
Sepulang kerja hari itu Dira sudah berjanji bertemu dengan Axel dan Edgar untuk mengunjungi sebuah pameran di pasar malam yang berada di tanah lapang belakang kantor mereka. Tentunya setelah mendapat persetujuan Sandro kekasihnya, Dira diperbolehkan untuk mengunjungi pasar rakyat tersebut.
Meski sebenarnya Sandro meluluskan permintaan Dira dengan berat hati namun nyatanya ia bisa menahan kecemburuannya, ia tahu betul Axel dan Edgar memang tulus menyayangi Dira sebagai sahabat. Mereka justru orang – orang yang selalu menjaga Dira pada saat Sandro tidak bersama perempuan itu.
Dari dalam mobilnya Sandro memandang tiga muda - mudi yang tengah berjalan menyusuri trotoar jalan dengan wajah riang, sekilas ia melihat Dira tertawa memperlihatkan kebahagiaannya. Melihat senyum Dira saja sudah membuat hati Sandro merekah, ia benar – benar jatuh cinta dengan perempuan polos yang bahkan bisa tersenyum dengan senang hanya karena pergi naik kapal kayu menyusuri aliran sungai.
“ Mas nanti temani aku naik komedi putar ya? “ Rengek Dira pada Edgar yang berjalan disamping Dira.
“ Kamu ini seperti bocah tujuh tahun saja mau naik komedi putar, kamu sendiri saja aku tidak mau. Atau sama Axel itu “ Tukas Edgar menolak permintaan Dira.
“ Big No! Aku bisa mual muntah jika naik permainan seperti itu “ Axel juga menolak permintaan Dira.
“ Kalian ini sungguh menyebalkan “ Kesal Dira pada kedua sahabatnya, ia lalu berjalan dengan cepat meninggalkan dua orang pria itu tertinggal dibelakangnya.
“ Marah dia Xel “ Edgar menyenggol lengan Axel.
“ Seperti tidak tahu Dira saja, lima menit lagi juga sudah kembali mendekat dan merengek meminta hal lain “ Tukas Axel yang sudah mulai memahami watak sahabatnya.
“ Bagaimana dia bisa bertahan dengan Pak Sandro ya? Pak Sandro kan kalau dikantor ya you know kan? “ Sambung Edgar sambil memandang Dira yang menurutnya masih seperti bocah.
“ Entah lah Gar, tapi Dira sendiri kalau urusan pekerjaan juga begitu kan Gar? Dia orangnya kalau urusan pekerjaan strict banget kan? “ Lanjut Axel sambil memandang Dira yang kini tampak berhenti pada sebuah penjual mainan pada kedai tenda nya.
Dira tampak membungkukkan badannya memandang sepasang kura – kura lucu yang dijual seorang pria paruh baya. Ia mengamati gerakan – gerakan lucu kura – kura yang mungil didepannya dengan sangat gemas.
(Source : Internet)
“ Pak, saya mau sepasang ya? Bisa tahu nggak yang jantan mana terus yang betina mana? “ Tanya Dira pada si penjual.
“ Bisa Mbak, mau dipisah tempat apa biarkan satu tempat? “ Sambung si penjual itu kemudian.
“ Dipisah Pak, yang perempuan masukkan ke wadah yang bertutup pink yang? Yang jantan wadah bertutup biru “ Pinta Dira pada si penjual.
Pria itu kemudian mengecek jenis kelamin kura – kura yang dijualnya itu lalu memisahkan mereka dalam dua wadah yang berbeda. Dira kemudian mengulurkan beberapa lembar uang pada penjual, lalu ia menerima satu kantong berisi kura – kura beserta rumah dan pakannya.
“ Ya ampun, ngapain kamu beli begituan? “ Tukas Axel sambil memandang dengan bingung kantong plastik yang berada ditangan Dira.
“ Hahaha, ya ku pelihara lah Xel! “ Ucap Dira sambil tertawa dengan riang, sudah lupa dengan kekesalannya pada kedua sahabatnya itu karena mereka tidak mau ikut bersamanya naik komedi putar.
***
Setelah puas mencoba beberapa wahana, mencicipi berbagai macam makanan yang khas dijual pada acara pasar malam, Edgar beserta kedua sahabatnya itu memutuskan kembali ke mess dan rumah tinggal mereka. Selain karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Shella kekasih Axel sudah menelpon pria itu beberapa kali.
