CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
RADIT DAN KEDAI KOPI



    Sepulang dari kantor Dira segera membasuh dirinya dan berganti dengan kaos polos dengan celana training panjang. Ia segera menyelinap dari dalam kamarnya untuk menghindari Sandro, ia berencana menuju kedai kopi milik Radit karena ia tidak ingin Sandro mengetahui dirinya tadi siang sedang berbohong.


    Dira merasa tidak enak karena sudah menolak ajakan Sandro tadi siang, ia terlebih tidak enak pada Alice yang mendengar pembicaraan mereka. Ia takutAlice akan salah paham dan cemburu dengannya.


    Dira segera mengunci pintu kamarnya dan berlari pelan menuruni anak tangga dalam bangunan rumah itu. Ia meraih sendal jepit karet berwarna biru dari dalam rak sepatu berwarna cokelat yang berada tepat didepan pintu masuk rumah tinggal itu.


    “ Mau keluar Dir? “ Ucap Sandro saat mendapati Dira sedang memakai sendal.


    “ Ah iya Pak. Saya permisi dahulu Pak. “ Pamit Dira pada pria itu.


    Sandro berjalan mengekor Dira, perempuan itu mempercepat langkahnya berharap Sandro tidak mengikutinya. Syukur saja Sandro berbelok ke arah pos satpam untuk mengambil kunci mobilnya, sementara Dira sedikit berlari keluar dari gerbang dan menuju kedai kopi disamping rumah tinggalnya itu.


    Sesampainya disana Dira segera memesan cokelat hangat dan memilih tempat duduk didalam ruangan. Ia memilih kursi disudut kafe yang tidak begitu terlihat oleh orang, gadis itu duduk memunggungi pintu masuk takut jika ada orang lain mengenali nya.


    “ Hai Dira, tumben sendirian? “ Suara Radit mengagetkan Dira yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya itu.


    “ Hai, iya Mas Radiit. Teman – teman ku sedang sibuk semuanya. “ Ujar Dira berbohong.


    “ Pantesan, biasa nya kesini bertiga. Kok tumben sekali hari ini sendirian, mau ku temani? “ Radit memasang wajah ramahnya pada Dira.


    “ Oh tidak apa – apa Mas, dilanjutkan saja pekerjaan mu. “ Dira mencoba menolak tawaran laki – laki itu.


    “ Nggak ada kok, aku antar kopi karena kamu yang pesan. Boleh duduk? “  Tanya Radit dengan sopan sambil menunjuk kursi kosong didepan Dira.


    “ Hehe, silahkan Mas. “ Dira akhrinya tidak dapat menolak permintaan pemilik kedai itu.


    Sesaat Radit memandang wajah cantik Dira meski tanpa polesan make up perempuan didepannya itu masih saja terlihat ayu dan menarik. Bahkan dengan pakaian sederhana saja dia sudah begitu cantik dan memikat.


    “ Jadi bagaimana pekerjaan mu dikantor Dira? Pasti seru ya bisa bekerja kantoran? “ Ujar Radit mencoba mencari bahan pembicaraan dengan perempuan yang ingin ia dekati itu.


    “ Ya ada enak nya ada tidaknya lah Mas. Justru Mas sudah punya usaha sendiri begini rasanya lebih menyenangkan. Hehehe. “ Dira terkekeh pelan.


    “ Memang tidak enaknya apa Dira? “ Lagi – lagi Radit berusaha agar pembicaraannya dengan Dira tidak terhenti begitu saja.


    “  Ya banyak sih Mas, pertama kadang – kadang kita dipertemukan dengan teman kantor yang menyebalkan. Belum lagi kalau atasan kita galak, suka kejar – kejar kerjaan gitu. “ Seulas senyuman lahir dari bibir tipis Dira membuat Radit semakin jatuh hati pada nya.


    “ Memang ada teman Dira yang menyebalkan? “ Radit mengajukan pertanyaan lagi pada perempuan yang duduk didepannya itu.


    “ Banyak Mas! Kalau punya usaha sendiri kan enak mas, seperti ini mas mau mengobrol dengan siapapun nggak perlu takut dimarahin sama Bos kan? “ Ujar Dira jujur dengan pandangannya.


    “ Iya betul sekali Dira, hanya saja terkadang sedih tau kalau pas tiba hari kedai sepi pengunjung. Jadi berfikir macam – macam Dir. “ Lanjut Radit mencari perhatian Dira.


