
Beberapa hari setelah pergi berpesta bersama Radit, hubungan Dira dan lelaki pemilik kedai kopi itu terlihat semakin dekat. Bahkan saat siang hari Radit dengan senang hati mengantar makan siang ke kantor Dira, lalu menitipkannya pada security agar diberikan pada perempuan itu.
Sementara Sandro justru semakin menjauh dari Dira, pria tampan itu tampak beberapa kali mengabaikan Dira saat mereka berpapasan di rumah maupun dikantor. Bahkan pada meeting yang diselenggarakan Senin lalu, Sandro tampak beberapa kali menyudutkan Dira.
Perasaan Dira sedikit menjadi terbebani dan merasa tidak enak, dia tidak mengetahui letak kesalahannya namun lelaki itu mendiamkan nya tanpa sebab, bahkan terlihat seperti sedang memusuhinya.
“ Selamat Sore Pak Sandro, Bu Alice. “ Sapa Dira dengan sangat sopan saat ia berpapasan dengan pria itu didepan lift.
“ Selamat sore Ibu Oceana. “ Jawab Alice dengan sangat ramah, sementara Sandro tidak bergeming, ia hanya menatap lurus pintu besi didepannya.
“ Lice kamu langsung packing kan ini? “ Ucap Sandro tiba – tiba pada Alice yang berdiri tepat disamping pria bertubuh tinggi itu.
“ Iya Pak, besok pagi – pagi saya sudah minta Pak Allan menjemput Bapak. “ Sambung Alice kemudian tanpa memperhatikan keberadaan Dira disana.
“ Oke. “ Tukas Sandro pelan.
Ting!
Pintu lift terbuka, Dira mempersilahkan kedua orang itu turun terlebih dahulu.
“ Kenapa sih Pak Sandro ini, kok sensi sekali padaku. “ Gumam Dira sesaat setelah ia keluar dari dalam lift. Dira langsung melangkahkan kakinya keluar dari kantor, dilihatnya mobil Sandro sudah hilang dari sana.
***
Hari itu Dira tidak langsung kembali menuju rumah tinggalnya, ia sudah ada janji dengan Radit dan akan bertemu di kedai kopi milik pria tampan itu. Dira segera saja menuju kedai kopi milik Radit, diliriknya mobil Sandro yang sudah berada dihalaman rumah tinggal saat ia melintas didepan bangunan megah itu.
“ Sore Mas Radit. “ Sapa Dira saat masuk kedalam kedai kopi yang terlihat begitu ramai itu.
“ Hai cantik! Duduklah Dir, aku melayani pembeli dahulu. “ Radit menyunggingkan senyuman manisnya dan segera mengambil nampan yang berisi minuman dan mengantarnya pada meja pembeli.
Ini adalah salah satu hal yang membuat Dira kagum pada Radit, meski ia adalah pemilik kedai ini dia mau turun tangan untuk melayani pembeli. Bahkan ia juga tidak akan malu – malu memohon maaf pada konsumen pada saat karyawannya tidak sengaja membuat kesalahan.
Dira memandang gerakan Radit yang gesit dari atas kursinya yang berada tepat didepan meja barista. Dengan celemek cokelat yang menggantung pada bahu dan menutupi bagian depan tubuhnya, Radit tetap terlihat tampan dan cukup memukau.
“ Pantes ya Mas, pelangganmu kebanyakan perempuan. Soalnya mereka tahu yang melayani pria tampan. “ Goda Dira pada Radit yang baru saja mendatanginya.
“ Haha kamu bisa saja Dir, ayo ikut aku. “ Radit tiba – tiba saja meraih tangan Dira dan mengajaknya masuk kedalam sebuah pintu disana.
Dira belum pernah masuk kesana, karena memang itu adalah kawasan terlarang bagi konsumen. Tempat itu memang hanya boleh diakses oleh karyawan, tetapi kali ini Radit mengajaknya masuk kedalam sana.
Radit membawa Dira kesebuah ruangan yang lebih tepat disebut sebagai ruang tamu atau ruang keluarga. Ada sofa besar disana dengan televisi yang berkuran besar berdiri tepat didepan sofa, saat Dira memandang sekeliling juga terdapat dapur bersih dan ruang makan yang menyatu. Kemudian beberapa pintu yang menghubungkan ke ruangan lain.
