CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
MALAM MINGGU



    Dira terlihat begitu antusias saat film akan dimulai, sementara Sandro beberapa kali melirik kearah wanita yang duduk disampingnya. Edgar dan Axel tampak saling berbisik saat melihat opening film, lalu tidak sengaja Edgar menoleh ke arah Sandro yang sedang mencuri pandang pada Dira. Dengan sedikit malu lelaki tampan itu membuang pandangannya dari Edgar dan menanatap layar lebar dihadapannya.


    Sandro, seorang pengusaha kaya raya sekaligus anak dari pemilik usaha dengan grup terbesar di negaranya terlihat begitu biasa saja saat bergabung bersama anak buahnya. Bahkan orang – orang tidak akan menyadari bahwa ia seorang konglomerat apabila melihat penampilannya saat ini yang tergolong biasa saja seperti pada umumnya pemuda yang seusia dengannya.


    “ Kamu nggak beli popcorn Dir? “ bisik Sandro pada Dira yang terlihat hanya memegang satu cup minuman yang sama dengan miliknya.


    “ Oh tidak Pak, saya kurang suka. “ Dira balas berbisik pada atasannya itu, Sandro hanya mengangguk – anggukan kepalanya seolah mengiyakan perkataan Dira.


    Beberapa waktu berlalu, ketegangan demi ketegangan muncul didalam film hingga adegan – adegan peperangan juga pembunuhan yang cukup mengerikan ditampilkan dalam film tersebut. Dira sedikit terperanjat ketika muncul adegan seorang panglima perang menebas leher seorang pasukan menggunakan pedangnya.


    “ Hah! “ Jerit Dira pelan sambil menolehkan kepalanya menyusup ke sela kursi dan tidak sengaja menyenggol lengan Sandro yang ada disampingnya.


    “ Kenapa Dir? “ Sandro ikut terkaget melihat tingkah Dira baru saja. Sandro sedikit ragu menyentuh pundak Dira, perempuan itu menghela nafas panjang lalu kembali menghadap kearah layar lebar.


    “ Maaf Pak, agak serem tadi lihatnya. “ Dira berbisik pada laki – laki yang mendekatkan kepalanya kearah mulut Dira yang sedang berceloteh pelan.


    Keduanya kembali ke posisi semula, Sandro si pria tampan itu sesekali memicingkan matanya saat melihat adegan – adegan film yang mereka tonton. Sementara Dira yang hari itu mengenakan blouse berwarna cokelat dengan lengan pendek tampak beberapa kali menghusap bagian tangannya yang tidak terbungkus kain.


    “ Dingin Dir? “ bisik Edgar pada wanita cantik disebelahnya. Perempuan itu mengangguk pelan seraya mencibikkan bibirnya. Tanpa basa basi Edgar melepaskan jaket yang ia kenakan lalu mengulurkan pada Dira, dan mengusap kepala Dira lembut.


    “ Pakai nih, lain kali jangan salah pilih dress code. “ Bisik Edgar terdengar sangat tulus. Dira menjawabnya dengan senyuman manis yang merekah pada sudut – sudut bibirnya, kemudian mengenakan jaket bomber milik Edgar.


***


    Keempat orang dewasa itu terlihat keluar dari ruangan theater, beberapa kali Axel tampak mereganggkan tubuhnya, sementara Edgar agak sibuk memeriksa ponselnya.


    “ Pak saya ke toilet sebentar ya? “ Pinta Dira pada Sandro yang berjalan pelan disampingnya, laki – laki itu mengangguk pelan.


    Dira berlari kecil menuju ke toilet yang masih ada didalam bangunan bioskop, ia menerobos beberapa gerombolan orang yang masih berdiri dilorong – lorong teater. Ia menyelesaikan keperluan mendesaknya kemudian membasuh tangannya pada pancuran air wastafel. Tasnya terasa bergetar beberapa saat ketika ia sedang menyeka tangannya dengan tisu kertas yang tersedia di area toilet. Perempuan itu kemudian menilik kedalam crossbody bag yang menggantung pada bahu kanannya itu, dilihatnya iphone Sandro yang bergetar. Tertulis nama Alice pada layar yang sedang berkedip menerima panggilan telepon itu.


    “ Hah, Ibu Alice. Pasti penasaran dimana pacarnya sekarang. “ Gumamnya pelan.


