
Sekitar pukul sembilan lebih dua belas menit mobil SUV milik Sandro keluar dari parkiran mall yang tampak padat karena banyaknya pengunjung yang datang. Laki – laki itu melajukan kendaraannya dengan cukup cepat, ia tampak melongokkan kepalanya kesamping kanan kiri jalan seolah sedang berusaha menemukan sesuatu.
Sandro membelokkan mobilnya saat ia melihat apotik disebelah kiri jalan kemudian memarkirkan kendaraannya disana. Ia kemudian meraih dompet yang ia geletakkan pada cup holder dan melepaskan sabuk pengamannya.
“ Kalian tunggu saja di mobil, saya keluar sebentar. “ Pria tampan itu kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju apotik yang ada didepannya.
“ Mau ngapain ya Pak Sandro? “ Guman Edgar pelan.
“ Beli obat paling Gar, apa dia sakit perut habis makan di foodcourt? “ Ucap Axel sembarangan.
“ Bisa jadi deh, soalnya beliau kan biasanya makan masakan koki pribadi guys, serius deh. “ Tukas Dira seraya mencoba mengintip bayangan Sandro dari balik kaca mobil Sandro yang agak gelap.
“ Iya, orang koki nya tinggal di mess kita Dir. “ sambung Axel lagi.
Tidak lama CEO tampan itu kembali menuju mobil dengan membawa benda yang terbungkus dengan kantong plastik berwarna hitam. Sandro kemudian menggeletakkan kembali benda itu beserta dompetnya bercampur dengan Hpnya.
“ Bapak sakit? Kok ke apotik? “ Telisik Dira berhati – hati.
“ Oh, nggak. Itu beli titipan. Kalau saya mampir sebentar antar titipan nggak papa kan? “ Kata Sandro seraya mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
“ Tidak apa – apa Pak. “ Sambung Edgar dari bangku belakang.
Sandro melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang belum pernah Dira lewati sebelumnya, mobil itu kemudian masuk ke sebuah perumahan elite yang berada tidak jauh dari pusat kota. Lelaki itu membunyikan klakson mobilnya, kemudian tampak seseorang pria membuka pagar besi yang menjulang tinggi bercat cokelat tua didepan mereka.
Mobil terparkir pada halaman rumah mewah bercat putih yang baru saja mereka datangi itu, Sandro kemudian meraih bungkusan yang ia beli di apotik tadi dan mengajak ketiga orang yang datang bersamanya untuk turun. Seorang wanita paruh baya membuka kan pintu depan lalu tersenyum pada Sandro dan yang lainnya.
“ Tunggu saja disini sebentar. “ Sandro menunjuk kearah sofa yang ada diruang tamu.
“ Buatkan mereka minum Bi. “ Sambung lelaki tampan itu pada wanita paruh baya tadi.
Pria berpostur tinggi tegap itu langsung menuju tangga yang ada disudut ruangan, ia naik kelantai atas dan terlihat mengetuk sebuah pintu kemudian masuk dan menghilang kedalam ruangan tersebut. Sandro terlihat sangat familiar dengan rumah bercat putih itu, juga dengan orang – orang yang ada didalamnya. Bahkan ia juga langsung menuju sebuah ruangan yang ada didalam bangunan rumah.
“ Rumah siapa? “ Bisik Axel pada Dira yang duduk diantara dirinya dengan Edgar.
“ Entah, aku juga tidak tahu. “ Dira menjawab Axel juga dengan berbisik. Sementara Edgar terlihat menebarkan pandagannya seolah – olah sedang mencari jawaban.
“ Silahkan diminum. “ Wanita yang tadi membuka kan pintu terlihat menyodorkan tiga cangkir minuman beserta sebuah piring keramik dengan kudapan.
“ Terima kasih Bu. “ Ucap Dira dengan sopan, wanita paruh baya itu tersenyum kemudian meninggalkan tiga pemuda pemudi yang duduk berdempetan diatas sofa.
Axel meraih cangkir keramik diatas meja kemudian meniup isinya perlahan dan menghirup aroma harum yang menguar dari dalam cangkir. Lelaki itu kemudian menyesap minuman yang ada ditangannya.
