
Sepulang kerja Dira memanggil ojek online menggunakan aplikasi yang sudah ada didalam ponselnya. Beberapa kali ia mengecek keberadaan kendaraan yang akan menjemputnya melalui map dalam aplikasi tersebut. Setelah ia menunggu beberapa saat, Dira melihat seorang supir ojek online mendekat kearahnya ia melambaikan tangannya singkat untuk menghentikan kendaraan tersebut.
“ Dengan Mbak Dira ya? “ Tanya tukang ojek tersebut pada Dira.
“ Iya Bang, tolong antar ke supermarket ya Bang “ Pinta Dira sambil menerima helm dari tangan tukang ojek.
“ Oke Mbak, silahkan naik “ Sambung Pria itu.
Dira bergegas naik keatas motor setelah ia memasang helmnya dengan benar, bersamaan dengan itu mobil Sandro terlihat keluar dari halaman kantor. Dari dalam mobilnya Sandro terlihat gusar melihat kekasihnya berboncengan dengan seorang tukang ojek dan saat dipersimpangan jalan kendaraan yang dibonceng oleh Dira berjalan lurus, tidak memutar seperti yang dilakukan oleh Sandro.
Sandro segera meraih ponselnya dari dalam saku jasnya mencoba menghubungi Dira yang pergi tanpa berpamitan padanya. Namun sayangnya, setelah beberapa kali panggilannya Dira tidak kunjung mengangkat
teleponnya dan membuat laki – laki itu semakin penasaran kemana Dira pergi sebenarnya.
***
Selama sepuluh menit berkendara dengan ojek online, Dira sudah tiba di supermarket yang waktu itu pernah ia kunjungi bersama Radit. Wanita cantik itu segera masuk kedalam bangunan supermarket dan meraih satu buah troli besi.
Saat Dira mulai asyik memilih – milih barang belanjaannya, HP nya yang berada didalam tas kembali terasa bergetar. Wanita cantik itu kemudian berusaha mencari ponsel tersebut dari dalam tasnya setelah beberapa saat dan segera meraih ponselnya yang masih saja terus begetar.
“ Oh sayang, ada apa? “ Jawab Dira to the point saat melihat nama Sandro tampil pada layar ponselnya itu.
“ Kamu kemana? Aku melihatmu berboncengan dengan seseorang tadi “ Terdengar nada cemburu dari pertanyaan Sandro baru saja.
“ Aku ke supermarket sayang, itu tadi abang – abang ojek online “ Ucap Dira berterus terang, ia menyadari ada nada tidak suka yang tersirat dari perkataan Sandro baru saja.
“ Supermarket mana? Supermarket yang kita pernah bertemu saat kamu pergi dengan laki – laki itu? “ Lagi pria itu bertanya dengan nada juteknya.
“ Hahaha, iya sayang. Kamu kenapa sayang? “ Dira tertawa terbahak – bahak menyadari kekasihnya yang kini sedang dikuasai dengan api – api cemburu.
“ Tunggu aku, aku kesana “ Tanpa mendengar keputusan dari Dira, lelaki tersebut langsung saja menutup panggilan teleponnya.
“ Dasar, pencemburu “ Bisik Dira sambil tersenyum dengan senang karena menyadari sikap Sandro yang sangat menggemaskan itu.
Setelah kurang lebih lima belas menit Sandro melajukan mobilnya menyeruak jalanan yang untungnya sudah mulai lenggang itu, ia sudah tiba di supermarket tempat Dira berada. Setelah kembali menelpon kekasihnya, Sandro segera masuk kedalam bangunan supermarket dan langsung menuju ke lorong display buah dan sayur.
Sandro langsung mengenali Dira yang kini tengah sibuk memilih – milih sayuran segar disana. Pria itu kemudian menyerobot troli belanjaan Dira dengan sedikit kasar dan memandang wanita cantik yang tengah terkaget itu dengan tatapan kesal.
“ Untuk apa mau menjadi pacarku jika untuk hal – hal seperti ini masih kamu lakukan sendiri “ Kata Sandro dengan kesal.
“ Ih kok begitu saja marah? “ Dira menyenggol tubuh Sandro dengan sikunya.
“ Kalau kamu terlalu mandiri begini, aku merasa tidak berguna “ Keluh Sandro lagi seraya mengerucutkan bibirnya, membuat lelaki itu terlihat sangat menggemaskan.
