
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dengan satu kali penerbangan transit, pesawat yang ditumpangi oleh Sandro telah tiba di kota tujuannya. Dengan membawa restu dan juga dukungan kedua orang tua Dira, Sandro semakin mantap untuk segera memberikan lamaran pada kekasihnya itu.
“ Selamat siang Pak Sandro “ Sapa Pak Allan seraya mengambil alih tas jinjin dan satu kotak barang bawaan Sandro.
“ Siang Pak, langsung ke kantor saja “ Ucap Sandro yang langsung naik ke atas mobil tanpa menunggu Pak Allan membuka pintu untuk dirinya.
Lagu – lagu slow rock indie dari Jannabi Band terdengar mengalun didalam kendaraan yang tengah melintasi jalanan memecah kepadatan disiang hari itu. Seraya menikmati lagu nya Sandro terlihat mengangguk – anggukkan kepalanya pelan menghayati setiap lirik yang dinyanyikan oleh kelompok musik tersebut.
Hatinya tengah dipenuhi dengan kebahagiaan yang tidak terperi, kedua orang tua Dira dapat menerima keberadaannya dan bersedia mendukung segala upaya nya untuk merebut hati putri kesayangan mereka.
Bahkan Sandro juga sudah meminta pertimbangan mama nya waktu itu mengenai rencananya untuk melamar Dira, Lydia juga begitu mendukung keinginan anak laki – lakinya itu. Sehingga kini, tinggal ia menjalankan rencana yang sudah ia susun itu, agar Dira bisa segera mau untuk ia pinang.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu segera keluar dari dalam mobilnya setelah Pak Allan memarkirkan kendaraan tersebut tepat didepan lobby. Masih dengan kaca mata hitam dan pakaian kasualnya Sandro masuk kedalam bangunan kantor.
(Source : Internet)
Penampilan Sandro yang sangat berbeda itu membuat sedikit kegaduhan di lobby kantornya, banyak karyawan perempuan saling berbisik memuji ketampanan CEO mereka meski dengan pakaian kasual tidak seperti hari – hari biasanya.
“ Pak Sandro! “ Suara yang teramat Sandro rindukan tiba – tiba menyapa telinganya dengan hangat. Segera laki – laki itu menoleh kearah sumber suara, dilihatnya Dira mematung melihat kehadirannya.
“ Bapak sudah kembali? Bapak bilang baru kembali lusa? “ Tanya Dira dengan mata berbinar – binar memancarkan kerinduan.
“ Memangnya kamu tidak suka aku kembali lebih cepat? “ Tukas Sandro singkat. Sebenarnya ia ingin segera memeluk erat tubuh wanitanya itu namun ia mencoba menahan diri karena banyak mata sedang memandang ke arah dirinya dan Dira.
“ Tentu saja aku sangat senang, sudah makan siang? “ Tanya Dira saat dirinya dan Sandro sudah masuk kedalam lift.
“ Sudah tadi di pesawat sayang, kamu baru kembali dari makan siang? “ Ucap Sandro seraya mengusap dengan lembut kepala kekasihnya itu.
“ Hmm aku baru kembali dari makan siang, Kak Sandro langsung ke kantor ya ini? “ Dira memandang kearah kekasihnya.
“ Iya, karena aku sudah sangat merindukan mu “ Tukas Sandro lagi.
“ Aku juga sangat merindukan mu sayang “ Dira melahirkan senyum cantiknya pada bibirnya yang tipis itu.
“ Sebenarnya kamu dari mana sih sayang? “ Tanya Dira lagi.
“ Hmmm, aku baru saja survey untuk sekolah pertanian dan perkebunan yang nantinya akan dikelola oleh yayasan. Aku pergi ke kota mu sayang “ Jawab Sandro sedikit berbohong.
“ Benarkah? Ck! Jika tahu begitu aku ingin menitip sesuatu “ Dira berdecak ringan.
“ Apa? Salam untuk orang tua mu? “ Goda Sandro pada Dira.