    Segera setelah memasukkan kembali ponsel Sandro kedalam tasnya ia bergegas mencari keberadaan teman – teman beserta bosnya itu. Ternyata mereka menunggunya didepan pintu masuk bioskop sambil berbincang – bincang dengan agak santai. Dira mengulurkan HP dan dompet milik Sandro saat ia mendapati nya masih berdiri didekat pintu kaca.


    “ Sepertinya ada telepon Pak. “ Ucap Dira pada Pria yang menerima kedua benda tersebut dari tangannya.


    “ Oke. “ Sandro menjawabnya pelan kemudian mengecek HP yang sedari tadi tidak dipegangnya.


    “ Mau makan diluar apa di sini saja? “ Tawar Sandro lagi sambil terus fokus pada HP yang ada dalam genggamannya.


    “ Hmm, kita makan di foodcourt saja ya? “ Sandro memberi pilihan.


    “ Oke Pak. “ jawab Dira, Edgar dan Axel kompak.


    Mereka berempat berjalan menuju food court yang tidak begitu jauh dari gedung bioskop, Dira mulai mencari – cari makanan yang menggugah selera makannya. Sementara Sandro terlihat menelpon seseorang dengan wajah yang cukup serius.


    “ Hmm, apa mereka berkelahi? “ bisik Dira pada dirinya sendiri. Tiba – tiba seseorang menyenggol bahunya pelan.


    “ Woy, apa? “ telisik Axel yang baru saja menyenggol Dira dengan sengaja.


    “ Tadi itu waktu aku di toilet Bu Alice menelpon ke HP Pak Sandro Xel, apa mereka berantem ya? “ Sambung Dira sok tahu.


    “ Kenapa berantem? Emang mereka beneran pacaran? “ Axel menjadi penasaran.


    “ Ih aku belum cerita ya? Aku lihat instagram Pak Sandro tahu, ada foto beliau dengan Bu Alice. Captionnya


aja agak gimana gitu Xel, coba deh kamu lihat. “  Dira kemudian mengambil HP nya dari dalam tas lalu membuka aplikasi yang ia maksud disana. Ia kembali mengetikkan nama Sandro Damaresh, kemudian menekan foto yang ia maksud dan menunjukkan pada laki – laki yang ada disebelahnya itu.


    “ Sepertinya mereka memang dekat sih, tapi apa mungkin mereka berpacaran? “ Axel mengangguk – anggukkan kepalanya seraya memandang postingan foto Sandro yang ditunjukkan oleh Dira itu.


    “ Woy, kalian gosip apa an sih? Nggak  pesen makan? “ suara Edgar mengagetkan kedua orang yang sedang asik berbisik – bisik ditengah keramaian itu.


    “ Aku sudah pesan mas, nggak tahu kalau Axel ini. “ Dira menunjukkan nomor mejanya pada Edgar.


    “ Aku juga sudah kok, duduk ke sana yuk? “ Axel menunjuk kursi didekat televisi yang berada tidak jauh dari tempat Sandro berdiri sambil menelpon. Ketiganya langsung duduk dan meletakkan nomor meja mereka disana sambil menunggu pesanan mereka diantar.


    Sandro tampak menghampiri ketiga orang didepannya setelah selesai dengan obrolannya di telpon baru saja. Ia melirik ke arah meja dan melihat ketiga orang yang pergi bersamanya itu sudah memesan makanan.


    “ Kalian sudah pesan ya? Saya pesan dulu ya. “ Pria berkulit putih itu tampak menghilang menuju stand makanan yang berjajar rapi disana. Tidak lama kemudian ia kembali ke meja yang ditempati oleh Edgar dan kawan kawannya. Ia menarik kursi besi yang berada diantara Edgar dan Axel, ia duduk tepat berhadapan dengan Dira.


    “ Kalian pesan apa? “ Tanya Sandro sambil meletakkan dompet, HP dan kunci mobilnya keatas meja.


    “ Saya nasi bakar Pak. “ sambung Dira.


    “ Oh, sama kita Dir. “ Jawab Pria tampan itu kemudian kembali fokus pada HP yang baru saja ia raih dari atas meja.


    Mereka tampak menikmati makan malam mereka masing – masing dengan begitu lahapnya, sesekali mereka berbincang – bincang dengan seru meski tidak seleluasa saat mereka pergi hanya bertiga saja.