CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MENEBUS KEKECEWAAN



Merasa bersalah karena sudah membuat kecewa Sandro dengan meninggalkannya makan siang bersama Axel dan Edgar, Dira berinisiatif untuk meminta maaf pada laki – laki itu dengan membuatkannya dessert. Sebab Dira ingat, kala itu saat ia membuat crepes cake Sandro belum sempat mencicipinya karena waktu itu Sandro jatuh sakit.


Sepulang dari kantor Dira langsung menuju mini market yang tidak jauh dari kantornya, ia membeli bahan – bahan untuk memasak bread dessert cake untuk Sandro. Tampak Dira mengambil roti tawar tanpa pinggiran, kemudian keju, kismis dan tidak lupa ia membeli aluminium foil cup.


Setelah membayar seluruh belanjaannya, Dira segera kembali ke rumah tinggalnya. Ia segera meletakkan tas kerjanya didalam kamar, membasuh kedua tangannya dan mulai berkutat didapur. Ia meraih dua butir telur, susu segar varian plain juga susu kental manis, tidak lupa ia meraih toples gula pasir dari atas lemari kabinet.


Dira tampak memotong – motong roti tawarnya menjadi ukuran yang sangat kecil kemudian memasukkan kedalam mangkok besar dan mencampurnya dengan adonan susu segar, telur ayam, keju yang sudah diparut dan juga bahan lainnya. Sesudah bahan – bahannya tercampur dengan merata ia kemudian menuangkan nya kedalam aluminium foil cup dan terakhir ia menaburi keju dan kismis pada bagian paling atas adonan.


Adonan tersebut kemudian Dira kukus dengan panci  kukusan yang sudah ia didihkan airnya terlebih dahulu. Sembari menunggu adonan kue nya matang, Dira segera meraih handuk mandinya dan melenggang kedalam bilik kecil didalam flat nya itu. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan cepat dan setelahnya segera berganti pakaian.


“ Wah, harum “ Ucap Dira pada dirinya sendiri seraya mengeluarkan kue yang telah selesai dikukus menggunakan penjepit makananan.


Kemudian ia mengemas beberapa cup kue kedalam loyang besar dan membawa nya turun menuju ke flat Sandro. Saat didalam kamar tadi ia mengintip melalui jendela kacanya dan melihat kendaraan Sandro sudah terparkir di tempat biasa.


Tok.. tok.. tok..


Dira mengetuk pintu flat Sandro dengan sangat lembut, berharap seseorang didalam rumah segera membuka pintu untuknya. Benar saja dugaannya, pria itu dengan cepat meraih gagang pintu dan menariknya dengan tidak sabar. Sandro menatap wanita cantik yang berdiri dihadapannya seraya menyodorkan loyang berisi kue.


“ Kenapa? “ Tanya Sandro dengan nada bicara yang jutek.


“ Kak Sandro masih marah padaku? “ Dira mengulaskan senyuman cantiknya membuat Sandro sulit menahan diri nya untuk tetap berlaku jutek pada Dira.


“ Bagaimana aku bisa marah kalau kamu datang kemari sambil membawa makanan begini, lalu senyuman mu itu! Bagaimana aku bisa marah kalau melihat mu sangat cantik tersenyum didepan wajahku “ Tukas Sandro sambil menahan senyumannya.


“ Masuk lah, atau kamu ingin tetap mematung disana? “ Sambung Sandro lagi sambil menarik dengan lembut pergelangan tangan Dira.


Dira segera masuk kedalam rumah Sandro dan menyusun kue yang baru saja dibuatnya itu diatas piring saji yang ia ambil dari lemari kabinet dapur Sandro. Pria tampan itu menatap dengan lembut wajah kekasihnya itu, Dira terlihat sudah mulai terbiasa dengan flat miliknya itu.


“ Maaf ya Kak, aku tidak punya nampan yang bagus jadi aku membawa nya dengan loyang “ Kata Dira seraya membawa kue yang masih mengepulkan asap itu kedepan Sandro.


“ Apa kamu membuatnya sendiri sayang? “ Tanya Sandro saat ia menerima uluran sendok dari tangan Dira, dan gadis itu mengangguk.


“ Sebagai permintaan maafku karena melewatkan makan siang bersama mu Kak “ Dira tersenyum tipis.


“ Hmm, aku sangat kesal tadi siang “ Jujur Sandro sambil menyendokkan bread dessert cake tersebut kedalam mulutnya. Ia mengunyah dengan pelan makanan bertekstur lembut dan menguarkan aroma manis gurih itu.


