
Dira terlihat berlarian menuju kantor nya, hari itu dia bangun terlambat karena semalam begadang menemani Sandro menonton pertandingan sepak bola kesukaannya. Bahkan Dira sampai tertidur – tidur diatas sofa didepan televisi dan akhrinya kembali kedalam flat nya setelah pukul dua pagi.
“ Tunggu! “ Teriak Dira saat seseorang hendak menutup pintu lift.
Untung saja penumpang yang sudah berada didalam lift mau membuka kembali pintu besi bilik berukuran sempit itu dan membiarkan Dira ikut masuk kedalam sana. Berkali – kali Dira mengatur nafasnya yang tampak terengah – engah karena berlarian sepanjang jalan, bahkan semenjak ia keluar dari dalam flatnya.
“ Hah! Aku tidak akan mau lagi menemanimu begadang hanya untuk melihat orang – orang berebut bola “ Kesal Dira seraya mengkibas – kibas kan bagian depan baju seragamnya karena merasakan hawa panas disekujur tubuhnya.
Setelah lift berhenti dilantai tiga, Dira segera keluar dan segera berjalan dengan cepat untuk menuju kedalam ruang kerjanya. Sambil berlari kecil wanita cantik itu mencuri – curi pandang ke arah ruangan kaca milik kekasihnya, Alice sudah berada di meja kerjanya dapat dipastikan bahwa Sandro juga sudah berada disana.
“ Selamat pagi semua, maaf saya terlambat “ Ucap Dira setelah menghela nafas panjang saat ia masuk kedalam ruangan departemennya.
“ Selamat pagi Bu, tidak apa – apa Bu “ Ucap beberapa staf Dira secara bersamaan memakhlumi keterlambatan atasan mereka yang biasanya selalu datang lebih awal.
Dira segera masuk kedalam ruang kerjanya, belum sempat ia menaruh tas dan duduk seseorang sudah mengetuk ruangannya kemudian mendorong pintu dengan pelan. Meira terlihat menyembulkan kepalanya dibalik pintu.
“ Maaf Ibu, apakah bisa minta tanda tangan terlebih dahulu? Ini berkas yang kemarin direvisi dan minta dikirim ke Departemen Plantation segera Bu “ Ucap Meira sembari mengulurkan berkas yang ia pegang.
“ Oh okay, mau dibawa untuk meeting pagi ini ya Mei? “ Tanya Dira sambil meletakkan tas nya ke atas meja dengan sembarangan.
Perempuan cantik itu terlihat membaca ulang berkas yang disodorokan oleh Meira padanya baru saja, beberapa kali ia mengecek bagian – bagian penting yang tertulis diatas lembaran kertas putih itu. Dira kemudian meraih satu buah pena dari dalam tempat pensilnya yang berada diatas meja, lalu mendorong pelan map berkasnya keatas meja untuk dibubuhi tanda tangan.
Saat ia mendorong map tersebut dengan pelan tidak sengaja tasnya yang berada diatas meja ikut terdorong dan dan jatuh ke lantai. Berhubung Dira tidak mengancingkan resletingnya beberapa barang dari dalam tasnya ikut berhamburan disana, mulai dari pencil case, ponsel, botol minum hingga sebuah dompet.
Terlihat dompet lipat kulit berwarna cokelat ikut terlempar kelantai dengan posisi terbuka, menyembul disana beberapa kartu ATM, SIM dan credit card juga kartu identitas si pemilik dompet. Dengan ragu Meira yang lebih dahulu memegang dompet tersebut mengulurkannya pada Dira yang masih terfokus memunguti barang – barangnya yang berhamburan.
Wajah Meira yang tadinya biasa saja kini terlihat agak terperangah, karena yang ia lihat baru saja adalah dompet cokelat dengan kartu identitas dengan nama pemilik Ersandro Damaresh Basadewa. Mimik muka Meira mengisyaratkan bahwa ia merasakan sebuah kejanggalan yang terjadi, seribu tanya kemudian hadir dalam benak perempuan itu.
“ Bu ini “ Ujar Meira pelan seraya mengulurkan dompet kulit tersebut pada Dira.
“ Oh iya, terima kasih “ Dira menerima dompet milik Sandro sambil tersenyum, dirinya tidak menyadari bahwa Meira sudah melihat kartu identitas yang berada didalam dompet.
Dira kemudian kembali berfokus pada berkas yang berada diatas meja lalu menandatanganinya segera dan mengulurukan kembali pada Meira. Sesudahnya Dira tampak memulai pekerjaannya pada pagi hari itu, segera ia menyalakan komputer yang berada didepan meja kerjanya dan mulai mengecek setumpuk surel yang sudah memenuhi kotak masuknya.
