CRUSHED BY CEO

CRUSHED BY CEO
PERGUNJINGAN



Sekembalinya dari makan siang, Dira langsung menuju ruangannya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tak kunjung selesai. Ia baru saja menerima berkas dari Ellena lalu segera memeriksanya dengan cermat, sesudahnya ia memberikan tanda tangannya pada lembaran kertas itu dan membawanya menuju ruang kerja Sandro.


“ Kesempatan, ketemu pacarnya lagi itu “ Guman Meira sambil menantap kearah pintu sesaat Dira keluar dari ruang kerja departemennya.


“ Sudahlah Mei, kamu ini dari tadi kok seperti nya tidak suka dengan kenyataan yang ada “ Ellena terdengar memberikan pembelaan untuk Dira.


“ Iya Mei, lagi pula menurutku Pak Sandro dengan Ibu Dira pasangan yang serasi kok “ Tukas Shella tanpa mengalihkan pandangannya pada Meira.


*“ Hahaha, pantas dari mananya Shel? Ya ampun apa kamu nggak* merasa kalau Ibu Dira itu hanya cantik saja? Pasti karena cantik sih makanya Pak Sandro mau “ Meira kembali tertawa dengan sinis.


“ Lagi pula aku yakin, kalau bukan karena dia pacarnya Pak Sandro nggak bakalan deh dia menjadi manajer. Bayangkan, diusia sebelia ini bagaimana mungkin bisa menjadi manajer kalau dia nggak punya power apa – apa seperti kita “ Lagi – lagi Meira membuka mulut jahatnya.


“ Sudahlah Mei, jangan membuat gosip yang semakin macam – macam. Toh kamu juga tidak tahu kebenarannya bukan? “ Ellena kini terdengar semakin enggan dengan sikap Meira yang berfikir begitu negatif terhadap Dira.


“ Iya Mei, toh bukan hanya Ibu Dira yang menjadi manajer diusia yang masih muda. Lihat Pak Edgar sama Pak Axel? “ Potong Shella lagi.


" Sudah Ibu - Ibu, jangan bergosip terus! Lagi pula mau Ibu Dira dan Pak Sandro berpacaran atau tidak itu kan hak mereka! Kita tetap masih minta makan sama Pak Sandro bukan? " Tukas seorang pria yang merupakan salah satu anggota staf pajak di departemen Dira.


“ Kalian ya baru dibelikan makan siang sekali saja sudah begitu membela nya “ Meira beranjak dari kursinya dan meraih gagang pintu untuk menuju ke toilet.


Bertepatan dengan Meira yang membuka daun pintu terlihat Dira sudah berdiri mematung disana, wanita itu sudah berdiri disana beberapa saat dan  mendengar pergunjingan stafnya baru saja. Perasaannya bercampur aduk, ia merasakan kesedihan, sekaligus kekesalan juga rasa tidak terima. Ia benar – benar berjuang dari nol dan bisa diangkat menjadi manajer setelah ia melewati masa adaptasi yang cukup berat saat mutasi, tetapi ada orang yang justru meremehkannya.


“ Oh Ibu Dira, permisi bu saya mau ke toilet “ Meira tampak tergagap saat berpapasan dengan Dira diambang pintu.


“ Silahkan “ Jawab Dira singkat sembari mengulum senyum, senyuman palsu yang ia sunggingkan untuk menutupi kesedihan hatinya.


Tanpa memandang wajah staf nya yang terlihat begitu canggung dengan kehadiran Dira yang tiba – tiba, Dira langsung masuk kedalam ruang kerjanya dan menutup pintu dengan cukup keras. Ia ingin menangis sekeras - kerasnya, mereka tidak tahu perjuangannya yang tiba – tiba saja dipindahkan dari zona nyaman ke cabang baru yang ia tempati saat ini.


Ia yang biasanya menjalankan pekerjaan sesuai instruksi dan tidak memiliki kendali memegang tanggung jawab harus dengan paksa didewasakan untuk bisa mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dira yang biasanya diayomi oleh Pak Kevin tiba – tiba saja dikirimkan jauh dari teman – teman lamanya di kantor pusat.