    “ Ya kadang kala ada waktu target penjualan tidak terpenuhi juga Dira. Begitu suka duka nya orang membuka usaha sendiri. “ Jelas Radit.


    “  Pernah nggak sih Mas Radit sampai nombok begitu karena penghasilan nggak nutup buat beli bahan baku atau bayar gaji karyawan mas? “ Kini seolah Dira sudah mulai tertarik dengan obrolannya dengan Radit.


    “ Kalau nombok begitu sih belum pernah Dira, tapi omzet dan profit kecil aku pernah mengalami. Namanya orang jualan kadang – kadang ada pasang surutnya Dir. “ Sambung Radit tidak kalah antusiasnya dengan Dira.


     Kedua orang itu mengobrol semakin jauh, tampak Dira juga sudah mulai nyaman dengan keberadaan Radit didekatnya. Dira juga sudah semakin santai dalam bersikap dan bertanya jawab dengan leluasa dengan Radit yang ternyata menyenangkan.


    Sesekali juga terdengar gelak tawa dan candaan yang terlontar baik dari Dira maupun dari Radit yang sudah mulai akrab sejak sore itu. Sesekali wajah mereka juga terlihat agak serius saat membawa sebuah topik obrolan.


    “ Ternyata Mas Radit seru juga ya? Aku kira Mas Radit itu pendiam dan membosankan, hehe. “ Jujur Dira sambil terkekeh.


    “ Kenapa karena wajah ku yang polos ini ya Dir? “ Tukas Radit lugas membuat Dira mengangguk pelan seraya tersenyum dengan tulus.


    “ Dir, kalau kedua teman yang biasanya sering kemari bersama mu itu apakah salah satu diantara mereka adalah pacarmu? “ Kini Radit mengarah pada pembicaraan personal yang membuatDira sedikit bingung menanggapinya.


    “ Hehe, nggak ada sih Mas. Mereka berdua sahabat buatku, Mas Edgar sudah punya pacar kalau Axel juga cuman teman. “ Jujur Dira pada Radit.


    “ Oh begitu, tapi kamu nya sendiri punya pacar? “ Kini Radit bertanya dengan sangat gamblang pada perempuan cantik yang duduk didepannya itu.


    “ Hehe, belum punya mas. Nggak ada yang mau sama aku mas. “ Dira terkekeh sambil mengingat ucapan Edgar dan Axel tempo lalu, bahwa memiliki pacar seperti Dira akan sedikit merepotkan.


    “ Kok ngomongnya begitu Dir? Masa sih kamu belum punya pacar?  “ Tanya Radit lagi seolah ia tidak percaya dengan perkataan Dira baru saja.


    “ Beneran Mas, aku belum punya pacar. Kenapa? Mau kenalin aku sama laki – laki ganteng emangnya? “ Goda Dira pada laki – laki yang duduk tepat didepannya itu.


    “ Apa kamu males kali Dir cari pacar? “ Lebih jauh Radit sedang berusaha menggali informasi soal Dira.


    “ Nggak juga sih Mas, karena mungkin memang aku jarang banget ya keluar rumah dan ketemu orang – orang jadi agak susah ketemu jodohnya, hehehe. “ Dira terkekeh dengan perkataannya sendiri.


    “ Tapi ini kamu sering banget main ke sini? “ Tukas Radit sambil mengingat – ingat jumlah kunjungan Dira ke kedai kopi miliknya.


    “ Karena ini dekat banget sama tempat tinggal ku Mas, kalau jauh sih ya pasti aku bakal jarang jajan ke sini. “ Jujur Dira pada laki – laki yang sedang memandangnya penuh arti itu.


    Setelah beberapa lama melanjutkan obrolannya, Dira berpamitan karena kebetulan hari sudah agak petang. Radit dengan senang hati ingin mengantarkan Dira sampai rumah tinggalnya, pria itu beralasan karena hari sudah gelap sehingga ia tidak tega membiarkan Dira pulang sendirian.


    “ Terima kasih yang Mas, aku masuk dahulu. “ Pamit Dira seraya melambaikan  tangannya pada Radit yang mengiringi nya masuk kedalam pagar rumah mewah itu.


    Dira melirik sekilas mobil Sandro yang sudah terparkir ditempat biasanya, cepat – cepat ia masuk kedalam rumah. Tetapi siapa sangka Sandro sedang memandangi Dira yang berjalan masuk kedalam rumah dari balkon kamarnya yang remang – remang dilantai dua.