***
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Dira segera keluar dari ruang kerjanya sambil membawa dompet cokelat milik Sandro ditangannya. Meira terlihat mengawasi Dira yang berjalan keluar dari ruangan, perempuan itupun mengikuti Dira dan berpura – pura masuk kedalam toilet saat mendapati Dira masuk kedalam ruangan kaca milik Sandro sesuai dugaannya.
“ Selamat Siang Ibu Alice? Apakah Pak Sandro ada didalam? “ Tanya Dira saat mendapati Alice tengah membereskan beberapa berkas diatas meja.
“ Oh ada Bu, tetapi masih ada pertemuan dengan Pak Edgar didalam Bu membahas hasil meeting pagi ini “ Tukas Alice ringan.
“ Hahahaha, baiklah Dira akan ku sampaikan “ Alice tertawa nakal saat melihat Dira mengulurkan dompet milik kakak sepupunya itu pada dirinya.
“ Kalau begitu saya permisi Ibu Alice “ Dira tersenyum simpul menahan malu karena Alice menertawainya dengan cukup genit.
Dira segera berjalan menuju lift untuk pergi makan siang di kantin yang berada disamping bangunan gedung kantornya. Tidak butuh waktu lama perempuan itu segera menuju meja pemesanan untuk memilih dan membayar makanannya. Dira memilih sup angkak gurame dengan nasi merah dan segelas es jeruk nipis.
“ Ibu Dira, gabung saja dengan kami? “ Panggil Ellena dari meja yang ia tempati bersama Meira dan juga satu perempuan lain yang tidak Dira kenali.
Sambil membawa baki berisi makanannya, Dira segera berjalan menyusul kedua stafnya bersama seorang perempuan lain yang juga tengah menyantap makan siangnya. Dira tersenyum dengan begitu ramahnya pada perempuan yang duduk disamping Meira itu.
“ Oh perkenalkan Bu, ini namanya Anggun dari Departemen Legal “ Ucap Meira seraya menunjuk ke arah teman yang duduk disebelahnya itu.
“ Halo, saya Dira dari Departemen Finance dan Accounting “ Sapa Dira dengan ramahnya sembari mengulurkan tangannya pada perempuan bernama Anggun itu.
“ Tumben Ibu makan sendirian? Biasanya keluar makan dengan Pak Edgar atau Pak Axel? “ Seloroh Ellena sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
“ Hehe iya, mereka masih sibuk dengan pekerjaannya “ Tukas Dira berbohong.
Sebenarnya beberapa waktu belakangan ia menghabiskan jam istirahat dan makan siangnya bersama Sandro, tetapi karena ia sedang ada pertemuan dengan Edgar sehingga ia memilih makan siang sendirian. Kebetulan siang itu Axel juga sudah pergi makan siang bersama Shella kekasihnya.
“ Diantara Pak Edgar dan Pak Axel ada yang kekasih Ibu ya? “ Tanya Ellena lagi.
“ Hahaha, tidak ada. Mereka memiliki kekasih sendiri – sendiri “ Jawab Dira diiringi dengan tawa kikuk yang begitu kentara dipaksakan.
“ Oh? Jadi Ibu bukan pacar mereka? Soalnya terlihat begitu akrab “ Sambung Ellena lagi.
“ Kalau Ibu sudah punya pacar? “ Kini suara Meira gantian terdengar, didalam benaknya benar – benar sangat penasaran mengapa dompet orang nomor satu diperusahaannya bisa berada didalam tas atasannya itu.
“ Hahaha, kalau saya rahasia “ Jawaban Dira semakin membuat Meira penasaran.
“ Ah Ibu Dira, masa nggak mau cerita – cerita sih? “ Terlihat Meira masih saja berusaha menggali informasi atasan langsungnya itu.
“ Hahaha, soal nya tidak penting saya sudah punya kekasih atau belum “ Dira kembali tertawa dengan canggung.
“ Kan kami ingin tahu Bu, kalau Pak Sandro bu? Apakah beliau sudah punya kekasih? “ Meira masih saja berusaha memancing – mancing jawaban dari Dira.
“ Hmm Pak Sandro? Nanti ya saya tanyakan pada beliau, hehehe “ Gurau Dira pada akhirnya, kemudian kembali menyelesaikan santap siang nya itu dengan cepat karena merasa tidak nyaman saat dirinya berusaha membaur bersama karyawannya itu.