
Sabtu siang dengan menggunakan payung berwarna cokelat Dira keluar dari halaman kantor, sebelah tangannya memegang kantong yang berisi sepatu kerjanya. Sementara sebagai alas kaki, Dira mengenakan sendal karet karena hujan mengguyur begitu derasnya.
Saat berada dipenyeberangan jalan yang berada tepat didepan kedai kopi milik Radit, ia melihat sebuah mobil sedan terparkir ditepi jalan dengan mesin yang masih menyala. Terlihat sebuah payung berwarna merah menyembul dari bagian samping mobil, tetapi Dira tidak tahu siapa yang berada didekat mobil tersebut.
Dira langsung saja menyeberang saat jalanan lengang dan berjalan mendekati mobil yang masih berhenti disana. Melalui kaca mobil bagian samping Dira melihat seorang pria berbadan tegap berada didepan kemudi mobil, sementara pada bagian samping mobil ia mendapati Radit berdiri seraya mencodongkan tubuhnya didekat jendela sambil memegang payung berwarna merah.
“ Mas Radit! “ Teriak Dira kegirangan mendapati kekasihnya berada disana.
“ Hi Dira, sudah pulang? “ Radit menyunggingkan senyuman tampannya ke arah Dira, namun ada gurat - gurat keterpaksaan yang tersirat dalam lengkungan di kedua sudut bibirnya.
“ Iya Mas, aku kira tadi siapa. Kenapa Mas Radit mengobrol disini? “ Tanya Dira seraya memandang Radit, namun laki – laki itu hanya diam dan tidak memberikan jawaban hanya kembali tersenyum tipis dengan wajah canggung.
“ Kalau begitu aku masuk dulu ya Mas “ Lanjut Dira sambil memandang pria didalam mobil yang sedang menatapnya tajam.
“ Iya, sana masuk dahulu “ Perintah Radit kemudian.
Dira segera masuk kedalam bangunan kedai miliki pacarnya, sementara Radit masih berbincang – bincang dengan temannya yang masih berada didalam mobil. Saat sudah didalam bangunan kafe, Dira memesan satu buah cokelat panas pada Edwin karyawan Radit.
Meski itu adalah kedai kopi milik kekasihnya, Dira tidak lantas meminta makanan atau minuman dengan cuma – cuma. Ia justru membayar penuh setiap makanan atau minuman yang ia pesan, Dira tidak ingin Radit merugi karena dirinya yang gemar menyeruput kopi dan minuman lain.
“ Itu siapa yang datang Ed? “ Tanya Dira kemudian setelah Edwin menyajikan cangkir cokelat panasnya dihadapan Dira.
“ Nggak tahu Mbak Dira, sebab setiap kali dia datang nggak pernah turun dari mobil. Mungkin teman Mas Radit Mbak “ Tukas Edwin kemudian melenggang meninggalkan Dira yang duduk dibangku tinggi depan meja barista.
" Memangnya sering datang kemari ya? " Tanya Dira sembari mengaduk dengan pelan cokelat panasnya dengan sendok kayu yang diletakkan diatas cawan bersamaan dengan satu buah cookies.
" Lumayan sih Mbak hampir setiap hari saat waktu makan siang, terkadang hanya untuk mengantar makanan untuk Mas Radit " Tukas Edwin seraya melenggang dari hadapan Dira.
Dira menghirup uap panas minuman yang mengepul dari dalam cangkir, merasakan kehangatan juga aroma manis dan harum yang menguar dari dalam cangkir berwarna hijau tua dihadapannya.
Kebiasaan yang tidak pernah lepas dari dalam diri Dira adalah menghirup dalam kepulan uap yang keluar dari dalam cangkir, apapun minumannya ia selalu melakukan hal yang sama. Dira juga selalu mecelupkan biskuit kedalam minuman yang masih panas lalu menggigitnya pelan hingga habis tak bersisa.
“ Maaf sayang aku membuatmu lama menunggu “ Suara Radit mengagetkan Dira yang masih asik dengan biskuit kayu manis ditangannya.
“ Nggak apa – apa Mas. Kenapa nggak ngobrol didalam saja tadi? “ Tanya Dira kemudian.
“ Dia sedang buru – buru tadi, sebenarnya mau masuk tetapi nggak jadi sayang. Kamu sudah makan? Mau aku masakkan sesuatu? “ Tanya Radit sambil menyentuh puncak kepala Dira dengan lembut.
“ Hmmm belum, berhubung cuaca dingin aku mau capcay kuah? “ Pinta Dira sambil melemparkan senyuman manjanya pada Radit.
“ Sounds great, ayo aku masakkan capcay kuah buat mu sayang “ Radit langsung melenggang masuk kedalam rumahnya.
Sambil menarik cangkir minumannya yang masih panas, Dira berjalan pelan mengikuti langkah kekasihnya itu masuk kedalam rumah. Saat tiba disana Dira sudah melihat Radit yang mulai mengacak – acak kulkasnya, ia mengeluarkan berbagai macam sayuran juga udang dan cumi – cumi.
