CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
JAWABAN



Dira terlihat begitu kikuk karena hanya berdua saja didalam kamar, membuat dirinya gugup dan salah tingkah. Beberapa kali Dira mengedarkan pandangannya mengamati ruangan kamar Sandro, sementara pria tampan itu juga hanya duduk diatas ranjangnya.


“ Bapak mau makan sekarang? “ Akhirnya wanita cantik itu membuka suaranya.


“ Hmm, boleh. Makan diruang makan saja Dir, aku sudah sehat kok sebenarnya “ Sandro terlihat menyibakkan selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya.


Segera Dira keluar dari kamar tersebut dan mulai menyiapkan makan malam Sandro yang masih belum dibuka dari wadahnya. Dira memasukkan beberapa sendok bubur halus kedalam mangkok lalu menambahkan kuah kuning encer kedalamnya. Tak luput wanita cantik itu juga mengambilkan air minum dan meletakkan tepat disamping mangkok bubur Sandro.


“ Silahkan Pak “ Ucap Dira seraya menyodorkan sendok kearah Sandro.


“ Terima kasih Dira, kamu nggak ikut makan? “ Tanya Sandro kemudian, sambil memandang kearah Dira yang tetap terlihat cantik dan harum meski seharian ia bekerja.


“ Nanti saja Pak, belum begitu lapar soalnya “ Sambung Dira dengan melemparkan senyumannya yang begitu menawan.


Sandro terlihat mulai menyendok makanannya dan memasukkan kedalam mulutnya perlahan, sesekali ia meneguk air minum yang berada disebelah tangannya. Dira memandang lekat pada laki – laki itu, hati nya semakin berdesir saat mengingat pengakuan perasaan Sandro waktu itu.


“ Dir, mengenai pertanyaan ku waktu itu bagaimana jawabannya? “ Sandro menghentikan makannya.


Sekilas Dira terlihat menggigit bibir bawahnya seolah masih belum bisa memberikan jawaban yang tepat bagi Sandro. Tiba – tiba Sandro meraih tangan Dira yang berada diatas meja dan menyentuhnya dengan sangat lembut.


“ Aku benar – benar menyukai mu Dira “ Tukas Sandro sambil menatap dalam kearah bola mata Dira yang tampak berbinar – binar terkena pantulan lampur kristal di ruang makan.


“ Apa kamu belum bisa melupakan mantan kekasihmu itu? “ Sambung Sandro lagi tanpa mengalihkan pandangan matanya dan membuat Dira tertunduk malu.


“ Hmm, bukan begitu Pak “ Jawab Dira tidak mengiyakan perkataan Sandro baru saja.


“ Lalu? “ Sandro kini melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dira.


“ Sejujurnya memang ada trauma tersendiri yang saya alami Pak dan ini yang sedikit sulit bagi saya “ Jujur Dira pada laki – laki yang tidak melepaskan tatapannya dari dirinya.


“ Trauma yang seperti apa Dir? “ Sandro semakin dibuat penasaran dengan ucapan Dira baru saja.


“ Saya juga bingung Pak menjelaskannya “ Dira mengembangkan senyuman yang dibuat – buat dan terlihat sangat tidak natural.


“ Apa Dira? Laki – laki itu pernah berselingkuh? “ Tebak Sandro, namun Dira menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“ Lalu? “ Sandro masih dibuat penasaran, lelaki itu terlihat menyeruput kembali air minumnya sambil menelan beberapa butir obat yang sudah disiapkan diatas cawan.


“ Bapak hanya tertarik pada perempuan kan? “ Tanya Dira tiba – tiba setelah ia tampak berpikir beberapa saat. Pertanyaan Dira baru saja justru membuat Sandro tersentah kaget dan menyebabkan laki – laki tersebut terbatuk – batuk.


“ Tentu saja! “ Jawab Sandro sedikit kesal sambil menerima uluran tisu dari tangan Dira, pria itu kemudian menyeka pinggiran bibirnya yang terkena semburan air minum nya sendiri.


“ Hehehe baiklah Pak, tetapi apa Bapak tidak takut dengan pemikiran orang jika saya dan Bapak berpacaran? “ Sambung Dira lagi.


Sejujurnya Dira juga memiliki perasaan yang berbeda pada laki – laki itu, kebaikan – kebaikan dan uluran tangan Sandro padanya yang membuat perasaan spesial itu tumbuh di hati Dira. Meski ia belum yakin benar dengan perasaan yang tumbuh itu, namun Dira tahu bahwa dia senang setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama.


“ Memangnya orang akan berpikir apa? Memangnya kenapa kalau kita berpacaran? “ Tukas Sandro dengan nada yang datar.


“ Memangnya ada larangan bahwa CEO dan karyawan tidak boleh berpacaran? “ Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal Sandro lagi – lagi melemparkan pertanyaan pada Dira.


