CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
ZUPPA SOUP



Sudah seminggu sejak kepulangan Dira, Sandro dan rombongan dari kunjungan dinas mereka dilokasi kebun untuk melakukan tanam perdana. Kamis pagi itu Dira terpaksa menelpon Pak Albert untuk izin tidak dapat masuk ke kantor karena ia sedang sakit.


Badan Dira demam diiringi sakit kepala yang tak kunjung reda, sepertinya ia mengalami gejala flu karena ia kehujanan kemarin saat pulang dari kantor. Ia nekat pulang ke rumah tinggal tanpa menggunakan payung karena menganggap remeh jarak rumah tinggal dan kantornya yang sangat dekat.


Seharian Dira mengurung diri dialam kamar, ia hanya memakan sedikit sereal sebagai pengganjal agar ia bisa minum obat. Dira benar – benar kehilangan nafsu makan hari itu, lidahnya terasa pahit dan badannya sangat lemas.


***


Sementara di kantor kegiatan tetap berjalan seperti biasanya, tanpa hadirnya Dira pekerjaan di ruangan Accounting tetap saja dilaksanakan dengan baik. Meski ada sedikit persetujuan yang harus di tunda namun nyatanya tim Dira dapat bekerja meski tanpa komando darinya.


Kring..kring..kring


Terdengar pesawat telepon di meja kerja Elle berdering beberapa kali, segera gadis berwajah polos itu berlari dari meja mesin fotokopi meraih gagang telepon yang sedang meraung – raung dengan nyaring.


“ Halo, dengan Ellena Departemen Accounting. Ada yang bisa dibantu? “ Ucap Ellena saat sekilas melihat layar pada pesawat telepon, disana tampak nomor ekstensi telpon yang memanggilnya berasal dari ruang kerja Sandro.


“ Bisa disambungkan dengan Ibu Oceana? “ Suara lembut Alice terdengar meminta bantuan Ellena agar telepon disampaikan pada Dira.


“ Maaf Ibu Alice, hari ini Ibu Oceana tidak masuk ke kantor karena sedang sakit. “ Jujur Ellena pada Alice melalui sambungan telpon internal mereka.


“ Baik terima kasih informasinya, akan disampaikan pada Bapak Sandro.” Tukas Alice masih dengan nada lembut kemudian memutus sambungan.


Tok.. tok.. tok


Alice mengetuk pintu ruangan Sandro dengan pelan, ia kemudian masuk kedalam ruangan itu setelah pria didalam ruangan mempersilahkan ia masuk. Alice mendekatkan dirinya pada pria tampan yang sedang fokus bekerja didepan mejanya.


“ Mana Dira? “ Tanya Sandro tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar komputer dan berkas yang ada disebelah tangannya.


“ Ibu Oceana sedang tidak masuk Pak hari ini, dia sedang sakit. “ Alice memandang Sandro dengan tatapan menelisik.


“ Oh dia sakit? Sakit apa? Sejak kapan dia sakit? “ Kini pria itu menghentikan pekerjaannya dan melempar pandangan pada Alice dengan wajah yang dipenuhi dengan tanda tanya.


“ Bukankah Bapak yang tinggal bersama Ibu Oceana? “ Alice tersenyum dengan menaikkan sebelah bibir nya, ia juga tampak menyipitkan matanya seolah sedang curiga dengan sikap Sandro yang tiba – tiba saja penasaran dengan sakitnya Dira.


“ Hish! Apa – apaan kau Alice? “ Sandro tahu perempuan berwajah cantik itu sedang menggodanya dengan wajah curiganya itu.


“ Saya tidak melakukan apa – apa Pak. Ingin saya pesankan sesuatu untuk dimasak chef agar Bapak bisa menjenguk Ibu Oceana? “ Alice semakin menggoda Sandro.


“ Hish! Keluar sana dari ruangan ku Lice! “ Sandro salah tingkah dan menutupi kecemasannya itu dengan teriakan yang dilemparkan pada Alice.


“ Baiklah jika Bapak tidak ingin menjenguk Ibu Oceana. “ Alice menguncupkan bibirnya dengan tersenyum kemudian membalikkan badannya hendak melenggang dari ruangan Sandro.


