CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
RUANGAN CEO



    Hari itu Dira sudah di sibukkan dengan berkas – berkas pekerjaan yang berhamburan diatas meja, ia mengecek dengan seksama lembaran – lembaran kertas yang membutuhkan approvalnya. Sesekali wanita cantik itu mengalihkan pandangan tajam matanya dari berkas dan berpindah pada layar komputer di meja kerjanya.


    “ Meira? Mei? “ Panggil Dira pada Meira, salah satu anggota tim nya.


    “ Coba kamu cek untuk invoice ini, faktur pajak yang kamu lampirkan itu tidak sesuai dengan nilai yang ada pada invoice. “ Suara Dira terdengar saat Meira sudah masuk kedalam ruangan bersekat kaca itu.


    “ Maaf bu, akan saya cek kembali. “ Wajah Meira tampak kesal saat menerima berkas yang dikembalikan oleh Dira baru saja, perempuan yang usianya sepantaran dengan Dira itu kemudian berlalu dari dalam ruangan Dira.


Kring.. Kring.. Kring


    Terdengar suara telepon dari meja Ellena berdering, tidak berapa lama telepon kabel itu berganti berdering kedalam ruangan Dira. Segera wanita berparas ayu itu meraih gagang nya dan menjawab panggilan yang masuk.


    “ Oh baik Pak. “ Ucap Dira saat mengangkat gagang telepon  kemudian menutup kembali pesawat teleponnya.


    Sesudahnya Dira beranjak dari dalam ruangannya dan meninggalkan ruang kerja departemennya. Ia menuju ruangan berdidinding kaca yang tepat berada didepan ruang kerja tim nya itu. Perlahan Dira mendorong pintu kaca disana dan mendapati Alice menyambutnya dari meja kerjanya.


    “ Selamat Siang Ibu Alice, tadi Pak Sandro memanggil saya Bu. “ Dengan sopan Dira menyampaikan maksud kedatangannya ke sana.


    “ Tunggu sebentar Ibu Oceana. “ Alice tampak mengetuk pintu kayu disana kemudian masuk kedalam ruangan Sandro singkat lalu kembali lagi mendapati Dira yang masi mematung menunggunya didepan ruang kerja Sandro.


    “  Silahkan masuk Ibu Oceana. “ Alice mempersilhakan Dira masuk kedalam ruang kerja Sandro.


    Wajah Dira berubah menjadi sangat kagum saat masuk kedalam ruang kerja eksklusif dan sungguh terlihat elegan itu. Sofa besar berwarna hitam tertata rapi didepan meja kerja Sandro yang berbentuk L berwarna hitam senada dengan kursinya.


    “ Duduk Dir. “ Sandro kemudian mendekati Dira yang sudah duduk didepannya, lelaki tampan itu kemudian mengulurkan beberapa lembar kertas pada Dira.


    Sesaat Dira membaca berkas – berkas ditangannya yang dipenuhi dengan banyak angka dan tabel – tabel itu dengan sangat seksama. Sesekali ia membandingkan data yang ada di meja kaca didepannya itu.


    “ Bagaimana menurut mu Dira dari kedua perhitungan mereka mana yang lebih memungkinkan? Apa menurutmu perlu dicarikan kontraktor lain? “ Suara Sandro terdengar meminta pendapat dari Dira.


    “ Maaf Pak, saya sedikit agak bingung. Angka ini diperoleh dari mana ya Pak? “ Dira menunjukkan sebuah kolom pada perhitungan rencana anggaran pembangunan pabrik yang baru saja dikirimkan oleh kontraktor yang memberikan penawaran harga.


    “ Mereka mengirimkan perhitungan excelnya, coba kemari. “ Sandro kembali menuju kursi kerjanya dan membuka file yang ia maksud dari layar komputernya dan mengarahkan layar tersebut menghadap pada Dira.


    Dengan seksama Dira melihat angka – angka yang tercantum disana, sedikit membungkkukan badannya Dira kemudian meraih mouse tanpa kabel diatas meja kerja Sandro. Ia mengarahkan kursor pada angka – angka yang masih belum ia pahami cara perhitungannya.


    “ Ini dari mana ya Pak, sebentar saya perlu memahami. “ Dira masih memegang mouse ditangannya.


