
Dengan perasaan yang begitu berkecamuk Dira segera menghambur dari bangunan rumah Radit, ia terlihat begitu tergesa – gesa meninggalkan tempat itu dan menyeruak keramaian kafe di Sabtu sore. Edwin tampak terkejut melihat Dira yang keluar dengan wajah pias dan seperti orang yang sedang gugup.
“ Kenapa Mbak Dira? “ Tanya Edwin dengan sedikit teriakan, karena Dira langsung mendorong cukup kuat pintu kaca kafe dan meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan.
Dira berlari kecil menuju rumah tinggalnya, kakinya terasa lemas, kekuatannya seolah luruh bersamaan dengan rasa takut yang kini menguasai dirinya. Setelah ia membaca sekilas percakapan yang ada dalam grup chat milik Radit ia menemukan sesuatu yang kurang pas dan tidak wajar dalam diri pacarnya itu.
Setiba dirumah tinggal Dira segera menjatuhkan tubuhnya yang basah kuyup karena guyuran hujan, pada kursi yang berada diruang tamu. Wajah Dira yang kedinginan semakin terlihat sangat pucat, bibirnya yang biasanya merona merah kini tampak sedikit membiru. Dengan gemetar ia mengaduk – aduk isi tasnya, berusaha mencari ponselnya.
Ia menghubungi seseorang melalui ponsel yang sedang ia pegang itu, ia menunggu panggilannya tersambung namun setelah beberapa saat nada sambung terdengar, orang diseberang tidak kunjung menyahut. Dira kembali menekan – nekan layar ponselnya dengan perasaan semakin kacau dan gugup, ia menempelkan ponselnya pada telinganya hingga terdengar suara sesorang menjawabnya.
“ Mas Edgar sama Axel dimana? Mas? Bisakah kamu kesini bersama Axel? Mas, aku kehilanan akal pikiranku sekarang, apa yang harus kulakukan Mas? “ Dira kemudian terisak saat menyelesaikan ucapannya pada Edgar yang baru saja mengangkat teleponnya.
Setelah mendengar Edgar mengiyakan permintaannya, terdengar suara Dira yang terisak dan menangis sejadi – jadinya. Sekujur tubuhnya mulai ujung rambut hingga kepalanya masih basah karena ia berlari menerobos hujan sore itu, ditambah dengan tangisan yang menyayat hati membuat Dira semakin terlihat kacau.
“ Kenapa Mbak Dira? “ Pak Jaka berlari dari dalam mushola dengan begitu panik mendekati Dira yang masih terisak.
“ Mbak? “ Pak Jaka menggoyangkan pelan tubuh Dira, namun wanita itu tetap tidak mau mengangkat wajahnya dan semakin terhanyut dalam kesedihannya.
Kurang dari sepuluh menit, Edgar dan Axel sudah tiba di rumah tinggal. Sama basah kuyupnya dengan Dira kedua pria itu tampak baru saja berlarian menerobos hujan sore itu. Dengan tergesa – gesa keduanya mendatangi Dira yang menelpon Edgar sambil meraung - raung.
“ Dira kenapa? “ Wajah Edgar tampak begitu cemas melihat Dira yang berantakan duduk diatas kursi ditemani Pak Jaka yang berdiri didekat mereka, wajah Pak Jaka begitu bingung melihat Dira yang terisak.
“ Mas Edgar, Axel “ Tangis Dira semakin pecah saat melihat kedua sahabatnya itu masuk kedalam ruang tamu, tanpa aba – aba Dira langsung menghambur memeluk Edgar yang berada paling dekat dengan dirinya.
“ Pak Jaka boleh minta tolong buatkan teh hangat untuk Dira? “ Pinta Axel dengan lembut pada Pak Jaka yang masih kebingungan melihat Dira yang mengharu biru.
“ Baik Mas Axel “ Pak Jaka kemudian bergegas masuk kedalam dapur untuk membuatkan minuman sesuai dengan permintaan Axel baru saja.
“ Kenapa Dir? Sini duduk dahulu, kenapa? “ Dengan lembut Edgar mengusap wajah Dira yang tetap cantik meski air mata membanjiri seluruh muka nya.
Edgar dengan pelan mendorong Dira agar duduk diatas kursi dan melepaskan pelukannya dari tubuh kekarnya Sore itu Dira benar – benar tampak sangat berantakan, bahkan ia masih terlihat mengenakan pakaian kerjanya. Jelas ia baru saja kembali kerumah.
“ Ini Mas, Mbak minumannya “ Pak Jaka menyodorkan tiga cangkir teh hangat keatas meja.
“ Terima kasih Pak, tinggal saja tidak apa – apa “ Suara Axel kembali terdengar.