“ Ini rumah ku Dir, aku tinggal disini. “ Ucap Radit sambil duduk diatas sofa yang berada tidak jauh darinya itu.
“ Wah, jadi ini rumah Mas Radit yang tergabung dengan kedai. Sebenarnya selama ini aku penasaran, Mas Radit tinggal dimana. “ Sambung Dira kemudian.
“ Woo, enak ya Mas ada temannya. Hehe. “ Kata Dira lagi.
“ Ehm, Dir. Sebenarnya ada yang mau ku sampaikan pada mu. Maka nya aku ngajak kamu kesini. “ Ucap Radit tiba – tiba membuat Dira salah tingkah.
“ Mau menyampaikan apa ya Mas? “ Dira langsung menimpali perkataan Radit.
“ Mungkin ini terdengar sangat buru – buru ya Dir, kita belum lama saling mengenal hanya saja semakin hari memahami mu perasaan ku juga ikut tumbuh Dira. “ Radit terdengar sedikit berbelit – belit.
“ Maksudnya Mas? “ Sementara Dira berpura – pura bodoh saat mendengar perkataan Radit.
“ Kamu mau nggak Dir jadi pacarku? “ Sambung Radit kemudian, tiba – tiba saja pria itu menyodorkan sebuah kotak berwarna abu – abu kepada Dira yang baru saja ia rogoh dari saku appronnya.
“ Hmm, jadi pacarnya Mas Radit? Hehehe. “ Dira salah tingkah dengan ungkapan perasaan Radit baru saja. Ini adalah kali pertama Dira mendengar seseorang mengungkapkan perasaan padanya untuk kali pertama.
“ Iya Dir, kalau mau kamu pakai ini. “ Radit membuka kotak yang ia sodorkan pada Dira. Sebuah gelang batu berwarna merah menyala, sepertinya batu ruby.
“ Aduh Mas, kenapa harus pakai beginian? “ Wajah Dira semakin terlihat memerah.
“ Karena aku tahu kamu pasti cantik saat memakai ini. “ Ucap Radit lagi.
Dira sejenak terlihat sedang berpikir, selama ini dia juga suka saat bepergian bersama Radit, saat ngobrol, saat berkirim pesan dan bahkan ia menyukai sikap Radit yang manis itu. Dira juga sangat senang saat Radit membawakan bekal makan siang buatan nya.
“ Tapi kita belum benar – benar kenal Mas. “ Suara Dira terdengar sedikit khawatir.
“ Ya justru itu Dira, kalau kita berpacaran kita bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lain. “ Ucap Radit lagi.
“ Aku juga belum pernah pacaran Mas. “ Ungkap Dira jujur pada Radit.
“ Bohong ah Dira, masa perempuan secantik kamu begini belum pernah pacaran. “ Tukas Radit sambil terkekeh pelan.
“ Serius Mas, ini kali pertama ku mendengar orang bilang mau jadi pacarku, hehe. “ Lagi – lagi Dira ikut terkekeh.
*“ Nggak* masalah Dira kamu belum pernah pacaran atau sudah sering pacaran itu nggak akan mempengaruhi apapun Dir. “ Kini Radit menyentuh tangan Dira dengan lembut.
Gadis itu menatap mata Radit, ia melihat kesungguhan yang terpancar dari kedua mata pria itu. Sesaat Dira tersenyum kemudian meraih gelang yang masih berada didalam kotak, Dira mengambil gelang itu dan menyodorkannya kembali pada Radit.
“ Mas Radit nggak keberatan untuk memakaikannya padaku? “ Ucap Dira sambil tersenyum. Sekilas wajah Radit tampak sangat bahagia, lelaki itu tersenyum dengan sangat senang saat Dira mengulurkan benda itu padanya.
Radit langsung memakaikan gelang merah itu ketangan kanan Dira, karena gadis itu selalu memakai jam tangan di tangan kirinya. Dira tersenyum lembut sambil memandang gelang ditangannya, sesaat hati nya berdebar dengan lebih cepat.
“ Jadi, mulai hari ini kamu pacarku ya Dir? “ Sambung Radit setelah selesai memakaikan gelang tersebut pada Dira, dan gadis itu mengangguk seraya tersenyum mengiyakan perkataan Radit baru saja.