CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
SHOW UP!



    Sandro kini terlihat duduk didalam mobilnya yang siap dikemudikan oleh Pak Allan, ia duduk pada kursi bagian penumpang seraya membaca beberapa surel melalui ipadnya. Ia sedang menunggu Dira untuk berangkat bersama menuju kantor.


    Tet.. tet..tet


    Pak Allan membunyikan klakson mobil yang akan ia kendalikan saat Dira melintas hendak keluar dari bangunan rumah tinggal. Sontak perempuan cantik itu terlihat kaget mendengar suara klakson kendaraan yang cukup nyaring hingga membuatnya tersentak.


    “ Pak itu ada Mbak Dira “ Ucap Pak Allan pada Sandro yang kini melongokkan kepalanya kearah jendela.


    “ Ayo berangkat bersama! “ Panggil Sandro pada Dira saat Pak Allan membuka jendela disamping Sandro.


    Sambil mengusap bagian belakang lehernya dengan kikuk Dira segera berjalan menuju mobil atasan sekaligus kekasihnya itu. Dira mengambil kursi tepat disamping Sandro, karena saat ia hendak berjalan memutar lelaki itu sudah mendorong pelan pintu disampingnya.


    “ Selamat pagi Pak Sandro, selamat pagi Pak Allan “ Sapa Dira dengan ragu – ragu.


    “ Pak? Hah, baiklah hari ini aku bapak mu “  Sandro dengan sebal melempar pandangannya kearah Dira yang justru merekahkan senyumnya saat mendengarkan penolakan dari Sandro.


    “ Kita berangkat sekarang ya Pak Sandro “ Ucap Pak Allan dari depan kemudi, lelaki disamping Dira itu mengiyakan dengan memberikan anggukan pelan.


    “ Sudah sarapan? “ Sandro mengusap puncak kepala Dira, namun perempuan itu menepisnya pelan.


    “ Kenapa? “ Tanya Sandro dengan nada suara yang tinggi, Dira tanpa suara mendongakkan dagunya menunjuk kearah Pak Allan.


    “ Ck! Coba kamu tanya Pak Allan, sudah jelas semua orang di rumah tinggal tahu kalau kita berpacaran “ Sandro berdecak dengan sebal.


    Dari depan roda kemudi, Pak Allan hanya tersenyum tipis mendengar percakapan kedua muda mudi yang sedang dimabuk asmara itu. Sementara Dira hanya tertunduk dengan lesu menyadari kenyataan bahwa memang seluruh karyawan dirumah tinggal sudah mengetahui hubungannya dengan Sandro.


    ***


    Pak Allan menghentikan mobil yang dikemudikannya tepat didepan lobby kantor, dengan cepat Dira segera turun dari mobil sebelum Sandro melakukan hal – hal aneh terhadapnya. Seperti membuka kan pintu bagi Dira misalnya, yang tentunya akan menimbulkan kegaduhan jika ada orang lain yang melihat.


    “ Terima kasih Pak Allan “ Ucap Dira pada saat Pak Allan sedang membuka pintu untuk Sandro.


    “ Pak saya duluan ya? “ Pamit Dira pada kekasihnya, dan laki – laki itu hanya tersenyum simpul mengiyakan perkataan wanita pujaan hatinya.


    Dari kejauhan ia menatap tubuh mungil kekasihnya yang berjalan tergesa – gesa menuju mesin absensi, sekilas Sandro tersenyum melihat Dira yang begitu lincah. Kelegaan juga jelas terpancar dari raut wajah Sandro, karena Dira bisa dengan begitu tangguhnya menghadapi puluhan pasang mata yang menatapnya dengan bermacam – macam makna.


    “ Selamat pagi “ Sapa Sandro pada beberapa karyawan yang masih berdiri mematung pada mesin absensi didekat lift.


    “ Selamat pagi Pak “ Jawab beberapa orang secara bersamaan dengan pandangan mata yang cukup terkejut sebab Sandro sangat jarang dan hampir tidak pernah menyapa karyawannya terlebih dahulu seperti itu. Bahkan hari itu Alice tidak terlihat mendampingi orang nomor satu itu berangkat ke kantor.


    Lelaki tampan tersebut segera masuk kedalam lift  kemudian berjalan menuju ruang kerjanya dengan wajah yang berseri – seri.


    “ Ada apa dengan mu? “ Tukas Alice dengan penuh telisik saat mendapati kakaknya masuk kedalam ruangan kaca dengan senyuman yang tidak henti – henti nya terpancar dari wajah tampannya.


    “ Hmm? Memang nya kenapa? “ Masih dengan senyuman yang bergelayut pada bibir tipisnya Sandro melempar pertanyaan pada Alice.


