CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
KOTAK BEKAL



    Siang itu Ibu Lisa terlihat menenteng dua buah tas bekal dari rumah tinggal menuju kantor, wanita paruh baya itu langsung membawanya menuju meja kerja Alice. Segera Alice membawa bekal makan siang tersebut kedalam ruang kerja Sandro seperti biasanya.


    “ Jadi aku panggil Dira sekarang? “ Ujar Alice seraya menyusun makanan diatas meja kaca ruang tamu didalam kantor Sandro.


    “ Aku saja “ Jawab Sandro singkat seraya meraih ponselnya dari atas meja dan menelpon Dira agar segera datang menuju ruangannya.


    “  Oke, jika begitu aku izin pulang dahulu ya? Aku makan dirumah saja “ Tukas Alice meminta persetujuan atasan sekaligus kakak sepupunya itu.


    “ Tidak makan bersama kami saja? “ Tanya Sandro pada Alice.


    “ Aku tahu kamu ingin berduaan bersama Dira bukan? “ Perkataan Alice baru saja terdengar seperti sebuah ledekan, akan tetapi Pria tampan itu justru tersenyum seolah membenarkan apa yang diucapkan oleh Alice.


    “ Baiklah, aku permisi dahulu Kak “ Sambung Alice lagi. Wanita cantik itu kemudian meninggalkan ruang kerja milik Sandro, ia segera meraih tasnya dari atas gantungan kemudian berlalu dari dalam ruangan berdinding kaca.


    Tidak berapa lama kepergian Alice dari ruang kerjanya, Dira tampak melenggang masuk kedalam ruang kerja Sandro seraya menenteng berkas ditangannya. Perlahan ia mengetuk ruang kerja kekasihnya itu dengan sangat lembut, sayup – sayup terdengar suara langkah kaki Sandro mendekati pintu kemudian mendorong daun pintu dengan pelan.


    “ Ayo masuk sayang “ Pinta Sandro pada Dira dengan nada suara yang begitu mesra.


    Wanita berparas ayu itu pun segera menyusul pujaan hatinya masuk kedalam ruang kerjanya, keduanya kemudian duduk diatas sofa. Aneka makanan buatan koki sudah terlihat berjajar diatas meja kaca, mulai dari nasi merah, sup lobak, daging sapi yang dimasak dengan bumbu bulgogi, caesar salad dan juga buah segar yang


sudah dipotong.


    “ Sana cuci tangan mu dahulu sayang “ Ucap Sandro seraya menunjuk kearah kamar mandi yang berada didalam ruang kerja nya itu.


    Dira segera beranjak dari kursinya dan menuju kedalam kamar mandi pribadi milik Sandro, sementara pria yang masih duduk diatas sofa terlihat menyendokkan nasi kedalam piring yang sudah disiapkan oleh Alice. Bukan hanya nasi, ia juga mengambil beberapa sendok sup dan menuangkannya kedalam mangkuk keramik terpisah.


    “ Ayo makan “ Ujar Sandro lagi seraya mendorong makanan yang sudah ia ambil tepat didepan Dira saat wanitanya itu sudah kembali dari toilet.


    “ Terima kasih sayang “ Dira mengulum senyum, memandang lelaki dihadapannya yang ternyata begitu mempesona.


    “ Aku ambilkan untukmu ya “ Sambung Dira kemudian.


    “ Hmm, tidak perlu. Aku ambil sendiri, makanlah sayang “ Sandro menyentuh puncak kepala Dira dengan lembut, entah mengapa dia sangat suka melakukannya.


    Pria dan wanita yang tengah kasmaran itu tampak begitu bersuka cita menikmati makan siang mereka, akhirnya keingin Sandro yang sudah ia pendam selama ini terkabul. Ia ingin menikmati makan siang berdua bersama Dira ditengah – tengah kesibukan kerjanya. Hal sesederhana itu saja sudah membuat kebahagiaan terkembang di hati Sandro, ia menyukai hal apapun yang ia lakukan bersama Dira.


    “ Kenapa kamu membawa berkas kemari sayang? “ Tanya Sandro saat melihat berkas diatas meja.


    “ Aaa, supaya tidak begitu kentara jika aku kemari hanya untuk menemui mu, hehe “ Dira terkekeh ringan. Ia memang sengaja membawa berkas ditangannya supaya orang lain tidak begitu curiga melihatnya masuk kedalam ruang kerja Sandro saat jam istirahat.


    “ Kamu ini “ Sandro melemparkan senyumannya pada Dira, membuat wanita itu semakin terbuai dengan ketampanannya.


    “ Jadi untuk buyer yang tempo lalu kami salah kirim perjanjian kerjanya mereka sudah memberikan feedback, dan mereka memakhlumi hal tersebut “ Ucap Dira tiba – tiba membahas pekerjaan.