    Wajah Sandro juga terlihat berpikir dalam saat menatap angka – angka disana, saat menemukan cara perhitungannya  Sandro mengambil alih mouse yang dipegang oleh Dira. Tanpa sengaja Sandro menyentuh tangan lembut Dira yang masih memegang benda berwarna hitam diatas meja nya itu.


    “ Ah maaf Pak. “ Ucap Dira pelan saat terkaget karena Sandro menyentuh tangannya meski itu tidak sengaja, gadis itu segera menarik tangannya pelan.


    “ Oh oke, saya rasa dari sini Dir. “ Sandro menunjukkan kolom lain dan menemukan perhitungan yang tepat.


    “ Jadi bagaimana? “ Sandro tanpa aba – aba mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke arah wajah Dira yang masih fokus melihat deretan angka disana.


    Sekilas Dira menoleh kearah Sandro, jarak wajah mereka sungguh dekat hingga Dira bisa mendengarkan suara hembusan nafas Sandro. Mata keduanya beradu, Sandro memandang lekat mata Dira yang terlihat teduh dan menenangkan hingga ia lupa untuk berkedip.


    Tok.. tok.. tok..


    Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dira yang sedang tersihir oleh wajah tampan atasannya itu. Segera Dira menarik tubuhnya yang masih membungkuk tepat disampaing tempat duduk Sandro.


    Alice tampak masuk kedalam ruangan Sandro, wajahnya sedikit berubah saat melihat Dira berdiri tepat disamping kursi kerja Sandro.


    “ Pak, mohon maaf apakah boleh dikirimkan datanya saja? Supaya saya dapat analisa terlebih dahulu? “ Tukas Dira dengan kikuk, ia merasa tidak enak dengan kehadiran Alice disana.


    Sepengetahuan Dira, Alice adalah kekasih Sandro yang bahkan sudah diperkenalkan pada orang tuanya. Sehingga ia takut Alice berpikir yang bukan – bukan dengan kedekatan antara dirinya dengan Sandro.


    “ Oh oke, saya kirimkan sekarang. Tolong segera direview. “ Perintah Sandro pada Dira.


    “ Baik Pak, apakah ada hal lain Pak? Jika tidak ada saya permisi Pak. “ Dira sudah siap undur dari ruang kerja Sandro.


    “ Oke, tidak ada Dir. “ Jawab Sandro singkat.


    “ Oh Dira! “ Panggil Sandro lagi saat Dira sudah terlihat melewati Alice yang masih berdiri didekat pintu sementara wanita yang dipanggilnya itu sudah siap membuka pintu kayu yang ada didepannya.


    “Iya Pak? “ Dira melepaskan tangannya dari pegangan pintu.


    “ Nanti malam temani saya ke mall ya? “ Perkataan Sandro baru saja membuat Dira tersentak, sementara Alice tampak memandang Sandro penuh telisik.


    Rasa sungkan dan tidak enak pada Alice tiba – tiba menyeruak kedalam hati Dira, ia takut membuat hubungan kedua orang ini menjadi tidak baik hanya karena keberadaannya. Dira terlihat berpikir sejenak untuk dapat beralasan menolak ajakan Sandro.


    “ Maaf Pak saya tidak bisa, saya sudah ada janji dengan teman saya. “ Jawab Dira beralasan.


    “ Dengan siapa? Axel dan Edgar? “ Tukas Sandro seraya menyilangkan kedua tangannya didadanya seolah mengabaikan keberadaan Alice disana.


    “ Bukan Pak. Saya permisi Pak. “ Dira langsung menghilang dari ruang kerja Sandro dan kembali kedalam ruangannya.


 


    “ Hahahahaha, dia nggak  mau pergi sama aku Lice? “ Ucap Sandro sambil menggaruk – garuk kepalanya, ia berbicara pada Alice yang berdiri didepannya seraya menahan tawa karena menilhat penolakan yang baru saja terjadi didepan mata nya.


    “ Lupakan itu dahulu Pak, sekarang konsultan bangunan sudah menununggu Bapak di ruang meeting. “ Sambung Alice dengan nada formal seraya menyampaikan tujuan utamanya masuk kedalam ruang kerja Sandro.


    “ Hah! Baiklah ayo turun, jangan lupa ipad ku. “ Kata Sandro seraya memberikan perintah pada Alice agar tidak lupa membawa tablet miliknya.