
Dira mengikuti saja langkah kaki Sandro yang berjalan dengan santai menuju mobilnya, sesampainya ditempat parkir pria tampan itu segera masuk kedalam mobil dan menstarter kuda besinya itu. Ia menginjak pedal gas dengan pelan dan membirakan kendaraannya melaju perlahan meninggalkan tempat yang baru saja ia kunjungi bersama perempuan yang menurutnya sangat spesial.
Mobil Sandro tiba – tiba saja berhenti didepan rumah mewah bercat putih yang pernah ia kunjungi waktu lalu saat bersama Edgar dan Axel seusai menonton bioskop. Wajah Dira sesaat pias dan terlihat begitu pucat, ia menyadari jika selama ini ia sudah berprasangka dan menebak – nebak hubungan Sandro dengan Alice.
“ Jadi Ibu Alice itu sepupu Bapak? “ Tanya Dira sebelum mereka berdua turun dari mobil.
“ Iya, kenapa Dir? “ Jawab Sandro singkat setelah mendengar perkataan Dira.
“ Saya kira pacar Bapak. “ Ujar Dira dengan sangat polosnya, membuat lelaki itu terbahak.
“ Dari mana kamu menyimpulkan dia pacar saya? “ Sandro kemudian turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah.
Dira mengikuti langkah kaki Sandro dengan ragu – ragu, ternyata selama ini ia hanya memikirkan hal yang salah. Padahal berkali – kali Edgar sudah memperingatkannya untuk tidak memikirkan dan mengatakan hal – hal yang belum pasti soal hubungan Sandro.
“ Saat Bapak dan Mama Pak Sandro mengobrol waktu itu. “ Ucap Dira berbohong, padahal pikiran itu sudah muncul sejak pertama kali Sandro membawa Alice ke rumah tinggal.
“ Ck, kamu ini Dir. Ayo masuk. “ Sandro berdecak singkat dan langsung masuk kedalam rumah besar itu.
“ Alice kemana Bi? “ Tanya Sandro pada wanita paruh baya yang waktu itu menyajikan teh yang lezat untuk Dira dan dua rekannya yang lain.
“ Ada dihalaman belakang Tuan, sedang bermain dengan Katty. “ Jawab wanita itu sambil merapikan meja makan yang baru saja dilewati oleh Dira dan Sandro.
Pria itu semakin masuk kedalam rumah dan membuka pintu kaca disana, terlihat hamparan taman yang luas dengan dua buah kursi kayu besar yang diberi atap peneduh ditengah taman. Alice terlihat bermain bersama seekor kucing ras berjenis Brithis Shorthair berwarna abu – abu.
Wanita cantik itu kemudian menggendong kucing kesayangannya kedalam pelukannya dan melambaikan tangannya pada Sandro. Lelaki itu kemudian mendekat lalu duduk pada bangku kosong yang ada diseberang bangku Alice, Dira mengikuti pria itu mengambil tempat disisi Sandro.
“ Dari mana? “ Ujar Alice dengan pertanyaan tidak formal.
“ Dari Mall, habis cari buku yang kemarin kamu bilang. “ Jawab Sandro singkat sambil menyandarkan punggungnya pada bahu kursi.
“ Berdua saja? “ Sambung Alice lagi, dan Sandro menganggukkan kepalanya singkat.
Ditengah keheningan mereka bertiga, tiba – tiba saja kucing berukuran cukup besar itu terlepas dari pangkuan Alice dan melompat dengan sangat anggun tepat di dekat kaki Dira. Saking kaget dan takutnya Dira berteriak cukup keras dan langsung menaikkan kakinya di atas bangku.
“ Ah kucing! “ Teriak Dira dengan sangat nyaring membuat Sandro tersentak dan memandangnya dengan sangat kaget dan panik.
“ Kenapa Dir? “ Tanya Sandro dengan sangat khawatir.
“ Pak, kucing nya Pak. Saya takut sama kucing pak “ Dira masih menarik kakinya diatas bangku, wajahnya yang semula biasa saja terlihat pucat pasi, ia benar - benar ketakutan.
“ Astaga, sini Kitty ayo masuk ke dalam kandang saja “ Ucap Alice ikut panik melihat wajah Dira yang pias.