    “ Hmm iya iya, maafkan aku sayang “ Akhirnya Dira menutup mulutnya lagi, tidak ingin membuat lelaki didepannya itu memanyunkan bibirnya.


    “ Suapi aku jika kamu menyesal “ Rengek Sandro tiba – tiba, lelaki yang biasanya terlihat begitu dewasa dan sangat mandiri sesaat berubah menjadi seorang bocah laki – laki.


    “ Tidak mau  “ Tolak Dira dengan tegas.


    “ Cepat suapi aku! “ Sandro semakin merengek dan ia kini beralih menuju sofa disebelah Dira yang masih kosong dan meninggalkan makanannya yang belum banyak ia sentuh itu.


    “ Atau aku tidak jadi makan? “ Ancam Sandro dengan wajah yang begitu menggemaskan.


    “ Hmmm, baiklah anak manja “ Dira akhirnya mengalah dan memilih untuk menyuapi pria tampan itu.


    Dira mulai memasukkan satu sendok berisi nasi dan lauk kedalam mulut Sandro, sementara pria itu kini beralih memainkan ponselnya membalas beberapa pesan yang masuk beberapa saat lalu. Sesekali Dira juga menyuapkan makanan kedalam mulutnya sendiri dan bergantian kembali kemulut Sandro.


    Tok.. tok.. tok..


    Sesaat terdengar ketukan ringan pada pintu ruang kerja Sandro, dalam benak Sandro seseorang yang datang adalah Alice yang tadi meminta izin untuk pulang sebentar. Kebetulan karyawan di perusahaannya sangat jarang bertamu keruang kerjanya disaat jam istirahat.


    “ Masuk “ Perintah Sandro, kemudian pria itu membuka mulutnya untuk menerima suapan makan dari Dira dan terus berfokus dengan ponselnya.


    Perempuan itu juga tidak begitu memperhatikan ke arah pintu, justru Dira berfokus pada mulut Sandro yang belepotan karena makanan yang mengenai ujung bibirnya. Segera ia menarik tissue  yang berada diatas meja dan menyeka bibir kekasihnya itu dengan lembut.


    “ Hmm, selamat siang Pak,  mohon maaf saya mengganggu waktu istirahatnya “  Bukan suara Alice yang menggema dalam ruangan tersebut, justru suara Pak Albert yang terdengar sungkan memberikan salam.


    Sekelebat Dira langsung menoleh kearah pintu masuk, dan wajahnya kini terlihat sangat pias saat mendapati Pak Albert sedang memandang dirinya dengan Sandro dengan tetapan canggung karena merasa mengganggu.


    “ Hmm, silahkan duduk Pak Albert. Maaf kami sedang makan siang “ Tukas Sandro tanpa menunjukkan ekspresi marah atau merasa terganggu. Dalam hatinya justru sangat senang karena pada akhrinya ada orang lain yang mengetahui bahwa dirinya memiliki hubungan dekat dengan Dira.


    “ Hmm tidak apa – apa Pak, saya akan kembali lagi nanti Pak. Silahkan Bapak lanjutkan makan siangnya terlebih dahulu “ Dengan terburu – buru Pak Albert segera keluar dari ruang kerja atasannya itu.


    Dira kini juga beranjak dari sofa berniat mengejar Pak Albert, namun sayang Sandro telah terlebih dahulu meraih pergelangan tangannya dan membuat wanita itu justru terduduk kembali. Sandro memandang lekat kedua bola mata Dira yang tampak begitu gusar dan resah, lelaki itu tahu betul bahwa Dira merasa tidak nyaman saat Pak Albert mendapatinya sedang menyuapi atau menyeka mulut Sandro.


    “  Kamu pasti akan mengejar Pak Albert kan? “ Tebak Sandro tanpa memalingkan pandangannya dari paras cantik wanita pujaan hatinya itu. Dira pun mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya.


    “ Tidak perlu, biarkan saja “ Sandro tampak tidak setuju dengan niat Dira.


    “ Buat apa mengejarnya? Memang kamu melakukan sesuatu yang salah? “ Tukas Pria itu lagi.


    “ Tapi dia melihat aku menyeka bibir mu, atau bahkan mungkin saat aku menyuapimu? “ Dira masih saja terlihat was – was.


    “ Biarkan saja, lagi pula lambat laun juga semua akan segera tahu jadi aku tidak mengizinkan mu mengejar Pak Albert. Rasaku juga Pak Albert bukan tipe orang yang suka bergosip “ Nada bicara Sandro terdengar begitu tegas, membuat Dira tidak berkutik dan memilih untuk mengurungkan niatnya itu.