
Sandro kemudian beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu, sekeluarnya dari kamar tidur ia menenteng satu buah box berwarna hitam yang tampak tidak asing bagi Dira.
Pria itu kemudian mengulurkan benda ditangannya itu pada kekasihnya, kotak berwarna hitam doff yang pernah Dira kembalikan padanya. Dompet yang pernah Sandro beli saat laki – laki itu pergi ke Singapura, ia ingin Dira menerimanya.
“ Aku mau kamu terima ini, jika tidak aku tidak mau memelihara Odie, akan ku telantarkan dia “ Ucap Sandro seraya menunjuk ke arah kura – kura diatas meja dengan dagunya.
“ Hmmm, tidakkah aku terlalu banyak menerima banyak hal dari mu sayang? Dan ini sangat mahal, rasanya aku tidak bisa menerimanya. Sungguh “ Dira masih berusaha menolak pemberian Sandro kepadanya.
“ Ck! Lalu akan ku apakan jika kamu tidak menerimannya? Aku buang? Atau kuberikan pada Bu Lisa? “ Sambung Sandro dengan kesal.
“ Sedih rasa nya kamu menolak pemberian ku seperti ini, padahal aku berlama – lama di gerai memilih dengan seksama sesuatu yang kurasa cocok buatmu. Tidak kah kamu menghargai waktu yang sudah kupakai untuk menentukan pilihanku ini? “ Tegas Sandro kemudian.
“ Tapi hanya kali ini ya? Jangan pernah memberiku sesuatu yang seperti ini, akan terlalu sayang untuk digunakan “ Sambung Dira kemudian.
Akhirnya Dira menerima dompet yang memang sengaja dipilih Sandro untuknya saat ia pergi ke Singapura waktu itu. Sebenarnya Dira sangat senang saat menerima pemberian Sandro, hanya saja ia merasa terlalu sayang jika memakai benda yang harganya terlampau mahal, ia juga takut jika sampai merusaknya.
“ Terima kasih banyak sayang “ Ucap Dira sambil lagi – lagi merengkuh tubuh Sandro yang tinggi tegap itu.
“ Hmm, jangan pernah menolak lagi apapun yang kuberikan padamu. Aku memberikan mu sesuatu karena aku ingin melihatmu memakai sesuatu yang aku pilihkan. Memilihkan barang untuk orang yang kita sayangi itu rasanya sangat menyenangkan “ Jawab Sandro seraya mengacak rambut Dira.
“ Iya sayang, tapi jangan yang mahal – mahal begini. Mungkin bagimu ini harganya tidak seberapa, tapi bagiku? “ Tukas Dira seraya mengendurkan pelukannya dari kekasihnya itu.
“ Hmm, iya sayang “ Sandro mencubit pipi Dira dengan sangat gemas.
“ Lalu kapan kita akan menikah? “ Tanya Sandro tiba – tiba.
Wajah Dira kini terlihat memerah, belum lama dirinya berpacaran dengan Sandro tetapi laki – laki itu tiba – tiba saja membuka pembicaraan soal pernikahan. Dira yang tadinya berdiri dekat dengan Sandro kini terlihat melenggang kearah dapur lalu meraih satu buah gelas kaca dan mengisinya penuh dengan air kemudian meneguknya dengan cepat.
“ Hmm, jadi kapan kita akan menikah? “ Sandro mengikuti Dira berjalan ke arah dapur lalu laki – laki itu mengunci pergerakan Dira dengan kedua tangannya. Dira terperangkap disudut meja dapur dan tangan Sandro terlihat menghalangi nya agar tidak bisa menghindari Sandro.
“ Minggir sayang, aku belum mandi. Awas aku mandi dahulu ya? “ Dira beralasan agar bisa lepas dari Sandro.
“ Apa kamu tidak ingin menikah dengan ku? Apa kamu juga tidak ingat pesan Papa agar kita dapat segera menikah? “ Tanya Sandro lagi sambil menatap lekat wajah kekasihnya itu.
“ Tentu saja aku ingin menikah dengan mu sayang, tapi tidak sekarang atau tidak dalam waktu dekat. Kita masih harus lebih mengenal satu dengan yang lain bukan? “ Tukas Dira sambil mendorong tubuh Sandro agar menjauhi dirinya.
Dira kemudian duduk diatas sofa depan televisi diruang tamu, Sandro mengikuti Dira dan menjatuhkan tubuhnya tepat disamping wanita itu. Sandro memandang lekat wajah cantik kekasihnya, kemudian sesaat ia menyibakkan anak rambut yang jatuh tepat pada kening Dira.
