CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
LEMBARAN BARU



Memang benar yang terjadi saat itu adalah Edgar dan Axel masih meragu dengan informasi yang mereka peroleh dari pusat kebugaran. Sehingga belum bisa benar – benar mencegah kedekatan Dira dengan Radit, baik Axel maupun Edgar sedang sama – sama mengumpulkan bukti dan informasi mengenai Radit.


“ Jadi aku harus bagaimana guys? “ Dira menarik tubuhnya dari pelukan Axel, ia kemudian menghapus bekas – bekas air mata yang menempel pada kulit halusnya.


“ Apa kamu sanggup melanjutkan hubungan mu yang demikian? “ Edgar menimpali, sementara Dira hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Sejujurnya hatinya sedang berantakan sekarang, ia benar – benar jatuh hati pada Radit, lelaki itu adalah pria pertama yang berhasil merebut hatinya dan menjadi pacar pertamanya.


Ia merasakan patah hati yang begitu dalam, lelaki yang sangat manis dan lembut padanya ternyata memiliki rahasia besar yang tidak pernah diungkapkan dan benar - benar membuat Dira tercengang. Dira benar – benar terluka, cintanya yang begitu mendalam ternyata diterima dengan cara berbeda oleh Radit.


“ Aku ingin mengakhiri semuanya Mas, tapi aku tidak sanggup jika harus bertemu dengannya “ Sambung Dira lagi.


“ Akhiri melalui pesan saja jika begitu Dir “ Axel memberi saran.


Dira kembali meraih HP yang sedari tadi ia geletakkan dengan sembarangan diatas meja diruang tamu. Ia mencari nama Radit didalam daftar kontak telponnya, kemudian menuliskan beberapa hal dan mengirim pesan itu pada laki – laki yang sebenarnya sangat ia sayangi.


______ Original Message______


To           : Mas Radit


Sender   : Dira


Hi Mas Radit, maafkan aku yang tidak bisa menemui mu secara langsung maupun berbicara dengan mu melalui telepon. Mas Radit tentunya sudah menyadari, sikapku sore tadi yang begitu berubah setelah aku mencuri – curi untuk membaca pesan didalam ponselmu. Aku meminta maaf atas kelancanganku ini Mas.


Maafkan aku jika aku keliru menilai pembicaraan Mas Radit melalui pesan - pesan grup didalam sana, namun yang menjadi keyakinanku sekarang bahwa aku dan Mas Radit memiliki pandangan yang berbeda mengenai hubungan. Apakah aku salah Mas? Mas Radit tidak menyukai ku bukan? Apa artinya aku dalam hidup mu Mas?


Sebaiknya kita sudahi saja hubungan yang  kita yang sebenarnya sudah berjalan hingga sejauh ini, meski aku sudah mulai menyayangi Mas Radit namun maafkan aku Mas. Secara manusiawi aku tidak bisa menerima, aku tidak menyalahkan mu yang memilih jalan yang sedikit berbeda denganku. Jujur saja, ini tidak dapat aku terima dengan akal sehatku.


Pilihlah bahagia mu Mas Radit, aku tahu bahwa aku bukanlah tempat yang kamu tuju.


Terima kasih Mas Radit, untuk hari – hari indah yang pernah kita lewati bersama. Semoga dirimu selalu dipertemukan dengan kebahagiaan yang sebenarnya kamu dambakan.


- Dira -


Dira kemudian melemparkan lagi ponselnya keatas meja dengan asal, ia kembali terisak setelah mengirim pesan perpisahannya pada laki – laki yang sebenarnya sangat ia sayangi itu. Perlahan Edgar menepuk – nepuk bahu Dira, berusaha membuat wanita cantik itu merendam kesedihannya.


Pada saat Dira masih mengharu – biru dengan kisah asmaranya yang berakhir dengan kesedihan, Sandro terlihat menampakkan batang hidungnya dan langsung masuk kedalam rumah. Wajahnya terlihat bingung saat mendapati Axel dan Edgar berada diruang tamu, sementara Dira masih tertunduk lesu menangkup wajahnya yang berurai air mata dengan kedua tangan mungilnya.


“ Ada apa ini? “ Tanya Sandro dengan memasang wajah menelisik menatap ketiga orang yang sedang duduk berjajar diruang tamu rumah tinggalnya.


Dengan gugup Dira berusaha menyembunyikan wajah nya yang mulai bengkak karena tangisannya yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi. Sandro semakin tergelitik untuk memeriksa wajah Dira yang tertunduk. Namun laki- laki itu menyadari jika Dira sedang tidak ingin dilihat olehnya, sehingga Sandro berupaya berpura - pura untuk tidak peduli.


“ Kalian habis hujan – hujan? “ Seloroh Sandro lagi.


“ Iya Pak, tadi kami kehujanan “ Jawab Axel sekenanya.


“ Baiklah, saya naik dahulu “ Meski masih diliputi rasa penasaran, Pria tampan yang masih mengenakan pakaian kerjanya tadi siang langsung naik menuju lantai dua.


Sepanjang berjalan menapaki tangga Pria itu tidak melepaskan sedikitpun pandangan matanya dari tubuh Dira yang terlihat lusuh. Sandro menyadari gadis itu sedang menangis, bahkan ia terlihat malu – malu dan menutupi wajah sembabnya itu dari Sandro.