“ Sana masuk! See you tomorrow Dira! “ Ucap Edgar pada Dira saat mereka sudah berhenti didepan pagar rumah tinggal.
“ Daaaaah! Sampai jumpa besok ya guys! “ Dira melambaikan tangannya pada Edgar dan Axel kemudian masuk kedalam rumah dengan wajah yang berseri – seri.
“ Malam sekali, kalian kemana saja? “ Ucap Sandro sambil memasang wajah cemberut.
“ Lihat! Aku membeli sesuatu “ Dira menyodorkan kantong plastik berwarna hitam pada kekasihnya yang tampak murung itu.
“ Apa? “ Dengan senyuman yang merekah Sandro meraih kantong plastik dari tangan Dira dan menarik tangan kekasihnya itu agar masuk kedalam flatnya.
Sandro tampak antusias membuka bungkusan yang baru saja diulurkan oleh Dira kepadanya, wajahnya semakin terlihat merona saat melihat dua ekor kura – kura yang bergerak dengan lincah didalam aquarium plastik.
“ Wah lucu sekali, kamu membeli ini untuk kita sayang? “ Tanya Sandro dengan wajah riang.
“ Hmm, kita pelihara bersama ya Kak? Kakak pelihara yang jantan dan aku yang betina “ Ujar Dira seraya menunjukkan tangannya pada hewan mungil diatas meja.
“ Oke, aku suka “ Sambung Sandro kemudian.
Sandro kemudian memeluk tubuh kekasihnya itu dan menariknya kedalam dekapannya, ia mengecup puncak kepala Dira singkat. Pria itu benar – benar bahagia bisa memiliki Dira, perempuan luar biasa namun begitu sederhana.
“ Hmm, kamu tadi makan sate ya? Rambut mu bau asap! “ Goda Sandro setelah menarik kecupannya dari kepala Dira.
“ Ck! Menyebalkan! Siapa suruh peluk – peluk aku yang belum mandi “ Dira memukul dada bidang Sandro dengan kesal.
“ Hahaha, karena aku rindu. Kamu menghabiskan satu sore mu bersama mereka si Axel dan Edgar, sementara aku? Bahkan makan sendirian dimeja situ “ Sandro bergantian memasang wajah kesal.
“ Aku juga rindu tahu kak “ Dira kemudian memeluk pinggang kekasihnya itu dengan manja.
Sandro tampak mendekatkan wajahnya ke wajah Dira lalu dengan lembut mengecup bibir kekasihnya itu. Perlahan laki – laki itu ******* bibir Dira yang ranum seraya semakin mengeratkan dekapannya pada kekasihnya, Dira juga membalas sama lembutnya ciuman Sandro hingga mereka berpagut untuk beberapa saat.
“ I love you Oceana Veddira “ Bisik Sandro dengan pelan setelah ia menarik bibirnya dari bibir Dira.
“ I love you more sayang “ Jawab Dira yang masih mengalungkan tangannya di pinggang Sandro.
Pasangan kekasih itu kemudian kembali memandang dengan gemas dua ekor kura – kura yang baru saja dibeli oleh Dira. Menggunakan ibu jarinya, Sandro tampak mengusap dengan pelan cangkang kura – kuranya yang berwarna hijau kekuningan itu.
“ Kita beri nama apa sayang? “ Tanya Sandro sambil memandang wajah kekasihnya.
“ Hmmm, aku ingin menamai milikku Ohana! Kalau kau sayang? “ Ujar Dira setelah beberapa saat ia berfikir.
“ Hmmm, Odie! Bagaimana? “ Sambung Sandro meminta pendapat kekasihnya.
“ Odie dan Ohana? Aku suka mendengarnya sayang “ Dira mengiyakan perkataan Sandro, kemudian mereka sepakat menamai kura – kura mereka Odie dan Ohana.
“ Jangan sampai mati ya sayang? “ Pesan Dira kemudian pada kekasihnya.
“ Tunggu, aku mau menerima Odie sebagai hewan peliharaan hanya dengan satu syarat! “ Sambung Sandro sambil mendorong akuarium milik Odie menjauh dari dirinya.
“ Apa? “ Tanya Dira dengan wajah bingung sambil menatap tajam ke arah Sandro.