CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
KAOS COUPLE



    Pagi yang cerah di hari Sabtu seluruh karyawan Segah Basadewa Group terlihat sedang disibukkan dengan hiruk pikuk dihalaman kantor karena mereka sedang mempersiapkan bhakti sosial sebagai wujud tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar perusahaan.


    Pada hari itu akan dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah dan pembagian sembako. Dira turut mengambil andil dalam kegiatan sosial yang murni disokong melalui keungan perusahaan itu, dia bertugas sebagai panitia penerima kupon pengambilan sembako.


    Para panitia dan beberapa tamu undangan sudah duduk pada kursi – kursi yang disediakan sembari menunggu kedatangan Sandro untuk membuka acara. Tidak luput terdapat beberapa pengisi hiburan dan grup musik lokal yang akan turut memeriahkan acara di perusahaan itu untuk kali pertama sejak bergabung dengan Segah Basadewa Group.


    Pukul delapan lebih tiga puluh menit mobil Sandro tampak memasuki lokasi kantor dan berhenti tepat dihalaman depan. Segera pria itu turun dari dalam mobilnya diikuti oleh Alice yang setia mendampinginya, berjalan menuju kursi VIP yang sudah disediakan khusus Dewan Direksi dan General Manager.


    “ Selamat Pagi Pak Sandro. “ Pak Albert terlihat menyalami Sandro dengan penuh hormat kemudian kembali duduk pada kursi yang sudah disediakan.


    Pemandu acara tampak semangat memimpin acara pada pagi itu, setelah pemandu menyampaikan beberapa poin diadakannya kegiatan amal lelaki itu mengundang Sandro agar naik ke podium untuk memberikan sambutan sekaligus pembukaan acara.


    “ Terima kasih atas kesediaan Bapak Ibu sekalian karena turut berpartisipasi bersama perusahaan mengembalikan sedikit hasil usaha kita untuk keberlanjutan lingkungan sekitar kita. Semoga dengan diselenggarakannya acara ini dapat menjadi motivasi bagi kita untuk terus berbagi dan memberikan lebih bagi orang – orang disekitar kita. “ Ucap Sandro panjang lebar.


    “ Dengan demikian acara amal ini resmi dibuka. “ Tambahnya sebelum memukul gong besar yang berada diatas podium. Seluruh panitia dan tamu undangan tampak serempak bertepuk tangan dengan meriah menyambut pembukaan acara tersebut.


    Sesaat setelah turun dari podium Sandro menyalami kembali seluruh tamu undangan, dan mempersilahkan seluruh panitia menempati posisinya masing – masing agar kegiatan dapat segera dimulai.


    Bersama dengan Alice pria itu mengitari setiap stand yang dibuat didepan halaman kantor, sesekali ia mengajak bicara karyawan ataupun masyarakat yang turut hadir dalam acara amal tersebut. Dira bersama Ellena, Shella dan Meira duduk berjajar bersiap menerima kupon penukaran sembako, sementara tim Dira yang lainnya bertugas untuk membagikan sembakonya.


    “  Bagaimana apakah semua nya sudah siap? “ Sapa Sandro saat ia bersama Alice mendatangi stand pembagian sembako, tempat Dira bertugas.


    “ Sudah Pak. “ Jawab mereka kompak dan bersamaan.


    Sesaat Alice memandang Dira dari wajah dan berhenti sampai batas celana jeans hitamnya, sesudahnya sekretaris cantik itu melemparkan pandangannya pada tubuh tinggi tegap Sandro lalu ia tersenyum kecil namun berusaha ditahan.


    Bukan hanya Alice, tetapi Shella dan juga Meira juga memandang Dira dan Sandro secara bergantian saat pria tampan itu sibuk melihat – lihat bingkisan yang akan dibagikan secara cuma – cuma itu.


    “ Bu Dira, baju Ibu kembar dengan Pak Sandro? “ Bisik Ellena kemudian tepat pada telinga Dira.


    Hingga perkataan Ellena membuat Dira tersadar dan memperhatikan betul – betul kaos polo berwarna merah bata yang sedang dikenakan oleh Sandro sama persis dengan baju yang ia kenakan saat itu. Dira dan Sandro tampak seperti sedang mengenakan kaos khusus couple.


    “ Hish, aku tidak tahu kalau Pak Sandro punya kaos seperti ini! “ Bisik Dira tertunduk lesu karena beberapa orang mulai berbisik dan memperhatikan dirinya dan Sandro secara bergantian.


    Sandro kemudian menghampiri Dira yang tampak sedang tertunduk lesu, pria itu mendekatinya dan memperhatikan kertas – kertas diatas meja juga beberapa kotak tempat menyimpan kupon yang terlihat masih kosong. Pria tampan itu kemudian memandang Dira lekat.