“ Ada apa dengan mu Dira? “ Bisik Sandro dengan pelan sambil membuka kunci digital pintu flatnya, lalu melenggang masuk kedalam ruangannya itu.


Dira kini terlihat bisa meredam kesedihan yang sedang menyelimuti dirinya, tangisnya sudah terhenti, ia mulai menghapus foto – foto dirinya dengan Radit untuk bisa benar – benar melepaskannya. Meski ia belum mendengar alasan apapun dari Radit, ia sudah bertekad bulat untuk mengakhiri hubungannya dengan laki – laki itu. Seusainya rampung menghapus seluruh foto mereka berdua, Dira kembali melemparkan hp nya ke atas meja dengan kasar.


Ting!


Terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari ponsel Dira, ia menghela nafasnya panjang lalu segera meraih ponselnya dari atas meja. Sejenak Edgar dan Axel memandang sahabatnya itu lekat, mereka berdua juga tampak begitu antusias menunggu jawaban dari Radit.


______ Original Message______


To           : Dira


Sender  : Radit


Halo Dira,


Terima kasih karena menghubungiku, dan aku terima keinginan mu untuk mengakhiri hubungan kita.


Sejujurnya aku sangat malu sekarang, karena kamu mengetahui siapa aku yang sebenarnya, benar yang kamu pikirkan Dira memang aku tidak menyukai mu. Aku memang menyukai pria! Pria yang tadi datang sejujurnya adalah kekasihku.


Maafkan aku yang telah memanfaatkanmu untuk menutupi jati diriku yang sebenarnya Dira, maafkan aku yang mungkin saat ini membuatmu hancur berkeping – keping, dan mungkin membuatmu memandang diriku ini sebagai seseorang yang teramat hina. Karena aku berbeda.


Aku tidak ingin banyak orang menyadari bahwa diriku sangat berbeda, aku tidak ingin membuat para staf dan pegawai kafe ku ketakutan berada didekatku, untuk itu aku memanfaatkan keberadaan mu untuk meyakinkan orang - orang disekelilingku bahwa aku adalah pria normal.Tapi justru aku membuatmu begitu terluka ketika mendapati jati diriku yang sebenarnya.


Namun satu hal yang aku ingin kamu percaya Dira, bahwa setiap hal yang kulakukan padamu adalah tulus, seperti saat aku melakukan sesuatu untuk adik perempuanku. Aku senang bisa menikmati hari – hari ku denganmu, aku senang menemanimu berbelanja, aku senang memasak makanan untuk mu, dan aku senang setiap melihat mu datang ke kafe milikku.


Kamu adalah wanita yang baik, dirimu pasti akan menemukan seseorang yang tepat dan tidak berbeda seperti ku. Semoga ini menjadi awal yang baru untuk mu, dan masa depanmu Dira.


Satu hal yang aku mohon dari mu Dira, tolong kamu simpan semuanya ini untuk dirimu sendiri karena aku tidak akan sanggup menghadapi dunia jika mereka  tahu siapa aku.


Terima kasih Oceana Veddira.


Tangis kembali pecah sesaat setelah Dira membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Radit, Dira semakin terluka saat mengetahui kebenarannya bahwa ia hanya dimanfaatkan untuk menutupi siapa Radit yang sebenarnya.


“ Dasar brengsek! “ Axel bangkit dari kursi yang ia tempati dan dengan emosi yang meluap – luap ia berlari keluar dari bangunan rumah tinggal Dira, sekelebat Axel berlari menuju kedai kopi milik Radit.


“ Xel! “ Dira berteriak kemudian ikut berlari mengejar Axel, Edgar menyusul kedua temannya itu.


Sementara Sandro dari balkon kamarnya yang remang – remang ia melihat ketiga pemuda yang tadi duduk diruang tamu, kini mereka berkejaran ditepi jalan yang diterangi lampu jalan yang berpendar kekuningan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun yang ia sadari adalah Dira sedang menangis saat ia pulang tadi.


“ Axel, aku mohon berhentilah “ Dira semakin meraung – raung seraya menarik tangan Axel agar ia mengehentikan langkahnya.


“ Aku siap untuk merelakannya Xel, aku mohon berhentilah. Aku tahu mungkin kamu ingin menghajarnya, tapi kumohon berhentilah “ Tangis Dira yang terdengar semakin lemah memohon.


Melihat Dira yang tampak begitu kuat menghadapi perpisahannya membuat pria berbadan tinggi itu menghentikan langkahnya. Ia meraih lengan Dira dan mengajaknya berbalik kembali menuju rumah tinggal, ia tidak tega melihat Dira begitu bersusah hati.


Dira yang sangat polos dalam hubungan asmara kini harus menelan pahitnya luka tak kasat mata yang benar – benar menyisakan perih yang tidak terperi. Namun wanita itu cukup bijak, ia memilih berhenti dan tidak ingin memperpanjang persoalannya dengan Radit.


“ Aku akan melupakan ini, aku anggap aku tidak pernah menjalani hubungan yang menyakitkan ini. Aku memutuskan melupakan cintaku yang bertepuk sebelah tangan, dan membuka lembaran yang baru “ Ujar Dira pada kedua sahabatnya seraya menyeka air mata yang baru saja jatuh dari pelupuk matanya.