Senyuman wanita itu selalu saja menjadi pereda amarah yang begitu ampuh bagi Sandro, disaat dirinya tengah emosi maupun sedang kesal tetap saja senyuman itu mampu memenangkan kembali hatinya. Kekesalan seolah langsung lenyap seketika saat Dira menyunggingkan senyum manisnya itu.
“ Hmm, awas saja jika berbohong “ Sandro mengusap kepala kekasihnya itu dengan sangat lembut.
Lelaki itu kemudian mendorong troli belanjaan Dira mengikuti setiap langkah kaki wanita cantik itu yang sesekali tergoda dan berhenti menilik bumbu – bumbu dapur, aneka makanan kering atau kadang ia dibuat terpukau dengan alat – alat masak yang terlihat bagus.
“ Yakin nggak mau beli penggorengannya yang tadi? Lucu loh warnanya pink? “ Suara Sandro terdengar meminta jawaban dari Dira yang sejak tadi memandang kagum pada frypan berwarna merah muda.
“ Nggak, dari pada nggak terpakai nanti “ Dira kini terdengar kekeh dengan pendiriannya.
“ Ya sudah, jadi langsung ke kasir ya? “ Dengan sabar Sandro mengikuti kemauan wanita cantik itu.
Setibanya didepan meja kasir lelaki tersebut segera membantu Dira mengeluarkan seluruh barang belanjaannya dari dalam troley. Dengan cermat laki – laki itu memperhatikan petugas kasir yang sedang sibuk menghitung total barang belanjaan kekasihnya.
Dira kemudian mengeluarkan dompet dari dalam tas kerjanya, namun segera Sandro menampiknya. Laki – laki itu sudah terlebih dahulu mengeluarkan dompet dari dalam saku jasnya bagian dalam, dan sudah bersiap – siap membayar.
“ Aku saja yang membayar “ Tukas Sandro sambil mendorong pelan tangan Dira yang tengah mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
“ Kenapa? Kan ini belanjaanku sayang “ Wajah Dira tampak kesal.
“ Biar aku tidak sungkan saat ikut makan ditempatmu “ Sandro beralasan.
“ Hish! Kamu tidak pernah makan ditempatku, sini aku yang bayar “ Dira masih dengan pendiriannya, ia tidak mau terlalu bergantung pada Sandro terlebih untuk urusan dapurnya.
“ Sudah, dengarkan aku. Lagi pula kalau kita menikah nanti aku juga yang akan memberi mu uang belanja. Jadi ini hitung – hitung aku berlatih untuk menjadi suami mu “ Jawaban Sandro baru saja membuat petugas kasir tertawa simpul, melihat pasangan kekasih didepannya yang sedang disibukkan dengan urusan membayar belanjaan.
“ Ck! Sudah dengarkan aku “ Sandro berdecak kesal karena mendapati wajah Dira yang tampak masih kurang setuju dengan keinginanya.
“ Ini Mbak “ Ucap Sandro lagi seraya mengulurkan satu buah kartu debitnya.
Meski dengan terpaksa akhirnya Dira menerima keinginan Sandro dan membiarkan laki – laki itu membayar barang belanjaannya. Setelah selesai dengan proses pembayaran, Sandro memasukkan kembali kartunya kedalam dompet. Lelaki itu tampak tergesa – gesa meraih belanjaan Dira oleh karena antrean yang mulai mengular, pria itu dengan asal memasukkan dompetnya kedalam tas belanjaan Dira, dan langsung menentengnya masuk kedalam mobilnya.
“ Terima kasih banyak sayang, aku menjadi banyak merepotkan mu hari ini “ Ujar Dira saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.
“ Kamu tidak merepotkanku sayang, ini namanya kamu sedang mengandalkanku “ Sandro terlihat gemas memandang wajah polos Dira, sehingga ia tiba – tiba saja mencubit pipi kekasihnya itu membuat Dira mengaduh kesakitan.
“ Sakit tahu! “ Dira menepuk punggung tangan Sandro yang sedang mencubit sebelah pipinya itu.
“ Habis kamu menggemaskan sekali, hehe “ Sandro terkekeh ringan, kemudian ia segera menyalakan mobilnya dan membawa Dira kembali ke rumah tinggal.