
Setelah menempuh perjalanan panjang nan melelahkan akhirnya rombongan Sandro sudah tiba ditempat tujuan mereka. Manager yang memegang kendali tertinggi di dalam kebun terlihat menyambut kedatangan Sandro didepan kantor mereka.
Sandro tampak berkeliling sekilas melihat kondisi kantor tempat karyawannya melakukan pekerjaan sehari – harinya. Tidak begitu lama karena waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit sore hari dan hari hampir gelap, karena mereka benar – benar berada ditengah hutan yang kini dibuka sebagai lahan perkebunan.
Manager tersebut membimbing Sandro dan rombongan menuju kesebuah barak tinggal yang terbuat dari beton berderet dengan enam pintu. Masing – masing rumah terdapat dua kamar dengan satu kamar mandi dan dapur, bangunan tersebut terlihat sederhana namun terasa hangat.
“ Pak Sandro, ini kamar Bapak. “ Sambung Manager tersebut membimbing Sandro masuk kedalam sebuah rumah yang lengkap dengan sofa pada ruang tamunya serta televisi berukuran tiga puluh dua inchi.
“ Oke. “ Jawab Sandro sekilas, Pak Allan kemudian masuk membawa kan tas milik Sandro dan meletakkannya disana.
“ Ibu Alice dan Ibu Ocena disini ya? Karena kebetulan kamarnya juga sedang penuh, dua kamar lain ditempati oleh kontraktor yang sedang melakukan pengawasan pembangunan warehouse yang baru. “ Ucap Manager tersebut seraya menunjuk kamar yang berada disebelah kamar Sandro.
“ Tidak masalah Pak. “ Ucap Alice tersenyum dengan sangat tulus.
Manager tersebut segera pergi meninggalkan barak tinggal yang ditempati oleh Sandro, lelaki itu membiarkan atasannya membersihkan diri dan beristriahat sebelum mengikuti jamuan makan malam yang diadakan pada sebuah gazebo yang tidak jauh dari barak tersebut.
“ Pak saya cek kamar mandi dahulu jika Bapak ingin mandi. “ Ucap Alice pada Sandro yang masih sibuk memperhatikan setiap detail bangunan rumah tinggal itu.
“ Tidak perlu Lice, siapkan saja pakaian ku. “ Sambung Sandro sambil masuk kedalam kamarnya dan Alice mengikutinya masuk kesana.
Dira tersenyum kecil saat melihat keduanya masuk kedalam kamar yang sama, ia merasa lucu melihat hubungan Sandro dan Alice. Pikiran nakal mulai bergerilya didalam otaknya, dia masih saja berperasangka dengan hubungan yang dijalin oleh Sandro dan Alice.
Perempuan cantik itu segera masuk kedalam kamar yang akan ia tempati dengan Alice, ia membawa serta ranselnya dan membongkar barang – barangnya. Dira segera ingin mandi, tetapi menunggu Sandro selesai terlebih dahulu tentunya.
Sambil menunggu, Dira keluar menuju teras barak sambil membawa ponselnya yang sedari tadi tidak mengeluarkan bunyi notifikasi. Rupanya tempat itu tidak dijangkau oleh jaringan seluler, pantas saja tidak ada pesan maupun email yang masuk kedalam ponselnya.
Dira duduk dengan santai diatas lantai teras yang terlihat lebih mirip dengan sebuah lorong panjang. Karena beranda rumah yang dibuat menyatu tanpa sekat untuk enam pintu rumah, membuat masing – masing penghuni bisa saling leluasa mengobrol satu dengan yang lain.
“ Nggak ada sinyal rupanya. “ Keluh Dira sambil memanyunkan bibir tipisnya itu.
“ Kayak ada yang hubungin aja sih Dir, bingung banget nggak ada sinyal. Orang jomblo begini, hahaha. “ Terdengar suara Edgar lantang meledek Dira yang sedang menatap nanar kearah HP nya.
“ Kurang ajar emang Mas Edgar, lihat ya kalau aku sudah punya pacar! “ Dira tidak terima dengan ledekan Edgar baru saja.
