
Dira masih sibuk dengan pekerjaan – pekerjaan rutinnya, ia masih duduk terpaku pada layar komputernya didepan meja kerja dengan setumpuk berkas diatasnya. Wajahnya terlihat sangat serius dan fokus dengan deretan angka yang berjajar dengan sangat rapi pada layar monitornya.
Sesekali ia memijat – mijat dengan pelan kedua ujung pelipisnya dengan lembut, ia juga sesekali terlihat meneguk air putih dari botol minuman berwarna merah muda yang selalu ia tenteng saat kemanapun ia pergi.
Setelah ia mengecek kembali angka – angka juga perhitungan rumus yang ada didalam lembar kerjanya dan memastikan semuanya sudah benar ia segera mencetak pekerjaan itu melalui mesin cetak otomatis yang sudah dikoneksikan dengan jaringan internet.
Dira segera beranjak dari kursi kerja nya dan mendekati mesin besar berwarna hitam yang berada disudut ruangannya itu. Wanita cantik itu kembali mengecek lembaran kertas yang berada ditangannya. Sesudah nya ia segera membubuhkan tandatangannya pada sudut kertas kerja tersebut dan membawanya keluar menuju ruangan Sandro.
Wanita cantik itu langsung menuju ruangan kaca dan menghampiri Alice yang sedang mengetik pekerjaannya. Saat mendapati Dira datang, wanita cantik itu segera beranjak dari kursinya dan mengetuk ruang kerja Sandro pelan lalu mempersilahkan Dira masuk saat Sandro sudah memberikan jawaban dari dalam ruangan. Sandro masih terlihat sibuk membaca berkas - berkas yang ada ditangannya.
(Source : Internet)
“ Ada apa Dir? “ Tanya Sandro seraya mengangkat wajah tampannya memandang wanita cantik yang sedang berdiri didepannya itu.
“ Ini Pak, perhitungan biaya produksi seperti yang Bapak minta “ Dira kemudian mengulurkan berkas yang baru saja ia cetak itu kepada Sandro.
“ Pemborongnya kamu dapat dari mana? “ Sandro terlihat meraih sebuah pena hitam dari atas mejanya, sambil mengecek perhitungan yang ada disana.
“ Saya dapat dari tim produksi Pak, beberapa pemborong sudah memberikan penawaran melalui email resmi “ Sambung Dira kemudian.
Sandro terlihat menatap deretan angka yang disajikan disana, ia juga sesekali mencoret dan membubuhkan beberapa catatan dan memberikan paraf pada setiap tulisannya itu. Sesudahnya ia menyodorkan kembali berkas tersebut pada Dira.
“ Coba didiskusikan dengan Pak Albert, apakah nilai yang saya tuliskan disana sudah sesuai dengan norma perhitungan pengupahan pekerjaan borongan “ Tukas Sandro saat Dira sudah menerima kembali kertas kerja tersebut dari Sandro.
“ Oh? Baik Pak, namun dapat saya jelaskan Pak angka tersebut sebenarnya sudah sesuai dengan standar perhitungan secara umum, tetapi akan saya koordinasikan kembali dengan Pak Albert. Sepertinya Bapak ingin melakukan penurunan cost “ Sambung Dira berusaha memberikan penjelasan.
“ Iya silahkan dikoordinasikan dengan Pak Albert lagi “ Sandro tetap ingin memperoleh perhitungan baru untuk penawaran pekerjaan tersebut.
" Baik Pak, jika demikian saya permisi “ Pamit Dira seraya menyunggingkan senyumannya pada lelaki tampan itu.
“ Oh Dir, kemarilah “ Sandro tampak beranjak dari kursinya dan menghentikan langkah kaki Dira.
Lelaki tersebut tampak berjalan sambil meraih sebuah buku dari atas nakas yang berjarak beberapa langkah dari meja kerja orang nomor satu perusahaan tersebut. Sandro langsung mengulurkan sebuah buku dengan sampul berwarna biru tua yang masih tersegel dengan plastik.
“ Saya tahu, kamu sedang berusah melewati patah hati mu. Saya harap buku ini bisa membantu mu “ Ucap Sandro lagi setelah akhirnya Dira menerima uluran buku dari tangan Sandro.
Dira sesaat menundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian memandang wajah Sandro yang masih berdiri didepannya itu. Sesaat Dira merasa sangat malu karena ternyata lelaki tersebut menyadari betapa lemahnya ia sekarang, ternyata ia tidak mampu menutupi kesedihannya atas berpisahnya ia dengan Radit.