“ Ada yang bisa ku bantu? “ Tanya Dira sambil meletakkan cangkirnya keatas meja makan tepat berada disamping ponsel Radit.
“ Siap komandan “ Dira mengulaskan senyuman cantiknya sambil menerima baskom yang berisi sayuran lalu membersihkannya sesuai permintaan kekasihnya itu.
Dira memandang lekat Radit yang tampak begitu piawai memainkan segala peralatan dapur, bahkan ia tampak begitu akrab dengan beraneka ragam bumbu dapur. Tiba – tiba saja terlintas Sandro dalam benak Dira, lelaki yang justru bahkan tidak tahu cara memasak mi instan.
“ Kenapa sayang? “ Tanya Radit saat mendapati Dira sedang tersenyum kecil mengingat perilaku Sandro yang justru seperti kanak – kanak itu.
“ Tidak ada Mas, aku hanya sedang mengagumi pacarku yang masakannya jauh lebih enak dari masakkan ku “ Ucap Dira masih dengan senyuman manis yang bertengger dikedua sudut bibirnya.
Setelah selesai mengupas wortel dan memotong – motong brokoli serta membersihkan kacang kapri, Dira kemudian kembali menyeruput cokelat yang sudah menghangat. Sementara Radit masih berkutat dengan bawang bombay dan bumbu lain yang sedang ia siapkan diatas talenan kayu.
Dira sekilas melirik kearah ponsel Radit yang terus bergetar karena banyaknya notifikasi group chat yang masuk. Selama berpacaran dengan Radit keduanya benar – benar saling menjaga privasi satu dengan yang lain, mereka tidak pernah mengintip ponsel pasangannya. Namun sore itu Dira merasa tergelitik dengan grup chat yang tampak begitu ramai dan terlalu banyak pesan yang bertumpuk.
Tanpa permisi Dira meraih ponsel Radit dan tampak membaca percakapan yang muncul pada bendera notifikasi. Percakapan sebuah grup dengan nama yang menurut Dira sangat tidak wajar menurut akal pemikirannya yang mengisyaratkan pada sebuah kelompok tertentu. Sekilas Dira membaca pesan yang masuk bertajuk 'sex party invitation' sekerjap membuat Dira bergidik ngeri.
Saat Dira hendak membaca dengan serius percakapan – percakapan yang cukup menggangunya tersebut, tiba – tiba Radit dengan paksa menarik ponselnya yang berada ditangan Dira. Wajah Dira menjadi sangat pias saat kedapatan memeriksa ponsel kekasihnya, Radit juga terlihat tidak suka dengan tidakan Dira baru saja.
“ Apa yang kamu lakukan? “ Tanya Radit dengan nada suara meninggi.
“ Maaf Mas, aku hanya penasaran dengan grup milik Mas Radit yang sepertinya seru “ Tukas Dira memaksakan memasang wajah tersenyum.
“ Bukan kah aku tidak pernah memeriksa ponsel mu? Kenapa kamu tiba – tiba berbuat seperti ini? Ini namanya tidak menghargai privasi pasangan “ Suara Radit kini terdengar kesal.
“ Maaf Mas “ Dira masih berusaha meredam kekesalan Radit.
“ Aku tidak suka dengan hubungan yang seperti ini, kalau kamu memang mencintaiku tidak seharusnya kamu menyentuh barang – barang yang bukan milikmu “ Radit masih saja meluapkan kekesalannya.
“ Iya Mas aku mengerti “ Dira merasa bersalah karena ia melanggar komitmen mereka untuk saling percaya satu dengan yang lain.
Radit kemudian memasukkan ponselnya itu kedalam saku celananya dan kembali menuju meja dapur untuk menyelesaikan masakannya. Sementara dikursi meja makan, pikiran Dira menjadi tidak karuan. Ia seperti menemukan sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal pikirannya selama ini.
“ Mas? Maaf sepertinya aku tidak jadi makan, aku teringat ada sesuatu yang harus ku kerjakan Mas “ Ucap Dira tiba – tiba dan langsung bangkit dari kursinya.
“ Kenapa Dir? “ Tanya Radit sambil mengangkat wajahnya memandang Dira yang kini tampak pias.
“ Tidak kenapa – kenapa Mas, aku pulang dahulu “ Dengan terburu – buru Dira meraih tas kerja nya beserta kantong sepatunya yang ia letakkan pada kursi disampingnya ia duduk tadi.
“ Kamu melihat sesuatu bukan? “ Radit menarik lengan Dira dengan pelan, membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Wajah Dira semakin pias.
“ Melihat apa Mas? Aku mau mengerjakan sesuatu Mas, Pak Sandro menungguku “ Dira berbohong dan tetap berusaha terlihat natural.
“ Sudahlah kalau kamu mau pulang, nanti aku antar makanannya “ Radit melepaskan lengan Dira kemudian ia kembali menuju meja dapur.