    “ Sudah berbaikan dengan Dira? Seperti nya hari ini sudah membaik, kemarin seharian suasana hatimu sangat buruk “ Telisik Alice lagi.


    “ Ck! Bukan kah kamu yang selalu tergila – gila padanya? Dasar budak cinta! “ Sergah Alice dengan kesal seraya mengikuti Sandro masuk kedalam ruang kerja laki – laki itu untuk membacakan agenda harian sang CEO.


    “ Hmm, sudah jangan bahas ini lagi. Apa agenda ku hari ini? “ Sandro tampak mengalihkan pembicaraan karena malu pada Alice yang ternyata menyadari perasaan eksekutif muda itu yang benar – benar jatuh cinta pada Dira.


    ***


    Kring.. kring.. kring


    Ponsel Dira yang berada diatas meja tampak berdering ketika dirinya sedang beristirahat makan siang bersama Shella, Ellena, Edgar dan Axel di kantin dekat kantor. Sandro tampak menghubunginya, lelaki itu sepertinya sudah kembali ke kantor setelah sejak pagi tadi menghadiri pertemuan dengan pejabat dinas perkebunan.


    “  Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu? “ Ucap Dira setelah mengangkat telepon yang meraung – raung tidak sabar untuk diangkat itu.


    “ Dimana sayang? “ Tanya Sandro singkat.


    “ Sedang makan siang dikantin samping kantor “ Sambung Dira lagi.


    “ Oke “ Setelah menjawab dengan singkat perkataan Dira, lelaki itu menutup teleponnya tanpa mengucapkan apa – apa lagi, sekilas wajah Dira terlihat cukup bingung dengan kelakukan Sandro.


    “  Kenapa Dir? “ Tanya Edgar seraya memandang wajah Dira yang sedang terbengong.


    “ Oh, nggak kenapa – kenapa mas “ Jawab Dira sembari menarik mangkok supnya mendekat kearahnya.


    Kelima orang karyawan tersebut tampak menikmati makan siang mereka diselingin dengan candaan kecil yang menyemarakkan waktu istirahat mereka. Meski beberapa orang masih memandang Dira dengan tatapan mata yang berbeda, kini gadis itu bisa mengabaikannya. Berkat teman – teman nya yang selalu mendukung Dira dengan sangat tulus.


    “ Hmm, apa saya boleh gabung? “ Suara Sandro tiba – tiba mengagetkan kelima karyawan yang masih sibuk dengan makan siang mereka. Dira bahkan sampai tersedak – sedak saat melihat Sandro sudah berdiri didekat meja mereka.


    Dengan sigap Edgar mengulurkan air minum yang berada tidak jauh dari perempuan itu, dengan cepat Dira meneguknya. Sandro masih berdiri terpaku seraya memasukkan salah satu sisi tangannya kedalam saku celananya, ia menatap lekat kearah wajah kekasihnya yang kini merah padam.


    Beberapa karyawan dimeja lain tampak saling berpandangan sama terkejutnya dengan Dira karena kehadiran Sandro yang tidak terduga. Setelah meneguk setengah bagian minumannya, Dira menyeka bibirnya dengan sapu tangan yang baru saja diulurkan oleh kekasihnya itu.


    “ Makanlah pelan – pelan “ Sandro mengusap puncak kepala Dira, membuat Edgar dan Axel saling tersenyum menahan tawa melihat perlakuan bos nya yang begitu lembut.


    “ Apakah saya boleh bergabung? “ Tanya Sandro lagi, keempat teman Dira disana saling melemparkan pandangan meminta jawaban satu dengan yang lain.


    “ Hmm, kita makan berdua dimeja sebelah saja  “ Dira langsung bangkit berdiri, seolah ia menyadari ketidak nyamanan Shella dan Ellena yang belum terbiasa dengan kehadiran Sandro.


    “ Baiklah “ Sandro mengiyakan perkataan Dira kemudian menarik mangkuk sup Dira dari atas meja dan memindahkannya pada meja yang berada tidak jauh dari tempat duduk Dira saat ini.


    “ Sayang mau kupesankan sesuatu? “ Bisik Dira setelah ia dan Sandro duduk bersebelahan pada kursi yang sudah mereka pilih.


    “ Tidak, aku sudah makan. Aku sengaja  kemari karena aku sangat ingin menemani mu makan sekaligus memamerkan pada mereka, bahwa aku milikmu “ Sambil menyangga dagunya Sandro memandang Dira dalam tanpa menanggalkan senyuman yang membuatnya semakin terlihat tampan.


    “ Shhh! Kamu ini “ Dira mendesis pelan kemudian ikut tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang terlihat begitu menggemaskan.