“ Hmm, Kak Sandro menyindirku ya? Karena aku belum memperkenalkan mu pada Ayah dan Ibuku? “ Dira berdehem pelan dan tiba – tiba rasa bersalah menjalar ke ulu hatinya.
“ Hmm, sudahlah pasti suatu saat aku akan bertemu orang tua mu “ Sandro kembali mengusap kepala kekasihnya itu dengan lembut tepat sebelum pintu lift terbuka.
“ Tidak apa – apa sayang, oh iya nanti sepulang kerja mampir ke tempatku ya? Ada yang mau aku sampaikan “ Tukas Sandro ringan, seolah tidak mengambil pusing sikap Dira yang masih belum mau memperkenalkan dirinya pada kedua orang tua wanita itu.
“ Oke sayang! By the way, kamu terlalu tampan hari ini “ Ucap Dira setengah berbisik saat keduanya berada tepat didepan ruang kaca. Sandro tersenyum sekilas mendengar ucapan kekasihnya itu, sementara Dira segera menghambur ke ruangannya karena malu dengan pujian yang ia ucapkan pada Sandro.
***
Sepulang kerja Dira langsung kembali menuju rumah tinggal dan menyempatkan diri untuk mampir ke flat kekasihnya. Setelah beberapa saat perempuan itu mengetuk pintu dihadapannya, pria tampan menyembul dibalik pintu dan meminta Dira segera masuk.
“ Ada apa sayang? “ Tanya Dira tanpa berbasa basi saat ia sudah duduk diruang tamu.
“ Apa kamu tidak ingin memelukku dulu? “ Ujar Sandro dengan gaya bicara yang terdengar sangat manja.
Dira segera beranjak dari sofa kemudian menghambur kedalam pelukan pria tampan yang berdiri tidak jauh dari televisi. Perempuan itu mendekap erat tubuh kekasihnya yang sangat ia rindukan, meski mereka baru berpisah beberapa saat saja.
“ Apa kamu merindukanku? “ Gumam Sandro seraya mencium puncak kepala kekasihnya.
“ Tentu saja! “ Dira semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sandro.
“ Hmm, apa yang ingin kamu sampaikan sayang? “ Tanya Dira dengan suara yang penuh harap.
“ Tidak ada! Aku hanya ingin memberikan mu itu “ Sandro kemudian menunjuk sekotak bungkusan diatas meja dengan dagunya.
Perlahan Dira menarik tubuh mungilnya dari dekapan erat Sandro, ia terlihat agak kecewa namun perempuan itu cepat – cepat menepisnya. Segera ia mendekati kotak yang berada diatas meja dan membuka nya dengan agak tergesa – gesa.
“ Wah? Sayang? Bagaimana kamu tahu aku sangat menyukai ini? “ Wajah Dira yang tadinya kecewa kini tampak kembali ceria saat melihat beberapa botol sirup rempah didalam kotak diatas meja.
“ Benarkah? Padahal aku tidak sengaja membeli ini “ Tukas Sandro berbohong.
“ Aku sangat suka! Terima kasih sayang sayang “ Dira kembali menghambur kedalam pelukan kekasihnya itu.
“ Hmm, sabtu depan ikut aku ya? Aku ingin mengajak mu menonton konser “ Tukas Sandro tiba – tiba saat Dira masih didalam pelukannya.
“ Konser apa sayang? “ Dira mengangkat wajahnya memandang pria tampan yang ada dihadapannya.
“ Konser musik tentu saja, kamu harus ikut karena kamu pasti akan menyukainya! “ Ajak Sandro setengah memaksa.
“ Hmm baiklah, kemana pun kamu mengajakku aku akan ikut “ Tukas Dira lagi.
“ Ya sudah sana naiklah, kmau belum mandi kan? “ Ujar Sandro tiba – tiba seraya mengendurkan pelukannya.
“ Kenapa? Apakah aku bau asam? “ Dira bertanya dengan cemas.
“ Hish! Bukan, lihatlah kamu masih memakai baju kerjamu sayang! “ Ucap Sandro pada kekasihnya yang begitu menggemaskan itu.