“ Apa kamu masih meragukan ku? “ Tanya Sandro kemudian, ada nada kesedihan disana. Dira tampak berpikir sejanak, ia masih diam.
“ Lalu? “ Tatapan mata Sandro terlihat bahwa ia sangat berharap, ia benar – benar sangat jatuh hati pada Dira.
“ Apa aku pantas mendampingi mu? “ Tanya Dira kemudian.
Sejujurnya yang membuat Dira masih berpikir untuk menikahi Sandro bukanlah karena dirinya merasa ragu atau tidak yakin dengan perasaan kekasihnya itu. Tetapi justru karena ia merasa belum pantas mendampingi seorang pria sehebat Sandro, terlebih Sandro berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Bahkan hampir seluruh negeri mengenal keluarga dan juga semua perusahaan dibawah naungan Segah Basadewa Group.
“ Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu masih takut dengan pemikiran dan penilaian orang lain terhadapmu? “ Tukas Sandro dengan nada bicara yang agak kesal, Dira mengaguk sekilas.
“ Orang lain tidak berhak menilai apa yang tidak mereka kenal dan pahami, aku sangat mengenalmu. Begitu juga Papa, beliau sangat mengenal siapa dirimu dan bagaimana kualitasmu sebagai seorang pribadi, jadi untuk apa memusingkan pendapat orang lain yang tidak mengenalmu dengan baik? “ Ucap Sandro panjang lebar.
“ Sayang, kamu sangat tahu gap yang sebenarnya terbentang diantara kita. Aku sangat takut menghadapi dunia, karena terkadang manusia itu menjadi sangat menyeramkan sayang “ Dira meraih tangan Sandro yang kini terlihat sangat kesal padanya.
“ Kenapa? Kamu takut orang lain berbicara buruk tentangmu? “ Tanya Sandro lagi.
“ Hmm, aku tidak memungkirinya. Aku sangat takut dengan pendapat orang lain jika tiba – tiba saja tersebar kabar kita akan menikah “ Jujur Dira.
“ Sudahlah sayang, apa pentingnya pendapat orang lain? Kenapa sejak awal kita berpacaran kamu selalu saja memikirkan hal ini? Apakah sepenting itu pendapat orang lain bagimu? Orang lain tidak pernah tahu apa yang kita rasakan dan apa yang kita jalani “ Sandro semakin kesal.
“ Aku mohon, biarkan lah orang lain berbicara sesuka mereka. Aku sangat mencintaimu Dira, aku sungguh tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan diluar sana “ Sergah Sandro lagi.
“ Aku juga sangat mencintai mu sayang, sungguh. Hanya saja bukankah manusiawi jika aku berpikiran seperti ini? “ Sambung Dira lagi.
“ Sebenarnya cukup manusiawi, namun lantas ini menjadi tidak manusiawi jika membuatmu takut dalam mengambil keputusan seperti ini “ Jawab Sandro dengan nada nya yang datar.
“ Hmmm, baiklah sayang aku akan memikirkan ini perlahan. Sambil aku akan memperkenalkan mu pada orang tua ku “ Dira akhirnya menyerah beradu argumen dengan Sandro yang tak terbantahkan itu.
Pria tampan itu kemudian mengusap kepala Dira dengan sangat lembut lalu mengecup keningnya dengan pelan. Sorot mata Sandro tidak pernah bisa berbohong, dia selalu menatap Dira dengan tatapan sayang yang begitu dalam.
“ Iya, sana pulang. Mandilah lalu tidur, sudah makan kan? “ Ucap Sandro kemudian sembari terus menghujamkan pandangan matanya pada paras ayu Dira.
“ Sudah sayang, iya kalau begitu aku pulang dahulu ya “ Dira kemudian beranjak dari sofa lalu meraih Ohana dari atas meja bersamaan dengan dompet yang diberikan oleh Sandro. Tidak lupa ia menenteng tas kerjanya disebelah bahunya.
*“ See you and good night baby* “ Ucap Sandro saat mengiringi Dira keluar dari dalam flat nya.
Sejenak Sandro mengawasi langkah kaki kekasihnya yang berjalan menaiki anak tangga menuju kedalam flat Dira dilantai tiga. Sesaat perasaan lega menyelinap didalam hatinya, akhirnya ia bisa membujuk Dira untuk segera memikirkan soal rencana pernikahan. Dirinya sudah benar – benar tidak sabar dan sangat ingin segera mengambil Dira sebagai istrinya.