“ Kayak ada yang mau sama kamu aja Dir. “ Kini suara Axel yang baru saja keluar dari dalam barak terdengar menyambar ucapan Dira.
“ Jadi Bu Oceana masih jomblo? Lalu pria yang kemarin? “ Giliran Alice menimpali Dira yang duduk termenung di lantai teras.
“ Memangnya kemarin Dira pergi dengan laki – laki Bu? “ Edgar tampak kaget saat mendengar ucapan Alice.
“ Kamu pergi sama dia Dir? “ Wajah Edgar semakin kesal saat mendengar ucapan Axel baru saja.
“ Itu Mas, hanya mengantarku membeli sembako kemarin di supermarket. Ih Axel ini suka sekali membuat orang lain berprasangka buruk. “ Dira dengan kesal memukul badan gempal Axel.
Mendengar pembicaraan yang cukup seru dari teras barak, Sandro yang baru saja selesai mandi langsung keluar mendapati anak buahnya. Diliriknya wajah Dira dengan kesal, membuat Dira beringsut dan tertunduk.
“ Kalian nggak mandi? “ Tanya Sandro dengan kaku pada mereka berempat yang terlihat masih mengenakan pakaian nya sejak tadi pagi.
“ Ibu Oceana kalau mau mandi dahulu? “ Tawar Alice pada Dira dengan sopan.
“ Atau mandi saja di tempat kami Dir? “ Giliran Axel menawarkan.
“ Oh, Ibu dahulu saja. Saya masih berkeringat, saya masih ingin istirahat sebentar disini.“ Dira membuat alasan, sebenarnya Dira hanya merasa kurang enak hati jika menggunakan kamar mandi setelah Sandro sehingga ia menunda ritual mandi sorenya itu.
***
Mendengar penolakan Dira baru saja Alice terlihat masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk mengambil perlengkapan mandinya. Sementara Sandro menyusul Alice kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa didepan televisi.
Axel yang tadinya berdiri langsung duduk menghampiri Dira yang masih menempel diatas lantai tidak jauh dari tempat duduk Edgar. Axel mendekatkan tubuhnya pada Dira, lengan mereka tampak menempel satu dengan yang lain.
“ Sst Dir sejak makan siang tadi Pak Sandro asem banget mukanya, dia pasti marah karena kamu tidur dipundak nya berjam – jam. “ Bisik Axel pada Dira mengingatkan kejadian tadi siang disepanjang perjalanan.
“ Iya aku juga merasa begitu. Kenapa kamu juga tidak membangunkanku Xel? “ Dira juga menjawab ucapan Axel dengan berbisik.
“ Kalian berdua ini ya mulai, gosip terus! “ Edgar menegur mereka setengah berteriak, namun Dira dan Axel tahu itu bukan teriakan kemarahan.
Suara Edgar yang nyaring membuat Sandro menoleh kearah pintu, dan matanya langsung tertuju pada dua orang yang telihat duduk sangat dekat tanpa jarak. Lagi – lagi ia berubah menjadi sangat kesal, Sandro langsung beranjak dari sofa dan masuk kedalam kamarnya seraya membanting pintu dengan sangat keras.
“ Nah kan? “ Bisik Axel lagi setelah bisa menguasai jantungnya yang berdebar kencang karena tersentak kaget saat Sandro membanting daun pintu.
“ Gimana dong ya Xel? Apa aku perlu minta maaf ya? “ Sambung Dira dengan cemas merespons perkataan Axel baru saja. Sementara Edgar hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
“ Kalian itu jangan terlalu akrab, nanti digosipin pacaran mau? “ Ucap Edgar seraya tertawa kecil.
“ Idih Mas, semua orang juga bakalan tahu kalau Axel bukan selera ku! “ Ledek Dira yang kemudian bangkit dari duduknya masuk kedalam rumah.
“ Oh memang, dasar sok cantik! “ Canda Axel pada Dira yang sepertinya sudah masuk kedalam kamar tidurnya.