
Dira masih belum beranjak dari kursinya dan masih berdiam didalam ruang rapat yang berada di lantai lima bangunan gedung milik Segah Basadewa Group. Sementara Sandro sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan bersama Alice dan juga Pak Albert.
Shella kekasih Axel juga telah lebih dahulu berpamitan meninggalkan Dira dan segera kembali ke ruangannya bersama dengan Meira. Axel menatap wajah murung Dira, berkali – kali Pria itu menyenggol bahu Dira dengan lengannya tetapi wanita cantik itu sama sekali tidak bergeming.
Segera dengan paksa Axel menarik tangan Dira agar cepat bangkit dari kursinya, akhirnya pria itu berhasil mengajak Dira keluar dari ruang rapat dan berjalan sembari mengalungkan sebelah tangannya tepat dipundak sahabat perempuannya itu.
“ Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Dir, nama nya orang bekerja wajar saja jika melakukan kesalahan “ Hibur Axel pada Dira yang terlihat masih memasang wajah masamnya.
Dira mengangkat wajahnya perlahan menatap lurus kedepan lorong yang ada dihadapannya, tangan Axel juga masih berada pada pundaknya sesaat mata Dira beradu dengan mata Sandro. CEO muda itu masih berdiri mematung didepan lift bersama dengan Alice dan beberapa orang yang lain. Tatapan Sandro kini beralih pada tangan Axel yang merangkul Dira.
“ Aku lewat tangga saja Xel “ Ucap Dira dengan ketus seraya mengibaskan tangan Axel keudara saat ia melewati Sandro dan rombongan yang masih menunggu kedatangan lift tanpa permisi. Perempuan itu hanya melirik dengan tatapan kesal pada kekasihnya yang memandangnya penuh harap agar turun bersama – sama dengannya.
“ Permisi Pak “ Sapa Axel dengan halus kemudian mengejar Dira yang sudah menghilang dibalik pintu menuju tangga.
*Sandro menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya dan memandang dengan tatapan bingung dan setengah kesal ke arah tangga darurat yang berada tidak jauh dari lift*. Setelah pintu besi terbuka, pria tampan itu segera masuk kedalam lift diiringi oleh Alice dan beberapa orang manajer juga Pak Albert.
Setibanya didalam ruang kerjanya Sandro langsung melepaskan jas nya dan menjatuhkan tubuh kekarnya diatas kursi kerjanya yang berpunggung tinggi itu. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi dan menatap tajam ke arah langit – langit.
“ Hah sial, bagaimana si Axel bisa dengan sesuka hatinya menyentuh kekasihku! “ Dengus Sandro dengan sebal sembari memukul – mukul lengan kursi.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar ketukan ringan pada pintu kayu ruang kerja Sandro, sesaat Alice menampakkan dirinya setelah Sandro mempersilahkan sekretaris cantik itu masuk kedalam ruang kerjanya. Alice mengulurkan satu cangkir crown jewel tea keatas meja kerja Sandro, itu adalah teh bunga kesukaan Sandro. Sekilas pria itu menghirup aroma teh nya dengan tarikan nafas yang kuat, kemudian meniupnya perlahan dan mengecap teh nya yang masih hangat itu.
“ Alice, apakah menurut mu Dira marah padaku? “ Ucap Sandro tiba – tiba pada Alice yang sedang sibuk menyusun berkas yang berhamburan di meja kerja Sandro.
“ Hmm, memangnya kenapa Ibu Oceana marah kepada Bapak? “ Alice sekilas memandang wajah tampan kakak sepupunya itu.
“ Ck! Sudahlah “ Sandro berdecak sebal melihat respon Alice yang justru membalikkan pertanyaan kepadanya.
***
Sepulang kerja Dira langsung menuju ke rumah tinggalnya, dilihatnya mobil gagah milik Sandro sudah terparkir dihalaman rumah. Dira mendengus dengan sebal saat melihat si pemilik mobil juga berada disana, kekesalannya pada Sandro masih tertinggal didalam hati seharian ini.
“ Dira, ayo jalan sebentar “ Panggil Sandro dengan suara lantang saat Dira hendak berjalan melewatinya tanpa menyapa.
“ Tidak mau “ Jawab Dira dengan nada juteknya.
“ Shhh, ayo! “ Sandro mendesis kesal, ia langsung saja meraih tangan Dira dengan cepat dan mendorongnya dengan pelan masuk kedalam mobil.
Dira terlihat enggan untuk memandang wajah Sandro bahkan ia berkali – kali memanyunkan bibirnya, ia juga tidak memasang sabuk pengamannya. Setelah kembali masuk kedalam mobil Sandro memandang wajah kekasihnya yang terlihat begitu kesal. Ia kemudian mendekatkan tubuh atletisnya itu pada Dira, lalu menarik seat belt dari tempatnya dan memasangkannya untuk wanita yang teramat ia sayangi itu.
