
Dira keluar dari bangunan rumah milik Radit, pada sudut ruangan yang biasa ia tempati untuk mengobrol dan berbicang – bincang sudah terlihat Edgar dan Axel yang duduk menunggu nya. Wajah kedua pria dewasa itu langsung berubah ketika mendapati Dira baru saja keluar dari ruangan private yang mereka tidak tahu tempat apa itu bersamaan dengan Radit pemilik kedai kopi tersebut.
“ Kenapa keluar dari sana? “ Tukas Edgar dengan nada tanya yang sedikit sengit saat Dira berjalan menghampirinya dan berdiri tepat disamping kursinya.
“ Hmm itu tadi ngobrol sebentar didalam guys, ayo kita pesan dulu lah. “ Dira berdehem pelan dan berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Edgar tidak langusung menghujani nya dengan banyak tanya.
“ Kamu pacaran ya sama dia Dir? “ Tiba – tiba saja Axel menebak hubungan Dira sembari menunjuk Radit yang ada didepan meja barista menggunakan gerakan wajahnya singkat.
“ Nah memang ada yang ingin ku sampaikan pada kalian. “ Dira terlihat meremas pelan tangannya yang lentik itu.
“ Mau menyampaikan apa Dir? Kalau kamu beneran pacaran sama dia? “ Edgar langsung menimpali lagi saat melihat Dira yang berbelit – belit tidak seperti biasanya.
“ Sudah berapa lama kalian pacaran? “ Axel langsung mencecar Dira dengan nada yang setengah mencibir.
“ Hmm, iya aku pacaran sama Mas Radit dan sudah berjalan hampir satu bulan guys. “ Dira tertunduk lesu mengungkapkan kejujuran. Dira menyadari kedua sahabatnya itu entah mengapa terlihat tidak begitu suka pada Radit. Padahal lelaki itu sangat baik dan cukup manis menurut Dira.
“ Hmm, sini suruh dia kemari, nggak gentle banget masa suruh kamu yang ngomong sama kita. Dia itu nggak pantas buat mu Dira! “ Axel menimpali perkataan Dira dengan nada yang sedikit kesal.
“ Memang aku melarangnya mendekat karena pasti kamu bakalan begini ini, kenapa juga kamu selalu berperasangka buruk mengenai Mas Radit. Kamu itu belum kenal dia dengan baik Xel “ Tukas Dira dengan nada yang sama kesalnya pada Axel.
“ Kamu itu yang belum kenal dia Dir! “ Axel menendang kaki meja didepannya dengan pelan sambil menatap Dira dengan pandangan marah.
“ Ih apasih, kan aku pacarnya pasti aku bisa lebih kenal dia dong. Aku setiap hari ketemu dia, kita ngobrol bareng, makan bareng, cerita banyak hal, bahkan aku juga dikenalkan sama teman – temannya. Sementara kamu Xel? Hanya tahu dia waktu kita main kesini aja kan? “ Dira panjang lebar berusaha melakukan pembelaan.
Edgar hanya memandang kedua sahabatnya yang sedang beradu argumen itu dengan tatapan dalam. Dari kejauhan Radit hanya memandangi pacarnya yang tampak masih berdebat dengan salah satu sahabatnya itu, Dira sudah mengingatkannya agar tidak mendekati dirinya saat ia menceritakan hubungan mereka berdua.
“ Kan masih awal pacaran, baru yang manis – manis itu yang diperlihatkan ke kamu Dir. Kamu belum tahu aja borok dan jeleknya dia seperti apa. Dia itu nggak serius sama kamu “ Axel masih saja berusaha memojokkan Radit didepan Dira.
“ Xel! Kamu itu kenapa sih? Berasa laki – laki paling baik saja sedunia, kamu pikir kamu itu siapa bisa ngomong begitu soal Mas Radit. Kamu juga belum tentu lebih baik dari dia! “ Dira berteriak dengan sedikit kasar pada Axel.
“ Dir sudah Dir, itu kita dilihatin banyak orang. “ Edgar meraih tangan Dira agar meredam emosinya, Radit memandang Dira dengan gusar dari kejauhan.