“ Terima kasih banyak Pak “ Ucap Dira pada akhirnya.
“ Jangan terlalu larut dalam kesedihan ya Dir, percayalah semua yang baik akan segera datang menghampiri mu jika kamu sudah berdamai dengan dirimu dan keadaan disekitarmu “ Sambung Sandro dengan sangat bijaksana.
“ Baik Pak Sandro, sekali lagi terima kasih untuk bukunya Pak, saya permisi dahulu “ Dira menyunggingkan senyumannya, kali ini ia mengangkat wajahnya dan menatap laki – laki itu.
Sesudahnya Dira segera undur dari ruang kerja Sandro sambil menenteng buku bersampul biru itu ditangannya. Ia tidak menyangka atasannya akan memberinya perhatian sedetail itu dan menyadari bagaimana terpuruknya Dira saat itu.
***
Pukul tujuh malam seusai beres dengan membersihkan diri dan menyantap makan malam sederhananya, Dira menarik kursi kayu didalam kamarnya. Ia kemudian menyalakan lampu mejanya, dengan sangat hati – hati ia membuka sampul plastik yang melapisi buku bersampul tebal itu.
Buku bersampul tebal dengan gambar bunga sakura berwarna putih dengan kertas sedikit kecoklatan berbahasa Inggris, berisi delapan bab yang memuat tentang aspek kehidupan dasar manusia. Mulai dari hubungan asmara, pekerjaan, pertemanan dan aspek – aspek lain yang sangat lekat dengan kehidupan manusia.
Dira mulai membaca satu persatu uraian bacaan dalam buku tersebut, dirinya kini terhanyut dengan motivasi – motivasi hidup yang disajikan didalam sana. Sesekali ia juga sangat terpesona dengan gambar ilustrasi yang disajikan dalam setiap bab.
Masing – masing ilustrasi benar – benar mencerminkan isi bab yang diuraikan dengan kalimat dan kata – kata indah yang syarat makna. Sejenak Dira tersenyum saat membaca bab mengenai hubungan asmara, ia menyadari apa yang disampaikan penulis dalam buku tersebut benar adanya.
Tidak semua orang yang dipertemukan dalam hidupnya akan memberikan kebahagiaan, tetapi sebagian dari mereka ada yang memberikan pelajaran. Kali ini Dira sedang ditempa untuk belajar menjadi wanita yang tegar, Dira menyadari kehidupan asmara memang selalu diisi dengan kebahagiaan yang berdampingan dengan kesedihan.
Hubungan asmara tidak selamanya akan dipenuhi dengan tawa juga canda, tetapi juga akan diselipi dengan haru biru kesedihan sebagai bumbu percintaan itu sendiri. Tidak selamanya haru biru harus ditandai dengan perpisahan, tergantung dari setiap pasangan dalam menjalankan perannya. Namun demikian berbeda dengan duka lara yang dialami Dira, ia memilih berpisah dengan Radit karena jelas prinsip hubungan mereka saling menyimpang.
Tetapi ia tidak menyesal pernah dipertemukan dengan Radit, justru kini dia merasa bersyukur karena pada akhirnya ia tahu bagaimana rasanya dipatahkan saat berada dipuncak kebahagiaan. Kini ia tahu rasanya bangkit melawan kesedihan dan ia kini menyadari bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada orang lain, karena sesungguhnya kebahagiaan bergantung dengan dirinya sendiri.
“ Iya, aku harus bahagia dengan diriku sendiri karena kebahagian bukan bergantung kepada orang lain. Maafkan aku Dira, yang beberapa waktu belakangan ini mengesampingkan kebahagiaanmu sendiri “ Bisik Dira kepada dirinya sendiri seraya menutup buku bersampul biru diatas meja.
“ Terima kasih Mas Radit, tanpa mu aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya patah hati yang hebat “ Sambung Dira lagi.
Hatinya kini jauh lebih tenang setelah membaca kutipan – kutipan penuh makna dari dalam buku pemberian Sandro. Kini dirinya lebih bisa menerima perpisahan nya dengan Radit, hal ini bukan juga serta merta terjadi karena ia membaca buku. Tetapi karena dorongan kecil dari dalam dirinya sendiri yang ingin hidup lebih bahagia dan menggantungkan kebahagiaan pada dirinya bukan pada orang lain.