“ Kamu kenapa sayang? “ Sandro menyentuh puncak kepala Dira namun perempuan itu menepisnya dengan kesal, masih dengan diam membisu.
Sandro kemudian menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang, lelaki itu terdengar bersenandung dengan riang mengikuti alunan musik yang diputar didalam mobilnya. Sementara Dira masih dengan memanyunkan wajahnya sesekali memandang ke arah pacarnya.
“ Kamu itu kenapa sayang? “ Sandro kembali bertanya pada Dira seraya mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk disampingnya.
Dira masih saja menyimpan suaranya dan terlihat enggan untuk berbicara dengan Sandro, hingga akhirnya laki – laki itu menepikan mobilnya pada sebuah taman kemudian ia turun. Segera saja putra tunggal Hiskia Basadewa itu membuka pintu untuk Dira, dan meraih tangan perempuan itu dengan lembut.
Saling bergenggaman tangan pasangan kekasih itu berjalan menyusuri jalanan taman yang masih terlihat terang. Sesekali Sandro melemparkan pandangannya ke arah wanita yang sedang marah padanya itu.
“ Apa kamu marah sayang karena kejadian di kantor hari ini? “ Sandro mengawali pembicaraannya seraya memasukkan tangan Dira yang ia genggam didalam saku jasnya.
“ Hmm, kenapa Kakak marah – marah padaku? “ Tukas Dira masih dengan mencibikkan bibirnya.
“ Sayang, aku marah karena memang urusan pekerjaan jangan dibawa – bawa dalam hubungan kita dong “ Ucap Sandro sembari memutar tubuh Dira agar menghadap padanya.
“ Atau kamu memang tidak mengakui kalau itu sebuah kesalahan? “ Sandro dengan sangat hati – hati melemparkan pertanyaan pada kekasihnya.
“ Ya aku tahu Kak aku salah dan aku mengakui itu, tapi kenapa Kak Sandro harus marah didepan mereka semua? Lalu kenapa tadi harus melemparkan map nya diatas meja “ Dira masih saja cemberut.
“ Sayang, itu kan urusan pekerjaan dan karena aku kan memang atasan mu di tempat kerja. Kita harus bisa memisahkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi kita? Hmm? Kita harus profesional Dira sayang “ Sandro menyentuh puncak kepala pujaan hatinya itu dengan sebelah tangannya.
“ Iya aku tahu aku salah karena melemparkan map diatas meja, tapi kemarahan ku tadi hanya bermaksud agar tim ku bekerja dengan lebih baik lagi, supaya kalian tidak melakukan kesalahan lagi “ Tukas Sandro sembari menarik Dira kedalam pelukannya.
“ Jangan marah lagi ya? Cukup masalah kantor kita selesaikan di kantor, dan saat ini aku bukan atasanmu, aku adalah milik mu sayang jadi aku tidak akan marah – marah seperti tadi saat dikantor “ Sambung Sandro lagi.
Laki – laki itu sangat profesional sekali, bahkan ia bisa memisahkan dengan tegas persoalan pekerjaan dengan persoalan pribadinya bersama Dira. Memang benar saat dikantor lelaki itu bisa menjadi seorang atasan yang perfeksionis, namun sebagai seorang kekasih Sandro justru berubah menjadi pribadi yang selalu menenangkan dan bisa membuat Dira menjadi sangat nyaman.
“ Kita harus tetap menjaga profesionalitas kita sayang saat berada di kantor, bahkan kamu sendiri yang mengatakan seperti itu bukan? Kamu bahkan sampai ingin menyembunyikan hubungan kita, artinya kamu ingin kita tetep profesional bukan? “ Sandro mengendurkan pelukannya dan memandang wajah kekasihny yang masih menempel pada dada bidangnya.
“ Jadi maafkan aku ya sayang? Jangan marah lagi ya? “ Sambung Sandro masih dengan suaranya yang sangat lembut.
“ Hmm, aku juga minta maaf kak sudah bersikap seperti ini “ Sesal Dira sambil terus mengeratkan pelukannya pada Sandro.
“ Jadi kita sudah berbaikan ya? Jangan cemberut lagi, nanti semakin cantik “ Goda Sandro seraya mengusap – usap kepala kekasihnya itu dengan sangat lembut.
“ Hmm “ Gumam Dira mengiyakan.
“ I love you, Oceana Veddira “ Bisik Sandro sambil terus merengkuh tubuh langsing Dira kedalam pelukannya. Dira belum menjawab, ia hanya semakin mengeratkan tautan tangannya pada pinggang Sandro.
(Source : Internet)