CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
KECUPAN



Hari itu Dira sudah membuat janji bersama Edgar dan Axel di kedai kopi milik Radit, namun sore itu Dira datang lebih awal. Saat masuk kedalam kedai dilihatnya Radit masih sangat sibuk dengan hiruk pikuk kedai,


tampak sebuah meja yang sepertinya memang di booking untuk acara khusus.


Dira langsung duduk pada kursi yang ada didepan barista, pria yang sedang menyeduh kopi disana tersenyum singkat melihat kedatangan Dira. Sementara Radit yang membantu dua orang pelayanannya melambaikan tangan sambil menyunggingkan senyumannya yang menggemaskan.


“ Rame banget Mas. “ Ucap Dira saat Radit berada tepat disampingnya.


“ Iya rame banget, ada acara reuni anak – anak SMA itu. Masuk sana. “ Radit mengelus rambut Dira dengan lembut, dan meminta gadis itu agar masuk kedalam rumahnya.


“ Disini aja Mas, nggak papa sambil lihatin Mas kerja. “ Dira tersenyum simpul.


“ Aku sudah buatkan nasi goreng di dalam, mumpung masih hangat “ Radit kembali mengusap rambut pacarnya kemudian menarik lagi nampan berisi minuman dan membawanya kepada pelanggan.


Senyuman bahagia terulas pada bibir tipis Dira, pipinya merona kemerahan merasakan sentuhan Radit yang penuh dengan kasih sayang. Ini adalah kali pertamanya menjalin hubungan dengan seorang pria dengan status pacar, Dira tidak pernah berpacaran. Beberapa orang pria pernah mendekati nya, tapi dari kesemuanya itu tidak ada yang mampu menakhluk kan hati Dira.


Berbeda dengan Radit kali ini, pria itu lembut dan bersikap begitu manis padanya. Sosok pria yang dapat ia jadikan sebagai teman, pacar bahkan ia bisa menjadi laki – laki yang selalu melindunginya dan dapat diandalkan.


Dira segera masuk kedalam rumah Radit, ia melongok kemeja makan yang berada tepat disamping dapur bersih. Dibukanya tudung saji diatas meja makan, sepiring nasi goreng dengan potongan daging dan sayuran disajikan diatas meja. Tak luput lalapan pelengkap berupa mentimun dan tomat juga sudah dipotong dan disusun diatas piring saji.


Aroma wangi rempah menguar dan menggoda hidung Dira saat ia menyendokkan nasi kedalam piring yang bahkan sudah disediakan oleh Radit disana. Wanita itu mulai menyendok makanannya perlahan kemudian memasukkan kedalam mulut mungilnya dan mengunyahnya pelan.


“ Hmm, enak. “ Ucap Dira saat satu suapan berhasil lolos dari tenggorokannya.


“ Serius enak sayang? “ Suara Radit terdengar didalam rumah membuat gadis itu sedikit terperanjat dan mengarahkan pandangannya pada sumber suara.


“ Enak Mas. “ Dira mengacungkan jempol nya memuji masakan yang dibuat oleh Radit.


“ Makan pelan – pelan sayang. “ Radit kembali mengusap kepala pacarnya sambil menyodorkan lime juice yang ia bawa dari dalam kedai.


“ Aaaaa. “ Dira menyodorkan sendoknya ke mulut Radit. Dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya pria itu membuka mulutnya merima suapan dari Dira.


“ Nanti lain kali aku gantian masak buat Mas. “ Ucap Dira sambil tersenyum dengan manisnya.


“ Sampai kapan kamu akan memanggil aku Mas? Kapan memanggil aku sayang? “ Tukas Radit tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Dira.


Dira hanya tersenyum sekilas seraya menyentuh tangan Radit dengan pelan, kemudian menyuapkan makanannya lagi kedalam mulutnya. Radit tampak bahagia memandang wajah Dira yang begitu ceria saat menikmati masakan buatan tangannya.


Setelah menyelesaikan sepiring nasi gorengnya, Dira segera mencuci piringnya pada wastafel disudut ruangan dapur. Radit mendekati Dira yang masih berdiri disana, lalu memeluk pinggang Dira dari belakang membuat gadis itu sedikit tidak nyaman.