“ Bukan begitu Pak “ Ucap Dira lagi.


“ Lalu dimana masalahnya? Aku belum beristri, kamu belum bersuami. Kita berdua ini sama – sama lajang Dira, jadi apa masalahnya? Kecuali jika hati ku dan hati mu merasakan hal yang berbeda itu baru masalah “ Sambung Sandro lagi. Pria itu terkesan sedikit memaksa agar bisa memiliki Dira sebagai kekasihnya.


“ Apa sebenarnya karena kamu tidak merasakan apa yang ku rasakan Dira? Apa kamu memang tidak menyukai ku ya Dira? “ Sandro melemparkan pertanyaan yang lagi – lagi membuat Dira berpikir keras sebelum menjawab.


“ Bukan begitu Pak “  Lagi – lagi Dira menyanggah perkataan Sandro.


“ Jadi kamu menyukai ku juga? “ Sandro langsung bertanya dengan lugas pada Dira yang terkesan agak berbelit – belit sore itu.


“ Hmm, saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya rasakan Pak. Hanya yang jelas saya juga senang saat melakukan hal – hal kecil bersama Bapak, saya juga merasa menjadi sangat istimewa saat Bapak menunjukkan rasa simpati Bapak terhadap saya “ Jujur Dira pada Sandro mengenai apa yang sebenarnya ia rasakan.


“ Jika itu yang kamu rasakan kenapa tidak kita jalani saja dahulu Dir? Itu tandanya tidak menutup kemungkinan bahwa kamu bisa menyukai ku bukan? “ Ucap Sandro sesaat setelah ia tampak berpikir sejenak.


Dira terdiam dan menatap pria tampan yang duduk tepat dihadapannya itu, dia merasa serba salah karena ia belum mantap dengan hatinya. Bukan saja takut akan pemikiran orang lain padanya tetapi juga takut kejadian yang sama akan kembali terulang. Sesaat kenangannya dengan Radit membuat dirinya tidak berani melangkah, tetapi saat melihat tatapan mata Sandro yang teduh ia merasa dimiliki oleh seseorang.


“ Bagaimana Dira? Kita mulai ya, berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku layak untuk menerima rasa cinta dari mu “ Sandro kembali menyentuh punggung tangan Dira.


Dira terlihat menganggukkan kepalanya, tersirat keraguan dalam anggukannya namun bagi Sandro sudah cukup. Lelaki itu sudah memantapkan hatinya, bahwa ia bisa membuat Dira jatuh cinta padanya.


“ Jadi ini hari pertaman kita berpacaran? “ Sambung Sandro dengan wajahnya yang sumringah.


“ Iya Pak “ Jawab Dira sambil tertunduk malu, sesekali ia tersenyum kecil seolah ia tidak percaya bahwa CEO nya adalah pacarnya sendiri.


“ Kok Pak? “ Sandro terdengar protes dengan panggilan Dira baru saja.


“ Lalu? Kak Sandro? Ya? “ Sambung Dira sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya pada pria tampan itu. Sandro mengangguk degan girang mengiyakan ucapan Dira.


“ Tapi kalau di kantor kita tidak boleh terlihat bersama ya Pak, sebaiknya untuk sementara ini kita simpan berdua saja dulu Pak “ Lagi – lagi Dira memohon.


“ Ck Pak?! Kamu malu menjadi pacarku ya? Kok tidak mau orang lain tahu kita berpacaran? “ Sandro berdecak dengan kesal seraya menyilangkan kedua tangannya tepat diatas dada bidangnya.


“ Ehm, Kak Sandro “ Dira meralat panggilannya pada Sandro.


“ Di kantor itu banyak yang naksir sama Kak Sandro, nanti aku di bully sama mereka kalau sampai mereka tahu kita berpacaran  “ Sambung Dira lagi.


“ Hmmm, bohong “ Sandro terlihat tidak yakin dengan jawaban Dira baru saja.


“ Ya? Kan kata Kak Sandro tadi tidak penting kata orang lain? Iya kan? Jadi menurutku tidak penting juga orang lain tahu kita berpacaran atau tidak, yang penting kita berdua menjalani hubungan kita kan  Kak? “ Tutur Dira masih berusaha meyakinkan Sandro.


“ Hmm, ya sudah jika memang itu mau mu Dira. Terima kasih karena kamu bersedia membuka hati mu untuk ku “ Sandro mengulum senyumnya.


Hati Sandro kini sangat berbunga – bunga, akhirnya setelah cukup lama memendam perasaannya kini dia bisa memiliki wanita yang ia idam – idamkan. Ia bisa memiliki Dira, meski saat ini Dira masih berusaha menerima Sandro sebagai kekasihnya.