“ Kamu takut banget ya Dir? “ Tanya Sandro kemudian dan Dira hanya mengangguk pelan sambil menurukan kembali kakinya.
Alice kemudian mendatangi mereka berdua lagi sembari membawa satu gelas air minum dan mengulurkannya pelan kepada Dira. Wanita itu sedikit gemetar meraih gelas kaca dari tangan Alice dan meneguknya perlahan.
“ Terima kasih Bu “ Ucap Dira kemudian.
“ Kamu kok takut sekali kenapa Dir? “ Tanya Sandro setelah melihat ketakutan luntur dari dalam diri Dira.
“ Takut dicakar Pak, soalnya dulu pernah dicakar kucing sampai berdarah, diwajah dan leher. Untung saja tidak berbekas. Makanya saya tadi tidak memilih duduk disamping Ibu Alice karena beliau pegang kucing “ Ungkap Dira.
“ Pantas saja wajah Ibu Oceana tadi terlihat pucat waktu Kitty lari di dekat kaki Ibu “ Sambung Alice sesaat kemudian.
“ Oh iya Lice kamu tahu nggak, Dira itu mengira kita pacaran loh “ Tukas Sandro kemudian saat keadaan membaik sambil melirik wanita yang ada disampingnya itu.
“ Hahaha? Kenapa bisa begitu Bu? “ Alice terbahak dengan sangat keras setelah mendengar ucapan Sandro baru saja.
“ Jadi tatapan – tatapan sungkan selama ini karena Bu Oceana mengira saya pacar Kak Sandro? “ Lagi – lagi Alice melontarkan pertanyaannya pada Dira.
“ Hehe, soal nya Ibu dan Pak Sandro terlihat begitu dekat dan akrab sekali. Bahkan kadang – kadang pembicaraan Ibu dan Bapak menggunakan bahasa yang tidak formal “ Jujur Dira sambil tersenyum malu karena prasangkanya yang ternyata salah.
“ Hahaha, Ibu saya itu adiknya Ayah Kak Sandro. Orang tua saya meninggal sejak saya kecil lalu saya diasuh oleh Mama dan kami dibesarkan bersama “ Tukas Alice tanpa menanggalkan senyuman dari wajahnya.
Dira semakin memasang wajah sungkan, selama ini ia sudah salah paham dengan hubungan kedua orang didekatnya itu. Sandro kemudian tersenyum sekilas dan memandang Dira yang terlihat menggigit bibir bawahnya karena kegugupannya.
“ Kalau Ibu Oceana sudah punya pacar? “ Ucap Alice tiba – tiba mencoba mengorek informasi pribadi Dira. Sesaat Dira terlihat diam sedang mencoba mencari jawaban yang tepat.
“ Hmm, kebetulan sudah ada Bu “ Akhirnya Dira memberikan jawaban jujur pada pertanyaan Alice baru saja.
“ Oh? “ Wajah Alice terlihat kaget, lalu ia melemparkan pandangannya pada Sandro yang kini terlihat pias.
“ Siapa? Pak Edgar? Atau Pak Axel? “ Alice kembali menghujani Dira dengan pertanyaan yang sangat pribadi menurutnya.
“ Hahaha, bukan Bu. Kami bertiga hanya bersahabat dekat “ Dira tertawa kaku dan tidak membenarkan perkataan Alice baru saja.
Sandro yang semula ceria kini terlihat begitu murung dan tampak tidak berminat dengan obrolan mereka sore itu dihalaman belakang rumah yang ditinggali oleh Alice. Ia yang semula aktif mengajak Dira berbicara tiba – tiba saja terlihat enggan memulai pembicaraan dengan Dira. Pria itu bisa tiba – tiba berubah kembali menjadi kaku dan acuh pada Dira.
“ Ya sudah, ayo Dira saya antar pulang. Nanti kamu dicari sama pacarmu “ Ajakan Sandro baru saja terdengar seperti sebuah sindiran bagi Dira.
Namun gadis itu mengabaikannya, memang keinginannya sejak tadi adalah segera pulang dan melepaskan diri dari obrolan – obrolan yang terkesan dipaksakan dan justru lebih mirip obrolan untuk menginterview dirinya dengan pertanyaan – pertanyaan pribadi.