“ Zuppa Soup, Lice pesankan Zuppa Soup untuk nanti sore! “ Teriak Sandro kemudian dari meja kerjanya. Alice tidak bergeming, ia hanya tersenyum singkat tanpa memutar badan dan langsung menarik pintu keluar dari ruang kerja Sandro.


Segera Alice menghubungi chef yang dipekerjakan khusus untuk melayani Sandro, ia memesan makanan sesuai dengan perintah lelaki tampan itu untuk nanti sore. Alice segera kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan – pekerjaan didepannya sesaat setelah chef mengkonfirmasi perintahnya itu.


***


Pukul tujuh belas lebih lima belas menit mobil Sandro yang dikemudikan oleh Pak Allan tampak melenggang menjauhi bangunan kantor. Biasanya Sandro akan keluar dari kantor saat waktu sudah lewat dari setengah enam, tetapi hari itu sungguh berbeda ia pulang lebih awal.


Setibanya di rumah tinggal, Sandro segera masuk kedalm flat* nya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia juga memerintah Pak Jaka agar segera membawakan Zuppa Sou*p yang sudah dipesan oleh Alice siang tadi.


“ Ini Pak makanannya, apakah Bapak juga akan makan sekarang? “ Tanya Pak Jaka saat meletakkan satu mangkuk sup kental dengan pastry ala croissant menutup penuh mulut mangkok.


“ Tidak Pak, ini untuk Dira saya makan nanti. “ Ujar Sandro sambil meletakkan ponselnya diatas meja.


“ Kalau begitu saya antar ke flat Mbak Dira Pak. “ Pak Jaka menarik kembali nampan cokelatnya dari atas meja.


“ Biarkan saja, saya saja yang naik. “ Sandro merebut nampan itu dari Pak Jaka kemudian ia keluar dari kamarnya menuju lantai tiga.


Tok.. tok.. tok


Agak keras Sandro mengetuk pintu flat kamar Dira, beberapa saat pria itu menunggu tetapi belum ada jawaban. Sandro mengetuk lagi pintu didepannya, hingga akhirnya Dira bergerak menarik pintu bercat hitam itu.


Wajah Dira terlihat pucat dengan rambut yang sedikit acak – acak an, bahkan ia masih memakai pakaian tidurnya sejak semalam. Sekerjap ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya karena malu pada pria yang baru saja mengetuk pintu kamarnya itu.


“ Saya pikir Pak Jaka Pak, ada yang bisa saya bantu? “ Tanya Dira dengan suara yang terdengar parau.


“ Apa saya boleh masuk? “ Ujar Sandro seraya menyodorkan nampan kayu berisi makanan diatasnya itu. Dira tersenyum kikuk lalu membuka lebar pintu flatnya agar Sandro segera masuk, namun karena memang pintu tersebut dibuat menggunakan engsel pegas sehingga membuat pintu tertutup otomatis kembali saat Dira melepaskan handlenya.


“ Makanlah Dira, saya dengar kamu sedang sakit. “ Sambung Sandro sambil duduk pada bangku kayu didalam ruang makan yang bergabung dengan dapur itu.


Ini adalah kali pertama Sandro masuk kedalam tempat tinggal Dira, lelaki itu mengedarkan seluruh pandangannya mulai dari meja makan, langit – langit hingga wastafel. Ruangan tersebut sangat rapi dan bersih, bahkan perkakas dapur juga tampak bersih dan tertata.


“ Terima kasih Pak, saya jadi merepotkan Bapak. “ Ucap Dira bersungguh – sungguh.


“ Iya makanlah, habiskan. Apa masih ada badanmu yang terasa tidak enak? “ Lelaki itu menimpali lagi.


“ Sudah membaik Pak, seharian sudah beristirahat sekarang sudah membaik. “ Jawab Dira dengan sungkan.


“ Oke kalau begitu, makanlah. Ada obat? “ Lanjut Sandro lagi.


“ Ada Pak. Terima kasih banyak Pak. “ Dira masih diam belum menyentuh makanannya.


“ Kalau begitu saya turun dulu, habiskan makanannya Dir. “ Sandro beranjak dari kursi disana kemudian menarik pintu dengan keras, lalu ia keluar dari dalam flat gadis cantik itu.