu nggak enak Mas, dia alasan kita bertetangga jadinya aku kasih nomor ku ke dia. Lagi pula, dia kasih aku free dessert sudah dua kali Mas. “ Bisik Dira pada Edgar yang meliriknya dengan tatapan kesal.
“ Kok bisa tahu kalian bertetangga? “ Edgar memandang Dira kesal, sementara Dira hanya tertunduk lesu.
“ Dia itu kelihatan mau main –main saja Dir. “ Tukas Axel to the point.
“ Betul Xel, aku lihat tatapan matanya ke Dira itu lho! “ Sergah Edgar kemudian.
“ Iya iya guys, janji nggakbakalan aku termakan bujuk rayunya dia, lagian aku kasih nomorku juga nggak ada tendensi apapun kok, selain nggak enak aja. Jadi please jangan frontal begini ya. Pada melihat kita ini loh guys. “ Dira tertunduk malu karena beberapa orang masih memperhatikan mereka bertiga.
“ Aku bakal awasin terus ini, kalau sampai macam – macam habis deh. “ Gertak Axel sambil menatap pria yang bernama Radit itu.
“ Tapi lihat deh guys mukanya polos begitu kan? “ Ucap Dira asal.
“ Biasanya yang sok polos gitu yang berbahaya Dir. “ Tukas Edgar kemudian.
***
Meski obrolan mereka sore itu sedikit tidak nyaman karena si pemilik kafe terus memperhatikan Dira nyatanya tidak membuat mereka kehilangan keseruan. Justru mereka semakin asyik berbincang – bincang sambil bermain kartu.
Wajah Edgar dan Dira tampak begitu menggelikan karena olesan bedak hampir memenuhi seluruh wajah mereka. Keduanya kalah dari Axel yang ternyata cukup mahir bermain kartu uno, sesekali terdengar tawa renyah Dira karena memandang wajah putih Edgar.
Tanpa mereka sadari beberapa cup minuman tambahan mereka juga sudah habis diseruput, hari yang semula terang benderang sudah mulai meredup dengan cahaya semburat jingga menghiasi langit sore itu.
“ Sudah ayok balik, besok kerja guys. “ Ucap Axel menghentikan permainan.
“ Yah padahal seru. “ Omel Dira pada Axel yang sudah merapikan kartu uno dan bedak yang dipinjamkan oleh kafe tersebut.
“ Seru apa an, orang kamu kalah terus hahaha. “ Seru Edgar sambil tertawa geli melihat wajah Dira yang juga tampak cemong – cemong karena bedak.
“ Kita itu sama – sama langganan kalah Mas jadi jangan menghina. “ Cibir Dira sambil mengelap wajahnya dengan tisu yang ada diatas meja.
Dira kemudian meraih Hp dan dompet nya dari atas meja kemudian melenggang dari dalam kafe, cuaca sore itu masih cukup terang dan terasa hangat. Ia berlari kecil meninggalkan kedua orang temannya itu sembari melambaikan tangannya pada mereka yang masih mengawasi langkah kecilnya dari kejauhan.