Orang lain mungkin tidak menyadari betapa berat tanggung jawab dan proses yang harus Dira pikul juga lalui, hal yang tidak mudah untuk dijalani.  Tetapi justru sekarang orang menganggapnya bisa memiliki posisi dan jabatan penting diperusahaannya karena dia adalah kekasih Sandro.


“ Kalian tidak tahu apa – apa soal diriku “ Gumam Dira dengan suara bergetar menahan tangis yang siap membuncah dari dalam dadanya.


***


Banyak mata memandangnya dengan tatapan tidak menyenangkan, bahkan ada diantara mereka yang tampak berbisik satu dengan yang lain. Sungguh membuat Dira merasa risih dan tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian. Dira sebenarnya adalah tipikal wanita yang bekerja dalam diam, ia tidak suka menjadi sorotan dan cenderung bekerja dibalik layar.


Sehingga saat orang lain memperhatikannya terlebih hal yang menyangkut dengan kehidupan pribadinya sungguh membuat dirinya merasa  sangat menderita. Kepala wanita itu tertunduk lesu, dan berjalan dengan gontai meninggalkan bangunan megah miliki Segah Basadewa Group.


“ Benarkan apa yang menjadi ketakutanku selama ini, kenapa aku bisa bodoh sekali mau saja diajak pergi berkencan hari itu “ Sesalnya seraya menitikkan air matanya.


Perasaan sedih mulai menyeruak kedalam hati Dira, benar yang ia takutkan selama ini orang – orang menganggapnya tidak pantas untuk mendampingi Sandro. Bahkan oleh Meira, staf nya sendiripun menganggap Dira bisa menduduki posisi manajer karena campur tangan Sandro padahal tidak sama sekali.


“ Kenapa wajah mu begitu murung sayang? “ Sandro terlihat keluar dari dalam mobilnya yang baru saja parkir didepan bangunan rumah tinggal.


“  Hmm, tidak apa – apa “ Dira berjalan melewati Sandro tanpa menyunggingkan senyumannya dan terkesan perempuan itu mengabaikan kekasihnya.


“ Apa karena gosip – gosip itu lagi? “ Sandro mengikuti langkah kaki Dira yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya.


Dira tidak bergeming, perempuan itu tampak melepaskan sepatu kerjanya dan langsung memasukkan kedalam lemari sepatu yang berada tepat didekat pintu masuk. Perempuan itu juga langsung naik menyusuri tangga berlantai kayu didepannya.


*Tanpa mengucapkan sepatah katapun Dira melewati flat* Sandro dan langsung menuju tempat tinggalnya di lantai tiga. Sandro menghela nafasnya pelan sambil terus memandang Dira yang masih berjalan menapaki setiap anak tangga menuju flat nya.


Setiba didepan flatnya, Dira segera membuka pintu dan masuk kedalam tempat tinggalnya itu. Perempuan itu dengan kasar membanting daun pintu dan langsung masuk kedalam kamarnya, ia bahkan tidak mencuci kaki atapun berganti pakaian. Dira langsung menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.


“ Aku sangat mencintai Kak Sandro! Tapi kenapa gosip – gosip kalian itu sungguh menyakitkan dan sangat jahat! “ Teriak Dira sambil terisak.


Wanita itu membenamkan wajahnya kedalam bantal kemudian ia menangis sejadi – jadinya, ia sungguh merasa tersiksa saat ucapan Meira tadi siang kembali berdengung ditelinganya. Ia merasa semakin tidak pantas untuk mendampingi Sandro, lelaki hebat yang berasal dari keluarga terpandang.


“ Aku menjadi seperti sekarang semua karena usahaku! “ Suara Dira terdengar ditengah – tengah tangisannya yang kian menjadi.


“ Apa aku benar – benar tidak pantas mendampingi Kak Sandro hingga kalian membicarakan ku seperti itu dibelakangku? “ Lagi Dira berteriak dari balik bantalnya.


Dira meluapkan kemarahannya pada dirinya sendiri, ia tidak terlalu pandai berkofrontasi dengan orang lain. Sehingga merasa semakin kecil dan takut saat mengetahui ada orang - orang disekelilingnya tidak menyukai dirinya.


“ Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berani menghadapi ini sendirian “ Dira kembali terisak dibalik bantal tidurnya diatas ranjang.