
Sabtu itu sepulang dari kantor Dira langsung menuju rumah tinggalnya, ia kembali menuju kamar dan seperti biasa melakukan agenda mingguan untuK berberes. Tidak banyak barang yang kotor ataupun berserakan karena Dira terhitung perempuan yang sangat peduli akan kebersihan.
Mulai dari kamar, ia mengelap seluruh nakas dan membersihkan laci – laci yang sedikit berdebu. Ia juga menggosok pelan layar televisi didepan ranjangnya itu dengan lap yang setengah basah kemudian dibilas dengan lap kering.
Sudah rampung dengan kamar nya, Dira menuju dapur dan ruang makan minimalisnya. Ia mengelap meja dapur, membersihkan kompor listrik diatas meja. Dira juga mengelap pengering piring otomatis disamping wastafel.
Perempuan itu juga tampak mengisi dan mengganti stok makanan diatas meja yang sudah mulai habis. Seperti mengisi ulang botol kecap yang kosong, menambah kan tisu makan juga mengecek beberapa persediaan bahan makanan dilemari etalase dapur.
Beberapa bahan sembako tampak sudah kosong, segera Dira berganti pakaian dan mengambil tas belanjanya. Perempuan itu segera keluar dari flat nya hendak menuju supermarket yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Saat sampai dihalaman depan rumah tinggalnya dilihatnya mobil Sandro belum terlihat kembali. Pikir Dira mungkin laki – laki itu sedang bermalam mingguan dengan pacarnya, Dira tersenyum kecil berimajinasi atas hubungan Sandro yang sejenak melintas dalam pikirannya.
“ Mau kemana Dir? “ Suara seseorang terdengar menggema ditelinga Dira saat ia sedang menutup pagar besi depan rumahnya.
“ Eh Mas Radit, mau ke supermaket mas. Mas Radit mau kemana? Aduh ini anjing Mas Radit? “ Dira langsung berfokus pada anjing jenis Siberian Husky berbulu putih abu – abu dengan mata biru, yang terikat tali berwarna hitam.
“ Iya Dira, namanya Boy! Kamu naik apa? “ Sambung Radit sambil memandang Dira yang sedang terpaku dengan ketampanan anjing peliharaannya itu.
“ Hei Boy? Aku jalan kaki mas, dekat saja kok di supermarket dekat lampu merah itu mas. “ Ucap Dira yang kini mengalihkan pandangan matanya pada Radit.
“ Disitu kurang lengkap Dir bahan – bahan nya, mau aku antar nggak? Ada supermarket yang lebih lengkap, kalau mau cari produk – produk import juga banyak. “ Tukas Radit menawarkan bantuan, sekilas terlihat Dira sedang mempertimbangkan usulan Radit.
“ Memangnya nggak merepotkan Mas Radit? “ Dira terlihat sungkan dengan tawaran Radit baru saja, sementara itu pria yang berdiri didepan Dira hanya mengulum senyuman.
“ Nggak Dira, aku lagi santai aja kok. Yuk ke kedai, aku ambil mobil dulu. “ Radit kemudian memutar langkahnya kembali menuju kedai kopi miliknya diikuti Dira yang berjalan pelan dibelakang Radit.
Setelah memasukkan kembali Boy kedalam kandangnya, Radit tampak masuk kedalam bangunan kedai. Tidak lama kemudian ia keluar sambil membawa kunci mobil ditangannya, ia kemudian menekan tombol pada kunci mobilnya itu dan mempersilahkan Dira segera masuk mengikutinya kedalam mobil.
“ Oke, kita jalan nya. “ Radit memberi aba – aba saat Dira sudah memasangcsabuk pengamannya.
***
Kendaraan Radit tampak berhenti pada sebuah bangunan supermarket yang cukup besar, banyak mobil dan sepeda motor yang terlihat parkir didepan tempat itu. Radit segera turun dari mobil diikuti oleh Dira.
Saat sudah masuk kedalam bangunan supermarket tanpa ragu – ragu Radit segera menarik troley besi yang
berada tidak jauh dari pintu masuk. Dira tersenyum tulus pada pria yang baru saja dikenalnya itu.
