CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
CHOIPAN



    Semakin jauh berkendara mobil yang mereka tumpangi ternyata memasuki area pusat kota, kedai kopi yang ramai akan pengunjung mulai terlihat menyemarakkan suasana malam itu. Para penjaja makanan dipinggir jalan juga tampak penuh sesak dipadati pembeli. Gerobak – gerobak penjualan makanan khas malam hari berjajar disepanjang jalan tersebut.


    “ Itu jualan apa sih Pak? Kok bisa ramai banget? “ Tanya Dira pada Sandro saat melihat setiap penjual makanan diserbu pembeli.


    “ Choipan Dir, sudah pernah? Katanya yang paling enak yang ujung sana. “ Ujar Sandro sambil menunjuk jalanan didepannya.


    “ Belum pernah Pak. “ Dira menjawab seraya menggelengkan kepala nya pelan, laki – laki disampingnya itu hanya diam tidak memberikan jawaban.


    Tiba – tiba saja Sandro memarkirkan mobilnya didekat penjaja makanan kaki lima dengan gerobak warna putih yang cukup ramai dipadati pembeli. Beberapa orang juga terlihat makan disana, pada bangku – bangku plastik tanpa meja yang disediakan.


    “ Tunggu di mobil saja Dir, saya belikan. “  Sandro melepaskan sabuk pengamannya kemudian keluar dari dalam mobil dan menyeruak keramaian pembeli disana.


    Dira hanya terbengong mendengar ucapan Sandro, ia melihat punggung Pria itu menjauhi mobil dan memesan makanan pada si penjual. Lelaki itu dengan penasaran memperhatikan deretan botol saus yang ada pada rak gerobak penjual. Tidak lama menunggu Sandro sudah mendapatkan pesanannya, ia kembali kedalam mobil sambil menenteng kantong kresek berwarna hitam.


    “ Kita makan di rumah saja ya Dir, disana berisik. Tidak ada meja juga. “ Kata Sandro saat sudah berada didalam mobil sambil meletakkan bungkusan itu diatas box cup holder yang membatasi tempat duduknya dengan Dira.


    “ Oh iya Pak. “ jawab Dira malu – malu.


    Sandro kembali menyalakan mobil nya, membawa perempuan cantik itu kembali ke rumah yang mereka tinggali bersama. Setiba didepan rumah, seorang security berlari membukakan pagar dan memandu Sandro memarkirkan mobilnya. Kedua orang itu turun dari mobil bersamaan, Sandro menenteng seluruh barang belanjaannya di kedua tangannya.


    “ Dir, bawa Choipannya. Langsung tuang ke piring saja. “ Perintah Sandro lalu melenggang masuk kedalam


rumah, ia terlihat naik ke lantai dua. Sementara Dira menuju dapur di lantai satu menjalankan instruksi atasannya itu.


    Dira memindahkan makanan dari kotak makan kertas yang pada bagian bawahnya dilapisi daun pisang itu kedalam sebuah piring keramik berwarna putih. Ia juga menuangkan saus berwarna merah terang pada sebuah mangkuk kecil dan meletakkan piring kecil beserta sumpit diatas meja makan. Tidak lama Sandro menyusulnya sambil menenteng sebuah tas belanjaan dan meletakkannya di meja makan. Pria tampan itu kemudian membasuh tangannya pada pancuran air didalam wastafel di dapur, lalu mengeringkan dengan tissue yang menggantung tidak jauh dari wastafel.


    “  Ayo makan Dir. “ Ajak laki – laki itu sambil menarik kursi di ruang makan.


    “ Hahaha, makan terus dari tadi Pak. “ Canda Dira sambil tertawa.


    “ Kamu kan belum pernah makan ini. “ Jawab Sandro seraya mencucukan choipan nya kedalam sambal cair diatas meja itu.


    Dira pun mengikuti apa yang Sandro lakukan, ia mengambil satu buah choipan kukus dari dalam piring lalu mencucukkannya pada sambal. Dira menggigit perlahan makanan dengan tekstur lembek itu dan mengunyahnya pelan.


    “ Ini isinya ternyata bengkuang ya pak? Ada rasa ebinya juga. “ Seloroh Dira saat ia sudah menelan separuh bagian makanannya.


    “ Iya, macam – macam Dir isinya. Ada kucai, ada talas juga, tapi takutnya kamu nggak bisa makan jadi beli yang bengkuang sama rebung saja. “ Sambung laki – laki itu lagi.