“ Maaf Kak, soal nya memang setiap satu minggu sekali kami bertiga selalu mengadakan acara makan siang bersama  “ Sambung Dira kemudian.


“  Hmm, lalu kalian makan apa tadi siang? “ Ucap Sandro sambil terus melahap kue buatan pacarnya itu.


“ Aku makan nasi tim ayam jamur, di kedai yang ada didekat persimpangan jalan diseberang kantor Kak “ Jawab Dira dengan sangat antusias.


“ Jangan berkata seperti itu Kak aku mohon, akan membuatku semakin merasa bersalah “ Tukas Dira sambil berusaha memandang wajah kekasihnya.


“ Aku memang sengaja melakukannya, supaya kamu merasa bersalah “ Sandro kini mengangkat wajahnya dan memandang lekat gadis yang duduk disampingnya itu.


“  Aku ingin semua orang tahu bahwa kamu milik ku “ Ucap Sandro lagi, kali ini ia menyentuh puncak kepala Dira.


“ Maafkan aku Kak “  Dira memasang wajah bersalahnya lagi.


“ Sudahlah, aku mengerti sayang. Semua perlu waktu dan ada prosesnya, aku tidak mendesak mu untuk terburu – buru show up “ Sandro memegangi wajah cantik Dira dengan kedua tangannya.


“ Terima kasih Kak “ Jawab Dira seraya tersenyum sekilas.


Sandro kembali mengusap puncak kepala Dira, sesaat hati kecil wanita cantik itu berdesir. Dira yang sebelumnya gamang dengan perasaannya kini merasa bahwa dirinya sudah mulai terbuai dengan perlakuan manis Sandro. Lelaki itu sungguh berhati lembut dan sangat memahami dirinya, ia tidak memaksakan hal – hal yang menjadi kehendakknya.


“ Apa kue nya enak Kak? “ Tanya Dira kemudian.


“ Hmm enak, lihatlah aku sudah menghabiskan hampir tiga cup sayang “ Sandro kini mencubit pipi Dira, membuat wajah gadis itu memerah menahan malu.


“ Kak, apa orang tua Kak Sandro akan baik – baik saja jika tahu kita berpacaran? “ Tanya Dira tiba – tiba.


Pria berbadan tinggi tegap itu kemudian menghentikan makannya dan mencuci tangannya dengan air mengalir pada wastafel didapur. Dira mengikuti langkah lelaki itu, kini Sandro terlihat meraih gelas keramik dari dalam laci dapur. Segera ia mengisinya penuh dengan air, kemudian meneguk isinya hingga habis tak bersisa.


“ Kenapa? Kamu takut tiba – tiba kita dipisahkan seperti dalam sinetron – sinetron itu? “ Suara Sandro kembali terdengar setelah ia meletakkan gelasnya diatas meja.


“ Hmm, kan Bapak putra pemilik perusahaan, sementara saya? Tentu saja saya takut Pak “ Jawab Dira dengan jujur.


“ Bapak?! Bapak?! Bapak?! Memangnya aku Bapak mu? Hmm? “ Protes Sandro lagi setelah mendengar Dira berbicara dengan bahasa yang sangat kaku dan formal padanya.


“ Hehehe, Maaf Kak aku terkadang lupa “ Dira terkekeh sambil tersenyum dengan cantik.


“  Hmm, asal jangan sampai lupa saja kalau kamu sudah jadi pacarku ya? “ Sandro tampak menyilangkan kedua tangannya didepan dada bidangnya itu.


“ Hehehe nggak mungkin dong Kak, paling – paling aku masih sering belum percaya kalau ternyata Kak Sandro punya perasaan padaku “ Jujur Dira tanpa menanggalkan senyuman dari kedua sudut bibirnya itu.


“ Aku benar – benar menyukaimu Dira, aku mencintaimu apa kamu tidak bisa merasakannya? “ Sandro meraih jemari Dira dan menggenggamnya dengan lembut.


“ Aku juga menyukai Kak Sandro “ Dira tersenyum dengan sangat tulus, kedua matanya berbinar dengan sangat indah dan begitu teduh membuat Sandro enggan mengalihkan tatapan matanya itu.


“ Terima kasih Dira karena kamu mau memberiku kesempatan untuk membahagiakan dirimu “ Ucap Sandro sambil terus mengeratkan genggaman tangannya.