Axel langsung menarik satu cangkir keramik dan meniupnya dengan pelan, asap mengepul dari dalam cangkir sesaat. Lelaki itu langsung menarik tangan Dira dan meletakkan pada cangkir yang berisi teh hangat kedalam genggaman wanita cantik itu.
“ Ini minum dahulu “ Pinta Axel seraya merapikan rambut Dira yang basah dan berjatuhan mengenai wajah cantik perempuan tersebut.
“ Sudah jangan menangis lagi, kenapa? “ Lagi – lagi Edgar menghapus air mata yang menetes itu dengan sangat lembut.
“ Apa ini yang membuat kalian menentang hubungan ku dengan Mas Radit? “ Suara Dira tercekat, ia seolah tidak mampu berbicara.
“ Kenapa Dira? “ Suara Axel bergetar, tanyanya sambil melayangkan pandangannya ke arah Edgar.
“ Apa kamu mendapati sesuatu Dir? “ Kini Edgar bergantian menatap Dira yang masih menangkup wajah nya dengan kedua tangan mungilnya.
“ Sex party? Homoseksual? Apa dia benar – benar penyuka sesama jenis? Pikirku kalian tahu dia playboy, tapi ini justru begini? Sungguh tidak masuk dalam akal pikiranku. Lalu kenapa dia berpacaran denganku? Aku ini apa baginya? “ Dira tidak kuasa dengan kenyataan pahit yang baru saja ia temukan.
Axel dan Edgar saling melempar pandangan dan keduanya terlihat menghembuskan nafas yang terdengar kasar oleh telinga Dira. Kedua pria itu masih sama – sama menutup mulut dan belum membuka suaranya, Axel dan Edgar terlihat bingung mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya sudah lama mereka simpan.
“ Bagaimana kamu bisa tahu Dir? “ Akhirnya Axel membuka suaranya.
“ Aku membaca pesan di grup nya tadi Xel, grup dengan nama yang sangat tidak wajar ditambah dengan pesan yang sangat menggangguku, undangan sex party untuk para penyuka sesama jenis. Jadi apakah hal ini yang kalian sembunyikan padaku? " Dira memandang wajah Axel, dan pria itu mengangguk.
"Kenapa kamu tega tidak mengatakannya padaku Xel? “ Dira memukul – mukul dada bidang Axel sambil menangis, dengan sigap Axel menangkap tangan Dira yang hendak memukulnya lagi.
“ Apa kamu akan percaya pada ku saat aku memberitahumu? Kamu sedang cinta – cinta nya pada laki – laki itu, perasaanmu akan mengalahkan rasionalitasmu Dira “ Ucap Axel dengan lembut tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“ Benar Dir, waktu itu saja kamu marah sekali pada kami, jadi kami tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan mu terlebih dahulu sembari aku dan Axel mencari bukti yang kuat “ Edgar menimpali.
“ Sejak kapan kalian mengetahui hal itu? Kenapa tidak memberitahu ku lebih awal? “ Tukas Dira lagi.
“ Bukankah kami sudah melarangmu berpacaran dengannya jauh – jauh hari Dir? “ Jawab Axel kemudian. Dira masih menitikkan air matanya, ia tidak menyangka lelaki yang mampu merebut hatinya ternyata memiliki selera hubungan yang sedikit berbeda dengan dirinya.
“ Sejak kapan kalian tahu? “ Tanya Dira lagi.
“ Sejak kunjungan kedua kita ke kedai miliknya, saat itu aku baru saja pergi berolah raga disebuah pusat kebugaran dan aku diitawari untuk masuk kedalam sebuah klub, dan ternyata itu adalah klub penyuka sesama jenis “ Tukas Axel kemudian.
“ Lalu? “ Dira masih mengejar jawaban dari Axel.
“ Jelas aku menolak, lalu seorang trainee tiba – tiba menunjukkan padaku foto - foto anggota klubnya dan berusaha merayu ku. Lalu yang membuat aku shock adalah saat ia menunjukkan foto Radit padaku, dari situ aku tahu ia merupakan penyuka sesama jenis “ Jujur Axel kemudian.
“ Kenapa kamu tidak menceritakan padaku sejak awal? Aku benar – benar menyukainya, setelah mengetahui ini dunia ku serasa runtuh Xel! Aku sudah menaruh dan mempercayakan seluruh hatiku padanya! “ Dira kembali terisak, Axel kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya.
“ Kami tidak pernah berfikir jika kalian akan benar - benar berpacaran Dira, oleh karena itu aku maupun Edgar tidak mengatakan apapun padamu. Sejak kamu mulai dekat dengannya, aku dan Edgar masih berusaha mendapatkan nformasi yang akurat, tetapi justru sekarang kamu sudah mengetahuinya “ Tukas Axel sambil mengusap kepala Dira dengan lembut.