CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
KEPULANGAN SANDRO



Sudah sejak tiga malam Sandro dirawat di rumah sakit, akhirnya hari itu Dokter mengizinkan Sandro pulang. Sejak hari ia mengungkapkan perasaannya pada Dira, hingga hari ini mereka tidak pernah bertemu lagi. Dira juga bahkan tidak pernah sekalipun menghubungi Sandro untuk menanyakan kabarnya. Sepertinya perempuan itu dengan sengaja menghindari Sandro.


“ Dira tidak datang kemari Lice? “ Tanya Sandro pada Alice yang kini sedang membantunya merapikan pakaiannya dan mengemas barang – barang pribadi milik lelaki tampan itu.


“ Tidak ada, tetapi beberapa kali ia menanyakan kabarmu “ Tukas Alice dengan ringan sambil memasukkan beberapa lembar pakaian kedalam tas jinjing milik Sandro.


“ Oh? Dia menanyakan kabar ku padamu? “ Sandro meyakinkan perkataan Alice baru saja.


“ Hmm, memangnya kenapa? “ Sambung Alice sambil berkacak pinggang dan melemparkan tatapan curiganya pada Sandro yang masih menunggunya dan duduk diatas ranjang.


“ Aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya dua hari yang lalu “ Jawab Sandro sambil menautkan kedua tangannya seperti orang sedang berdoa.


“ Dia sudah menjawab? “ Alice menelisik dengan sangat ingin tahu.


“ Belum, dan dia tidak menemuiku lagi setelahnya  “ Sandro terlihat begitu pasrah mengingat Dira yang tampak menjauhi dirinya.


“ Sudahlah mungkin dia sedang memikirkan jawaban untukmu. Ayo pulang, hari ini beristirahatlah, aku sudah mengubah seluruh jadwal kerjamu “ Alice kemudian meraih lengan Sandro dan memapahnya pelan hingga depan lobby dan membantu lelaki itu masuk kedalam mobil.


Setibanya dirumah tinggal Sandro langsung masuk kedalam kamarnya dan meminta Alice menyiapkan baju ganti untuk dirinya. Sandro pun segera mengganti pakaiannya dan kembali naik keatas ranjang, membaringkan tubuhnya yang kini sudah terasa lebih baik.


“ Kembalilah ke kantor Lice, aku baik – baik saja “ Perintah Sandro pada Alice yang kini sibuk membuka tirai jendela kamar Sandro.


“ Iya setelah melihatmu makan siang dan minum obat aku akan segera kembali ke kantor “ Tukas Alice singkat kemudian membetulkan posisi selimut Sandro dan berlalu dari dalam kamar kakak sepupunya itu.


Bu Lisa tampak masuk kedalam flat Sandro sambil membawa satu mangkuk penuh bubur kepiting buatan chef pribadi Sandro. Lalu meletakkannya perlahan diatas meja, Alice segera meraih gelas kaca dan mengisi penuh gelas tersebut dengan air hangat. Ia juga menyiapkan obat yang harus diminum oleh Sandro diatas cawan kecil.


Alice segera membawa masuk nampan kayu itu kedalam kamar Sandro, dengan sabar Alice kemudian menunggui Sandro yang sudah bisa memakan makanannya sendiri tanpa harus disuapi. Alice juga segera mengulurkan beberapa butir obat pada Sandro setelah laki – laki itu menghabiskan hampir separuh makanannya.


“ Sekarang tidurlah Kak, aku akan kemari setelah pulang kerja. Tidur! Tidak perlu membaca pesan maupun email “ Perintah Alice dengan nada galaknya dan laki – laki itu mengangguk pelan mengiyakan perintah sekretaris sekaligus adik sepupunya itu.


***


Pukul lima lebih dua puluh menit Alice tampak melenggang dari ruangan kaca yang merupakan ruang kerjanya sekaligus ruangan CEO. Sedikit berlari ia mengejar lift yang pintunya hampir tertutup itu, dengan terburu – buru ia menekan tombol disana agar pintu besi itu kembali terbuka.


Saat melihat Dira sendirian didalam sana Alice segera masuk menyusul wanita cantik yang disukai oleh kakak sepupunya itu. Alice tersenyum dengan sangat tulus kepada Dira, begitu juga sebaliknya Dira juga melemparkan senyumannya pada sekretaris bosnya itu.


“ Apa Pak Sandro sudah kembali Bu Alice? “ Suara Dira memecah keheningan diantara mereka berdua.