“ Kenapa Mas? “ Ucap Dira lembut berusaha melepaskan tangan Radit dari pinggangnya.


“ Aku capek sekali sayang. “ Lelaki itu menumpukkan dagunya pada bahu Dira.


Radit kemudian melepaskan pelukannya dari Dira dan berjalan menuju sofa panjang lalu membaringkan tubuhnya dengan lemas. Dira mengikuti pria itu tanpa berhenti melepaskan pandangannya pada pria yang kini sudah merebut hatinya. Dira duduk pada sofa yang berada tepat disamping kursi yang sedang digunakan Radit.


“ Kenapa Mas Radit nggak bekerja kantoran? “ Ucap Dira saat memandang wajah lelah Radit yang sedang membaringkan tubuhnya diatas sofa.


Sekelebat Radit bangun dari posisinya yang semula berbaring kemudian duduk dan memandang wajah Dira dalam. Sesaat ia menarik tangan Dira pelan, agar perempuan itu duduk disampingnya. Dira pun beranjak dan kemudian duduk tepat disamping Radit, tidak ada jarak yang begitu berarti diantara keduanya.


“ Karena, kalau aku kerja kantoran aku tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan sayang “ Tukas Radit sambil terus menatap paras ayu pacarnya itu.


“ Kalau aku kerja kantoran aku hanya bisa menghidupi diriku sendiri, kalau aku buka usaha aku bisa menghidupi orang lain meski itu belum seberapa. “ Sambung Radit lagi.


Sejenak Dira tampak begitu terkesima mendengar pemikiran Radit yang hampir mirip dengan Sandro, hanya beda nya usaha yang dikelola Radit masih dalam skala yang sangat kecil belum sekuat dan sehebat Sandro.  Namun Dira sangat kagum, nyatanya Radit memiliki hati yang begitu baik.


“ Wah, aku jadi iri sama Mas. “ Dira melemparkan senyumannya pada pria itu.


“ Kenapa? “ Radit menggenggam tangan Dira dengan lembut.


“ Karena Mas bisa berfikir sejauh ini, kebanyakan orang muda zaman sekarang mikirnya yang penting diri sendiri happy. Orang lain belakangan, hehe “ Dira terkekeh.


“ Hahaha, nggak lah sayang. Jadi hari ini kamu beneran kan mau kenalin aku sebagai pacarmu ke Axel dan Edgar? “ Tanya Radit kemudian, dan Dira mengangguk.


“ Terima kasih ya sayang, karena kamu menerima perasaanku. “ Bisik Radit pelan seraya menyentuh wajah Dira yang sangat halus, lagi – lagi Dira hanya tersenyum tipis.


Radit masih saja memegang wajah cantik Dira, kemudian ia berdiri dan mencondongkan tubuhnya tepat didepan Dira. Dengan sangat lembut Radit menyentuh kening Dira dengan bibirnya, nafas hangat Dira terasa terhembus sedikit berat menyapu leher Radit. Masih dengan memegang wajah Dira lelaki itu melepaskan kecupan singkatnya dari kening kekasihnya itu.


Dira tampak tertegun, wajahnya memerah dan ia tidak berani mengangkat wajahnya memandang Radit. Agaknya Dira malu dengan kecupan singkat itu, ini adalah kali pertamanya menerima kecupan singkat pada puncak kepalanya dari seorang pria.


“ Sayang? Kamu nggak marah kan? “ Radit mengangkat wajah Dira yang tertunduk lesu karena malu.


“ Hehe nggak Mas. “ Dira masih saja belum berani menatap wajah Radit.


“ Terus? “ Radit menarik dagu Dira dengan lembut agar menghadap ke arahnya.


“ Aku malu hehehe, “ Jujur Dira sambil mengembangkan senyumannya.


“ Kenapa? “ Tanya Radit lagi.


“ Aku belum pernah dikecup seperti itu. “ Dira terlihat memainkan jari – jari nya dengan gusar.


“ Hehehe, nggak perlu malu sayang. Ya sudah kedepan yuk? Mungkin Axel sama Edgar sudah kesini sayang. “ Ajak Radit kemudian sambil melepaskan Dira dari pelukannya dan menyentuh rambut gadis itu pelan.