“ Mas Edgar juga, pasti belain terus si Axel. Kenapa sih kalian ini, aku mau punya pacar kek, mau jomblo kek, mau pacaran sama siapa juga kenapa kalian harus komentarin? Nggak bisa banget lihat teman nya bahagia? “ Dira terlihat menangis dan mengabaikan orang – orang yang berada didalam kedai menatapnya dengan bingung.
" Bro, anterin Dira balik aja gih " Edgar memanggil Radit yang hanya memandang Dira dari kejauhan.
“ Sayang, ayo aku antar pulang “ Melihat pacarnya sedang menjadi pusat perhatian dan karena permintaan Edgar akhrinya Radit mendekat dan menyentuh bahu Dira pelan, suara Radit baru saja membuat Axel menatap tajam ke arah pria itu, sementara Dira memicingkan matanya bergantian melemparkan pandangan tidak suka pada Axel.
“ Pulang sana! “ Axel terdengar marah dan menendang kaki meja lagi.
Dira semakin menatap Axel dengan sorot mata kesal dan emosi, dia tidak menyangka jika respons Axel akan se-frontal itu. Padahal sebelum nya Axel hanya meledeknya dengan kata – kata candaan dan terdengar tidak menyebalkan.
Tetapi hari itu sikap Axel benar – benar menyebalkan menurut Dira, ia tidak habis pikir dengan Axel yang bisa berprasangka sangat buruk soal Radit yang bahkan ia sendiri tidak mengenal laki – laki itu dengan baik.
Padahal Dira tahu betul sebenarnya Axel adalah pria yang baik, namun hari itu ia berubah menjadi pria yang sangat arrogant menurutnya. Ia bersikap seolah Radit benar – benar tidak memiliki nilai plus dihadapan Axel.
“ Mas Edgar, aku pulang dulu. Pamitin sama teman kita yang menyebalkan itu! “ Pamit Dira sambil menghujamkan tatapan sinis pada Axel.
“ Iya Dira, hati – hati ya Dir. “ Jawab Edgar dengan lembut dan mengulaskan senyuman manisnya pada perempuan itu.
Dira menghilang dari pandangan kedua pria yang masih duduk didalam kedai, Edgar melemparkan pandangannya dengan sorot mata yang tajam pada Axel yang masih terlihat kesal. Edgar kemudian menyodorkan satu gelas air putih dan mendorongnya pelan kedepan Axel.
“ Udah Xel, yang namanya orang sedang kasmaran nggak akan mempan di kasih saran, jadi biarin dulu. Lagi pula kamu kenapa nggak to the point saja sama Dira? Kenapa harus pakai clue - clue begitu? “ Edgar menyilangkan kedua tangannya pada dada bidang nya.
“ Aku bingung Gar mau menyampaikan nya dengan cara yang bagaimana, lagian kamu juga tahu sendiri aku sama Dira nggak pernah yang deep talk gitu kan? Obrolan kita kan hanya bercandaan terus isinya, jadi bagaimana dia percaya sama aku Gar? “ Ujar Axel sambil menatap Edgar seolah sedang membutuhkan pertolongan.
“ Someday aku bantu bicara sama Dira Xel, tapi nggak di waktu dekat ini. Dia pasti baru nggak mau diajak ngomongin soal hubungannya. “ Tukas Edgar kemudian beranjak dari kursi nya menuju konter pemesanan.
Setelah beberapa saat berdiri didepan meja coffee maker dan memperhatikan pekerjaan seorang barista yang ada dihadapannya Edgar tampak menarik nampan yang berisi kopi pesanannya dan menghampiri Axel yang masih duduk pada tempat semula.
“ Besok jalan yuk? “ Tukas Axel sambil menarik minumannya dari atas nampan.
“ Idih homo, jijik tahu, geli mendengar kamu ngomong begitu. Kamu kayak ngajakin aku nge –date “ Sergah Edgar seraya mengernyitkan keningnya sambil memperhatikan kopi Vietnam Drip* didepannya.
“ Ya ampun, maksud ku kemana gitu, keluar, najis juga aku sama kamu Gar! Hahahaha “ Keduanya kemudian tertawa terbahak – bahak dan sejenak melupakan Dira yang sedang marah pada mereka.