    Sandro tetap makan dengan lahapnya meski ia tampak kepedasan karena sambal choipan yang ia makan. Melihat Sandro terus menghusap hidungnya dengan tisu dan menepis dahinya dari keringat Dira langsung menuju kabinet didapur. Ia menyambar gelas kaca bening dan mengisinya penuh dengan air dari dispenser dan meletakkannya diatas meja didekat piring Sandro.


    “ Terima kasih Dir. “ Ucap Sandro pada Dira sambil meraih gelas yang ada diatas meja. Sandro segera meneguk habis air minumnya, lalu ia mengambil kembali makanan didepannya.


    “ Enak nggak Dir? “ tanya Sandro kemudian.


    “ Oh iya ini, pakai saja. Saya beli dua takut essential oil saya nggak habis. “ Sandro kemudian mendorong tas belanja yang ia bawa tadi ke arah Dira.


    “ Aduh saya jadi tidak enak Pak. “ jawab Dira sungkan.


    “ Tidak apa – apa Dir pakai saja. “ Tukas Sandro singkat.


    “ Terima kasih banyak Pak, hari ini saya menerima banyak hal dari Bapak. “ Sambung Dira lagi.


    “ Kamu ini Dir, sudah habiskan choipannya. Saya naik dulu. “ Sandro kemudian naik ke lantai dua meninggalkan Dira yang masih duduk diruang makan.


    Dira memandang tajam makanan yang masih tersisa itu, ia mulai menyadari kebaikan hati Sandro. Pria itu sangat berkharisma, dia terlihat cukup dingin dan kurang ramah saat berada di kantor tetapi nyatanya ia bisa sebaik itu pada Dira. Bahkan Sandro rela mengantri beberapa saat untuk membeli choipan yang belum pernah Dira rasakan.


    “ Ah mungkin memang Pak Sandro juga kepingin choipan kali Dir! Mikir apa kamu ini! “ Dira bermonolog pada dirinya sendiri. Dira kemudian bangkit dari duduknya, lalu mencuci piring bekas makannya serta milik Sandro yang ia tinggalkan diatas meja.


    “ Mbak Dira, biar saya cuci. “ Terdengar suara Pak Jaka, lelaki yang bertugas sebagai office boy di shift malam hari itu saat keluar dari ruang istirahat.


    “ Eh Pak Jaka, ngagetin saja. Tidak apa – apa Pak segini doang, itu masih ada choipan Pak. Makan saja


sama Pak Eko biar nggak ngantuk pas jaga malam. “ Sambung Dira sambil meneruskan aktivitasnya.


    “ Terima kasih ya Mbak Dira. “ Ucap Pria itu kemudian.


    “ Iya Pak, orang itu tadi Pak Sandro yang beli Pak. “ Jawab Dira kemudian. Sementara lelaki itu menanggukkan kepala sambil tersenyum.


    “ Pak, terus Pak Sandro kalau makan biasanya bagaimana Pak? “ tanya Dira pada Pak Jaka yang masih berada disana.


    “ Oh, Bapak ada tukang masaknya sendiri Mbak. Kalau pagi yang biasanya masak itu datang, langsung Bu Lisa antarkan ke flat Bapak, kalau siang dikirim ke kantor Mbak. Kalau malam biasanya juga datang, tapi sepertinya Bapak sudah berpesan mau keluar sama Mbak Dira makanya si koki tidak masuk Mbak. “ Jelas Pak Jaka panjang lebar.


    “ Koki Pak? “ Tanya Dira dengan polos.


    “ Iya kan tukang masak Mbak, tetapi dahulu memang dia bekerja jadi koki sih Mbak di hotel punya Bapak juga. Terus karena Bapak disini, makanya dia khusus dibawa sebagai tukang masaknya Bapak. “ Sambung Pak Jaka lagi. Dira hanya mengangguk – anggukkan kepalanya mendengar ucapan Pak Jaka baru saja.


     “ Terus kokinya tinggal dimana Pak? “ Dira tidak putus bertanya.


    “ Itu Mbak di mess laki – laki. “ Pak Jaka menjawab Dira singkat.


    “ Apa Pak Sandro akan baik – baik saja ya Pak? Biasanya makan sesuatu yang dibuat khusus oleh Koki, terus ini tadi beli choipan dipinggir jalan Pak. “ Kata Dira sedikit khawatir.


    “ Semoga saja tidak Mbak. “ Jawab Pak Jaka diiringi senyuman keduanya.


    Dira kemudian meraih tas belanjaan dari atas meja, kemudian ia menghilang diujung koridor tangga. Ia kembali kekamarnya.