CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
COKELAT PANAS



Sudah  tiga minggu sejak waktu perpisahan Dira dengan Radit berlalu, tidak ada banyak hal yang berubah dengan dirinya. Dira masih tetap dengan kesendiriannya, ia justru disibukkan dengan pekerjaan kantornya yang semakin hari cukup menguras tenaga dan juga pikiran.


Tidak dapat ia pungkiri bahwa memang ada seberkas rasa trauma yang tinggal dan bersemayam dalam dirinya. Dira merasa kurang beruntung dengan kisah cinta pertamanya yang ternyata begitu rumit dan tidak dapat terjangkau dengan akal sehat manusia. Ia tidak menyalahkan Radit dengan pilihannya, Dira justru menyalahkan dirinya sendiri yang ternyata tidak bisa berhati – hati dalam memilih seseorang yang ia percaya untuk menjaga hati nya.


Dira menatap nanar jendela kaca kamarnya yang kala itu diterpa derasnya hujan di bulan Desember, langit memang sejak tadi pagi tidak memamerkan warna cerahnya. Ia memasang wajah mendung, semendung hati Dira yang masih mengingat Radit sebagai pacar pertamanya. Sejenak Dira melirik gelang ruby pemberian Radit yang


masih melingkar pada tangannya, dengan kasar Dira segera melepaskan gelang itu hingga terputus dan membuang dengan asal gelang yang sudah terlepas disudut kamarnya.


“ Aku sudah melepaskannya, semangat Dira kita mulai lagi dari awal “ Ujar Dira sambil memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Tok.. tok.. tok..


Tiba – tiba terdengar ketukan ringan didepan pintu flat Dira, perempuan cantik tersebut dengan cepat menghapus bekas – bekas air mata pada kedua sisi pipi halusnya. Segera ia beranjak dari atas kursi kayu didekat jendela kaca kamarnya dan berlari kecil membuka pintu.


Dilihat nya Sandro berdiri diambang pintu seraya menenteng paper bag berwarna cokelat di tangannya. Wajah Dira sesaat terlihat bingung mendapati atasannya itu sudah berada didepan pintu flatnya di hari Sabtu yang masih terasa sendu.


“ Ada yang bisa saya bantu Pak? “ Tanya Dira setelah menyunggingkan senyuman manisnya kepada Sandro.


“ Mau menemani saya minum cokelat panas? “ Jawab Sandro sambil mengulurkan tas kertas itu pada Dira.


“ Ah? Boleh Pak, silahkan masuk Pak “ Dira meminta atasannya itu segera masuk kedalam flatnya yang selalu rapi dan bersih.


“ Buka saja Dira, ada cokelat bubuk tinggal seduh juga kue kiriman kolega dari Taiwan “ Sambung Sandro sambil menarik kursi dimeja makan.


“ Ah, baik Pak “ Jawab Dira singkat.


Sandro menjatuhkan tubuh tegap nya pada kursi yang berada tepat disisi jendela kaca, dari sana ia langsung bisa melihat pemandangan kota yang terlihat penuh sesak dengan bangunan – bangunan tinggi menjulang. Dari jendela itu dia juga bisa melihat dari kejauhan sungai terbesar di kota itu, sungai yang tepiannya dimanfaatkan sebagai taman bermain dan sarana rekreasi bagi warga.


“ Saya buatkan cokelat panasnya ya Pak? “ Ucap Dira seraya mengangkat kaleng cokelat bubuk berwarna biru keunguan itu ditangannya.


Suara Dira baru saja membuyarkan lamunan Sandro yang sedang memandang jauh hamparana kota yang tengah diguyur hujan hari itu, pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lelaki itu lebih sering duduk di balkon kamarnya hanya untuk sekedar menikmati beer atau segelas wine juga untuk memeriksa datang dan perginya Dira.


“ Oh, sure “ Jawab Sandro singkat kemudian ia mengeluarkan satu kotak pineapple cake berwana emas dengan dengan ornamen huruf mandarin berwarna merah dan membukanya untuk dinikmati bersama secangkir cokelat panas.


“ Silahkan Pak “ Dira mengulurkan cangkir keramik berwarna putih polos dan meletakkan tepat didepan Sandro.


“ Thank you  Dira “ Ujar Sandro sambil menyunggingkan senyuman manisnya kearah Dira.


Dira segera mengambil kursi tepat didepan Sandro, saat ini mereka duduk saling berhadapan. Pria itu tidak berhenti tersenyum memandang wajah Dira yang cantik meski ia terlihat murung sore itu. Sesaat Sandro segera meraih satu buah kue yang masih terbungkus plastik berwarna kuning muda, dan menyobek bungkusan itu pelan dan mengulurkannya pada Dira.


“ Cobalah Dira “ Ucap Sandro kemudian.