    “ Wah baju kita sama, seperti sedang mengenakan baju couple ya Dir. “ Ucap Sandro ringan seraya menilik benda – benda lucu diatas meja yang ternyata adalah stample penukaran kupon.  Alice tersenyum kecil saat mendengar ucapan Sandro kemudian kembali mengatup kan bibirnya agar Sandro tidak sadar ia menertawainya.


    “ Maaf Pak, saya tidak tahu jika memiliki baju yang sama dengan Bapak. “ Rasa bersalah menyelinap didalam hati Dira, lelaki itu hanya tersenyum simpul lalu meninggalkan stand milik Dira dan menuju tempat lain.


    “ Sttt, jangan begitu. Pak Sandro itu sudah punya pacar! “ Ucap Dira pada Meira yang sedari tadi tidak berhenti menggodanya.


    “ Masa sih Bu? Siapa Bu? Bukan Ibu? “ Kini gantian Shella menimpali.


    “ Bukan, ngawur saja kalian ini. Pak Sandro sudah punya kekasih jadi jangan seperti itu, aku merasa tidak enak pada kekasihnya. “ Dira masih berbisik pada teman – temannya.


***


    Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, panitia sedang mengambil waktu untuk makan siang dan mereka diminta bergantian beristirahat supaya kegiatan hari itu tidak tertunda dalam jeda waktu yang cukup panjang.


    Dira dan Shella lebih dahulu pergi ke halaman belakang kantor untuk bersantap siang, saat mereka berjalan beriringan ke sana ternyata Sandro, Alice, Pak Albert dan Edgar sudah duduk dan mengobrol pada meja kayu bulat yang sengaja disiapkan di tempat makan siang.


    Mereka tampak berbincang – bincang dengan cukup serius dan terkadang diselingi dengan tawa ringan yang terdengar hangat. Dira tidak begitu memperhatikan mereka, perempuan itu segera mengambil piring dan mengisinya dengan makanan setelah ia mencuci tangannya.


    Sekilas Edgar memandang ke arah Dira lalu melambaikan tangannya dengan pelan ke arah Dira, gadis itu juga melambaikan tangannya kembali ke arah Edgar dan tangannya memberi tanda bahwa ia akan makan. Edgar tersenyum tipis pada perempuan cantik yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


    Tanpa sengaja saat Edgar menoleh dari arah Dira, mata nya dengan mata Sandro beradu. Atasannya itu tampak memandang Edgar dengan tatapan tajam dengan emosi yang tidak dapat Edgar uraikan. Sesaat Edgar menyadari bahwa Dira dan Sandro menengenakan pakaian yang sama, tampak wajah bingung tersirat dalam raut muka Edgar.


    Setelah menyelesaikan pembicaraan bersama Sandro dan Pak Albert, Edgar tampak berpamitan dan meninggalkan mereka bertiga disana. Pria itu menghampiri Dira yang masih bersantap siang bersama Shella, dari kejauhan Alice melihat mereka berdua yang terlihat akrab lalu bergantian memandang wajah Sandro yang sedikit masam.


    “ Dira, kenapa baju kalian bisa sama? “ Edgar bertanya lugas pada Dira saat ia sudah menarik kursi tepat disamping wanita cantik itu.


    “ Hmm, nggak sengaja Mas. Aku juga mana tahu Pak Sandro punya baju begini. “ Kini Dira tampak memasang wajah jutek pada Edgar.


    “ Ih, nggak usah manyun begitulah. Aku kan hanya bertanya. “ Edgar terkekeh melihat sikap Dira yang memang cenderung kekanak – kanakan saat sedang bersama dengannya.


    “ Pak Edgar dan Bu Dira sudah lama kenal ya? Kok seperti nya akrab sekali? “ Shella menimpali kedekatan Edgar dan Dira.


    “ Ya lumayan. “ Edgar menjawab singkat sambil mengangguk – anggukkan kepalanya pelan.


    “ Ya sudah, makan yang banyak biar nggak gampang sakit Dir. Aku kedepan dulu. “ Pamit Edgar sambil menyentuh puncak kepala Dira dengan tulus tanpa tendensi apapun. Dira hanya melambaikan tangannya pelan karena ia masih sibuk menguyah makanannya.


    “ Seperti nya Pak Edgar sayang ya sama Bu Dira. “ Seloroh Shella sambil melihat pria manis yang berjalan menajuhi dari meja makan mereka siang itu.


    “ Hahaha, iya. Hanya jangan salah dengan sayang nya Pak Edgar ya Shella, dia hanya menganggap saya adiknya. “ Tukas Dira dengan tegas supaya tidak timbul gosip – gosip tidak enak seputar dirinya.