“ Coba deh Dir, enak. Teh bunga rosella sepertinya. “ Sambung Axel setelah meneguk minumannya beberapa kali. Dengan wajah sumringah Dira mengikuti Axel meraih cangkir diatas meja dan mengecapnya pelan.
“ Hahaha, kita udik banget nggak sih Xel. “ Gurau Dira kemudian setelah ia meneguk hampir setengah bagian tehnya.
Dira juga turut mengedarkan pandangannya menelisik setiap bagian ruang tamu, tidak ada petunjuk apapun pada ruangan itu. Hanya sebuah bingkai foto hitam berukuran besar dengan gambar asap monocrome menggantung pada ruangan itu.
“ Xel, apa ini rumah Bu Alice ya? Soalnya tadi yang menelpon Pak Sandro itu Bu Alice. “ Bisik Dira pada pria yang duduk disampingnya.
“ Stt, kalian ini suka banget bergosip deh. “ Potong Edgar saat mendengar perkataan Dira.
“ Dia bilang kita gosip Dir, coba deh tunjukin fotonya ke Edgar Dir. “ Axel dengan berbisik menyuruh Dira menunjukkan foto Sandro dan Alice pada Edgar.
Dira dengan semangat menyodorkan foto yang sudah ia simpan didalam galeri HP nya pada Edgar. Lelaki berpostur tinggi kurus itu kemudian meraih HP Dira dan memandang dengan heran foto Sandro dengan Alice.
“ Wuih cantik ya guys. “ Seloroh Edgar saat melihat penampilan Alice berbeda dari hari – hari biasanya. Saat dikantor Alice selalu mengikat rambut panjangnya dan mengenakan pakaian dengan potongan formal, sementara pada foto itu ia terlihat begitu anggun dengan rambut panjang tergerai.
“ Hish, malah salah fokus kamu mas! “ Dira memukul pelan bahu Edgar. Membuat ketiganya terkekeh bersamaan sambil berkerumun memandang HP ditangan Dira.
***
“ Hmm, kalian sedang apa? “ Suara Sandro mengagetkan ketiganya yang masih kagum dengan kecantikan dan keanggunan Alice yang berdiri sempuran disamping Sandro.
“ Oh tidak Pak. “ Jawab Edgar gugup lalu menarik kepalanya yang sangat dekat dengan kepala Dira dan Axel. Dengan sigap Dira mengunci HP nya supaya Sandro tidak melihat ada fotonya dengan Alice didalam HP Dira.
“ Habiskan dulu minuman kalian, saya ambil barang sebentar. “ Lelaki tampan itu terlihat melenggang ke sebuah lorong yang ada didekat ruang tamu. Tidak lama kemudian Pria tampan itu kembali keruang tamu dengan menenteng drafting tube berwarna hitam di bahunya.
“ Ayo saya antar kalian berdua dahulu. “ Ujar Sandro saat tiba diruang tamu.
“ Hmm Pak, mobil yang tadi kami bawa masih ada di boardinghouse jadi turun disana saja Pak. “ Edgar mengingatkan Sandro.
“ Oh iya, okelah. “ Sandro mengiyakan.
“ Bi, aku pulang dulu. Jangan lupa kunci pintunya ya. “ Pamit Sandro pada perempuan paruh baya yang baru saja keluar dari bagian dalam rumah mewah itu.
Sandro terlihat membuka bagasi mobilnya kemudian meletakkan tas tabung yang ia ambil tadi kedalam sana. Mereka berempat kemudian masuk kedalam mobil, memasang sabuk pengaman kemudian Sandro melesatkan kendaraannya meninggalkan pemukiman mewah itu.
“ Terima kasih banyak untuk hari ini Pak. “ Ucap Axel saat mereka tiba didepan boardinghouse.
“ Oke sama – sama, saya masuk dulu. “ Pamit Sandro singkat sambil menenteng kembali drafting tubenya tadi.
Sementara Dira, Edgar dan Axel masih duduk dikursi kayu dekat pos satpam sambil bernafas lega karena Sandro telah menghilang dari padangan mata mereka. Sebenarnya mereka senang bisa bepergian bersama, namun jelas ada tembok pembatas besar yang harus mereka jaga. Sandro dan kehidupan mereka sungguh sangat jauh berbeda, sehingga membuat mereka kurang leluasa saat Pria itu bergabung dengan mereka.