“ Terima kasih Pak “ Dengan malu – malu Dira meraih kue tersebut dari tangan Sandro, lalu menggigitnya pelan.


“ Hmm, hampir mirip dengan kue nastar ya Pak? Tapi ini tekstur kue nya lebih basah dan lembut, isian selainya juga melimpah “  Tukas Dira sambil tersenyum merasakan nikmatnya kue yang baru pertama kali ia coba itu.


“ Tumben kamu nggak pernah main lagi ke kedai kopi sebelah? “ Sandro mulai membuka topik pembicaraan lain.


“ Hmm, tidak apa – apa Pak. Lebih enak asyik minum kopi buatan sendiri atau menyeduh teh di dalam flat seperti ini Pak. Tapi kok Bapak bisa tahu saya sering ke kedai sebelah sebelumnya?  “ Tukas Dira, terlihat wajah Sandro kini memerah.


“ Hahaha berarti besok lagi saya kesini minta diseduhkan cokelat panas ya Dir? “ Gelak tawa terdengar renyah keluar dari mulut Sandro berusaha mengalihkan pertanyaan Dira.


“ Hehe iya Pak, lagi pula ini Bapak yang bawa cokelat nya “ Dira terkekeh sambil tersenyum simpul.


“ Dir saya ingin menanyakan sesuatu, maaf jika pertanyaan saya terlampau pribadi, beberapa waktu lalu saat diruang tamu kenapa kamu menangis? “ Tanya Sandro tiba – tiba dengan nada bicara yang serius.


Dira terlihat menarik cangkir minuman cokelatnya mendekat kearah dirinya, sekilas ia terlihat mengusap – usap bibir cangkir dengan lembut seolah ia sedang mencari jawaban. Lalu ia menatap mata Sandro yang saat itu sedang memandangnya dengan binar – binar kekhawatiran.


“ Hmm, saya jadi malu Pak. Ternyata Bapak tahu ya saya menangis? “ Dira berdehem pelan kemudian tersenyum simpul sambil melemparkan pandangannya ke arah Sandro.


“ Iya saya tahu, kamu terlihat jelek sekali saat menangis “ Goda Sandro kemudain.


“ Hahaha Bapak apa baru tahu kalau saya jelek? “ Dira menimpali perkataan Sandro lagi.


“ Jadi kenapa Dir? Kok sampai menangis begitu? Bahkan Axel dan Edgar sampai kemari? “ Sandro masih saja penasaran dengan apa yang terjadi pada Dira waktu itu.


“ Hehe, ya begitu lah Pak “ Dira tampak enggan menceritakan kesedihannya pada Sandro.


“ Jangan - jangan diiputusin sama pacarnya? “ Sandro menebak dengan asal.


“ Hahaha, ya begitu lah Pak “ Lagi – lagi Dira memberikan jawaban yang ambigu dan justru membuat Sandro semakin tertarik dan penasaran.


“ Jadi kamu putus Dir? “ Sandro melempari Dira dengan pertanyaan lagi, dan akhirnya wanita cantik itu mengangguk pelan mengiyakan perkataan Sandro.


Sejenak hati Sandro seolah dipenuhi dengan bunga – bunga bermekaran dengan wangi semerbak seperti musim semi, hati nya tidak bisa menampik bahwa ia bahagia mendengar Dira gagal menjalin hubungan percintaan dengan pria lain. Sekilas senyuman terulas disudut bibir Sandro, namun dengan cepat pria itu menanggalkan nya supaya Dira tidak menyadari bahwa ia senang mendengar berita menyedihkan itu.


“ Kenapa? “ Tanya Sandro lagi.


“ Hehehe, namanya berhubungan dengan manusia Pak. Jika kita tidak benar – benar berkomitmen semuanya terasa begitu berlebihan untuk bisa berjalan selamanya “ Sambung Dira sambil terkekeh pelan seraya melemparkan pandangannya kearah jendela kaca diseberangnya.


“ Iya memang benar, tidak semua manusia bisa bertahan dengan komitmen “ Sandro ikut melemparkan pandangannya mengikuti Dira, tatapan lurus menghujam pemandangan hari yang sudah mulai gelap itu.


“ Kalau Bapak punya pacar? “ Ucap Dira kemudian memecah kebisuan diantara mereka yang sedang terhanyut dengan pemandangan gemerlap lampu kota dihari yang sudah meredup.


“ Kenapa? Kamu mau jadi pacar saya? “ Sandro tersenyum sambil memandang lekat ke arah Dira lalu menyeruput cokelatnya yang kini sudah tidak begitu panas.


" Hahaha, Bapak ini! " Suara tawa Dira terdengar begitu dipaksakan, membuat Sandro menarik senyuman dibibir tipisnya. Keduanya kembali dalam keheningan.