“ Sudah Ibu Oceana, siang tadi saat istirahat saya sudah menjemputnya. Terima kasih Ibu Oceana karena sudah membantu merawat Pak Sandro hari itu, dan beruntung sekali Ibu datang ke flat Pak Sandro “ Ucap Alice dengan sangat tulus pada Dira yang berdiri tepat disampingnya.


“ Apa kamu penasaran Dira? “ Terdengar Alice kali ini menyebut Dira bukan dengan nama depannya bahkan jauh dari kesan formal, membuat Dira tersenyum sedikit kaku dan agak dipaksakan.


“ Jika penasaran mampirlah ke flat Kak Sandro, dia sangat menantikan kedatanganmu “ Alice berbisik nakal pada Dira, kemudian wanita bertubuh langsing itu berjalan mendahului Dira saat pintu lift sudah terbuka lebar.


Alice langsung berjalan menuju lobby dan memanggil Pak Allan untuk mengantarnya pulang menuju rumah tinggal. Selagi Pak Allan mengambil kunci dan menyiapkan mobil, Alice meraih tangan Dira yang sedang melintas didekatnya.


“ Ayo pulang bersama ku saja Dira, kebetulan tujuan kita sama “ Sambung Alice saat ia sudah berhasil menghentikan langkah Dira.


Karena merasa sungkan dan tidak enak hati untuk menolak tawaran Alice akhirnya Dira mengiyakan ajakan perempuan tersebut untuk pulang ke rumah tinggal bersamanya. Dira segera naik pada bangku kursi penumpang, sementara Alice seperti hari biasanya selalu duduk disamping Pak Allan.


Tidak lama setelah mobil yang dikemudikan oleh Pak Allan berjalan memutar, SUV tersebut kini tampak terparkir kembali didepan rumah tinggal. Dira dan Alice secara bersamaan turun dari atas mobil dan berjalan menuju kebagian dalam rumah tinggal.


“ Kamu tidak ingin mampir Dira? “ Tanya Alice setelah ia memasukkan kode kunci digital pada pintu flat milik Sandro.


“ Hmm, iya Bu saya juga ingin mengetahui keadaan Pak Sandro “ Dira kemudian ikut masuk kedalam ruang ekslusif pria yang menyukainya itu. Kali ini perasaannya berbeda saat masuk kedalam sana, biasanya jantungnya tidak berebar sehebat hari itu.


“ Kak? Apakah sudah makan? “ Alice langsung berjalan menuju wastafel dan membasuh tangannya dengan air dan sabun.


Dira juga mengikuti langkah Alice baru saja, karena tidak mendengar jawaban dari pemilik flat Alice kemudian mengecek meja makan. Dilihatnya makan malam Sandro masih belum disentuh, akhirnya Alice berjalan menuju kamar pribadi Sandro.


“ Kak apakah kamu tidur? “ Panggil Alice sambil berjalan kearah jendela kaca dan menutup tirai tebal yang tadi siang ia buka.


“ Hmm, tidak aku hanya berbaring “ Jawab Sandro ringan, lelaki itu tidak menyadari jika Dira berdiri diambang pintu kamarnya.


“ Kenapa belum makan? “ Alice kemudian berjalan mendekati ranjang dan menyentuh kening Sandro menggunakan telapak tangannya.


“ Masuklah Dira, Kak Sandro tidak akan menggigitmu “ Goda Alice pada Dira yang masih mematung didepan pintu. Ucapan Alice baru saja membuat wajah Sandro tampak memerah, dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan karena menyadari Dira disana.


“ Halo Pak Sandro? Bagaimana Pak? Apakah keadaan Bapak sudah membaik? “ Suara Dira terdengar sangat kaku dan tidak senatural biasanya.


“ Hai Dira, aku sudah sehat. Terima kasih ya karena bantuan mu kemarin ya “ Sandro mengulum senyum, meski masih terlihat pucat namun ketampanannya tidak akan pernah luruh dari garis wajahnya.


“ Kalau begitu aku siapkan obat dimeja makan ya Kak, aku pulang dahulu. Rasanya aku sangat lelah menjaga mu dua malam dirumah sakit “ Alice kemudian meraih obat yang ada diatas nakas.


“ Dira, nanti tolong bantu Kak Sandro makan ya. Makanan dan obatnya ada didapur. Tidak apa – apa kan aku meminta tolong padamu? “ Tanya Alice pada Dira dan diikuti anggukan dan senyuman tipis dibibir Dira.


Alice seolah paham betul bahwa Sandro ingin berbicara berdua saja dengan Dira untuk membahas pengakuan perasaannya waktu itu. Dira terlihat semakin gugup, berkali – kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menyunggingkan senyuman yang tidak setulus biasanya.