“ Oke Dira silahkan, aku ikuti dari belakang. “ Sambung Pria itu mempersilahkan Dira mencari segala kebutuhannya.
Dira tampak memilih – milih beberapa barang kebutuhan pokoknya, seperti gula, aneka bumbu dan rempah kering. Ia juga tidak melewatkan membeli beberapa barang siap saji seperti sereal dan susu yang biasa ia konsumsi saat terburu – buru.
“ Iya betul Dira, lebih lengkap juga kan? “ Sahut Radit meminta persetujuan dari Dira.
“ Iya Mas, lengkap banget! “ Dira kini mengambil alih troli yang semula didorong oleh Radit karena pria itu tampak sibuk memperhatikan beberapa barang yang sepertinya menarik baginya.
Sambil mendorong trolinya pelan Dira menoleh ke kanan dan kiri melihat – lihat berbagai macam barang yang disusun berjajar memenuhi display toko itu. Hingga tanpa sengaja trolinya bertabrakan dengan troli orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Troli orang yang ditabrak oleh Dira terlihat menyenggol rak kaleng makanan hewan dan membuat beberapa kaleng menggelinding dan berserakan. Dengan cepat Dira membantu memungut kaleng – kaleng yang jatuh diatas lantai.
“Aduh maafkan saya tidak memperhatikan jalanan. “ Penuh penyesalan Dira memohon maaf pada seseorang yang ia tabrak.
“ Ibu Oceana? Tidak apa – apa bu, kami juga tidak memperhatikan langkah kami. “ Suara yang sangat familiar terdengar berdengung di telinga Dira yang masih sibuk membantu Pria disebelahnya memungut kaleng – kaleng itu.
“ Oh? Ibu Alice, Pak Sandro. Maaf kan saya, saya benar – benar tidak sengaja. “ Dira sedikit kaget saat mendapati orang yang baru saja ia tabrak adalah atasannya.
“ Tidak masalah Dir. “ Tukas Sandro ringan sambil kembali meraih troli belanjaan miliknya yang tampak penuh dengan beraneka macam barang.
“ Kenapa Dira? “ Suara Radit terdengar mendekati Dira, lelaki itu menyentuh pelan bahu Dira yang berdiri membelakanginya.
“ Hehe, nggak papa Mas. Nggak sengaja menabrak Bos nya Dira. “ Ucap Dira pelan saat menoleh ke arah Radit yang baru saja menghampirinya.
Sandro menatap sengit kearah Dira dan pria yang baru saja datang menghampiri Dira itu, ia melemparkan tatapan tajamnya pada mereka berdua secara bergantian. Tanpa mengucapkan apa – apa lagi Sandro kembali mendorong trolinyadan dengan sengaja menabrak troli belanjaan milik Dira yang sedikit menghambat jalannya.
“ Saya permisi Ibu Oceana. “ Pamit sekretaris Sandro itu dengan sangat sopan, tidak seperti atasannya yang langsung meninggalkannya.
“ Apa dia marah ya karena aku melihat mereka sedang nge- date? “ Bisik Dira dengan pelan, namun ternyata Radit menyadari gumaman Dira yang hampir tak terdengar itu.
“ Mereka siapa Dir? “ Tanya Radit sambil memandang pasangan yang baru saja berlalu dari padanya dan Dira.
“ Dia Bos ku Mas, anaknya owner. Kalau perempuan tadi itu sekretarisnya, tapi sepertinya mereka pacaran. “ Lagi – lagi Dira berasumsi dan Radit hanya mengangguk – anggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Dira.
“ Tapi kok sepertinya dia tidak suka saat melihat kita disini ya Dir? “ Radit ternyata lebih sensitif dengan perubahan tatapan mata Sandro yang tampak tidak senang saat melihatnya.
“ Mungkin dia takut aku ngomong sama orang – orang Mas, soalnya sepertinya mereka itu backstreet gitu. “ Ujar Dira dengan polosnya.
Radit kembali mengambil alih troli belanjaan milik Dira sambile mengikuti kaki lincah perempuan cantik itu melangkah menilik setiap sudut supermarket yang penuh dengan berbagai macam barang. Sesudah beres dengan pembayaran Radit membantu Dira mengangkut tas belanjaannya masuk kedalam mobil.